BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 Saat KELUD pun Murka bagian ke sebelas.


__ADS_3

Setiba nya di kaki gunung Willis , segera Wikala mendatangi barak-barak yg berada di tempat itu.


Banyak pengungsi yg berada di situ dari berbagai daerah di Wilayah kadipaten Daha.


Lama Wikala mencari keluarga nya dan akhir nya bertemu dengan ayahanda dan ibunda nya.


" Romo bagaimana keadaan mu,?" tanya Wikala kepada ayah nya itu.


" Baik Ngger," jawab Mpu Thanda.


" Romo, dimana biyung,?" tanya nya lagi kepada Sang Ayah.


" Mungkin berada di dapur , membantu memasak,!" jawab Mpu Thanda lagi.


" Kalau Wiradamar dan Cemaravati, dimana Romo,?" kembali Wikala bertanya.


" Itulah Ngger, sewaktu akan mengungsi, kami terpisah dengan mereka, karena pada saat itu kami , Romo dan biyung sedang berada di sawah, anak dan istri mu masih berada di rumah, !" jelas Mpu Thanda kepada anaknya itu.


" Heemmmh, kemana gerangan mereka,?" gumam Wikala.


" Kalau di Willis mereka tidak ada, entah kalau di klotok,!" ucap Mpu Thanda lagi.


" Ternyata mimpi Romo menjadi kenyataan,!" kata Wikala kepada Sang Ayah.


" Iya ngger, sungguh dahsyat letusan Kelud itu, kami merasa berada di sebuah perahu yg di guncang ombak besar, serasa tanah di pijak mau runtuh,!" ungkap Mpu Thanda lagi.


" Sekarang tanah perdikan Thandasain hancur dan rata dengan tanah, Lahar panas berkumpul seolah jadi neraka karena panas dan memerah,!" terang Wikala.


" Darimana angger tahu?" tanya Mpu Thanda heran mendengar penjelasan anak nya itu.


" Aku tadi melewati Thanda sebelum kemari untuk memastikan tempat itu,!" jawab Wikala sambil memperhatikan orang-orang yg berlalu lalang.


" Kok bisa,?" tanya Mpu Thanda lagi.


" Romo , aku menggunakan ajian Megamendung yg telah di waris kan eyang kepada ku,!" jawab Wikala .


" Oooo, begitu,!" ucap Mpu Thanda yg melongo mendengar penuturan anak nya itu.


" Romo, aku akan menemui biyung, baru setelah itu akan mencari Wiradamar dan ibu nya ke Klotok,!" ucap Wikala.


" Sebaik nya , cepat lah kau cari anak dan istri mu itu, karena angger Cemaravati tidak mengetahui daerah sini,!" kata Mpu Thanda kepada anak nya.


" Baik Romo, setelah bertemu biyung baru akan mencari mereka,!" jelas Wikala yg terus berlalu dari situ menuju ke bagian belakang dari barak-*barak penampungan itu.


Setelah berada di bagian belakang, Wikala langsung menuju ke bagian dapur di mana banyak kaum perempuan di sana.

__ADS_1


Beberapa lama mencari, ia akhir nya menemukan ibunda nya itu yg sedang memasak nasi.


" Biyung, !" teriak Wikala yg merasa senang melihat ibu nya itu.


" Hehh, anak ku , angger Radeksa,!" ucap ibunda nya seraya memeluk dan menciumi putra terkasih bahkan Sang ibu sampai menitik kan airmata.


" Sungguh Ngger, sampai saat ini kami belum mengetahui nasib dari Wiradamar dan ibu nya itu, cepat lah kau cari mereka, perasaan biyung tidak tenang sebelum mereka di ketemukan,!" kata Sang Ibu yg masih terisak, para perempuan yg berada di dapur itu semua memandang ke arah mereka berdua.


" Iya biyung, secepat nya aku akan mencari mereka,!" jawab Wikala setelah melepaskan pelukan nya.


" Jangan ditunggu lama-lama, sekarang juga engkau harus mencari mereka, karena tadi pun kedua adikmu telah biyung perintah kan untuk mencari mereka, biyung khawatir terjadi apa-apa dengan mereka,!" jelas Ibunda Wikala.


" Heh, jadi Larasati dan Pratanu tadi berada disini,?" tanya Wikala kepada ibu nya itu.


" Iya , selama mereka di beri kesempatan untuk bebas dari tugas, oleh istri mu kedua nya banyak menghabis kan waktu di Thanda, hanya sewaktu kejadian yg menimpa Kanjeng Gusti Adipati waktu mereka pergi, dan telah kembali lagi tadi pagi,!' tutur Sang Ibu.


" Jadi selama liburan mereka berada di Thanda?" tanya Wikala.


" Benar Ngger, dan setelah nasi ini masak segera lah engkau makan dan segera lah cari anak dan istri itu !" jawab ibu nya.


" Baik biyung,!" kata Wikala.


Sesaat nasi yg di masak dari ibunda Wikala itu telah matang maka ia segera memberikan nya kepada Wikala, dan oleh Wikala di terima kemudian langsung di makan nya.


Di sela sela itu ibunda Wikala berkata,


" Bauk biyung, aku akan segera kesana, biyung dan Romo tetap lah berada disini nanti setelah bertemu mereka akan ku bawa kemari dan kita semua selanjut nya menuju Pamotan,!" ungkap Wikala.


" Iya ngger, yg penting segera lah kau temukan mereka, doa biyung untuk keselamatan mu,!" ucap ibunda nya itu.


" Aku pamit biyung,!" kata Wikala sambil memeluk dan menciumi ibu nya itu.


Saat malam telah menjelang Wikala meninggalkan kaki Willis menuju selatan tepatnya gunung Klotok.


Dengan cepat Wikala berlari menuju ke Gunung klotok sesampai nya di sana hari telah larut, ia pun menuju ke barak penampungan yg berada di kaki klotok tersebut.


Setelah bertanya ke beberapa orang akhir nya Wikala bertemu dengan putri Yasuvati dan anak nya.


" Dimana gerangan keberadaan istri dan anak ku Yunda Yasuvati,?" tanya Wikala kepada Putri Yasuvati yg merupakan istri dari Lembu Petala itu.


" Kalau istri mu adi Cemaravati berada disini , tepat nya berada di barak ujung itu, kami bertiga berada di sana sedangkan ananda Wiradamar ,kami,.....!" putri Yasuvati tidak melanjut kan kata-kata nya.


" Kenapa, ada apa dengan anakku Yunda Yasuvati,,?" tanya Wikala penasaran.


" Kami, aku dan dinda Cemaravati tidak mengetahui keberadaan nya,!" jawab Putri Yasuvati agak gugup.

__ADS_1


" Aneh, kok bisa Wiradamar terpisah dengan ibu nya,?" tanya Wikala.


" Segera lah temui dinda Cemaravati, agar lebih jelas permasalahan nya," ucap putri Yasuvati yg segera membersih kan putra yg tadi kebelet buang hajat di tengah malam itu.


Wikala dengan cepat menuju ke tempat yg di tunjukkan oleh Putri Yasuvati, dan segera masuk ke tempat itu.


Ternyata Putri Cemaravati tidak menyadari kehadiran dari suami nya, ia nampak terlelap dalam tidur nya, ketika tangan Wikala menyentuh dan menggoyang kan tubuh nya, Sang putri dari Champa itu menggeliat dan mengerjap kan mata nya seraya berkata,


" Tidak sedang bermimpi kah aku, bukan kah, ...?" putri Cemaravati tidak melanjut kan kata-kata nya namun langsung memeluk Wikala dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.


" Anak kita kanda, anak kita , Wiradamar, ...," ucap Putri Cemaravati tidak jelas seperti orang yg sedang mengigau.


Wikala langsung memeluk nya lebih erat sambil berkata, ," Tenang lah dinda, tenang kan diri mu, bicara lah dengan jelas jangan terlalu terburu-buru,!" ucap Wikala berusaha menenang kan istri nya Itu.


Lama Putri Cemaravati menangis dan belum bisa berkata apa-apa, setelah putri Yasuvati naik ke tempat itu baru lah keadaan Putri Cemaravati tenang. Dan kemudian ia bercerita,


" Ketika kejadian Kelud akan meletus, kami sedang berada di rumah sedang Romo dan biyung berada di sawah , " kata putri Cemaravati yg beberapa saat terdiam dan melanjut kan lagi kata-kata nya,


" Sedang kan anak kita Wiradamar dan abimanyu sedang bermain di halaman depan, mereka asyik main perang perangan, namun setelah datang wara-wara dari pengawal tanah perdikan bahwa seluruh warga harus segera mengungsi karena Kelud akan meletus, kami pun segera berkemas, tanpa menunggu Romo dan biyung karena secepat nya harus meninggalkan tempat itu dan menuju kearah Barat,!" kata Putri Cemaravati lagi.


" Akan tetapi setelah kami siap berangkat, hanya abimanyu yg kembali sedang kan Wiradamar, tidak kembali, Kanda,!" kata Putri Cemaravati yg kembali pecah tangis nya.


" Dan ketika kami tanya kepada abimanyu tentang keberadaan Wiradamar, ia mengatakan bahwa Wiradamar telah diajak seseorang pergi," kata Putri Yasuvati yg meneruskan cerita dari Putri Cemaravati


" Apakah abimanyu tidak menjelaskan dengan siapa Wiradamar pergi ,?" tanya Wikala kepada Putri Yasuvati.


" Tidak karena saat itu mereka sedang bersembunyi, dan ketika abimanyu memanggil ternyata jawaban dari Wiradamar telah berada jauh dari situ, dan ia hanya melihat bahwa Wiradamar bersama seseorang dari kejauhan,!" jelas Putri Yasuvati


" Siapa gerangan yg membawa Wiradamar itu ,?" gumam Wikala.


" Kanda bagaimana nasib putra kita itu,?" tanya putri Cemaravati yg mulai tenang kembali.


" Mungkin Wiradamar masih dalam keadaan baik, karena kalau menurut Kanda , seseorang yg bersama nya tentu orang yg di kenal nya, kalau tidak pasti ia akan menolak nya,!" jelas Wikala menenangkan hati istri nya Itu.


" Bagaimana kalau yg membawa putra itu orang yg bermaksud jahat dengan ilmu nya ia bisa menunduk kan Wiradamar ,?" tanya Putri Cemaravati lagi.


" Kemungkinan itu pun bisa terjadi, akan tetapi saat-saat seperti ini, mungkin tidak ada orang yg sampai hati untuk berbuat demikian karena untuk menyelamatkan diri lebih penting ,!" jawab Wikala walaupun di hati nya belum puas sebelum putera nya diketemukan.


" Bisa jadi salah seorang dari musuh Kanda yg masih menyimpan dendam terhadap Kanda,!" kata Putri Cemaravati lagi.


Mendengar ucapan dari istri nya Itu segera Wikala teringat pada seseorang yg baru di kalah kan nya beberapa waktu lalu dan ia pun berasal dari , ya , Mahisa Dara, apa mungkin putra Kuda Langhi itu mau melakukan tindakan sekeji itu pikir Wikala.


Tetapi sepeti kata dari istri ku tadi, bahwa ia mempunyai ilmu untuk menaklukan hati orang lain, itu ada pada diri Mahisa Dara.Kembali pikiran Wikala mereka-reka siapa yg berhasil membawa Wiradamar itu.


Siapakah gerangan yg bersama putra Wikala itu.

__ADS_1


----------------------,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,-------------------------


__ADS_2