
Naja Pratanu dan Larasati tengah melakukan perjalanan ke selatan itu rupanya harus melewati dari alas Mentaok yg dihuni sekelompok kawanan rampok yg sangat terkenal di tlatah Majapahit.
Mereka menamakan kelompok nya sebagai Iblis penebar maut, yg di pimpin oleh tiga orang sakti yg bernama Ki cagak Warangan, ki suda kampil dan ki Lawa ireng, mereka memiliki lebih lima puluh orang anggota.
Ketika matahari telah meninggi, Naja Pratanu dan Larasati telah memasuki ara-ara yg berada di dekat dengan alas Mentaok.
Semakin mendekati tempat itu, telinga kedua orang Pamotan itu mendengar suara orang yg sedang bertempur.
"Adi Laras apakah tidak mendengar suara orang yg sedang lagi bertempur ?" tanya Pratanu kepada Larasati.
" Benar kakang, sepertinya beberapa orang sedang bertarung mari kita melihatnya," ujar Larasati kepada pratanu sambil memacu kudanya memintasi ara--ara yg cukup luas itu
Dari kejauhan nampaklah dua orang yg tengah di kerubuti berpuluh orang dengan berbagai macam senjata sedang kan kedua orang itu hanya menggunakan selendang sebagai senjatanya.
" Heh bukankah itu Tantri, ayo cepat kakang seperti nya Tantri dan temannya itu nampak terdesak,!" ucap Larasati kepada suaminya itu dan mereka pun memacu kudanya semakin cepat.
Sementara ditepi alas Mentaok itu pertarungan antara Nyai Dewi putrani wijaya dan Rara Tantri melawan kelompok Iblis penebar maut itu memang mendekati akhir karena Si selendang maut nampak terdesak hebat , beberapa kali serangan nya dapat di mentahkan oleh Ki cagak Warangan dan ki Suda kampil, serangan pacar wutah nya Nyai Dewi kembali lagi kepada nya hingga ia harus berjumpalitan menghindari serangan nya tersebut yg kembali pada dirinya sendiri.
Sementara nasib Tantri pun tidak jauh berbeda yg berhadapan dengan Ki Lawa ireng dan anak buahnya, ia harus berjumpalitan Beberapa kali guna menghindari serangan dari Ki Lawa ireng tersebut. Beberapa buah senjata-senjata rahasia milik ki Lawa ireng itu mencecar tubuh Tantri.
" Ha, ha, ha haha, menyerahlah Cah ayu, supaya kulitmu yg mulus itu tidak tergores oleh senjata ku ini , sayang kulit semulus Itu harus terluka dan tergores,!" ucap ki Lawa ireng kepada Tantri.
" Puuuihh, tutup mulutmu , setan laknat , akan kusumpal mulutmu dengan selendang ku ini, heaaahh,!" teriak Tantri memberikan serangan selandang nya ke arah ki Lawa ireng, dengan mudahnya Ki lawa ireng salah seorang dari tiga pemimpin Rampok alas Mentaok itu menghindari serangan dari Tantri, malah ketika sebuah senjata rahasia berupa pisau kecil milik ki Lawa ireng melesat kearah Rara Tantri, membuat gadis itu harus cepat mengibaskan selendangnya, membuat senjata itu terjatuh namun menyusul beberapa buah lagi melesat cepat ke arah Tantri kali ini ,harus mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan nya menepis senjata-senjata itu, banyak yg jatuh , namun ada sebuah yg lolos dan menancap di pundak Rara Tantri. Yg kemudian membuat nya Limbung akibat dari racunnya yg telah bekerja.
Ketika keadaan sangat kritis , Tantri yg hampir ambruk dan Nyai Dewi putrani telah menjadi bulan-bulannan di buat oleh ki Cagak Warangan dan ki Suda kampil.
Nampaklah dua sosok bayangan yg melesat mendekati tempat itu dan menanngkap tubuh kedua orang itu dari keduanya langsung memberikan serangan kepada pemimpin kelompok Iblis penebar maut itu.
" Heeeeaaah ajian Naga geni, !" selarik cahaya merah menghantam tubuh ki Cagak Warangan dan ki Suda kampil, membuat kedua orang itu harus terpental beberapa langkah ke belakang karena mereka tidak menyadari akan adanya serangan dari kedua orang itu di sebabkan mereka terpaku kepada Nyai Dewi.
Demikian pula dengan ki Lawa ireng, iapun terpental beberapa langkah kebelakang akibat ajian Kalacakranya Larasati , srtelah mendapatkan keduanya, Pratanu dan Larasati melompat kembali kestas punggung kudanya dan membawa pergi Tantri dan gurunya itu.
Sedangkan anggota kelompok dari Iblis penebar maut hanya terpaku melihatnya dan mereka tidak berani melakukan pengejaran karena pemimpin mereka dalam keadaan terluka , mereka kemudian menolong Ki cagak Warangan ki suda kampil dan ki Lawa ireng.
__ADS_1
Sementara itu Pratanu dan Larasati terus membawa Tantri dan gurunya menjauh dari tempat itu, sampai di tempat yg dirasanya memang aman keduanya Kemudian menghentikan kudanya di sebuah Umbul , mereka berhenti dan memberi minum Nyai Dewi dan Tantri.
Setelah memeriksa keadaan keduanya maka Larasati dengan cepat mencabut pisau yg masih melekat di pundak Rara Tantri, nampak darah yg berwarna kehitaman mengalir dari luka tersebut.
Beberapa kali Larasati harus menghisap luka tersebut agar racun di tubuh Tantri segera keluar , Setelah cairan darah telah berwarna merah kembali dan bersamaan itu pula Tantri pun pingsan.
Sedangkan Nyai Dewi putrani yg masih sadar segera berkata,
" Tolong ambilkan obat di balik bajuku ini dan berikan kepada muridku itu,!" ucapnya sambil menunjukkan tempat obat yg di simpanannya itu.
Larasati segera melaksanakan perintah Nyai Dewi putrani itu dan mengambil obat yg kemudian di berikan nya kepada Tantri , sedangkan Sebuah lagi di berikannya kepada Nyai Dewi.
Perlahan namun pasti, Rara Tantri mulai tersadar dari pingsan nya, ia mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya dan ketika di lihatnya untuk pertama kali adalah Larasati berkatalah ia, " Apakah aku tidak bermimpi, bertemu dengamu , Ras,?" teriaknya.
" Tidak engkau tidak bermimpi , ini memang aku Larasati temanmu,!" kata Larasati .
Tantri langsung memeluk temannya itu dengan erat dan menangis tersedu-sedu.
" Tenanglah engkau sudah aman sekarang dan tidak pantas seorang pendekar harus menangis,!" bujuk Larasati sambil membelai rambut Tantri.
" Ras, aku menangis karena memang sudah sangat lama ingin bertemu dengan mu, kupikir sampai mati pun aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu,!' ucap Tantri sambil terisak-isak.
" Mengapa engkau bisa berpikiran demikian, adakah sesuatu penyebab sehingga kita tidak bisa bertemu lagi, Tri?" tanya Larasati kepada Rara Tantri.
" Ya, karena engkau sekarang telah menjadi pembantu kakakmu yg tentu saja saja tidak akan mudah untuk keluar dari Istana , apalagi untuk menemui ku seorang gadis desa,!" ungkap Tantri yg telah mereda tangis nya itu.
" Memang benar ucapan mu Tri, sungguh untuk keluar dari Istana barang sekejap memang sulit, bukan tidak ada keinginan untuk kembali kedesa Thanda atau sekedar melepas rindu, memang waktunya yg tidak ada,!" jawab Larasati.
" Itulah sebabnya waktu kejadian itu, sebenarnya aku ingin menemui mu namun aku ke buru di culik kawanan rampok gunung klotok,,!" jelas Tantri.
" Heh, bukankah kata kakang Radeksa, engkau sempat melakukan bunuh diri,?" tanya Larasati pada Tantri.
Tantri terdiam dan kemudian mengangguk serta menjawab, bahwa kawanan rampok itulah yg menyelamatkan nya dari bunuh diri, dan kemudian membawanya ke sarang mereka di gunung klotok, yg akhir di selamtkan oleh gurunya sekarang ini yaitu Nyai Dewi putrani wijaya.
__ADS_1
" Tantri apakah dia ini adik dari Satria dari daha,?" tanya Nyai Dewi putrani wijaya kepada muridnya itu.
" Benar guru, dia inilah adik kakang Radeksa dan teman sepermainanku sejak kecil,!" jelas Tantri sambil memeluk erat Larasati.
" Saya Larasati Wirani dan ini suami saya, Naja Pratanu,!" kata Larasati memperkenalkan diri nya kepada Nyai Dewi si selendang maut.
" Ahhh, kalau dengan angger ini kami sudah sangat kenal, selain bertemu di Puncak Merapi, kami juga sempat ke semeru untuk mencari kembang diwala amerta,!" jelas Nyai Dewi putrani.
" Laras jadi kau telah menikah ,?" tanya Tantri kepada Larasati.
Larasati hanya mengangguk dan kemudian bertanya kepada Tantri, " Kudengar engkau pun akan segera menikah, dengan siapa,?" tanya nya pada Tantri.
Tantri pun mengangguk dan berkata, " oleh sebab itu ltulah aku menenmui guru, supaya dapat menemaniku saat pernikahan nanti, namun ketika kami melintasi Alas Mentaok itu kami di cegat kawanan rampok iblis penebar maut, sehingga seperti yg kau lihat kami kewalahan menghadapi mereka," terang Tantri.
" Tri, memangnya pernikahan mu kapan di laksanakan,?" tanya Larasati lagi.
" Sekira dua purnama lagi, dan tunangan ku itu berasal dari Daha bernama Mahisa Dara,!" jelas Tantri.
" Mahisa Dara,!" tanya Larasati dan Pratanu bersamaan.
" Mahisa Dara, putra dari Rakryan Mantri Kuda Langhi,?" tanya Pratanu memastikan.
" Benar, Romonya adalah pejabat di ibukota Majapahit,!" jawab Tantri
" Dimana kalian berdua bisa saling mengenal,?" tanya Larasati lagi kepada Tantri.
" Sewaktu ia datang ke Thanda sebagai utusan Adipati Daha dan menemui Romo,!" jawab Tantri lagi.
" Tadi sewaktu kami kemari berpapasan dengan nya bersama rombongan Adipati Wengker , apakah ia telah mengabdi di Wengker,?" tanya Larasati lagi.
" Setahuku ia tetap di daha tidak pernah menceritakan Wengker, tetapi kalau pandan alas ia sering kesana ,!" jelas Tantri.
Naja Pratanu yg merupakan prajurit telik sandi segera menghubungkan pernyataan dari Tantri dengan kegiatan Pandan alas dan Wengker yg merupakan sekutu antara ayah dan anak, yg Jadi pertanyaan Pratanu ada maksud apa Mahisa Dara di lingkungan itu.
__ADS_1