
Di istana Majapahit sendiri Sang Prabhu SiNAGARA sedang murka,
" Apa kerja kalian, sudah berapa kali prajurit yg nganglang di perbatasan kadipaten pandan alas tewas dan hilang, " teriak Sang Prabhu.
" Ampun Gusti Prabhu, para perampok itu amat licik , sehingga kami tidak dapat menemukannya, " ucap salah seorang Tumenggung , yaitu tumenggung Rabanar
" Jadi maksud mu , kalian tidak dapat menemukan mereka, " ujar Sang Prabhu lagi.
" Ampun Gusti Prabhu, setelah mereka membunuh para prajurit itu, mereka langsung melarikan diri ke daerah kadipaten pandan alas, jadi kami tidak berani masuk kesana, " jawab tumenggung Rabanar lagi.
" Apa masalah nya, apakah pandan alas bukan wilayah Majapahit ,?" tanya Sang Prabhu.
" Ampun Gusti Prabhu, memang pandan alas wilayah Majapahit akan tetapi para prajurit disana, seakan-akan tidak mengizinkan kami masuk ke wilayah mereka, kami di suruh menghadap dulu pada Gusti adipati, baru boleh memeriksa wilayah mereka, sedangkan para perusuh keburu hilang , demikian Gusti Prabhu," jelas Tumenggung Rabanar.
" Hehh, apa maksud dimas Surya melarang prajurit Majapahit tidak boleh masuk wilayah nya, ?" gumam Sang Prabhu SiNAGARA.
" Prajurit , panggil Rangga Rawelu dan Mapanji Garangan wesi kemari, " perintah Sang Prabhu kepada prajurit jaga.
Sebentar kemudian dua orang yg di panggil segera menghadap Sang Prabhu SiNAGARA.
" Ampun Gusti Prabhu, ada apa kiranya kami berdua di panggil menghadap, " ucap Rangga Rawelu sambil menjura hormat.
" Rawelu dan kau Garangan wesi, antarkan suratku ini kepada Dimas Surya wikrama , adipati pandan alas, suruh dia menghadap kemari,!" titah Sang Prabhu SiNAGARA kepada Rangga Rawelu dan Mapanji Garangan wesi.
" Sendika dawuh Gusti Prabhu, kami berdua siap melaksanakan titah Gusti Prabhu," jawab kedua orang tersebut seraya beringsut mundur dari hadapan Prabhu Sang SiNAGARA.
Kemudian bertanya lah Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi kepada Prabhu SiNAGARA,
" Ampun Gusti Prabhu, tindakan apa kiranya seandainya Gusti adipati tidak berkenan menghadap, ?" tanyanya pada Sang Prabhu.
" Kita paksa dengan kekerasan, Aku tidak ingin ada yg mbalelo di Majapahit ini, sudah dua paseban agung ia tidak menghadap,!" kata Gusti Prabhu berang.
" Ampun Gusti Prabhu, apakah tidak perlu di pikirkan masak-masak untuk menggunakan kekerasan guna menghadapkan anakmas Adipati, mengingat beliau merupakan adik kandung Gusti Prabhu sendiri, " ucap Patih Gajah Nata.
" Jadi maksud paman Aku harus membiarkan sikapnya yg mbalelo itu padaku, seandainya ia anak kandungku sendiri pun akan kutindaktegas bila tidak menuruti perintah ku," jelas Sang Prabhu SiNAGARA penuh kemarahan.
" Bukan maksud paman untuk tidak menuruti perintah Gusti Prabhu, tetapi tidak ada jalan lain, selain jalan kekerasan,?" tanya Patih Gajah Nata lagi.
" Jalan apa paman, ini adalah jalan yg paling baik untuk ditempuh," jawab Gusti Prabhu.
__ADS_1
" Misalkan jalan perundingan , kita kirim utusan yg di pandang oleh anakmas Adipati sebagai seorang yg di hormatinya, misalkan ibu Suri , dan ditanyakan apa sebabnya ia mbalelo, " terang Patih Gajah Nata.
" Ibunda Suri sudah terlalu tua, sekalipun beliau datang ,dimas Surya tidak akan bergeming atas sikapnya, Saya tahu tabiat adikku itu, paman " jelas Prabhu SiNAGARA.
" Paman hanya tidak ingin ada pertumpahan darah lagi di bumi Majapahit ini apalagi sesama saudara, masih terngiang rasanya perang paregreg yg terakhir melemahkan kejayaan Majapahit, banyak daerah-daerah yg melepaskan diri, " ujar Patih Gajah Nata.
" Apa boleh buat paman, selaku seorang Raja saya harus tegas dalam memimpin ,!" ucap Sang Prabhu lagi.
*******
Sementara itu Rangga Rawelu dan Mapanji Garangan wesi memacu kudanya dengan cepat ke arah barat menuju Kadipaten pandan alas, memang Kuda-kuda yg ditunggangi kedua perwira Majapahit ini adalah kuda yg tegar dan besar , seharian penuh di pacu masih mampu berlari kencang hingga malam menjelang barulah mereka beristrahat.
Hampir tiga hari perwira Majapahit itu melakukan perjalanan, sampai lah mereka di istana kadipaten pandan alas.
Mereka di terima prajurit jaga dan langsung di bawa menghadap kanjeng Gusti adipati pandan alas.
" Ada gerangan apakah kiranya , Ki Rangga berdua datang kemari, " ucap Adipati pandan alas.
" Maafkan kami Gusti adipati , Kami berdua di utus Gusti Prabhu kemari untuk menyampaikan pesan kepada Kanjeng Gusti adipati, " tutur Rangga Rawelu .
" Apa pesan Kangmas Prabhu kepada ku ,?" tanya Gusti adipati pandan alas.
Sambil beringsut maju, Rangga Rawelu menyerahkan lontar yg berisikan pesan Prabhu SiNAGARA kepada Adipati pandan alas.
Wajah Adipati memerah menahan marah. Kemudian ia menyuruh prajurit untuk membuat surat balasan kepada kakaknya Sang Prabhu SiNAGARA.
" Surat sudah saya terima, dan tolong katakan pada Kangmas Prabhu , saya tidak bisa menghadap saat ini karena terlalu banyak pekerjaan saya, " kata Adipati pandan alas.
Setelah dapat surat balasan dari Adipati maka kedua perwira itu kembali lagi ke Majapahit.
Sedangkan di istana kepatihan kadipaten pandan alas, Patih Kebo Mundira sedang berbicara dengan adiknya Senopati kebo ndaru.
" Kakang Patih , apa tidak sebaiknya dua utusan Gusti Prabhu itu di habisi saja , supaya Gusti Prabhu semakin murka, " tanya Kebo Ndaru pada Patih Kebo Mundira.
" Sebaiknya jangan, kita lihat dulu perkembangan, karena menurut kakang Kuda Langhi apabila Gusti adipati tidak menghadap, maka Gusti Prabhu akan memanggil secara paksa, dan apabila utusan kita bunuh , Gusti Prabhu tidak tahu isi surat Kanjeng adipati," jawab Patih Kebo Mundira.
" Ahh, dengan membunuh kedua utusan itu lebih mempercepat Gusti Prabhu menyerang kemari, " jelas Senopati kebo ndaru yg agak berangasan.
" Kita tidak perlu terburu-buru, lagian prajurit yg kita latih masih belum mapan untuk di terjunkan ke medan perang , berbeda dengan prajurit Majapahit, mereka yg telah biasa bertempur di medan Laga," kata Patih Kebo Mundira.
__ADS_1
" Ada benarnya juga, kakang , " ujar Senopati kebo ndaru sambil mengangguk-angguk.
" Yahhh , kita tunggu perkembangan, dan menurut kakang Kuda Langhi jika pecah perang antara Majapahit dan pandan alas , kekuatan di dalam istana pasti jauh berkurang dan ini akan di manfaatkan nya guna menghabisi Gusti Prabhu, " jelas Patih Kebo Mundira.
" Sebenarnya kakang, kakang kekuatan Majapahit sangat berkurang , terutama Senopati pinunjulnya, oleh sebab itu aku ingin menghabisi kedua utusan itu karena salah satunya yaitu Rangga Rawelu sangat diandalkan oleh Gusti Prabhu sebagai Senopati sejak dari Kahuripan," ucap Senopati kebo ndaru.
" Darimana kau tahu adi Ndaru ,?" tanya Patih Kebo Mundira pada adiknya itu.
" Dari prajurit sandi yg kukirim , dan ini kami pun sedang melihat keadaan wengker selaku tetangga dekat kita bagian selatan, Adipati wengker adalah Adipati anom dan juga menantu Kanjeng adipati pandan alas, kemanakah anakmas wengker berpihak , pada Romo nya, atau mertuanya, " terang Senopati kebo ndaru .
" Ehh, iya hampir terlupa olehku tentang masalah itu, soalnya kalau pun pandan alas bisa menang melawan Majapahit yg akan naik tahta tentu Anakmas wengker bukan kanjeng Gusti adipati pandan alas, " ucap Patih Kebo Mundira.
" Benar kakang, apakah kakang tidak pernah membicarakan masalah ini dengan Kanjeng Gusti adipati ,?" tanya Senopati kebo ndaru.
Tampak kepala Patih Kebo Mundira menggeleng.
" Kakang , seharusnya masalah ini harus di bicara kan dengan Kanjeng Gusti adipati segera, " kata Senopati kebo ndaru.
" Baiklah , nanti disela- sela sesudah sidang paseban akan kutanyakan kepada Kanjeng adipati " tukas Sang Patih Kebo Mundira.
Kedua orang petinggi kadipaten pandan alas itu terus membahas berbagai macam kemungkinan yg akan terjadi.
Sementara dua orang utusan Gusti Prabhu ke pandan alas telah kembali ke istana Majapahit.
Keduanya langsung menghadap Gusti Prabhu.
" Ampun kami , Gusti Prabhu , titah telah kami jalankan , dan ini surat balasan Kanjeng adipati, " kata Rangga Rawelu sambil beringsut maju menyerahkan surat balasan Kanjeng adipati pandan alas.
Perlahan Gusti Prabhu membuka surat itu dan setelah membacanya , nampak wajah Gusti Prabhu merah padam seraya memukulkan tangannya pada kursi singgasana.
" Paman Patih segera siapkan pasukan , panggil kemari adipati pandan alas, hidup atau mati, " Titah Sang Prabhu SiNAGARA.
" Sendika dalem Gusti Prabhu, " jawab Patih Gajah Nata sambil menjura hormat.
" Kuperintahkan bawa pasukan segelar sepapan dengan Senopati agung adalah paman Patih Gajah Nata di bantu oleh Tumenggung Rabanar , Tumenggung singha wara dan Rangga Rawelu," jelas Gusti Prabhu.
" Dan untuk keamanan keraton supaya Jaran abang yg bertanggungjawab, " ucap Gusti Prabhu lagi.
Setelah merasa cukup penjelasan oleh Gusti Prabhu , maka segera lah Patih Gajah Nata keluar ruangan guna mempersiapkan pasukan untuk menyerang kadipaten pandan alas, titah sudah jelas membawa adipati pandan alas hidup atau mati.
__ADS_1
Di istana kepatihan , tampak para Senopati yg ditunjuk oleh Gusti Prabhu sedang mengadakan rapat untuk menentukan kapan menyerang pandan alas dan gelar apa yg akan di pakai mengingat Pasukan Majapahit kekurangan salah seorang Senopati pinunjulnya yaitu Bekel Bhayangkara Lembu petala.