
Setelah melihat Arya bor bor dan Rangga Rawelu, Wikala cukup terkejut, karena kedua orang itu terluka yg agak lumayan parah.
" Ki Rangga Jumena tolong carikan air dan juga cincin kalademit tolong di kembali kan,!" kata Wikala kepada Rangga Jumena.
" Baik Gusti Adipati, !" jawab Rangga Jumena seraya melepaskan cincin kalademit dari jarinya, ia kemudian bergegas mencari air, setelah menemukan ia segera membawa nya ke hadapan Wikala.
" Ini air nya Gusti Adipati,!" kàta Rangga Jumena.
" Terima kasih,!" kata Wikala sambil merapal mantera dan kemudian memasukkan cincin kalademit ke dalam air itu, setelah nya air tersebut di minumkan kepada Arya bor bor , Rangga Rawelu dan Tumenggung Rapada dan Rapala, karena kedua Tumenggung itu pun terluka walau tidak terlalu parah.
Setelah meminumkan, sisa air tersebut di basuhkan kepada luka tersebut. Perlahan namun pasti luka luka tersebut bisa bertaut kembali , sehingga seolah nampak tidak terjadi apa-apa.
" Guru, lukaku telah sembuh.," teriak Arya bor bor kegirangan.
" Demikian pula aku, Lukaku hilang tak berbekas Gusti Adipati, terima kasih, Gusti Adipati,!" teriak Rangga Rawelu juga seperti Arya bor bor, iapun sangat senang.
Karena memang luka Rangga Rawelu cukup banyak dan parah, hanya semangat juang nya saja yg tinggi hingga mampu membuat nya bertahan dari gempuran prajurit pandan alas itu.
Berbeda dengan Kedua Tumenggung Rapada dan Rapala, luka mereka tidak terlalu membahayakan.
Setelah selesai pengobatan kepada para pengawal nya, Wikala memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan lagi dengan membiarkan mayat dari prajurit Pandan alas.
" Paling-paling prajurit yg lari itu akan kembali menguburkan teman-temannya itu, hehh, namanya manusia kalau telah jadi mayat tidak ada harga nya, sesiapa saja bisa menyantap nya,!" tukas Wikala seraya menghela kuda nya.
Matahari telah bergeser kebarat, ketika rombongan itu meninggalkan tempat tersebut.
Adalah Rangga Rawelu yg berpikir, bukan kami yg menjaganya tetapi ia yg menjaga kami.
Karena di sisi dari Rangga Rawelu adalah Arya bor bor, dan melihat Rangga dari Majapahit ini sedikit termenung maka ia meledeknya, " Ki Rangga apa yg kau pikirkan, apakah hutang mu banyak,?"
" Ahh, bukan begitu Arya bor bor, tetapi aneh saja,!" ujar Rangga Rawelu.
" Apa nya yg aneh,?" tanya Arya bor bor lagi.
" Gusti Adipati,!" jawab Rangga Rawelu.
" Apa yg aneh dengan Guru,? tanya Arya bor bor.
" Bukan kita yg menjaganya, malah kita yg di jaga olehnya,,!" jawab Rangga Rawelu.
" Ahhh, masalah itu tidak usah dirisaukan, memang guru sakti mandraguna tetapi beliau tetap rendah hati, bahkan suka menolong dan memberi ampunan, entah kenapa tadi dua Tumenggung itu tidak mau menyerah , namun tetap nekat melawan, hingga akhirnya nasib mereka sama dengan senopati nya,!" jelas Arya bor bor.
***************
__ADS_1
Di pagi itu juga di perbatasan antara Pandan alas dengan Daha , rombongan Adipati Daha akan memasuki wilayah kadipaten Daha namun sebelum mencapai ke wilayah tersebut , terlihat lah puluhan orang yg menghadang jalan dari rombongan Adipati Daha itu.
Dari seragam keprajuritan nya terlihat bahwa mereka adalah prajurit Pandan alas.
Rombongan Adipati Daha segera menghentikan lari kudanya karena di depan banyak orang yg menghalangi nya.
" Siapa kalian , apa maksud kalian dengan menghalangi jalanku,!" teriak Adipati Daha itu.
" Kami di perintah kan oleh junjungan kami untuk menghabisi siapa saja yg jadi penghalang nya untuk menjadi Maharaja di Majapahit ini,!" ucap Tumenggung Jarak jalu.
" Siapa junjungan mu itu,?" tanya Adipati Daha lagi.
" Junjungan kami adalah Gusti Adipati Pandan alas,!" jawab Tumenggung Jarak jalu lagi.
" Paman Pandan alas memang sudah kebablasan, apapun di usahakan nya untuk mencapai maksud nya, jadi kalian ingin membunuhku,?" tanya Adipati Daha kepada Tumenggung Jarak jalu.
" Demikian lah perintah yg kami terima!" jawab Tumenggung Jarak jalu sambil mengeluarkan pedang nya.
Adipati Daha segera bersiap dan kelima pengawal nya pun telah sedari tadi mengeluarkan senjata nya. Adipati Daha di kawal oleh dua orang Tumenggung dan tiga orang Rangga.
Diantara Tumenggung yg mengawal nya adalah Tumenggung Barana dan Tumenggung Jayayuda.
Sesaat Tumenggung Jarak jalu memberikan isyarat kepada para prajurit nya maka serentak para prajurit itu pun menyerang Adipati Daha yg berjumlah enam orang tersebut.
Meskipun rombongan dari Daha berjumlah sedikit tetapi pengawal dari Bhre Daha ternyata memang Prajurit pilihan walaupun harus menghadapi lawan yg jumlah nya enam kali lipat ternyata mereka mampu memberikan perlawanan.
Serangan yg di lancarkan oleh Tumenggung Jarak jalu berhasil di tepis oleh Adipati Daha, Kemudian datang lagi serangan dari Tumenggung Wiratanu, kali ini Adipati Daha menangkis serangan itu dengan pedang nya,
" Traaanng,!" kedua senjata itu beradu, Tumenggung Wiratanu tampak nya kalah dalam hal tenaga dalam, ia bahkan merasakan kesemutan pada tangan nya , dengan cepat Tumenggung Pandan alas itu meloncat mundur,
Melihat teman nya meloncat mundur, Tumenggung Jarak jalu kemudian ganti menyerang dengan menggunakan pedang nya, yg di sasar kali ini adalah leher dari Adipati Daha, tetapi putera dari Prabhu Rajasawardhana ini kembali mengadu senjata nya dengan senjata Tumenggung Jarak jalu.
Kembali terdengar suara bunyi senjata beradu , bahkan sampai menimbulkan percikan api dari kedua senjata itu.
Kali ini Tenaga dalam mereka seimbang, ternyata tenaga dalam dari Tumenggung Jarak jalu tidak di bawah dari Adipati Daha.
Adipati Daha nampak berhati-hati karena lawan yg dihadapinya ternyata memiliki bekal yg cukup untuk membunuh nya, apalagi ia berdua.
Sementara itu walaupun pengawal dari Adipati Daha merupakan orang-orang yg berilmu tinggi namun karena jumlah musuh terlalu banyak mereka mulai terdesak.
Melihat pengawal nya mulai terdesak , hati Adipati Daha mulai gusar, hingga ia kurang memperhatikan sebuah serangan dari Tumenggung Jarak jalu.
Tendangan dari Tumenggung pandan alas itu mampir di perut dari Adipati Daha tersebut.
__ADS_1
" Dieeegghh,"
Tubuh Adipati Daha itu sampai mundur lima langkah akibat tendangan dari Tumenggung Jarak jalu itu.
Segera Adipati Daha memperbaiki posisinya, ia berkata,
" *******,!" teriak nya marah.
Tumenggung Jarak jalu tidak mengejar nya bahkan diam saja ketika di teriaki oleh Adipati Daha.
Sementara itu pengawal Adipati Daha mulai terkena sabetan senjata lawan.
Dua orang telah terluka, sedang kan dari para prajurit Pandan alas pun telah jatuh korban, dua orang yg terkena sabetan pedang dari Tumenggung Barana dan Tumenggung Jayayuda tidak mampu bangkit lagi.
Akan tetapi kepungan dari para prajurit Pandan alas masih rapat dan sulit untuk di tembus.
Kedua orang kepercayaan dari Adipati Daha itu terus berusaha mengurangi tekanan dari prajurit Pandan alas.
Hingga suatu ketika terdengar jeritan ,
" Aaàaaakkhhhh, " dari salah seorang pengawal Adipati Daha yg tubuh nya tertembus pedang lawan, sesaat kemudian ia pun jatuh tertelungkup.
Adipati Daha kembali dalam masalah yg sulit, mengingat mereka tinggal lima orang sedang kan lawan Masih banyak mau, tidak mau ia terpaksa lah mengeluarkan ajian Brajamusti miliknya dan di arahakan kepada pengepung Tumenggung Barana dan Tumenggung Jayayuda, " Ajian Brajamusti," teriak nya ,lima orang prajurit pandan alas yg mengepung itu terjungkal seketika.
Tumenggung Jarak jalu tertegun sejenak melihat aksi dari lawan nya itu ia tidak menyangka di saat tengah di desak oleh mereka berdua bersama Tumenggung Wiratanu, Sang Adipati masih mampu menolong pengawal nya itu.
Tidak mau hal itu, terjadi lagi, maka kedua Tumenggung itu segera melibat Adipati Daha dengan pertarungan yg cepat, hingga mau tidak mau Sang Adipati terpaksa melayani nya, hingga usaha nya untuk menolong para pengawal nya tertunda,.
Adipati Daha berpikir keras untuk bisa memenangkan pertarungan tersebut.
Ketika sebuah teriakan dari pengawal Adipati Daha itu yg roboh akibat senjata lawan, Sang Adipati berkata dalam hati,
" Apakah aku memang di takdir kan harus berakhir disini,?" begitulah pertanyaan yg ada di hatinya tersebut.
Karena ia tidak lagi memusatkan perhatian nya terhadap lawan nya, sebuah pukulan yg cukup keras menghantam dada dari Adipati Daha tersebut.
Membuat Adipati Daha jatuh terduduk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Di saat saat yg kritis ketika secara bersamaan kedua Tumenggung Pandan alas itu menyerang guna menghabisi nyawa dari pemimpin tertinggi dari kadipaten Daha,
Sesaat kedua pedang tersebut akan menancap di tubuh Sang Adipati yg masih berusaha memulihkan kesehatan nya itu, tiba-tiba dua buah sinar kemerahan menghantam tubuh kedua Tumenggung Pandan alas itu dan melemparkan keduanya sejauh empat tombak, keduanya masih mampu bangkit meski dengan susah payah.
Selamat lah nyawa Adipati Daha tersebut.
__ADS_1
Sedangkan di lingakaran pertempuran antara pengawal Adipati Daha dengan prajurit pandan alas pun mengalami hal yg sama seperti yg di terima oleh Adipati Daha, bahwa kepungan terhadap tiga orang itu berkurang setelah cahaya merah menerjang para prajurit Pandan alas itu.
-----------........''''''''''''-------------