BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 18 Singgasana Yang Suram bagian ke lima


__ADS_3

Seekor kuda tampak tengah ber lari kencang keluar gerbang kota raja Majapahit, nampak di atas punggung kuda tersebut lelaki muda yg tengah memacu kudanya.


Ia ada lah Mahisa Dara yg tengah menuju kadipaten Pandan Alas, guna menemui kakak ipar nya yg menjadi Adipati di Pandan Alas itu.


Karena kuda nya tegar dan besar sebentar saja ia memacu sudah mendekati alas Turanggana.


Selepas melewati alas Turanggana , Mahisa Dara me macu kuda nya menuju daerah anjuk ladang.


Ia ber keinginan cepat sampai ke Pandan Alas untuk mem beritahu kan pesan dari dari Prabhu Suraprabhawa kepada kakak ipar nya yg jadi adipati di Pandan Alas.


Selesai melintasi wilayah anjuk ladang, Mahisa Dara terus memacu kuda nya mendekati desa kame, yg sekarang menjadi desa kamejayan akibat dari Kadipaten Pandan Alas mampu menahan serangan Kotaraja Majapahit yg kala itu di pimpin oleh Patih Gajah Nata melawan pasukan Pandan Alas yg di pimpin oleh Patih Kebo Mundira, sekarang desa kamejayan semakin ramai, sedang kan Mahisa Dara tetap memacu kuda nya dengan kencang di antara lalu lalang nya para petani yg akan dan kembali dari sawah.


Banyak petani itu yg menyingkir ke tepi jalan karena melihat seekor kuda yg besar yg tengah ber lari dengan kencang nya yg meninggal kan debu-debu yg ber terbangan.


Warga desa kamejayan sampai geleng-geleng kepala melihat seorang yg me macu kudanya dengan kencang itu seolah mereka ber kata, memang tidak punya tata krama, penunggang kuda itu.


Di mana banyak orang di situ ia memacu kuda nya dengan kencang, namun para penduduk desa kamejayan tidak ada yg berani setelah mereka melihat Sang penunggang kuda itu adalah menantu dari Prabhu Suraprabhawa yg ter biasa pulang balik antara kotaraja ke kota pandan Alas itu.


Mereka umum nya hanya men desah di dalam hati. Karena kelakuan dari menantu Prabhu Suraprabhawa itu.


Secepat nya Mahisa Dara meninggal kan desa Kamejayan dan mengarah langsung ke kota kadipaten Pandan Alas.


Se sampai nya di kota Pandan Alas hari hampir malam.


Mahisa Dara mengikat kan Kuda nya dan langsung menemui kakak ipar nya itu tanpa sempat mem bersih kan diri.


Adalah Adipati Pandan Alas yg cukup ter kejut akan kehadiran dari adik ipar nya itu segera ber tanya,


" Apa yg menyebab kan dimas Dara nampak terburu-buru begitu,?" tanya Adipati Pandan Alas itu.


" Ahh, kangmas Adipati , saat ini keadaan istana Majapahit dalam keadaan terancam, itu lah sebab nya aku nampak ter buru-,buru,!" jawab Mahisa Dara

__ADS_1


" Memang nya kenapa dengan Kotaraja, apa yg menyebab kan dimas nampak panik begini,?" tanya Adipati Pandan Alas lagi.


" Kangmas Adipati , jika saat ini Pamotan menyerbu Kotaraja Majapahit, tentu nya Majapahit akan kalah, bahkan seluruh pasukan Majapahit yg saat ini berada di Kotaraja tidak akan mampu menahan serangan itu, dan nyawa Ramanda Prabhu pasti terancam, bahkan nasib kita semua sudah di pasti kan akan berada di ujung tanduk, mungkin menghadapi tiang gantungan atau hukuma penggal dari Adipati Pamotan itu,!" seru Mahisa Dara.


" Ahh dimas , bicara lah dengan tenang biar Aku bisa mendengar kan dengan baik apa yg ingin dimas sampai kan itu, tidak ter gopoh-gopoh seperti ini,!" ucap Adipati Pandan Alas.


" Begini kangmas Adipati, kangmas tentu sudah men dengar tentang kekalahan dari pasukan Majapahit yg menyerang Kahuripan bukan,,?" tanya Mahisa Dara.


" Sudah, bahkan Paman Patih Kebo Mundira selaku Senopati Agung nya pun telah tewas di tangan Senopati dari Pamotan, dan yg menjadi permasalahan nya apa, dimas Dara,?" tanya Adipati Pandan Alas itu.


" Begini Kangmas, jika Pamotan dan Kahuripan ber satu menyerang Kotaraja Majapahit, apa jadi nya sedang kan saat ini Kotaraja Majapahit tidak memiliki Senopati pinunjul lagi di tambah para prajurit nya yg telah banyak ber kurang, kira-kira kalau menurut Kangmas Adipati apa yg akan terjadi,?" balik Mahisa Dara ber tanya.


Sebelum menjawab pertanyaan dari adik ipar nya itu, Adipati nampak ber pikir sesaat baru kemudian menjawab,


" Ya tentu Majapahit akan kalah,!" ucap nya begitu saja.


" Kalau Kota Raja Majapahit kalah bagaimana dengan nasib kita,?" tanya Mahisa Dara lagi.


" Itu tidak boleh terjadi, apapun resiko nya Kotaraja Majapahit tidak boleh jatuh ke tangan Adipati Pamotan, apa lagi sampai ber hasil mem bunuh Ramanda Prabhu, itu tidak boleh terjadi,!" ungkap Adipati pandan Alas dengan berang.


" Sebab itu lah Ramanda Prabhu mengutus Ku untuk datang kemari supaya Kangmas Adipati Pandan Alas dan Kangmas Wengker tidak tinggal diam, marilah kita selaku putra putri dari Ramanda Prabhu Suraprabhawa untuk bahu membahu menjaga keselamatan dan kekuasaan dari Ramanda Prabhu dari rongrongan keturunan Rajasawardhana itu, bukan diam dan ber pangku tangan seperti ini,!" jelas Mahisa Dara mem beri kan gamabaran tentang keadaan Majapahit yg dalam keadaan gawat itu.


Lama Adipati Pandan Alas ter diam, karena sejak memangku jabatan sebagai Adipati Pandan Alas mengganti kan Ramanda nya itu, ia banyak di sibuk kan dengan urusan perempuan dan judi sabung ayam, tanpa menghirau kan keadaan Majapahit yg nampak mulai suram ketika di pegang oleh orangtua nya itu. Karena banyak Kadipaten yg terang-terang an membangkang perintah dari Prabhu Suraprabhawa itu.


" Jadi apa yg mesti kami lakukan , dimas Dara,?" tanya nya kepada adik ipar nya itu.


" Menurut Ramanda Prabhu segera lah kangmas Adipati menyiap kan prajurit dengan membuka pendadaran untuk masuk jadi prajurit dari para pemuda desa di wilayah kadipaten Pandan Alas ini, bila perlu di paksa, bagi siapa saja yg mampu untuk mengangkat senjata namun mereka enggan untuk jadi prajurit, karena ke butuhan akan prajurit yg banyak sangat mendesak untuk di lakukan,,!'' jawab Mahisa Dara.


" Dan lagi,?" tanya Adipati Pandan Alas itu.


" Masih menurut Ramanda Prabhu, bagi kangmas ber dua kurangi lah kegiatan yg tidak ber manfaat seperti judi dan perempuan karena akan mengurangi atau bahkan menghambat lajunya roda pemerintahan yg baik dan kuat, karena menurut Ramanda Prabhu, saat ini Kadipaten Pandan Alas jauh ter tinggal dengan kadipaten-kadipaten yg lain yg berada di bawah kekuasaan Majapahit ini,!" ungkap Mahisa Dara.

__ADS_1


Adipati Pandan Alas ter diam setelah mendengar ucapan yg menohok dari adik ipar nya itu. Ia sesungguh nya mem benar kan ucapan dari adik ipar nya itu, karena ke gemaran menyabung ayam dan ber buru gadis-gadis desa yg cantik , Adipati Pandan Alas seolah tidak mem perhatikan keadaan negeri Majapahit ini yg di ambang kehancuran akibat dari perpecahan yg terjadi.


Ia kemudian mengenang kan, apa jadi nya jika Kerajaan Majapahit ini beralih ke tangan Adipati Pamotan, apakah ia masih menjabat Adipati lagi di Pandan Alas ini.


Setelah ter menung beberapa saat akhir nya Adipati Pandan Alas itu ber kata lirih,


" Baik lah Dimas Dara, semua nasehat Ramanda Prabhu akan Ku jalan kan, bahkan nanti nya akan Ku buat Pandan Alas lebih baik dari seluruh kadipaten yg ada di Majapahit ini,!' ujar nya.


" Bagus, tentu Ramanda Prabhu akan senang mendengar janji dari Kangmas Adipati, karena se sungguh nya Ramanda Prabhu kelihatan nya sudah pasrah dengan nasib yg akan menimpa nya itu bahkan yg ter buruk sekali pun,!" kata Mahisa Dara.


" Kata kan kepada Ramanda Prabhu , kami siap mem bantu nya, dengan segenap jiwa dan raga kami, tak kan kami biar kan Adipati Pamotan itu menyentuh seujung kuku dari Ramanda Prabhu,!" seru Adipati Pandan Alas.


" Dimas Dara, akan kah lama di Pandan Alas ini?" tanya Adipati Pandan Alas kepada Mahisa Dara.


" Tidak Kangmas, karena setelah dari sini aku akan ke Wengker bertemu Kangmas Wengker menyampai kan peaan Ramanda Prabhu,!" jelas Mahisa Dara.


" Jadi setelah dari sini Dimas Dara langsung ke Wengker,?" tanya Adipati Pandan Alas itu.


" Benar Kangmas, mungkin besok pagi-pagi sekali aku akan langsung ke Wengker, mumpung masih ada waktu, karena dari prajurit sandi Majapahit , tampak nya Pamotan belum akan ber gerak dalam waktu dekat ini,!" ujar Mahisa Dara.


" Baik lah sampai kan salam ku kepada Kangmas Wengker, dan bagi Dimas Dara, ber hati-hati lah ketika melintasi alas Petak selentuk,!" ucap Adipati Pandan Alas.


" Terima kasih kangmas atas nasehat nya, memang nya ada apa di alas selentuk itu,?' tanya Mahisa Dara.


" Ah, tidak, banyak yg menyebut kan di alas itu ada begal sakti yg sering melakukan perampok an bagi siapa saja yg melintasi nya, ia ber nama Gagak Mantruk,!" jawab Adipati Pandan Alas lagi.


" Mudah mudahan perjalanan ku kali ini tidak akan ada aral yg melintang yg dapat menghambat perjalanan ku,!" ungkap Mahisa Dara.


" Mudah mudahan,!" sahut Adipati Pandan Alas.


Malam itu Mahisa menginap di Kadipaten Pandan Alas, dan rencana nya esok pagi ia akan melanjut kan per jalanan menuju Wengker.

__ADS_1


__ADS_2