BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 9 : ISTANA tanpa MAHKOTA bagian pertama.


__ADS_3

 Sejak Mangkatnya Sang Prabhu SiNAGARA, kondisi istana benar-benar berbeda, apalagi Sang Adipati Anom belum bersedia untuk naik tahta.


Adalah Sang Patih Gajah Nata yg memegang tampuk kekuasaan sementara dengan di bantu beberapa Rakryan Mantri dan demung,


Sementara ibu suri , ikut putri nya yg kembali ke pamotan. Karena ibu suri selalu teringat apabila berada di istana Majapahit.


Tugas dan tanggungjawab Patih Gajah Nata cukup berat selaku pemangku kekuasaan kerajaan Majapahit sebelum bersedia nya Pangeran Samara wijaya naik tahta.


Tugas pertama yg di lakukan oleh Patih sepuh ini adalah membentuk kesatuan prajurit yg bertugas untuk menyelidiki siapa sebenarnya dalang di balik tewasnya Prabhu Rajasawardhana.


Kedua , ia mulai memilih dan memilah siapa teman dan siapa lawan.


Dan tekanan dari luar istana yaitu pandan alas pun perlu di perhatikan , akankah ada keterkaitan antara kematian sang Prabhu dengan pemberontakan Adipati pandan alas tersebut.


******


Naja pratanu yg mendapatkan mandat dari Bhre Pamotan untuk menyelidiki siapa sebenarnya pembunuh Sang Prabhu mulai pencariannya.


Sebelum nya Naja pratanu meminta pendapat dari Arya bor bor dan Larasati.


" Menurut paman bor-bor siapakah yg patut di curigai atas tewasnya gusti Prabhu?" tanya nya pada Hantu Kali Mayit.


" Kalau menurutku yg paling di curigai adalah Adipati pandan alas, karena terbukti ia melawan junjungannya, !" jelas Arya bor bor.


" Mungkin juga,.... dan kalau menurutmu Laras,.. siapa yg patut di curigai,?" tanya Naja pratanu pada larasati.


" Kalau menurutku, mungkin ada orang dalam yg memanfaatkan situasi dari pertikaian antara kotaraja dengan pandan alas,!" Larasati.


" Tetapi kakang bisa minta petunjuk Romo yg berada di Thanda, !" lanjut Larasati,


" Selain Romo memiliki panggraita yg lumayan juga lama hidup di lingkungan istana, sayang kakang Radeksa belum pun kembali, !" jelas Larasati.


" Benar, guru sudah lama perginya namun belum pulang juga, kasihan kanjeng Ratu guru,!" ujar arya bor bor.


" Kakang mbokayu sangat terpukul atas Mangkatnya Gusti Prabhu dan kepergian kakang Radeksa, oleh sebab itu kakang Pratanu harus berhasil menjalankan titah kang mbokayu, " kata Larasati.


" Memang tugas ini amat sulit dimana akupun harus bekerja sendiri.!" ungkap Naja pratanu.


" Memang sulit namun bukan mustahil untuk di ungkap" kata Larasati menyemangati kekasihnya itu.


" Baiklah , besok aku akan ke desa thanda guna menemui romo mu, apakah ada pesan untuknya,?" tanya Naja pratanu kepada Larasati.

__ADS_1


" Sampaikan pesanku, bahwa kangmbokayu menginginkan mereka berdua untuk datang kemari untuk menemani ibu suri di sini!" kata Larasati.


Pagi harinya dari istana pamotan bergeraklah seekor kuda nan tegar lagi besar menuju arah barat, penunggangnya yg tiada lain adalah Naja pratanu yg saat ini telah di angkat sebagai Bekel pengawal Ratu Pamotan.


Tugas yg di emban Naja Pratanu memang berat yaitu mencari tahu siapa sesungguhnya pembunuh Raja Majapahit yg kesembilan itu.


******"*""


Sementara di Wengker tepatnya di dalam istana, Bhre Wengker kedatangan dua orang tamu, mereka adalah adik dari Bhre Wengker sendiri yaitu pangeran karana Wijaya atau Bhre kahuripan dan pangeran Rana wijaya atau Bhre daha, ketiga nya terlibat pembicaraan serius,


" Sebagai putra mbarep kakang samara bertanggungjawab atas kelangsungan Majapahit ini, " ucap Bhre kahuripan.


" Jangan membuat istana tanpa mahkota, !" kata Bhre Daha.


" Kang , sebenarnya kalau tidak memandang kakang samara sebagai saudara tua kami dan sebagai pengganti ramanda Prabhu, kami bertiga berniat untuk menghancurkan pandan alas,!" kata Bhre kahuripan dengan nada geram.


" Benar, kami masih menghargai kakang sebagai kakak tertua kami dan sebagai adipati Anom, jadi kami masih berharap banyak atas usaha kakang untuk menegakkan Majapahit ini menjadi Jaya, " Bhre daha berkata dengan semangat yg menyala.


Nampak Bhre Wengker terdiam, ia memang putra pertama dari Prabhu Rajasawardhana yg telah mangkat tersebut. Dan kedua adiknya yg berada di hadapan nya itu meminta ia untuk melakukan sesuatu demi keutuhan Majapahit, namun ia pun merasa bahwa paman sekaligus mertuanya itu juga berharap dapat jadi Raja di Majapahit ini.


Serasa di hati Bhre Wengker ini ia berada dalam persimpangan jalan .


Terbayang olehnya Wajah Sang Prabhu , serasa ia masih ada.


" Adakah kakang berusaha untuk mencari tahu siapa pembunuh Ramanda Prabhu,?" tanya Bhre kahuripan pada Bhre Wengker itu.


Nampak Wajah Bhre Wengker menggeleng.Dan kemudian menjawab,


" Belum, aku belum mengirim orang untuk mencari tahu siapa sesungguhnya pembunuh Ramanda Prabhu!" jelasnya.


" Sementara adi Pamotan telah mengirim orang untuk menyelidiki siapa dalang di balik semua ini ,!" terang Bhre daha.


" Hehh, adi parangkawuni telah mendahului , untuk mencari tahu siapa pelakunya,!" ujar Bhre Wengker yg merasa kalah dengan adik perempuan nya itu.


"Benar kakang, adi parangkawuni tidak terima atas kematian ramanda Prabhu yg tidak wajar itu,!" jawab Bhre kahuripan.


" Tidak wajar, apa maksudmu dimas karana,?" tanya Bhre Wengker kepada adiknya itu.


" Menurut kanjeng ibu, malam itu Ramanda Prabhu keluar bilik saat tengah malam karena kepanasan , namun begitu di tegur kanjeng ibu, ramanda Prabhu diam saja tanpa menjawab,!" jelas Bhre kahuripan.


" Dimana letak tidak wajar nya, ?" tanya Bhre Wengker lagi.

__ADS_1


" Ahh, kakang samara bagaimana sih, haruskah seorang Raja keluar gerbang istana sendiri kalau hanya untuk mencari angin karena di dalam panas, lagian pun menurut kanjeng ibu , ramanda Prabhu seperti ada yg menggerakkan bukan atas kehendaknya sendiri dan menurut kebiasaannya ,ia akan ke taman istana jika merasa gerah bukan keluar istana, !" jelas Bhre kahuripan.


" Semua itu terpulang kepada kakang, kalau memang kakang mau duduk bertahta di Majapahit kami semua mendukungnya, tetapi kalau tidak terpaksalah kami membuat jalan sendiri-sendiri,!" kata Bhre daha.


" Untuk masalah kakang mu masih perlu pertimbangan yg masak, jadi kuharap adimas berdua bersabar menunggu keputusan ku,!" kata Bhre Wengker.


*****"""


Naja Pratanu yg telah berada di daha tepatnya di desa thanda tengah bertemu dengan Mpu Thanda. Keduanya juga terlibat pembicaraan ,


" Apakhabar paman,?" tanya Pratanu.


" Baik, sangat baik, bagaimana dengan dirimu ngger,?" balik Mpu Thanda bertanya.


" Berkat Hyang widhi wasa, juga baik, ada Salam dari Gusti Ratu buat paman dan bibi, keduanya di harapkan kehadiran nya di istana pamotan !" ungkap Naja pratanu kepada kedua orang tua dari Wikala dan Larasati itu .


" Nanti jika ada sempat kami akan kesana, bukan begitu biyung,?" kata Mpu Thanda dan bertanya kepada istrinya yg telah selesai di dapur.


" Iya, nanti kalau ada sempat kami akan kesana,!" jawab biyung.


" Apakah anakku telah kembali, ngger Pratanu,?" tanya biyung pada Pratanu.


" Belum, kakang Radeksa belum kembali biyung,!" jawab Pratanu.


" Aduh, udah lama sekali tidak bertemu dengannya, biyung sangat rindu,!" ucap ibunda Wikala tersebut.


" Mungkin sebentar lagi kakang Radeksa kembali," kata Pratanu.


" Bagaimana kakang kita ke pamotan, " kata ibunda itu kepada suaminya.


" Iya, nanti kita cari waktu yg tepat,!" jawab Mpu Thanda.


" Paman saya datang kemari sehubungan ingin minta petunjuk dari mu, tentang tugas yg di embankan gusti Ratu untuk mencari tahu siapa sesungguhnya pembunuh Prabhu SiNAGARA,!" ungkap Pratanu.


" Kalau masalah itu, angger Pratanu bisa mulai dari dalam istana, karena menurut panggraita orang tua ini, si pembunuh tidak jauh dari sisi Gusti Prabhu sendiri, mengingat pamanmu sempat lama di dalam istana, banyak orang istana itu yg sulit di tebak maksudnya,!" jawab Mpu Thanda .


" Jadi sebaiknya angger Pratanu berhubungan dengan paman Patih Gajah selaku pemangku kekuasaan di istana Majapahit sampai terpilih nya Raja baru,!" terang mpu thanda lagi.


" Jadi sebaiknya saya menyelidiki nya mulai dari dalam istana,?" tanya Pratanu.


" Tepat sekali , dari sanalah angger mulai, siapa siapa saja orang yg berpengaruh di dalam istana itu dapat di curigai sebagai pelakunya, baik dengan tangannya sendiri atau meminjam tangan orang lain,!" jelas Mpu Thanda.

__ADS_1


" Oh ya, ngger, nanti mampir kerumah ki gede thanda , kudengar putrinya Rara Tantri telah pulang, kami berdua amat senang bila itu terjadi, sebenarnya kami ingin kesana tetapi ada rasa sungkan terhadap angger Tantri,!" ungkap Mpu Thanda.


" Baiklah nanti sore saya akan sowan ke tempat ki gede,!" kata Pratanu.


__ADS_2