
" Maaf kan angger Radeksa, biar saya saja mencoba membujuk nya untuk mau menerima permohonan maaf mu," kata Nyai Dewi putrani.
" Baik lah Nyai, silahkan,!" ujar Wikala.
Kemudian Nyai Dewi putrani wijaya pun datang ke dalam bilik Tantri dan berusaha memberi pengertian namun Tantri tetap tidak mau keluar menemui Wikala.
Akhir nya Wikala kembali datang sendiri bersama putra nya Wiradamar yg telah bangun dari tidur nya.
" Maafkan lah kakang mu ini Tantri, sungguh orang tua mana yg tidak risau jika anak hilang tidak tahu kemana, sebenar nya bukan maksud ku menuduh mu melarikan Wiradamar,!" kata Wikala di depan bilik itu. Namun tetap tidak ada jawaban, dan Wikala kemudian mempunyai cara untuk membujuk Tantri menerima permohonan maaf nya. Ia menyuruh Wiradamar untuk berbicara dengan Tantri karena ia tahu putra nya itu mempunyai kedekatan dengan nya.
Berkatalah Wiradamar sesuai Perintah Ramanda nya itu.
" Bi Tantri aku mau masuk , aku ingin pamitan dengan bibi karena Ramanda telah menjemput ku untuk di bawa pulang,!" kata bocah cilik itu.
Tiba-tiba pintu bilik terbuka dan Wiradamar menghambur masuk dan memeluk Tantri seraya berkata," Damar sangat berterima kasih kepada bibi yg telah sudi membawa damar,!" ucap nya.
" Dan Damar memohon kepada bibi untuk mau menerima permohonan maaf dari Romo, karena bukan salah bibi,!" jelas anak itu dan melepas kan pelukan nya.
Akhir nya hati Tantri luluh dan ia pun keluar dari bilik nya itu serta melihat Wikala yg masih berdiri disana.
Dengan cepat Wikala menangkap tangan Tantri, dan berkata," Maaf kanlah kesalahan kakang mu ini Tantri, saat ini hati ku benar kacau karena kehilangan Wiradamar, di saat kekacauan yg di timbulkan oleh Letusan kelud,!" ujar nya kepada Tantri.
Sedang kan Tantri membuang pandangan nya ke tempat lain. Ia tidak mau menatap wajah Wikala.
" Karena kedatangan ku kemari tidak ber kenan di hati mu, maka biar lah kami berdua dengan Wiradamar akan kembali secepat nya, namun yg pasti , Aku berharap engkau dapat memaaf kanku, baik kesalahan ku yg dahulu dan yg baru tadi Kulakukan, maaf kan sekali lagi atas kata-kata ku kepada mu itu!" tutur Wikala.
Sementara hati Tantri ketika tangan nya di genggam oleh seorang lelaki yg pernah mengisi hati nya itu jadi tidak karuan terasa deg-degan seperti saat mereka berdua di lereng selatan kelud tepatnya di air terjun waktu itu.
Wikala kemudian berkata lagi, " Tidak ada hal yg paling menyenang kan buat ku selain kata maaf dari mu,!"
Tantri diam saja dan melepas kan genggaman tangan Wikala , ia kemudian duduk yg diikuti oleh oleh Wiradamar di sebelah nya.
Lama ketiga nya terdiam sampai Nyai Dewi memanggil Wiradamar untuk di ajak makan, anak itu pun berlari mendekati pemimpin padepokan itu.
Tinggal lah mereka berdua, kesunyian sore itu di pecah kan dengan kata-kata Tantri, " Aku memaaf kanmu kakang Radeksa,!" ucap nya pelan hampir tidak kedengaran.
" Benar kah itu Tantri, !" kata Wikala sambil memeluk erat .
__ADS_1
Tantri yg yg di peluk sedemikian itu membuat nya gelagapan dan berusaha melepas kan. Menyadari hal itu Wikala buru-buru melepas kan pelukan nya.
" Maaf, saking senang nya aku jadi lupa,!" ucap Wikala menatap wajah Tantri.
" Kakang memang sudah jauh berbeda dari kakang Radeksa yg dahulu ku kenal,!" kata Tantri.
" Tidak, Aku tidak pernah berubah, Aku masih Radeksa yg dahulu yg kau kenal,!" jelas Wikala lagi.
" Tantri, dimana kau lihat perbedaannya antara Aku yg dahulu dengan yg sekarang,?" tanya nya kepada Tantri.
" Kakang Radeksa yg dahulu amat penyabar dan tidak mudah marah berbeda dengan yg sekarang malah sebalik nya,!" jawab Tantri.
" Mungkin benar ucapan mu itu, tetapi satu hal yg tidak berubah dari ku adalah aku masih menyayangi seseorang yg mungkin orang itu telah melupakan ku,!" jawab Wikala.
" Kang, apa tidak salah malah kakang yg telah melupakan orang itu,!" sindir Tantri.
" Yeah, orang bisa berpendapat demikian atas ku namun yg pasti Aku tetap menyayangi orang itu meski mungkin tidak dapat memiliki nya,!" balas Wikala.
" Jadi apabila permintaan maaf ku di kabulkan Aku merasa tenang dan sangat senang melebihi apa pun," jelas Wikala lagi.
" Tetapi mengapa sampai hati kakang menuduh ku melarikan Wiradamar,?" tanya Tantri
" Itulah seperti yg ku katakan tadi kakang telah berubah,!" jelas Tantri.
" Ku dengar engkau telah bertunangan, kapan menikah nya?" tanya Wikala kepada Tantri.
Lama Tantri diam dan menundukkan wajah nya, bulir-bulir airmata mengembang di sudut matanya. Melihat hal itu Wikala merasa bersalah dan berkata lagi, " Maafkan pertanyaan ku jika menyinggung perasaan mu,!".
" Tidak, kakang tidak salah, mungkin sudah suratan nasib ku harus gagal untuk yg kedua kali nya," ungkap Tantri.
" Jadi kapan kakang akan kembali,?" tanya Tantri mengalih kan pembicaraan.
" Mungkin besok, karena saat ini Pamotan memerlukan kehadiran ku,!" jawab Wikala.
" Bukan kah disana banyak orang bisa kakang andalkan termasuk istri kakang ,?" tanya Tantri.
" Ahh, itulah permasalahan nya, saat ini Aku sendiri lah yg memimpin kadipaten itu, sedang kan diajeng Ratu, telah...,!" Wikala tidak menerus kan kata-kata nya.
__ADS_1
" Kenapa dengan istri kakang itu,?" tanya Tantri dengan penasaran.
Wikala tidak langsung menjawab ia seakan melepas kan semua beban yg menghimpit dada nya dengan menarik nafas berkali-kali.
" Memangnya kenapa dengan Ratu Pamotan,?" tanya Tantri lagi.
" Ia telah meninggal kanku untuk selama-lama nya dengan memberikan seorang putri, yah ia telah meninggal sesaat setelah melahir kan,!" jawab Wikala dengan dada terguncang mengenang sang istri tersebut.
" Oh, maaf kalau aku tidak mengetahui nya pantas kakang mudah marah , " ujar Tantri setelah mendengar pernyataan dari Wikala.
" Jadi bagaimana keadaan ki gede apakah ia selamat ,?" tanya Wikala mengalihkan pembicaraan.
" Entahlah kakang, aku belum mengetahui keadaan kedua orang tuaku,!" jawab Tantri.
Setelah pertemuan itu akhir nya kebekuan antara Wikala dengan Tantri mencair. Malam itu Wikala dan putra nya Wiradamar menginap di padepokan Nusakambangan.
Nampak oleh Wikala kedekatan antara putra nya Wiradamar dengan Tantri sangat erat, ia menyesal telah menuduh Tantri melarikan anak nya itu.
Dan keesokan hari nya ketika matahari mulai menampak kan diri ufuk Timur , ternyata Nusakambangan kedatangan tamu lagi yaitu Naja Pratanu dan Larasati istri nya.
Mereka heran melihat Wikala telah berada di tempat itu lebih dahulu dari mereka, kedua nya seperti kalah cepat dari kakaknya itu.
" Kakang bagaimana bisa lebih dahulu sampai dari kami padahal kakang waktu itu baru akan kembali ke pamotan,?" tanya Larasati heran.
" Ahhh, panjang cerita nya, kuharap kalian berdua setelah dari sini cepat lah kembali,!" tukas Wikala kepada adik nya itu.
" Kakang sudah bertemu dengan Wiradamar,?" tanya Larasati lagi.
" Sudah , dia sedang bersama Tantri di dalam,!" jawab Wikala.
" Benar kah yg membawa lari Wiradamar adalah Tantri,?" tanya Larasati.
" Bukan membawa lari tetapi Wiradamar mengikut dengan Tantri untuk bertemu dengan mu,!" jelas Wikala.
" Ohh, memang anak itu sangat bandel hingga ibunda nya sering pusing di buat nya,!' kata Larasati .
" Namanya anak kecil , Rass,!" celetuk Pratanu.
__ADS_1
" Lagipula kau terlalu memanja kannya sehingga ia ingin ikut mengingat kemana pun kau pergi,!" kata Naja Pratanu lagi.