
Setelah pembicaraan malam itu selesai dengan keputusan tetap bahwa Wikala yg akan diutus bersama Lembu petala ke Tiongkok , maka Wikala pun menyempatkan kembali ke daha tepatnya ke desa thanda di dampingi oleh istrinya.
Saat di Thanda, Wikala menjelaskan bahwa ia akan berangkat ke Tiongkok sebagai utusan Gusti Prabhu , maka ia meminta muridnya arya bor bor yg masih di berada di sana untuk mengawal istrinya di pamotan demikian pula dengan adiknya Larasati.
Mendengar hal tersebut, Naja pratanu yg juga masih di thanda meminta izin untuk ikut ke pamotan , karena ia akan mengabarkan kematian guru nya
kepada kakak seperguruannya yg
berada di sana. Wikala amat senang mendengar hal , kemudian ia meminta kepada istrinya selaku pemangku kekuasaan di pamotan untuk mengangkat Pratanu sebagai punggawa kadipaten.
Karena selain Pratanu sebatang kara ia juga dapat diandalkan ilmunya guna menjaga sang Brhe Pamotan.
Oleh istrinya , Brhe Pamotan setuju dalam hal itu , maka resmilah Pratanu jadi seorang prajurit, ya prajurit di pamotan.
Rombongan besar ini kembali ke Majapahit lagi guna melepaskan keberangkatan Wikala ke Tiongkok.
Sesuai dengan waktu yg diberikan oleh Gusti Prabhu maka berangkatlah Wikala dan Lembu petala ke Tiongkok dari pelabuhan canggu dengan menumpang kapal dagang orang Tiongkok.
Dengan berlinang airmata, putri parangkawuni melepaskan kepergian suaminya guna menunaikan tugasnya sebagai utusan.
Kapal itu berlayar dari canggu kemudian ke tempuran selanjutnya mengarungj lautan menuju utara kemudian menyusuri pantai utara pulau jawa.
Sedangkan putri parangkawuni kembali ke Pamotan diringi oleh Arya bor bor , Larasati dan Naja pratanu.
Perjalanan Bhre Pamotan ini sebenarnya aman-aman saja, namun ketika mereka sudah mendekati ibukota pamotan tepatnya di kaki gunung raung, rombongan ini di cegat sekelompok orang.
" Hehh, serahkan adipati Pamotan kepada kami, " kata orang itu yg menggunakan topeng kepala harimau.
" Siapakah kalian berani, menganggu jalan kami ," ucap Rangga Jumena selaku bekel pengawal adipati.
" Siapa kami itu tidak penting, sekarang cepat serahkan adipati kepada kami ," ucap orang itu sambil mengerahkan ajian gelap ngampar.
" Langkahi mayat kami baru kalian bisa mendapatkan gusti adipati," teriak Rangga Jumena seraya mencabut pedangnya.
" Siapa mereka, " tanya Brhe Pamotan kepada Rangga Jumena.
" Hamba tidak tahu Gusti adipati, mereka menggunakan topeng kepala harimau semua, !" jawab ki Rangga.
" Adi Larasati tetap disini bersamaku, " kata Brhe Pamotan kepada Larasati.
" Baiklah kangmbok ayu," ucap Larasati.
Sementara itu Pratanu dan Arya bor bor yg berkuda bersebelahan berkata,
" Siapakah gerangan mereka ini ki,?" tanya Pratanu pada arya bor bor.
__ADS_1
" Entahlah , mungkin perampok alas raung," jawab Arya bor bor.
" Ahh, masak rampok cuma menginginkan Gusti adipati, " kelakar Pratanu pada arya bor bor.
" Mungkin dengan menculik kanjeng Adipati mereka mau minta tebusan barangkali, " jawab Arya bor bor sekenanya saja.
Kedua orang ini tampak nya tidak merasa gentar meskipun telah di kepung, sekitar tiga puluh
orang, sementara prajurit pamotan hanya Lima belas orang ditambah dengan mereka jadi delapan belas orang.
Rupanya orang-orang yg mengepung itu sudah tidak sabaran , dengan isyarat suitan panjang maka mereka menyerang rombongan Gusti adipati Pamotan.
Sang pemimpinnya langsung berhadapan dengan Ki Rangga Jumena , sementara yg lainnya
segera melibas para prajurit dan Arya bor bor serta Pratanu.
Dengan cepat senjata beradu, Ki Rangga Jumena yg bersenjatakan pedang segera bertempur dengan pemimpin kelompok itu yg bersenjatakan tombak.
Sebentar saja ki Rangga Jumena terdesak oleh pemimpin kelompok penyerang itu hingga suatu saat sebuah patukan tombaknya mendarat di pundak ki Rangga Jumena, menyebabkan ia terjatuh dari kudanya.
Melihat hal ini Pratanu segera menolong ki Rangga yg nyaris ditusuk pada jantungnya kalau tidak pedang Naga geni milik Pratanu segera memapasi serangan itu.
" *******, kau bocah biar kuhabisi prajurit tidak berguna ini," bentaknya pada Pratanu.
" Heh, lawanmu sekarang adalah aku," gantian Pratanu yg membentak.
Melihat hal ini dengan sigap Pratanu mengadu pedang nya dengan tombak sang pemimpin itu.
" Traaaakkz," bunyi kedua senjata itu ketika bertemu.
Lumayan juga tenaga dalam nya , kata Pratanu dalam hati merasa tenaga dalam lawan tidak bawah nya.
Yg lebih kaget lagi adalah pemimpin kelompok itu, di kiranya setelah tidak ada Wikala, karena kepergian nya ke Tiongkok mereka akan mudah mengambil Adipati Pamotan, ternyata lawan yg di hadapi nya bukan lawan yg enteng.
Sementara Arya bor bor atau Hantu Kali Mayit, menggila sudah hampir delapan orang yg mencegat rombongan itu tewas dengan goloknya yang besar.
" Hahh, ******* kau , seenaknya saja kau membunuhi anggota ku," kata salah seorang dari kelompok pencegat itu.
" Heiiii, siapa suruh mencegat Gusti kanjeng adipati, kalau nyawamu rangkap pun akan kuhabisi," kata arya bor bor .
" Kau memang pantas untuk di habisi lebih dulu," teriak orang itu menerjang Arya bor bor menggunakan tombaknya.
Sementara prajurit pamotan yang lain segera bertempur dengan anggota kelompok pencegat itu yg sudah banyak berkurang, sehingga perlahan tapi pasti yg terdesak adalah kelompok pencegat tersebut.
Lain halnya dengan Arya bor bor, Pratanu nampak nya mulai merambah pada ilmu kadigjayan yg lebih tinggi ketika lawan melompat mundur kemudian berteriak,
__ADS_1
" Ajian tapak wisa, heyaaah, " serangkum angin pukulan putih kelabu menerjang Pratanu.
Pratanu segera melompat menghindari serangan itu.
" Heh, ajian tapak wisa kan milik Mpu Thula," berkata dalam hati Pratanu.
Jangan-jangan orang ini muridnya, yg kemungkinan telah membunuh eyang Resi pikir Pratanu lagi. Maka dengan cepat Pratanu membalas ajian tapak wisa dengan ajian Naga tirta nya.
" Ajiian Naga tirta," teriak Pratanu .
Dua ajian segera beradu, antara ajian tapak wisa dengan Naga tirta.
" Dhuuummb," bunyi ledakan yg di timbulkan kedua ajian itu.
Pratanu terdorong surut lima langkah demikian pula orang tersebut.
" Gilaa, ternyata di tlatah Majapahit ini banyak orang-orang sakti," kata orang itu dalam hati.
Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh pertempuran dilihatnya anggota nya yg tersisa hanya sepuluh orang termasuk lawan arya bor bor, melihat hal tersebut segera ia mengambil keputusan dengan bersuit nyaring, hingga sepuluh orang yg lain berlompatan mundur kemudian pergi.
Sebelum pergi orang itu berkata,
" Bocah , perhitungan kita belum selesai nanti kita lanjutkan kembali, " ucapnya sambil pergi dari tempat itu.
Setelah kepergian, para pencegat , maka rombongan itu segera melanjutkan prjalanannya,
yg terluka di antara prajurit segera di bawa serta ke kadipaten pamotan.
Sementara kelompok pencegat itu setelah kehilangan dua puluh orang anggotanya, segera berhenti di suatu tempat yg sudah jauh dari lokasi pertempuran, mereka berhenti.
" Bagaimana ini adi, dua puluh orang anggota padepokan kita tewas, " ucap nya kepada orang di sebelah nya.
" Aku pun tidak tahu kakang, menurut berita yg disampaikan oleh kakang Kuda Langhi, bahwa Satria Dari daha itu , tidak ikut kembali, memang benar tetapi pengganti nya, tampaknya kakang Kuda Langhi tidak kenal, akhirnya kita bukannya untung tetapi jadi buntung , !" kata orang itu yg tiada lain adalah Bawon murid Mpu Thula dan yg disebelahnya adalah Rumangsa kakak seperguruannya.
" Lawanku itu pun sangat linuwih ajian tapak wisa tidak dapat mengalahkannya, siapa sebenarnya dia ,?" tanya Rumangsa seolah kepada dirinya sendiri.
" Benar kakang, seandainya kakang tidak berniat untuk mundur, mungkin aku tinggal nama, karena lawan yg kuhadapi telah menghabisi delapan orang anggota kita dengan goloknya," kata Bawon menimpali.
" Sebaiknya kita segera mempelajari ajian pamungkas guru, mengingat lawan- lawan kita saat ini pun sangat tangguh," jelas Rumangsa.
" Bagaimana kalau kita pindah tempat Kang, jangan tinggal disini. terlalu dekat dengan kota kadipatenan ," ujar Bawon memberikan usulan.
" Adi benar, tetapi kalau mau pindah harus kemana?" tanya Rumangsa.
" Sebaiknya kita meminta saran kakang Kuda Langhi,!" kata Bawon lagi.
__ADS_1
" Baiklah, kita bicarakan lagi setelah sampai di padepokan" tukas Rumangsa.
Maka segera lah murid- murid Mpu Thula itu kembali ke padepokan nya.