
Wikala sang Adipati Pamotan itu berada di depan terus ketika mulai mendaki Puncak Semeru.
Sementara itu dua Punggawa kepercayaan dari Adipati Pamotan itu yakni Senopati Lembu Petala dan Arya bor-bor tetap mengekori di belakang.
Ketiga nya menuju bekas tempat padepokan dari Resi Begawan mahameru atau padepokan tempat Naja Pratanu menempa diri.
Setelah sore menjelang malam ketiga sampai di tempat itu.
Ternyata keadaan sunyi, dari atas Puncak Semeru itu memandangi ke arah barat di mana saat Sang Surya akan kembali ke peraduan nya sungguh pemandangan yg indah lagi sangat sedap untuk di pandang mata, dari kejauhan ter lihat hamparan sawah yg kini tidak menguning lagi akibat di landa kemarau yg ber kepanjangan.
Memang sudah dua kali panen wilayah Majapahit mengalami ke gagalan.
Sebenar nya inj adalah yg urtuk ketiga kali nya.
Di benak dari Wikala sang Adipati Pamotan itu berkata bagaimana jika Majapahit terus -terusan di landa kekeringan, apakah rakyat nya akan mampu ber tahan? demikian lah per tanyaan besar yg ada di kepala dari Sang Bhre Kertabhumi itu.
Dan apabila mentari telah benar -benar menghilang ter dengar lah langkah -langkah kaki berasal dari bawah tampak nya yg di tunggui telah tiba.
" Gusti Adipati, apakah ini bukan jebakan dari Kotaraja Majapahit,?" tanya Senopati Lembu Petala.
" Tenang lah Paman, oleh sebab itu, kalian ber dua yg Ku pinta untuk mengawal, karena kita belum tahu jelas siapa mereka sesungguh nya, dan karena itu kita memang mesti waspada atas segala kemungkinan yg bisa terjadi,!'' jawab Wikala Sang Adipati Pamotan itu.
" Gusti Guru, tampak nya mereka ber Lima,!' kata Arya bor-bor.
" Biar lah, Karena kedatangan kita kemari adalah mem enuhi undangan mereka, meskipun sebebnar nya, kita tuan rumah nya,!" jawab Wikala Sang Adipati Pamotan.
Tidak terlalu lama ter lihat lah lima orang yg datang ke puncak Semeru itu, dengan di terangi cahaya rembulan yg baru muncul, nampak yg paling depan dengan mengguna kan jubah seorang biksu dan menggenggam tongkat, orang itu berusia paruh baya, namun langkah ter lihat ringan.
Setelah jarak nya cukup dekat orang itu membungkuk kan kepala nya dan memalang kan satu tangan nya di depan dada seraya ber kata,
" Amitabha, kira nya Gusti Prabhu telah ter lebih dahulu tiba di puncak Semeru ini, dan nampak nya telah lama menunggu,!" ucap orang itu.
" Ahh tidak kami pun baru tiba, Bikshu,....!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan itu seolah ingin mempertanya kan nama.
" Amitabha per kenal kan nama saya Adalah Ganggadhara berasal dari tibet dan ini murid -murid saya Gusti Prabhu, yg ini ber nama Sortan, di sebelah nya adalah Chinua, yg di sebelah kiri saya bernama Kajran dan Lagan, mereka semua berasal dari mongol dan adik seperguruan dari Jenderal Ganbataar dan Ganzorig,!" jelas Bikshu Ganggadhara.
" Ahh Bikshu Ganggadhara ter lalu melebih lebih, Saya hanya seorang Adipati dari kadipaten Pamotan, jadi panggil saja Adipati Pamotan atau Wikala atau boleh juga dengan sebutan Bhre Kertabhumi dan ini adalah murid saya yg ber nama Arya bor-bor dan di sebelah nya adalah Panglima prajurit pasukan Pamotan yg ber nama Lembu Petala,dan kami ucap kan selamat datang di tanah Majapahit ini ,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Amitabha, memang sudah selayak nya kami menyebut sebutan Prabhu kepada Gusti, Karena sebentar lagi, Gusti Kertabhumi lah yg akan memimpin negeri Majapahit ini,!" ungkap Bikshu Ganggadhara.
" Akan tetapi saat ini saya masih seorang Adipati, namun ter serah lah, Bikshu Ganggadhara mau panggil apa pun asal tidak menyinggung perasaan orang lain,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan lagi.l
" Baik lah Gusti Prabhu, sebenar nya tujuan kami ke tanah Majapahit ini memang ingin bertemu dengan mu di karena kan bahwa kehebatan Gusti Prabhu di dataran Tiongkok dan sekitar nya sudah sangat me legenda, bahwa padepokan kami yg ada di Karakorum saat ini seperti sudah tidak di anggap setelah kematian dari Jenderal Ganbataar di tangan Gusti Prabhu,!" kata Bikshu Ganggadhara.
" Ahh, berita itu hanya ngaya wara saja, sebenar nya pada saat itu mungkin ke beruntungan masih ber pihak kepada saya , itu saja,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan lagi.
" Tentu saja tidak, Gusti Prabhu, karena selama ini Jenderal Ganbataar sangat di takuti di dataran Tiongkok dan sekitar nya, selain mampu menewas kan jenderal Fan zhong, ia pun mampu menawan kaisar Tiongkok yg membawa jumlah prajurit yg lebih besar saat itu, di karena kan,. Saya adalah Guru dari Jenderal Ganbataar itu, sudah selayak nya lah saya menjajal kesaktian Gusti Prabhu yg melegenda itu,!" kata Bikshu Ganggadhara.
" Ahh, kami ber harap per temuan dengan Bikshu adalah di dalam keraton, kita bisa saling ber bincang tentang apa pun itu ter masuk tentang keadaan tempat masing-masing sambil menyantap makanan, dalam bentuk per sahabatan, bukan dalam per musuhan apalagi sampai harus ber perang tanding, karena sebenar nya kami pun saat ini masih dalam keadaan tidak menentu, baik dari segi keamanan mau pun dari pangan nya,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
" Amitabha, akan tetapi niat ke datangan kami kemari memang ingin ber tukar ilmu dengan di Gusti Prabhu, jadi alangkah sedih nya jika kami tidak jadi melakukan nya, karena penolakan dari Gusti Prabhu,!" ujar Bikshu Ganggadhara lagi.
" Yahhh, selaku seorang tuan rumah yg baik kami hanya mampu melayani per mintaan tamu, tidak elok rasa nya menolak permintaan Bikshu itu, sehingga tetap kami upaya kan datang kemari,!" seru Wikala sang Adipati Pamotan yg tampak nya segan untuk menolak permintaan dari Bikshu Ganggadhara itu.
" Baik lah, berarti Gusti Prabhu menerima tantangan saya, dan perang tanding kali ini jika lawan sudah menyerah dan tidak sanggup melanjut kan per tarungan tidak sampai mati, karena saya mengerti keadaan dari Gusti Prabhu yg sedang ber perang dengan Kotaraja,!" tukas Bikshu Ganggadhara.
" Ter serah kepada Bikshu, untuk melakukan peraturan nya, kami hanya mengikuti saja,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Dan semua orang yg berada di sini adalah saksi bahwa per tarungan ini adalah perang tanding, tidak untuk mem bunuh, akan tetapi jika ada yg ter bunuh tidak ada tuntutan, karena ini adalah urusan saya dengan Gusti Prabhu,. Baik lah Gusti Prabhu, ber siap lah, karena saya akan mulai,!" ter dengar ucapan dari Bikshu Ganggadhara.
Ia mulai memain kan Tongkat yg di pegang nya itu.
Bikshu dari tibet itu me mutar perlahan tongkat yg ada di genggaman tangan nya itu, makin lama putaran tongkat itu makin cepat, bahkan ter lihat seperti baling-baling.
__ADS_1
" Terima serangan, !" teriak Bikshu Ganggadhara.
Ia melontar kan tongkat nya itu ke arah Sang Adipati Pamotan, dengan kecepatan yg sulit di ikuti oleh mata, melesat lah tongkat itu meluruk tubuh Sang Adipati Pamotan.
Mendapat kan serangan yg sangat cepat itu Wikala sang Adipati Pamotan hanya ber geser sedikit untuk menghindari tusukan tongkat dari Bikshu Ganggadhara.
Ternyata seperti punya mata saja tongkat itu, kembali menyerang Sang Adipati, kali ini tongkat itu mengincar kepala Sang Adipati.
Namun Adipati Pamotan itu tidak ber gerak hanya kepala nya saja yg mengikuti gerak dari tongkat itu, alhasil tongkat itu melingkari kepala dari Wikala sang Adipati Pamotan.
Setelah agak lama, tongkat itu ber hasil di tangkap oleh sang Adipati,
" Huffh," suara Sang Adipati.
Tahu -tahu tongkat Bikshu Ganggadhara telah berada di genggaman nya.
Melihat hal itu Bikshu Ganggadhara, ber teriak,
" Kembaliii, heaaahh,!"
Tongkat yg sedang di pegang Sang Adipati tiba -tiba melesat kembali kepada empu nya.
" Gila tenaga dalam orang ini,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan itu dalam hati.
" Ternyata Gusti Prabhu mampu menahan serangan tongkat saya, terima ini jurus Tsol salkhikh,!" teriak Bikshu Ganggadhara.
Tubuh Bikshu Ganggadhara melesat menerjang Sang Adipati Pamotan itu, seraya mem buka telapak tangan kirinya, selarik cahaya menerjang tubuh Sang Adipati Pamotan.
" Dhummmbbh,!" bunyi ledakan dari pukulan Bikshu Ganggadhara.
Namun serangan itu hanya menerpa tempat yg kosong, padahal Bikshu Ganggadhara masih melihat sang Adipati masih tetap ber diri di tempat nya sebelum pukulan jarak jauh nya itu melesat.
Kali ini memang Bikshu Ganggadhara kecele karena tiba -tiba ter dengar suara dari belakang,
" Gusti Prabhu yg hebat mampu menghindari serangan tadi , tapi kali tidak akan meleset, heaaa,!" teriak Bikshu Ganggadhara.
Bikshu dari Tibet itu langsung menusuk kan tongkat nya ke arah lawan nya itu.
Adipati Pamotan segera ber siap menangkis serangan itu,
" Traaakk,!" bunyi tongkat yg beradu dengan sebuah tombak.
Rupa nya Wikala sang Adipati Pamotan itu meminjam tombak dari Senopati Lembu petala.
Rasa nya tidak pantas melawan tongkat musuh dengan keris nya yg lebih pendek.
Benturan dari kedua senjata tadi menunjuk kan siapa yg lebih unggul tenaga dalam nya.
Ter nyata kedua nya seimbang tanpa ada yg ber geser mundur.
Kemudian per tarungan dengan mengguna kan senjata ter jadi, tusukan -tusukan kedua nya seperti tarian dari malaikat maut pencabut nyawa.
Sangat cepat, sangat ber tenaga, bahkan ketika suatu benturan terjadi saat kedua nya berada di udara harus melempar kan kedua nya cukup jauh.
Malam merambat naik, sang Rembulan makin menerangi bumi, per tarungan kedua nya pun makin seru.
Seperti yg pernah di rasa kan oleh Wikala sang Adipati Pamotan itu saat melawan Jenderal Ganbataar, ter nyata tubuh nya cepat menyusut tenaga nya.
Apalagi saat rembulan tepat pada puncak nya.
" Hehh, ter nyata ilmu Bikshu ini sama persis dengan milik Jenderal Ganbataar itu, sama -sama menyerap tenaga lawan ,!" ber kata dalam hati Adipati Pamotan.
" Baik lah akan Ku lawan dengan ilmu yg telah ku pelajari dari kitab Biksu Majin itu,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.
__ADS_1
Sebelum nya dalam kitab Biksu Majin, Wikala Sang Adipati Pamotan sempat membaca tentang suatu jurus yg mampu menolak tenaga ter hisap dari lawan dalam bentuk gambar di kitab Biksu Majin.
Ia kemudian memain kan sebuah jurus yg mirip dengan suatu tarian, perlahan-lahan, keadaan nya pulih tanpa ter ganggu oleh ilmu dari Bikshu Ganggadhara itu.
Kembali kedua nya saling serang dengan mengguna kan senjata ber bentuk panjang itu.
Makin lama gerakan kedua nya makin sulit untuk di ikuti mata.
Tubuh kedua seringan kapas , ter lihat jelas kedua nya memiliki ilmu peringan tubuh yg hampir sempurna.
Sampai menjelang pagi pun per tarungan itu belum menunjuk kan siapa yg lebih unggul.
Kedua nya sama -sama cepat dan sama -sama ber tenaga.
Bikshu Ganggadhara heran melihat kekuatan tenaga dari lawan nya itu.
" Hehh, orang ini tidak ter pengaruh dengan ilmu khokhokh khuch, milik padepokan karakorum,!" kata dalam hati Bikshu Ganggadhara.
Kedua orang yg ber ilmu tinggi itu terus melanjut kan pertarungan meski hari telah terang,.
Serangan - serangan dari Adipati Pamotan meningkat , ia terus mendesak Bikshu Ganggadhara dengan patukan tombak nya ke arah dada , oleh Bikshu dari Tibet itu patukan tombak itu di tahan dengan tongkat nya sehingga tidak ber hasil melukai tubuh dari Bikshu Ganggadhara itu.
Namun perubahan memang sangat jelas setelah mentari menanjak naik, Bikshu Ganggadhara ter lihat ke teteran dengan serangan dari Sang Adipati, beberapa kali tubuh dari Bikshu asal Tibet itu harus melompat menjauh, seakan-akan, ada sesuatu yg menolak nya untuk mendekati tubuh dari Wikala sang Adipati Pamotan.
" Hahhh, apakah orang Majapahit ini memiliki ilmu langka milik dari keluarga Majin itu,!" ber kata dalam hati dari Bikshu Ganggadhara.
Saat ini malah tubuh dari Bikshu Ganggadhara yg cepat melorot tenaga nya hingga saat marahari pada puncak nya ia malah makin ter desak beberapa kali mata tombak dari Sang Adipati Pamotan itu hampir merobek tubuh nya.
Karena serangan dari Adipati Pamotan itu semakin gencar dan sangat cepat, ter paksa lah Bikshu Ganggadhara melompat jauh seraya melepas kan pukulan Tsol salkhikh untuk sekedar menahan serangan dari Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Tunggu uuu,!" teriak dari Bikshu Ganggadhara dengan mengangkat tangan kiri nya.
Sontak Wikala sang Adipati Pamotan meng henti kan serangan nya.
" Apakah Gusti Prabhu memiliki ilmu dari Keluarga Biksu Majin,?" tanya Bikshu Ganggadhara itu.
Sang Adipati Pamotan ter diam dan berdiri menatap lekat-lekat pada wajah Bikshu Ganggadhara.
" Darimana Bikshu mengetahui nya,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan.
" Kalau memang ia, saya Bikshu Ganggadhara akan mengaku kalah, !" ucap Bikshu Ganggadhara.
Melihat ada celah untuk meng henti kan per tarungan tanpa menimbul kan korban Sang Adipati Pamotan langsung menjawab,
" Benar Bikshu Ganggadhara, kami mendapat kan satu kesempatan untuk memilki ilmu dari keluarga Biksu Majin,!" seru Sang Adipati Pamotan lagi.
" Bagaimana bisa Gusti Prabhu mendapat kan nya bukan kah Gusti Prabhu adalah musuh dari Biksu Majin itu, setelah ke kalahan nya di tanah Majapahit ini,?" tanya Bikshu Ganggadhara.
" Ahh kami tidak pernah merasa musuh dengan Biksu Majin, bahkan dia dengan senang hati memberi kan ilmu Taichi milik keluarga nya itu kepada kami,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
" Benar kah yg di katakan oleh Gusti Prabhu itu, atau hanya bohong belaka,?" tanya Bikshu Ganggadhara seolah tidak percaya.
" Kalau Bikshu Ganggadhara tidak percaya silah kan, karena demikian lah kenyataan nya,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
Lama Bikshu Ganggadhara memandangi wajah dari Sang Adipati Pamotan itu, ia ber pikir keras setelah merasa kan pertarungan tadi, semesti nya saat matahari pada puncak nya kemampuan lawan pasti akan semakin habis akan tetapi kenyataan yg di hadapi nya malah ter balik, ia yg ter tolak untuk mendekati tubuh dari Adipati Pamotan itu.
note:
***
Tsol salkhikh. \= pukulan angin gurun.
Khokhokh khuch \= menghisap tenaga.
__ADS_1