BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 10 Bhatara Purwawisesa bagian ke duabelas


__ADS_3

Akhirnya setelah mereka melewati alas Bintara keduanya nampak memasuki desa jati rata di sebelah Timur alas Bintara tersebut. Di desa Jatirata Sasra Bahu dan Wiera Tantra singgah di sebuah warung guna mengisi perut, karena waktu itu matahari telah mulai bergeser ke barat.


" Kang sebaiknya kita singgah dulu di warung itu, guna mengisi perut, dan bertanya desa apakah ini?" kata Wiera Tantra kepada kakak seperguruannya itu.


" Baiklah adi Wiera, sebaiknya kita singgah di sana, !" jawab Sasra Bahu.


Setelah kedua nya duduk di dalam warung tersebut dan memesan makan dan minuman, bertanya lah Sasra Bahu kepada pelayan itu,


" Ini desa, apa nama nya,?" tanyanya kepada pelayan itu.


" Desa Jatirata den, !" jawab pelayan itu.


" Kalau dari sini mau ke pamotan berapa lama,?" tanya Sasra Bahu.


" Wah cukup lama mungkin hampir sepekan, sedangkan ke kotaraja saja mungkin tiga hari lebih, baru sampai,!" jelas pelayan itu.


" Cukup jauh , ya, ki,!" seru Sasra Bahu.


"Benar sangat jauh, kalian berdua memang nya mau apa kesana,?" tanya pelayan itu kembali.


" Ahh, enggak, hanya ingin bertemu sanak kadang, disana,!" kata Sasra Bahu berbohong.


"Hati-hati den kalau melewati kadipaten pandan alas, dengan kalian membicarakan Pamotan, bisa - bisa aden berdua di tangkap para prajurit,!" kata pelayan itu.


" Hehh, bagaimana bisa begitu,?" tanya Wiera Tantra kepada pelayan itu.


" Ia, saat ini Adipati Pandan alas merupakan pemegang kekuasaan di Majapahit walau yg bertahta adalah Prabhu Bhatara Purwawisesa, namun kendali ada di tangan Sang Adipati,!" kata pelayan warung itu.


" Hubungan nya dengan Pamotan apa, sehingga kalau mau ke sana kita akan di tangkap,?" tanya Sasra Bahu lanjut.


" Saat ini ada wara-wara , Pamotan menerima pendadaran untuk prajurit baru, karena itulah kadipaten pandan alas tidak menginginkan ada pemuda yg mengikuti pendadaran itu,!" jelas pelayan itu.

__ADS_1


"Atau aden berdua memang mau mengikuti pendadaran itu,?" tanya si pelayan warung.


Sasra Bahu dan Wiera Tantra saling berpandangan ketika di tanya begitu.


" Tidak mengapa kalian berdua tidak mau menjawab nya, cuma saran saya kalau lewat pandan alas, katakan tujuan kalian ke kotaraja Majapahit,!" kata pelayan warung itu.


" Apakah ada pertentangan antara Pandan alas dengan Pamotan,?" tanya Sasra Bahu.


" Sekarang ini kadipaten yg sedang giat membangun pasukan nya cuma Pamotan sedang kan Adipati Pandan alas tidak ingin di bawah kekuasaan nya ada kekuatan yg melebihi kekuatan nya!" jelas si pelayan warung itu.


" Jadi alasannya cuma kekuasaan, ya ki?" tanya Sasra Bahu lagi


" Benar, dan kami sebagai kawula alit ini sangat berharap bahwa Majapahit di pimpin oleh seorang yg adil dan bisa membuat negeri ini gemah ripah lohjinawi tatatenteram kerta raharjo, !" keluh si pelayan warung itu.


" Memang nya Adipati Pandan alas itu tidak adil, ki?" tanya Wiera Tantra.


" Oalah den, kami saat ini di pungut pajak yg tinggi, sementara kami untuk makan pun sulit, sawah beberapa kali tidak menghasilkan,!" kata pelayan itu kembali


" Aki kok bisa banyak tahu tentang keadaan Majapahit saat ini,?" tanya Sasra Bahu.


" Namanya kami warung den, jadi banyak yg singgah seperti aden ini, ada yg mau ke asem arang, ada yg mau ke Kotaraja ,mereka singgah di sini dan bercerita tentang keadaan Majapahit, baik yg suka maupun yg tidak suka,!" jelas pelayan warung itu.


" Dan satu hal lagi den, ada ramalan bahwa wahyu keprabon akan jatuh ke pamotan ," terang si pelayan warung.


" Hehh, benarkah itu ki,?" tanya Sasra Bahu


" Ya menurut penerawangan orang sakti di Tuban bahwa Majapahit akan di pimpin oleh seorang Pemimpin Pamotan, jadi kalau aden berdua memang mau mengikuti pendadaran itu adalah sesuatu yg sangat baik,!" jelas pelayan warung, yg kali ini tamu di warung nya cuma dua orang saja yaitu Sasra Bahu dan Wiera Tantra saja.


Setelah dari Jatirata kemudian menyisiri pegunungan kendeng dan mereka mendapati hamparan sawah yg sangat luas, menurut penuturan pelayan warung itu adalah milik dari Tumenggung Jayasena petinggi Pandan alas,


Setelah melewati hamparan sawah mereka menemukan desa yg nampak sangat miskin, penduduk nya terlihat kurus dan kuyu, sementara di sebelah nya ada banyak padi -padi yg telah menguning.

__ADS_1


Ketika melintas di depan sebuah rumah di desa itu, ada orang yg tengah menangis dan berkata kepada ibu nya, makan, makan, sementara sang ibu nampak diam saja.


Sungguh miris berbanding terbalik dengan para pejabat tinggi di negeri itu yg hidup penuh kemewahan, dan berpoya poya.


" Kang bagaimana kalau kita curi beras dari lumbung Tumenggung Jayasena itu,!' ' kata Wiera Tantra memberikan ide kepada kakak nya itu.


" Apakah tidak menghambat perjalanan kita,?" tanya Sasra Bahu kepada adik seperguruannya itu.


" Ahh terlambat sedikit tidak apa-apa asalkan kita dapat membantu orang lain seperti pesan guru kepada kita,!" jawab Wiera Tantra lagi.


" Tetapi kita harus ke kota pandan alas dulu ,!" kata Sasra Bahu


" Kurasa tidak Kang, kemungkinan sang tumenggung membangun lumbung nya jauh di luar kota guna menghindari penglihatan orang banyak,!" kata Wiera Tantra lagi .


" Marilah nanti begitu kita mendekati ibukota Pandan alas kita akan bertanya ,!" kata Sasra Bahu.


Keduanya terus berjalan mendekati ibukota Pandan alas dan kemudian menemui sebuah lumbung yg besar di dusun saradan. Lumbung padi yg besar itu nampak di jaga para prajurit, sehingga Sasra Bahu dan Wiera Tantra terpaksa membuat rencana ulang untuk mengambil padi dari lumbung tersebut.


" Kang bagaimana kalau nanti malam kita curi padi yg ada di lumbung itu,!" Wiera Tantra,


" Baiklah nanti malam kita kemari dan mencuri padi itu dari sana, dan kalau para prajurit itu melawan kita habisi saja,!" kata Sasra Bahu.


" adi Wiera, mengapa ada lumbung padi yg sebesar ini disini Apakah Pandan alas tengah bersiap untuk berperang ,?" tanya Sasra Bahu kepada adik seperguruannya itu.


" Bisa jadi kang, ataauuu ini bekas lumbung saat Majapahit menyerang pandan alas di masa Prabhu Rajasawardhana,!" jelas Wiera Tantra.


" Mungkin juga,!" kata Sasra Bahu.


Akhirnya mereka berdua menunggu sampai malam tiba , dan setelah dewi malam menyelimuti bumi, kedua murid dari padepokan Puncak Telomoyo itu pun bergerak mendekati Lumbung padi Pandan alas itu yg di jaga oleh prajurit pandan alas dan di pimpin oleh ki Rangga Paniti,


Dengan cepat , Wiera Tantra dan Sasra Bahu melumpuhkan para prajurit dengan melemparkan Beberapa buah batu, namun ketika serangan itu menuju pemimpin prajurit itu, luput.

__ADS_1


" Kang nampaknya yg satu ini lumayan juga, aku akan menjajal nya,!" kata Wiera Tantra dan langsung menuju ki Rangga Paniti yg tinggal sendirian.


__ADS_2