
Di pandan Alas sendiri terlihat kesibukan yg luar biasa, rupanya Adipati Pandan Alas berniat melakukan hajatan besar untuk menikah kan Putri nya yaitu Putri Nawang Sekar dengan Mahisa Dara, ternyata pinangan Patih Kebo Mundira diterima oleh Adipati Pandan Alas dengan berbagai pertimbangan, selain Patih Kebo Mundira seorang abdi yg setia ,ia juga dapat di andal kan dalam hal keprajuritan terbukti dua kali Adipati Pandan Alas itu di selamat kan muka nya oleh Patih Kebo Mundira, pertama saat Pandan Alas di serang Majapahit yg memimpin pasukan nya adalah Patih Kebo Mundira dan yg kedua, yg berhasil menyelesaikan perintah Adipati untuk menghabisi tiga Adipati yaitu Adipati Daha, Adipati Pamotan dan Kahuripan, cuma Patih Kebo Mundira lah yg mampu menyelesaikan nya, yang lain malah terbunuh.
Atas pertimbangan itulah maka pinangan Patih Kebo Mundira diterima Sang Adipati Pandan Alas meski di hati ku nya kurang mapan dengan orangtua dari calon menantu nya itu.
Sedang kan di dalam Istana kepatihan sendiri, Mahisa Dara yg sudah dianggap anak oleh Patih Kebo Mundira sedang melaksanakan berbagai kegiatan untuk melangsungkan pernikahan nya.
Di sela sela itu terlihat lah Patih Kebo Mundira sedang berbicara dengan Mahisa Dara,
" Angger Dara, kuharap engkau tetap memperdalam ilmu ngerogoh sukma mu, apabila nanti mertua mu itu jadi Prabhu di Majapahit, Kemungkinan engkau di tetap kan sebagai Adipati Anom akan terbuka lebar, apalagi dengan ilmumu itu dapat melemah kan hati Sang Prabhu, jadi jalan Kamukten terbuka lebar,!" ucap Patih Kebo Mundira menasehati Mahisa Dara.
" Baik lah Paman, memang Aku tetap mendalami Aji ngerogoh sukma yg telah di waris kan oleh ki Jabang wingit itu kepada ku, terlebih setelah kekalahan ku dengan Adipati Pamotan waktu itu, tetapi ada sesuatu yg harus ku lakukan untuk dapat menyempurna kan ilmu itu, paman !" jelas Mahisa Dara kepada Patih Kebo Mundira.
" Apa itu,?" tanya Patih Kebo Mundira yg telah menganggap Mahisa Dara adalah anak nya sendiri terlebih setelah kematian Kebo Ndaru saat menghadang Adipati Pamotan kala itu.
" Cukup berat Paman syarat yg harus ku penuhi untuk dapat menyempurna kan ilmu Ngerogoh sukma itu, paman Patih ,!" ucap Mahisa Dara yg kelihatan nya enggan untuk menyampai kan nya.
" Seberat apa, sehingga angger kelihatan enggan mrnyebut kan nya,?" tanya Patih Kebo Mundira penasaran .
Kemudian Mahisa Dara menghela nafas nya dan berkata,
" Darah tujuh orok yg lahir pada hari kliwon, dan semua nya itu harus di minum,!" ucap nya.
" Hehh, memang kalau ilmu hitam, aneh-aneh saja laku yg harus di jalan kan, !" ujar Patih Kebo Mundira geleng geleng Kepala.
" Itu lah paman, sehingga aku enggan melakukan nya, namun jika teringat akan kamukten yg telah paman sebut kan tadi, rasa-rasa nya ingin menuntas kan ilmu itu, yg secara langsung dapat mempengaruhi siapa pun yg kita kehendaki bukan cuma bisa merangkap kan diri menjadi banyak,!" jelas Mahisa Dara lagi.
" Sudah lah, nanti jika ada kesempatan kita bahas kembali, sekarang angger Dara wajib bersyukur karena Putri Nawang Sekar bakal menjadi istrimu dan berarti satu langkah engkau telah menjejak kan kaki di Istana, tinggal melihat situasi yg berlaku selanjut nya,!" nasehat Sang Patih Kebo Mundira kepada Mahisa Dara.
" Benar kata Paman, se sungguh nya Aku amat ber terima kasih kepada Paman yg telah berupaya menjodoh kan ku dengan putri Nawang Sekar, bahkan bersedia jadi wali Ku untuk melamar Putri Nawang Sekar pada Gusti Adipati,!' tutur mahisa dara yg kelihatan nya sangat menghormati Patih Kebo Mundira.
" Jangan terlalu di bawa perasaan, setiap kita wajib tolong menolong selagi kita mampu, terlebih Aku dan Romo termasuk saudara seperguruan!" jawab Patih Kebo Mundira.
Kedua nya terlihat bahagia atas keberhasilan Mahisa Dara memikat hati dari Sekar kedaton pandan Alas tersebut.
Memang dahulu pun Mahisa Dara berupaya memikat hati Sekar kedaton Majapahit namun gagal, malah Sang putri di jodoh kan dengan Radeksa Wikala, sehingga kebencian Mahisa Dara atas Adipati Pamotan itu sudah sangat tidak terhingga.
__ADS_1
********
Di Istana Majapahit sendiri telah kedatangan tiga Adipati yg di panggil datang untuk menghadap. Mereka adalah Adipati Daha, Adipati Pamotan dan Kahuripan.
Atas perintah ibunda Ratu Jayeswari yg dalam keadaan sakit parah itu, ketiga nya langsung ke bilik sang Ratu, permaisuri dari Prabhu Rajasawardhana sang SiNAGARA itu.
Mereka di antar langsung oleh Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa yg merasa aman jika melakukan pembicaraan rahasia di bilik ibunda nya itu.
Ketiga nya telah sampai dan pertama kali yg di tanya kan Ibunda Ratu adalah,
" Anakmas Kertabhumi, apakah engkau membawa serta cucunda ratna pambayun,?" tanya nya kepada Wikala yg telah berada di dalam bilik.
Sambil menjura hormat, Sang Adipati menjawab,
" Hamba Kanjeng ibu, ananda Pembayun kami bawa serta, namun masih ada di tangan emban, Kanjeng ibu,!" jawab Wikala.
" Suruh bawa kemari aku ingin melihat nya, mungkin untuk terakhir kalinya, karena aku akan menyusul ibunda nya,!" kata Sang Ratu Jayeswari yg nampak ber semangat setelah cucu nya di bawa serta menghadap.
Kemudian salah seorang prajurit memanggil emban pengasuh dari Ratu ayu Ratna Pembayun.
Kemudian emban itu masuk ke dalam bilik ibunda Ratu Jayeswari yg cukup luas itu.
Setelah puas dengan Ratna Pembayun berkata lah ibunda Ratu Jayeswari,
" Mungkin umur ku tidak akan lama lagi, satu pinta ku kepada kalian sebagai putra dari Rajasawardhana, jangan sampai terjadi silang sengketa diantara kalian, karena sesungguh nya Ramanda dan ibunda mu ini akan tersiksa melihat kalian dari alam kelanggengan, apabila kalian berebut kekuasaan,!" ujar Sang Ibunda Ratu Jayeswari pelan.
" Dan Ibunda telah menyaran kan kepada Nanda Prabhu untuk mengalah kepada Paman kalian , dimas Surya Wikrama, apabila ia mengingin kan menjadi Raja di Majapahit ini,!" kembali ter dengar kata-,kata dari Sang Ratu Jayeswari.
Terlihat ketiga Adipati tersebut saling berpandangan mendengar kàta-kata terakhir dari ibunda Ratu Jayeswari, mereka bisa terima kalau diantara mereka tidak boleh cekcok namun dengan Adipati Pandan Alas rasa-rasa nya sulit untuk berdamai.
Setelah keheningan di dalam bilik terjadi , berkata kembali Sang Ratu Jayeswari,
" Dan pesan ku untukmu anakmas Pamotan, jaga lah baik--baik Ratna Pembayun, jangan sampai ia merasa susah atau pun sedih karena ibunda nya dulu pun demikian, Ratna parangkawuni itu tidak pernah merasa susah bahkan oleh ramanda nya ia di perbolehkan memilih suami nya sendiri, jadi ibunda harap anakmas jangan sampai menyia-nyiakan Ratna Pembayun,!" kata Ratu Jayeswari , kemudian nafas nya mulai ter sengal-sengal.
Kemudian saat tarikan nafas Ratu Jayeswari mulai berat sampai dada nya ter angkat, akhir nya Ratu Jayeswari menghembus kan nafas terakhir nya dengan di kelilingi oleh putra putra nya serta cucunya.
__ADS_1
Hari itu mendung terlihat di atas Kota Raja Majapahit, setelah Mangkatnya Sang Ibunda Ratu.
Yang paling terpukul atas Mangkatnya ibunda Ratu Jayeswari adalah Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa, karena sesuatu yg tidak di ingin kannya seperti nya akan berlaku, yaitu tampuk kekuasaan akan segera berpindah ke Pandan Alas, sesuai saran dari Ibunda Ratu Jayeswari kepada nya.
Hampir sepekan Kotaraja berkabung atas Mangkatnya ibunda Ratu, setelah selesai acara Shraddha.
Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kembali ke Istana nya namun kali ini ia hanya mau menerima tiga orang Adipati saja, selain nya tidak di izinkan menemui nya.
Terlihat lah keempat orang itu tengah melakukan pembicaraan yg serius.
" Ampun kan hamba, Kangmas Prabhu, sebaik nya saran ibunda Ratu tidak usah di turuti mengenai perpindahan kekuasaan atas Pandan Alas, jika Kangmas Prabhu tetap melakukan nya berarti menciderai hati kami, terutama Nanda Kahuripan yg Ramanda nya telah tewas oleh paman pandan Alas,!" ungkap Adipati Daha yg merupakan adik kandung dari Prabhu Bhatara Purwawisesa sendiri.
" Demikian pula Pamotan, Kangmas Prabhu, jika terjadi perpindahan kekuasaan maka kami di Timur pasti akan melakukan perlawanan, mengingat begitu banyak nya kesalahan Paman Pandan Alas, termasuk atas Kematian Ramanda Prabhu Rajasawardhana dan kangmas Kahuripan juga nyawa kami sendiri pun hampir tamat jika Hyang widhi wasa tidak berpihak kepada kami, jadi kalau yg jadi Raja di Majapahit ini adalah paman pandan Alas, kami tetap akan melawan,!" jelas Adipati Pamotan.
" Juga bagi Kami di Kahuripan, jika Paman Prabhu melepas kan kekuasaan seperti yg telah di saran kan oleh eyang Ratu, Kahuripan akan angkat senjata melawan Eyang Pandan Alas, hutang nyawa bayar nyawa, tidak ada kesalahan dari Ramanda Kahuripan mengapa ia mesti di bunuh,!" ucap Adipati Kahuripan yg baru merupakan keponakan dari Prabhu Bhatara Purwawisesa.
Kemudian Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa berkata setelah berkali-kali menghela nafas nya, ia memang menyadari atas keberatan ketiga Adipati tersebut.
" Sungguh aku mengerti dan paham dengan maksud kalian bertiga , bahkan Aku sendiri telah mengada kan sidang tertutup sebelum kalian datang kemari guna membahas dari permintaan ibunda Ratu tersebut, namun ketiga orang kepercayaan ku pun tidak dapat menyimpul kan, dan di saran kan mendengar pendapat kalian bertiga, Jadi setelah mendengar ucapan kalian bertiga , Aku mantap tetap berkuasa di Majapahit ini,!" terdengar kata-kata dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
" Kami sangat ber terima kasih atas keputusan dari Kangmas Prabhu,!" ucap Adipati Daha.
Akhir nya ketiga Adipati tersebut merasa mantap akan keputusan yg di ambil oleh Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa itu.
Mereka melihat ada kepercayaan diri dari sang Prabhu Bhatara Purwawisesa yg selama ini di cap sebagai Raja yg lemah di bawah bayang-bayang mertua nya sendiri.
************(((((())))))****************
note:
\*\* Daha. \= Kediri
Pamotan. \= Banyuwangi.
__ADS_1
Kahuripan. \= Surabaya