
Merasa gagal, berkatalah Jenderal Ganbataar,
" Maafkan saya kaisar, saya memang belum berhasil menaklukan pasukan kaisar Jingtai itu, akan tetapi menurut saya belum saatnya menurunkan seluruh pasukan, hanya pasukan Jenderal Turgen dan Jenderal Och saja yg diikutkan, sebaiknya kaisar jangan turun dulu,!" jelas nya.
" Sebaiknya demikian Kaisar biar kami saja berdua yg ikut dalam perang besok,!" ujar Jenderal Turgen.
Demikian lah keputusan pasukan mongol mereka keesokan harinya tidak mengerahkan kekuatan penuh hanya ditambah pasukan dari Jenderal Turgen dan Och saja.
Sementara dari Tiongkok malam itu telah menyiapkan pasukan cadangan nya terdiri dari rakyat biasa, seperti petani, buruh, dan para pedagang yg sudah di beri pelatihan tentara, guna melindungi tanah airnya dari serangan musuh hampir tiga ratus ribu jumlah pasukan cadangan itu.
Jenderal Yu Qian yg bersama Wikala di atas Tembok, malam itu berbincang tentang kemungkinan yg terjadi esok hari.
" Besok mungkin terjadi perang antara komandan pasukan mengingat mongol hari ini mengalami kekalahan, jadi mereka akan membalas dengan membunuh pemimpin Pasukan ini, seperti yg terjadi saat Jenderal Fan Zhong mereka bunuh, menyebabkan kejiwaan pasukan Tiongkok runtuh,!" ujar Jenderal Yu Qian .
" Jadi kemungkinan besok adalah perang Senopati ,?" tanya Wikala.
" Maksud Taihiap Wikala bagaimana,?" tanya Jenderal Yu Qian yg tidak mengetahui maksud Senopati itu Apa.
" Ohh, maaf Jenderal Yu , Senopati itu adalah pemimpin suatu pasukan seperti Jenderal atau komandan pasukan begitulah kira-kira," kata Wikala menjelaskan.
" Jadi Senopati itu adalah pemimpin Pasukan, !" ujar Jenderal Yu.
Wikala mengangguk mengiyakan.
" Taihiap Wikala saya harap berada di dekat saya , karena kami berharap banyak bahwa Taihiap mampu mengalahkan Jenderal besar mongol itu,!" jelas Jenderal Yu Qian.
" Mudah-mudahan Jenderal Yu, karena saya lihat tadi gerakan Jenderal mongol itu amat lihai dan ganas, banyak prajurit Tiongkok yg tewas di tangannya,!" ucap Wikala.
Malam itu kembali Wikala dan Lembu Petala Bermalam di Tembok besar yg ada di Tiongkok itu. Namun Bekel Lembu Petala tidak bersama Wikala karena ia tengah mengadakan pertemuan bersama Jenderal Yun Cai dan beberapa Jenderal dari gerbang barat.
Sebelum ayam jantan berkokok, bergerak lah pasukan Tiongkok keluar dari gerbang , mereka bersiap di luar gerbang dengan tetap di posisi masing-masing.
Sedangkan pasukan cadangan telah bersiap di belakang Tembok besar itu, dan di atas benteng telah bersiap pasukan pemanah.
Ketika saat terang tanah, kembali terlihat kepul debu mengangkasa di udara dan genderang perang telah di tabuh pasukan mongol, bergeraklah pasukan mongol itu menyerbu pasukan Tiongkok yg telah bersiap di luar benteng.
Benturan kedua pasukan itu tidak ditandai dengan serangan anak panah tetapi langsung pasukan berkuda Tiongkok menyambut pasukan berkuda mongol.
Komandan pasukan mongol Jenderal Ganbataar terlihat garang, sepak terjangnya menghantam pasukan Tiongkok, banyak korban yg jatuh dari Tiongkok karena sabetan Goloknya yang besar.
Melihat prajurit nya banyak yg tumbang akibat Jenderal Ganbataar itu, Jenderal Yu Qian bersama Wikala langsung mendekatinya. Setelah terlihat oleh Jenderal Ganbataar yg di depan nya adalah Jenderal Yu Qian, maka tertawa lah ia.
" Hahaha, inikah Jenderal besar Tiongkok yg berani menentang Kaisar Essen Khan yg agung,!" ejeknya pada Jenderal Yu Qian.
__ADS_1
Mendapatkan ejekan seperti itu, Jenderal Yu Qian hanya menjawab,
" Ahh, percuma seorang Jenderal perang yg besar, beraninya cuma kepada prajurit bawahan,!" katanya dengan nada menyindir.
" Jangan kan prajurit kecil, kaisar barumu pun akan kutebas kepala nya," dengan pongahnya Jenderal Ganbataar berkata.
" Sekarang adalah giliranmu,!" ucapnya lagi seraya mengarahkan kudanya pada Jenderal Yu Qian.
Namun belum sempat Jenderal Ganbataar mendekati Jenderal Yu Qian. Tiba-tiba dari sampingnya datang seekor kuda yg di tunggangi oleh Wikala memotong jalan kudanya. Merasa ada orang lain yg menghalangi nya ia geram dan membentaknya,
" Minggir kau prajurit busuk, !" ucapnya dengan keras.
" Silahkan tuan Jenderal lewat, setelah mengalahkan saya lebih dahulu,!" ucap Wikala.
" Dasar manusia tidak tahu diuntung, tidak mampu melihat tingginya gunung, tidak tahu kah engkau berhadapan dengan siapa,?" tanyanya dengan geram.
" Tahu , saya berhadapan dengan Jenderal Ganbataar yg besar lagi kuat , !" ucap Wikala memuji.
" Kalau begitu cepat menyingkir dari hadapanku, atau golokku yg akan bicara,!" teriak Jenderal Ganbataar kesal.
Namun Wikala tetap pada tempatnya menghalangi jalan kuda Jenderal Ganbataar.
Jenderal Ganbataar yg geram langsung menyerang Wikala dengan sabetan Goloknya, Wikala memiringkan tubuhnya menghindari sabetan itu.
Memang Wikala merasakan dua kali serangan Jenderal Mongol membawa Hawa kematian, dengan tenaganya yg besar di sertai juga lweekang yg besar dan kuat. Dan menurut panggraita Wikala , Jenderal Mongol itu di bantu dengan semacam ilmu sihir.
Mengetahui lawan nya kali ini bukan orang sembarangan maka Jenderal Ganbataar pun angkat bicara,
" Hebat kau prajurit, dua serangan ku dapat kau hindari dengan mudah, sebut kan siapa kau sebenarnya, sepertinya bukan asli Tiongkok,?" tanyanya pada Wikala.
" Saya adalah prajurit Wikala, dan berasal dari Majapahit,!" ucap Wikala.
" Heh, Majapahit , yg kuingat dulu leluhurku, ditipu oleh orang-orang Majapahit, berarti ini saatnya aku membalaskan dendam leluhurku, kau terima ini, " teriak Ganbataar melontarkan goloknya menyerang Wikala.
Mendapati serangan semacam ilmu tasbih sakti, Wikala segera melawanya dengan ajian Nantha angin hingga golok itu hanya berputar-putar saja tanpa bisa menyentuhnya.
Geram sekali Jenderal Ganbataar sampai matahari condong ke barat ia belum mampu mengalahkan Wikala, akan tetapi pasukan mongol secara keseluruhan mampu mendesak pasukan Tiongkok, hingga membuat pasukan Tiongkok bertahan di dinding Tembok besar, dan datang bantuan dari atas dengan berhamburanya anak-anak panah panah yg membuyarkan pasukan mongol yg terus mendesak kearah Tembok, perang hari itu di menangkan oleh pasukan mongol dengan tewasnya salah seorang laksamana Lim.
Ketika matahari tenggelam, kembali kedua pasukan mundur ketempat masing-masing.
" Taihiap mampu menahan serangan dari Jenderal Ganbataar, mudah-mudahan besok berhasil membunuh nya, mengingat mereka masih menyisakan pasukan cadangan bersama Kaisar Essen Khan sendiri,!" kata Jenderal Yu Qian pada Wikala.
" Begini Jenderal Yu, nampak nya agak sulit mengatasi Jenderal Ganbataar ini, karena ia memiliki semacam ilmu sihir atau ilmu hitam, Jadi mungkin membutuhkan waktu yg agak lama, untuk dapat membunuh nya,!" jelas Wikala.
__ADS_1
" Hehh, Ganbataar memiliki ilmu hitam ?" tanya Jenderal Yu.
" Demikian lah kiranya, seolah-olah kita sebagai lawannya mampu di kendalikan nya,!" jelas Wikala.
" Pantas Jenderal Fan Zhong tewas di tangannya, mengingat amat sulit mencari lawan untuk Jenderal Fan Zhong,!" ucap Jenderal Yu Qian.
Kemudian Jenderal Yu dan Wikala melangkahkan kaki ke tempat pertemuan para pemimpin, yg disitu telah hadir semuanya kecuali laksamana Lim yg tewas, tadi siang.
" Bagaimana taktik besok, ?" tanya Jenderal Shi Jing.
" Sebaiknya sekitar seratus ribu pasukan cadangan langsung diterjunkan, mengingat hari ini kita banyak kehilangan prajurit bahkan Laksamana Lim telah jadi korban,!" seru Jenderal Yun Cai.
" Yeah, sebaiknya kita menambahkan pasukan, karena selain pasukan mongol bertambah , Jenderal nya pun bertambah,yaitu Jenderal Turgen dan Och, membuat kita amat sulit menjalankan rencana taktik yg telah disusun,!" ujar Menteri Lin tung tze.
" Dan kalau bisa salah satu dari kita dapat membunuh salah seorang Jenderal mereka,!" kata Wang li.
" Mungkin yg paling lemah dari keempat Jenderal itu adalah Jenderal Och, yg berhadapan dengan Jenderal Shi Jing,!" ucap Jenderal Yu Qian.
" Karena menurut Taihiap dari Majapahit ini , melawan Jenderal Ganbataar memerlukan waktu yg agak lama, karena Jenderal tersebut ternyata memiliki ilmu hitam,!" kata Jenderal Yu Qian lagi.
" Jadi kita sepakat menurunkan seratus ribu pasukan cadangan,?" tanya Menteri You zhen.
" Ya, besok kita menurunkan pasukan cadangan, dan bergerak di barisan belakang, !" kata Jenderal Yu Qian.
Malam itu baik Wikala dan Jenderal Yu Qian berusaha istrahat , mengingat telah dua hari melakukan pertempuran dalam keadaan yg tidak seimbang.
Sementara di kemah pasukan mongol terlihat pesta meriah karena berhasil mendesak pasukan Tiongkok yg harus bertahan total setelah pasukan mongol mendapatkan tambahan dua Jenderal sekaligus pasukan nya.
Mereka minum-minum, hingga banyak yg mabuk dan bergelimpangan tidak sadarkan diri, dan ketika genderang perang di tabuh banyak pasukan mongol ini belum bangun dari tidurnya akibat mabuk.
Adalah Bentakan dari Jenderal Ganbataar yg berisi kan suara yg keras lagi mampu membangkitkan para prajurit yg buru- buru mengambil senjata dan bersiap untuk perang kembali.
Hampir matahari naik ke puncaknya baru pasukan mongol tiba di tempat pertempuran dan benturan ketiga kalinya, kejadian berbanding terbalik dengan yg kemarin pasukan mongol terlihat kocar kacir Dan salah seorang Jenderal nya yaitu Jenderal Och tewas di buat Jenderal Shi Jing yg dibantu Pendekar Xia si golok emas.
Kaisar Essen Khan murka,
" Kalian hanya bisanya cuma makan dan tidur.untuk merebut Beijing saja tidak mampu , jumlah hanya dua ratus ribu, kalian tiga ratus ribu, apa hasilnya, Jenderal Och harus tewas,.!" kata Sang Kaisar.
" Besok kota Beijing harus jatuh ketangan kita persiapkan segala sesuatu nya, jangan ada yg mabuk-mabukan lagi, segera istrahat dan seluruh kekuatan besok harus di berangkatkan, !" jelas Kaisar Essen Khan.
Di Beijing sendiri tepatnya di belakang Tembok China tersebut para pemimpin Pasukan tampaknya telah sepakat untuk bertahan dari serbuan mongol dengan mengerahkan segenap kemampuan termasuk menurunkan seluruh kekuatan pasukan cadangan yg berjumlah tiga ratus ribu orang.
-
__ADS_1