
Di Pamotan sendiri, terlihat Brhe Pamotan sedang melakukan sidang di istana Timur tersebut.
" Saya perintah kan kepada Ki Rangga Jumena dan Naja pratanu untuk membasmi padepokan Raung, karena kemungkinan yg menghadang kita tempo hari adalah penghuni padepokan itu, !" perintah Brhe Pamotan.
" Sendika dalem, Gusti Ratu, !" jawab Rangga Jumena.
" Dan untuk paman arya bor bor kuharap dapat menyertai mereka, !" ujar Brhe Pamotan lagi.
" Ndalem Gusti Ratu Guru," jawab Arya bor bor.
" Dan untuk Tumenggung Rapala dan Rapada saya minta mencari tahu tentang keadaan di istana Majapahit, apakah Ramanda Prabhu jadi menyerang pandan alas, !" titah Brhe Pamotan kepada Tumenggung kembar tersebut.
" Sendika dalem, Gusti Ratu, !" jawab keduanya.
Setelah selesai sidang di istana Timur tersebut, maka segera lah masing-masing menjalankannya.
Adalah Tumenggung kembar Rapada dan Rapala bertanya kepada adik seperguruannya, Naja pratanu yg masih muda itu.
" Adi , Pratanu kudengar yg telah membunuh guru adalah Mpu Thula dari Raung itu," kata Tumenggung Rapala kepada Pratanu.
" Benar kakang, tampaknya saat itu eyang guru di keroyok oleh Mpu Thula dengan muridnya, mengingat mereka kembali mengeroyok , kakang Radeksa suami dari Gusti Ratu, " jawab Pratanu.
" Bagaimana bisa mereka mengeroyok guru, sedangkan padepokan Semeru dan Raung tidak ada silang sengketa, ?" tanya Tumenggung Rapada.
" Ahh, Entahlah, seperti nya ada yg di cari mereka, tetapi tidak di ketemukan jadi pelampiasannya kepada eyang guru," jawab Pratanu.
" Dan tombak Naga tirta milik guru ada padamu ?" tanya Tumenggung Rapala.
" Benar, sebentar kuambilkan,!" kata Pratanu.
Tidak berapa lama Pratanu datang dengan membawa sebuah tombak, yaitu tombak Naga tirta milik Resi Begawan mahameru.
" Tombak milik eyang guru ini kuserah kan kepada kakang berdua selaku murid tertua dari Semeru,!" ucap Pratanu.
" Baiklah adi Pratanu, apakah diantara penghuni padepokan Semeru tidak ada yg selamat, ?" tanya Tumenggung Rapada.
" Kukira tidak ada kakang , dan mungkin pewaris ilmu eyang guru cuma tinggal kita bertiga," jawab Pratanu.
" Ingin rasanya kami ikut denganmu adi Pratanu ke Raung guna menuntut balas atas kematian guru, !" ucap Tumenggung Rapala
" Sayang kami dapat perintah ke keraton Majapahit, " kata Tumenggung Rapada, yg geram mendengar kematian guru nya oleh Mpu Thula.
Setelah menyerah kan tombak pusaka milik Resi Begawan mahameru kepada kedua kakak seperguruannya itu, berangkatlah
Pratanu, Arya bor bor dan Rangga Jumena dengan membawa prajurit Pamotan sekitar tiga puluh orang.
__ADS_1
Sedangkan Tumenggung kembar , Rapada dan Rapala berangkat ke Majapahit, guna mencari tahu tentang keadaan istana saat ini yg lagi memanas dengan kadipaten pandan alas.
Rombongan Rangga Jumena, Pratanu dan Arya bor bor langsung menuju Puncak Raung, yg jarak tempuh dari Pamotan sekitar sehari perjalanan.
Ketika telah sampai di Puncak gunung Raung alangkah terkejutnya mereka melihat padepokan itu telah musnah menjadi abu. Tanpa meninggalkan bekas-bekas kehidupan.
Rombongan itu kemudian menuruni lereng kearah desa terdekat untuk mencari tahu kemana perginya penghuni padepokan itu.
Setelah menanyai beberapa orang penduduk desa, diambil kesimpulan bahwa sepeninggal Mpu Thula yg tewas setelah dua purnama pingsan, seluruh muridnya tampaknya mencari tempat lain untuk menghindari dari kejaran prajurit Pamotan yg sudah mencium usaha jahat mereka atas Gusti Ratu Brhe Pamotan.
Sekembalinya rombongan Rangga Jumena dan Naja pratanu langsung menghadap Gusti Ratu Brhe Pamotan dan memberikan laporan tentang padepokan Raung yg sudah tiada. Gusti Ratu Brhe Pamotan tampak kecewa, akan tetapi merasa senang setelah mendengar berita kematian Mpu Thula yg dahulu hampir menculik nya itu.
Namun kegembiraan Ratu Pamotan hanya sebentar saja, setelah mendengar laporan dari Tumenggung kembar Rapada dan Rapala, wajahnya tampak suram.
Ternyata Adipati Pandan alas bersikukuh tidak mau menghadap Gusti Prabhu SiNAGARA yg adalah kakak kandungnya sendiri.
" Paman Patih, akankah Majapahit kembali terjadi perang saudara lagi,?" tanyanya pada Patih Sengguruh.
" Kemungkinan itu bisa terjadi , Gusti Ratu,!" jawab Patih Sengguruh.
" Bagaimana kah sikap kita Paman Patih, ?" tanya Sang Ratu lagi.
" Yah, kita harus setia kepada Gusti Prabhu SiNAGARA, selain ia adalah Ramandanya Gusti Ratu juga merupakan pemegang kekuasaan yg syah,!" jelas Patih Sengguruh.
Kepala Patih Sengguruh mengangguk.
*******
Sedangkan di istana Majapahit sendiri yg baru ditinggalkan oleh Adipati Wengker yg menjelaskan bahwa Adipati Pandan alas tidak bersedia datang menghadap ke istana Majapahit, menyerah kan sepenuhnya keputusan Gusti Prabhu SiNAGARA , langkah apa yg akan di ambil oleh Prabhu atas sikap tidak patuhnya seorang Raja bawahan terhadap Rajanya.
Maka Prabhu SiNAGARA menitahkan kepada Patih Gajah Nata untuk berangkat menuju kadipaten pandan alas guna memaksa Adipati nya untuk tunduk kepada Rajanya.
Berangkatlah pasukan segelar sepapan Majapahit itu ke arah barat menuju Pandan alas.
Di dalam perjalanan berkatalah demung Ananta boga,
" Patih Gajah Nata, mengapa Gusti Prabhu tidak melibat kan, wengker, daha, kahuripan dan Pamotan,?" tanyanya pada Patih Gajah Nata.
" Entahlah, mungkin Gusti Prabhu merasa dengan kekuatan Ibukota saja mampu melumatkan pandan alas,!" ucap Patih Gajah Nata.
" Akan tetapi menurut prajurit Sandi yg telah kembali, kekuatan pandan alas dua kali lipat pasukan Majapahit ini, ditambah dengan para Senopati nya, apabila terjadi perang Senopati , pasukan kita akan cepat runtuh,!" jelas Rakryan demung Ananta boga.
" Tetapi sudah Rakryan demung lihat sendiri bahwa laporan kita tidak di tanggapi oleh Gusti Prabhu, dan ia malah percaya dengan laporan Rakryan Mantri Kuda Langhi, " jelas Patih Gajah Nata.
" Patih Gajah Nata memang benar, haruskah kita mengalah dengan situasi seperti ini ?" tanya demung Ananta boga lagi.
__ADS_1
" Maksud demung,?" tanya Patih Gajah Nata.
" Maksudku, apakah tidak sebaiknya kita meminta bantuan dari daha, kahuripan dan Pamotan, biarlah wengker tidak ikut, mengingat Brhe wengker adalah menantu Brhe Pandan alas,!". jelas demung Ananta boga.
" Apakah itu bukan sikap yg mbalela, karena tidak ada perintah dari Gusti Prabhu sendiri,?" tanya Patih Gajah Nata.
Sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan ******* yg panjang Demung Ananta boga menjawab,
" Memang benar kata patih, apakah itu bukan suatu tindakan pengkhianatan. Tetapi akankah kita hanya mengantarkan nyawa saja di perang ini,?" tanya demung Ananta boga.
" Sepertinya Gusti Prabhu terpengaruh dengan Rakryan Mantri Kuda Langhi, yg terlalu membesarkan kekuatan Majapahit dan memandang sebelah mata kekuatan pandan alas, " ujar Rakryan demung Ananta boga.
" Hehh, engkau benar demung, dan lebih parahnya lagi mungkin Gusti Prabhu dibawah pengaruh sihir dari Mantri wreda Kuda Langhi," seru Patih Gajah Nata.
" Bisa jadi, Gusti Prabhu di bawah pengaruh ajian ngerogoh sukma, yg mampu melemahkan jiwa seseorang, " tutur Demung Ananta boga.
" Kok baru sekarang terpikir oleh kita masalah ini,?" tanya Patih Gajah Nata.
" Karena melihat segala sikap Gusti Prabhu yg tidak seperti biasanya terhadap kita abdi setianya dari Pamotan hingga Kahuripan sampai hari ini,!" kata demung Ananta boga.
Demikian lah percakapan kedua pemimpin teras pasukan Majapahit yg berangkat menuju Pandan alas.
Sementara di istana Majapahit sendiri, Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi semakin leluasa menjalankan rencananya , ia kemudian memanggil seorang lurah prajurit yg waringka.
" Ki lurah waringka, segera ke alas Roban suruh datang kemari ki Jabang wingit, sebelumnya panggil juga kemari adi Rumangsa yang berada di alas Turanggana , !" perintah Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi.
" Baiklah , ki Mantri, !" jawab Lurah waringka.
" Dan kau Mahisa Dara segera lah ke Daha, ikutlah dengan Dyah Ranawijaya , !" perintah Rakryan Mantri Kuda Langhi kepada putranya Mahisa Dara.
" Jadi Ramanda mengusirku,?" tanya Mahisa Dara pada ramandanya.
" Bukan mengusir mu, Dara , tetapi agar kau dapat jadi penasehat Brhe Daha itu, dan supaya ia tidak membantu Majapahit menyerang pandan alas,!" jelas Rakryan Mantri Kuda Langhi pada anaknya.
" Baiklah ramanda,!" jawab Mahisa Dara.
Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi, semakin berkuasa di istana Majapahit karena para pejabat tinggi Majapahit yg berasal dari Kahuripan telah berangkat ke Pandan alas, yg tinggal adalah pejabat tinggi asli Majapahit.
Sehingga dengan mudah di kuasai oleh Mantri Kuda Langhi.
Rencana licik telah disiapkan oleh Sang Mantri untuk menghabisi Prabhu Rajasawardhana.
Dengan mendatangkan Ki Jabang wingit yg ahli tenung berasal dari Alas Roban, Rakryan Mantri akan menenung Sang Prabhu, kemudian selanjutnya ia akan......, terbayang lah rencana jahatnya yg akan berjalan lancar tanpa penghalang.
Wajah Rakryan Mantri tampak tersenyum penuh kepuasan atas berjalan lancar rencananya sampai sejauh ini,. ia membayangkan kamukten yg akan di capainya.
__ADS_1