
" Bagaimana ngger, apakah diri mu ber temu dengan paman Barada, ?" Mpu Thanda ber tanya kepada putra nya itu setelah duduk di pendopo.
" Kami hanya ber temu dengan jasad nya saja Romo, ter nyata Eyang guru telah mangkat ,mungkin beliau melaku kan tapa barata untuk Moksa,!" jawab Wikala Sang Adipati pamotan itu.
" Berarti paman Barada melaku kan moksa dengan menjalan kan yoga Raja,!" kata Mpu Thanda.
" Tampak nya demikian, Romo,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan lagi.
" Jadi sekarang apa rencana mu, ngger,?" tanya Mpu Thanda lagi.
" Kami akan kembali ke Pamotan , setelah nya dari sana kami akan menyiap kan segala sesuatu nya, untuk rencana menyerang kotaraja Majapahit,!" jawab Sang Adipati Pamotan.
" Apakah telah angger perhitung kan dengan masak-masak, rencana mu menyerang Kotaraja Majapahit itu,?" tanya Mpu Thanda lagi.
" Sudah Romo, selain telah mendapat restu dari Kangmas Daha yg paling ber hak atas Tahta Majapahit itu, adalah kepentingan rakyat lah di atas segala nya,!" ter dengar jawaban dari Sang Adipati Pamotan.
" Yeahh, Romo hanya bisa menolong dengan doa, semoga usaha mu itu bisa di wujud kan , ngger, dan satu hal lagi sebelum melaksana kan rencana mu itu minta lah petunjuk dari Hyang Widhi wasa, sempat kan lah melakukan tirakat minta lah petunjuk nya,!" nasehat dari Mpu Thanda yg melihat ke sungguhan dari wajah putra nya itu.
" Baik , Romo, segala nasehat Romo akan ku laksana kan,!' ujar Sang Adipati Pamotan.
" Bagus, kelak jika ber hasil jangan lupa kan para pendukung setia mu, karena tanpa mereka , diri mu bukan siapa-siapa,!" kembali nasehat Mpu Thanda dengan sareh.
Wikala sang Adipati Pamotan itu nampak menatap lantai pendopo rumah itu, ia men dengar wejangan dari orang tua nya itu dengan seksama.
Adalah Ki Gede Thanda yg turut memberi kan nasehat,
" Ngger, jika suatu saat diri mu ber hasil memegang tampuk ter tinggi di Majapahit ini, upaya kan lah kemakmuran untuk rakyat di negeri ini, jangan cuma sebatas ke inginan semata tanpa ada pengejewantahan nya,!" kata Ki Gede Thanda.
" Mudah-mudahan , segala nasehat yg telah di beri kan kepada kami akan kami junjung tinggi, walaupun mungkin tidak dapat sepenuh nya kami lakukan akan tetapi tetap akan kami jalan kan, apalah arti seorang Raja jika harus di benci oleh para Kawula nya,!" jelas Wikala Sang Adipati Pamotan.
Lama mereka ber bincang di pendopo itu. Sampai akhir nya, Larasati, Tantri dan para pembantu di rumah Mpu Thanda keluar menyaji kan hidangan.
Seluruh penghuni Rumah Mpu Thanda makan ber sama ter masuk dengan para pembantu nya. Suatu bentuk ke sederhana an dan ke bersamaan yg ter lihat indah tanpa harus di bentengi dengan kasta atau tingkatan-,tingkatan yg mem beda kan.
Memang itu merupa kan jiwa dari Mpu Thanda sendiri yg memang ngemong dan tidak mau terikat pada tatakrama keraton.
Setelah hampir sepekan di Thanda akhir nya Wikala sang Adipati Pamotan itu akan kembali ke Pamotan.
Sebelum nya ia ber pesan kepada Naja Pratanu,
" Adi Pratanu sebaik nya engkau tetap disini, selain menuggui Larasati yg sebentar lagi melahir kan, adi juga ber kewajiban menyiap kan daerah Kandangan sebagai landasan pasukan Pamotan di Kadipaten Daha ini, awasi terus pergerakan dari para prajurit Majapahit itu, jangan sampai ke colongan,!"
" Baik Kangmas, segala titah Kangmas akan kami jalan kan,!" jawab Naja Pratanu.
" Satu hal lagi, latih terus pemuda Thanda ini, buat tanah perdikan Thandasain mandiri dalam menjaga keamanan desa nya,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan lagi.
" Dalem, Kangmas Adipati, ber sama lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara kami akan terus mem beri kan pelatihan ke prajuritan bagi pemuda desa thanda ini,!" jawab Naja Pratanu.
" Selamat tinggal semua, mungkin tidak lama lagi kami akan kembali kemari,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan sambil melambai kan tangan nya.
Adipati Pamotan dan Arya bor-bor kemudian menggebrak kuda nya untuk ber jalan keluar dari pekarangan rumah Mpu Thanda itu.
*******
Sedang kan di kotaraja Majapahit sendiri, setelah ber bagai upaya yg di lakukan oleh Mahisa Dara tidak ber jalan dengan mulus, akhir nya menantu dari Prabhu Suraprabhawa itu menarik seluruh prajurit Majapahit yg telah di kirim nya itu.
Dari sekian banyak para perwira yg di tugas kan untuk membuat ke kacauan di tlatah Majapahit itu , yg pulang dengan selamat cuma Tumenggung Rasawira. Yang lain nya tewas atau ter tangkap.
Mahisa Dara mem buat pertemuan di Istana kepatihan, kali ini menantu Prabhu Suraprabhawa itu ingin melibat kan Patih Lohdaya yg baru di angkat itu.
Selain minta pendapat, Mahisa Dara ingin melihat sikap dari Patih Lohdaya itu dalam hal kesetiaan nya ter hadap Majapahit terutama kepada Prabhu Suraprabhawa sendiri.
Karena kesetiaan dari Patih Lohdaya itu belum ter uji, apalagi yg mengusul kan nya adalah Mahisa Dara sendiri.
" Begini paman Patih, ada yg ingin ku tanya kan kepada paman, yaitu se hubungan meningkat nya per tentang an antar Kotaraja Majapahit ini dengan kadipaten Pamotan,!" kata Mahisa Dara.
__ADS_1
" Apa yg ingin angger pangeran, tanya kan,?" tanya Patih Lohdaya.
" Langkah apa sebaik nya di lakukan untuk mencegah Pamotan agar tidak jadi menyerang Kotaraja Majapahit ini,?" tanya Mahisa Dara.
" Apakah tidak sebaik nya Kotaraja Majapahit melakukan penjajagan perundingan dengan Pamotan,!" ungkap Patih Lohdaya seorang patih di masa Prabhu Bhatara Purwawisesa itu dan sekarang di angkat lagi setelah tewas nya Patih Kebo Mundira.
" Maksud ku, cara yg lain selain harus berunding dengan Pamotan,!" kata Mahisa Dara lagi.
" Mengapa angger pangeran tidak setuju dengan jalan perundingan , karena di saat seperti ini kemungkinan besar Adipati Pamotan mau menerima nya,!" kata Patih Lohdaya lagi.
" Yg penting bukan jalan perundingan, ter serah apa itu cara nya,!" desak Mahisa Dara agak geram.
" Begini angger pangeran, kita bisa dan mampu mengalah kan Pamotan jika ber hasil membunuh Adipati nya, selain itu mungkin tidak ada cara lain untuk mengatasi Pamotan,!" jelas Patih Lohdaya dengan keras.
Nampak kepala Mahisa Dara manggut -manggut, ia faham dengan ucapan dari Patih sepuh Majapahit itu.
" Tetapi siapa yg bisa membunuh Adipati Pamotan itu, Paman Patih,?" tanya nya lagi.
" Ahhh, itu lah yg sulit, mungkin kalau di tlatah Majapahit ini tidak akan ada yg sanggup melakukan nya, entah kalau dari negeri seberang,!" jawab Patih Lohdaya.
" Benar ucapan mu paman Patih , siapa kira -kira yg sanggup untuk membunuh Bhre Kertabhumi itu, !" kata Mahisa Dara sambil mengepal-ngepal kan tangan nya.
" Atau angger pangeran bisa membuat suatu sayembara atas hal ini, siapa tahu ada yg ber keinginan dan memang mampu mengalah kan Adipati Pamotan itu,!" ujar Patih Lohdaya.
" Bagus, pemikiran paman Patih cukup bagus, nanti akan ku kata kan kepada Ramanda Prabhu, bahwa siapa saja yg mampu mengalah kan Adipati Pamotan itu apalagi bisa membunuh nya, Alas Bintara dan sekitar nya akan jadi milik mereka,!" kata Mahisa Dara.
" Mungkin itu lah jalan terbaik untuk mengatasi Adipati Pamotan itu,!" kata Patih Lohdaya.
" Dan satu hal lagi angger pangeran, penerimaan Prajurit baru pun mesti di lakukan untuk mengimbangi jumlah Prajurit Pamotan itu, yg terus menerus menerima prajurit baru, bahkan saat ini ada nama nya pasukan siluman,!" ucap Patih Lohdaya lagi
" Sungguh paman Patih memang mem punyai pemikiran yg patut di andal kan,!" kata Mahisa Dara lagi.
" Baik lah paman Patih, Aku akan melaksana kan pemikiran paman Patih itu,!" seru Mahisa Dara.
*******
Sementara itu Wikala sang Adipati Pamotan dan Arya bor bor tengah di dalam per jalanan kembali , kedua nya tengah berada di daerah Lamajang, kedua nya terus melaju dengan kecepatan yg tidak ter lalu cepat.
Sehingga sampai di Pamotan hampir selama tiga hari.
Se sampai nya di Pamotan, kedua nya langsung masuk ke dalam istana.
" Bor, nanti setelah kembali ke rumah mu, tolong panggil kan Tumenggung Rapada untuk datang menghadap,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Baik Guru, !" jawab Arya bor bor.
Kemudian Wikala sang Adipati Pamotan masuk ke dalam istana dan langsung menuju ke dalam bilik nya.
Di dalam bilik itu ia langsung di terima oleh per maisuri Putri Dwarawati.
" Bagaimana keadaan mu kanda,?' tanya sang permaisuri.
" Baik Dinda, cuma eyang Guru telah tiada, sebagai seorang murid, kanda memang tidak ber guna,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
" Jadi eyang Barada telah tiada ,Kanda,!" ujar permaisuri ter kejut.
" Demikian lah keadaan nya, dinda,!'' jawab Wikala sang Adipati Pamotan lagi.
" Dan keadaan keluarga di Thanda apakah dalam keadaan sehat,?" tanya permaisuri lagi.
Sambil melolosi pakaian nya dan segera menuju pakiwan,
" Keluarga di Thanda dalam keadaan sehat, mana wiradamar dan pembayun, Dinda,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan kepada istri nya itu.
" Mereka sedang ber main dengan bibi emban di taman kaputren,!" jawab permaisuri Dwarawati lagi.
__ADS_1
Kemudian Adipati Pamotan itu segera mem bersih kan diri nya.
Setelah selesai ia langsung menuju ke dalam istana.
Di sana ia telah di tunggui oleh Patih Sengguruh, Senopati Lembu Petala, para Tumenggung dan para Rangga.
Di dalam istana , setelah duduk di atas singgasana nya, Adipati Pamotan itu segera memimpin kembali kadipaten Pamotan itu.
" Ampun Gusti Adipati, selama Gusti Adipati pergi ada seorang utusan yg datang kemari,dan mem beri kan sebuah surat, !" ucap Senopati Lembu Petala sambil menyerah kan sebuah surat kepada Wikala sang Adipati Pamotan.
" Siapa , mereka itu paman,?" tanya Wikala Sang Adipati Pamotan.
" Paman tidak tahu, nampak nya mereka orang asing,!" jelas Senopati Lembu Petala.
Kemudian Wikala sang Adipati Pamotan itu menerima surat yg di beri kan oleh Senopati Lembu Petala itu.
Selanjut nya Wikala sang Adipati Pamotan itu mem buka sebuah gulungan lontar dan membaca surat itu
Air muka dari Adipati Pamotan itu nampak berubah, ter lihat agak tegang dan ter kejut. Ia kemudian melipat kembali gulungan lontar itu.
" Paman Patih, apakah selama kami pergi ada sesuatu yg perlu penanganan yg cepat,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Ampun Gusti Adipati, tidak ada sesuatu yg perlu di khawatir kan kecuali, dari desa pesanggaran yg mengata kan bahwa mereka masih ke kurangan bahan pangan,!" jelas Patih Sengguruh.
" Apakah Paman Patih, telah menangani nya,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Sendika dalem, Gusti Adipati ,kami telah mengirim kan bantuan ke sana ,!" jawab Patih Sengguruh.
" Ampun Gusti Adipati, apakah kira nya Gusti Adipati memanggil hamba,?" tanya Tumenggung Rapada
" Ada suatu tugas bagi kakang Tumenggung yg akan kami beri kan, mudah mudahan kakang Tumenggung mampu melaksana kan nya,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan.
" Sendika dalem Gusti Adipati,!" jawab Tumenggung Rapada..
" Ampun Gusti Adipati, apakah pendapat dari Gusti Adipati Daha tentang per masalah an antara Pamotan dengan Kotaraja Majapahit itu,?" tanya Patih Sengguruh.
" Sesuai dengan per kiraan kita semua nya bahwa beliau mendukung kita untuk menyerang Kotaraja Majapahit,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
Kemudian Wikala sang Adipati Pamotan memerintah kan seluruh petinggi kadipaten Pamotan untuk segera menyiap kan segala sesuatu nya untuk menyerang Kotaraja Majapahit itu.
Ia pun telah menentu kan beberapa tempat untuk di jadi kan landasan penyerangan, kalau di Daha akan di letak kan di desa Kandangan dan yg di Kahuripan akan di tempat kan di desa Pakal.
Kemudian ia meminta pendapat apakah di daerah Matahun harus juga ada landasan.
Namun hampir seluruh petinggi Pamotan sepakat untuk tidak menempat kan prajurit di kadipaten Matahun selain harus melalui lewat laut, kadipaten Matahun di apit oleh kadipaten pandan Alas dan Kotaraja Majapahit jadi tempat ter sebut kurang baik untuk di jadi kan landasan.
Akhir nya di sepakati dua tempat yg akan di jadi kan landasan yaitu di kandangan di Kadipaten Daha, dan di pakal yg berada di Kadipaten Kahuripan.
Setelah itu kemudian Wikala sang Adipati Pamotan itu beranjak keluar istana dan ia meminta Senopati Lembu Petala untuk mengikuti nya.
Setelah sampai di dalam bilik ia kemudian ber ganti pakaian dan keluar bilik dan menghampiri Senopati Lembu Petala.
" Apakah Paman tidak mengenal yg mengantar kan surat itu,?" tanya nya kepada Senopati Lembu Petala.
" Sungguh, Gusti Adipati , paman tidak mengenal nya, bahasa nya pun sangat sulit untuk di fahami,!" jawab Senopati Lembu Petala.
" Surat yang paman beri kan itu berisi tantangan perang tanding, dari seseorang yg tidak di ketahui, siapa dia se sungguh nya,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
" Surat tantangan perang tanding, dimana dan kapan , Gusti Adipati, ?" tanya Senopati Lembu Petala
" Entah lah, ia menyebut kan akan mengirim kan surat sekali lagi untuk menentu kan tempat nya, !" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
" Kapan mereka akan datang lagi,?" tanya Senopati Lembu Petala
" Ia tidak menyebut kan, mungkin dalam waktu dekat, oleh sebab itu, Paman Petala harus segera mem perketat penjagaan keamanan di sini, mungkin masih ada orang yg mendendam kepada ku, akibat dari keluarga nya yg mungkin telah tewas di tangan ku,!" jelas Adipati Pamotan itu
__ADS_1