BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 6 : UTUSAN bagian kesepuluh.


__ADS_3

Nun jauh di sana, tepatnya di kota pelabuhan Guangzhou , kapal yg di tumpangi oleh Wikala dan Lembu petala telah merapat ke pelabuhan itu.


Wikala dan Lembu petala turun di kota pelabuhan paling selatan dari negeri Tiongkok tersebut , melihat keadaan kerajaan Tiongkok bagian ujung itu.


Setelah dua hari berada di Guangzhou kapal berlayar kembali menuju ke Jiqing ( Nanjing). Sesampainya di Jiqing, Wikala dan Lembu petala mencari kediaman saudagar Tan.


Ketika berada di tempat makan, bertanya lah Wikala kepada, pemilik nya setelah sebelumnya memesan makanan.


" Tuan kenal dengan saudagar Tan yg bertubuh gemuk, ?" tanya Wikala pelan.


" Haiya, disini banyaklah yg bernama Tan,!" jawab pemilik rumah makan tersebut.


" Ia bernama asli Tan bun heong, dan sering berlayar,!" jelas Wikala lagi.


Namun kepala pemilik rumah makan itu tampak menggeleng.


Sementara seseorang pengunjung rumah makan itu nampak memperhatikan pembicaraan Wikala dan pemilik rumah makan itu, ia kelihatan berpakaian seragam keprajuritan.


" Bagaimana ini paman, tampaknya saudagar Tan tidak di kenal orang daerah ini?" tanya Wikala pada Lembu petala.


" Sebaiknya setelah makan kita berjalan kearah ibukota, atau istana selatan ini,!" jawab Lembu Petala.


Keduanya telah selesai makan, dan melanjutkan prjalanannya kearah dalam kota, akan tetapi baru beberapa saat mereka keluar , keduanya di kejutkan oleh gamitan seseorang dari belakang, ternyata ia adalah prajurit yg makan di rumah makan tadi.


" Saudara berdua ada perlu apa dengan saudagar Tan, ?" tanyanya dengan ramah.


" Kami berdua adalah temannya dan ingin singgah ketempatnya, !" ucap Lembu Petala.


" Saudara berdua bisa membuktikan adalah teman saudagar Tan ,?" tanyanya lagi.


Keduanya saling berpandangan, barulah teringat Wikala akan sesuatu yg telah di berikan oleh Saudagar Tan.


" Paman , Saudagar Tan telah memberikan lencana nya pada kita, dimana paman ?" tanya Wikala.


" Ohh, paman hampir lupa , tunggu sebentar , !" ucap Lembu Petala sambil membuka kampil yg di berikan saudagar Tan sewaktu berada di Champa, kemudian ia mengambil dua buah lencana yg di berikan oleh Saudagar Tan kepada mereka.


Lencana itu satu berwarna merah dan satu lagi berwarna emas dengan berlukiskan Naga.


Nampak prajurit itu melihat dengan teliti dan berkata ,


" Mari ikut saya,!" katanya.


Kemudian ketiganya berjalan kearah dalam ibukota Jiqing tepatnya menuju kearah istana.


Akan tetapi ketika berada di sebuah tempat yg agak sunyi, ketiganya di kejutkan dengan kehadiran pengemis jubah merah yg langsung mengepung mereka.


" Hehh, lu berdua orang asing serahkan kampil itu kepada kami atau kalau tidak nyawa kalian taruhannya, !" gertak pemimpin pengemis itu.


" Jangan ganggu saya punya tamu,!" jawab orang yg berpakaian prajurit itu.


" Lu minggir, ****** Kaisar," bentak Sang pengemis marah


" Tidak bisa mereka adalah tamuku, dan akan kubawa menghadap menteri Tan, !" ucap yg berpakaian prajurit.


Kepala pengemis itu kelihatan marah sekali melihat sikap prajurit, sehingga langsung memberi isyarat kepada anggota nya untuk menyerang , namun sebelum mereka menyerang berkatalah Wikala,


" Kalian menginginkan ini, ?" tanya Wikala sambil mengacungkan kampil yg berisi uang. Seketika seluruh anggota pengemis jubah merah berhenti bergerak.

__ADS_1


" Ini terima ,!" ucap Wikala seraya melemparkan kampil itu keudara.


Segera pemimpin pengemis jubah merah , melesat untuk meraihnya, akan tetapi belum sempat tangan nya meraih kampil yg berisi uang itu , tiba-tiba ia berteriak dan jatuh terduduk kembali ke tempat semula.Sambil meringis ia memegangi perutnya. Serentak anggota kelompok pengemis jubah merah melihat kepadanya.


" Apa yg kalian lihat, segera bunuh orang asing itu,!" teriaknya.


Rupanya ketika tangannya hampir meraih kampil itu , dengan cepat Wikala memberikan tendangan kearah perutnya dan kampil berisi uang itu kembali ketangan Wikala.


Tidak menunggu perintah kedua kalinya, anggota kelompok pengemis jubah merah pun menyerang Wikala, Lembu Petala dan prajurit yg bersama mereka, kali ini mereka menyerang dengan tongkatnya.


Namun belum sempat tongkat itu menyentuh , secara tiba-tiba seluruh anggota kelompok pengemis jubah merah itu yg berjumlah lima belas orang jatuh terduduk dalam keadaan tertotok.


" Mari segera ke rumah saudagar Tan,!" kata Wikala kepada prajurit yg berada di samping nya, yg terbengong melihat seluruh anggota pengemis itu telah tidak berdaya, sementara Lembu Petala tersenyum melihat tingkah prajurit itu.


" Ma....ri.." ucap Prajurit itu.


Sambil berjalan , ia berkata ,


" Bagaimana bisa seperti itu, dan bagaimana mereka melepaskan totokannya,?" tanyanya pada Wikala.


" Ahh, mudah saja , !" jawab Wikala.


" Heh, jangan duduk saja ,ayo bangkit ,!" teriak Wikala mengerahkan ajian segara macan nya.


Serentak para pengemis jubah merah tersadar dan berdiri seperti orang linglung, sedangkan Wikala, Lembu Petala dan prajurit itu telah jauh meninggalkan tempat itu.


Sesampainya di gerbang istana selatan , prajurit yg bersama Wikala dan Lembu Petala melapor kepada prajurit jaga untuk ke rumah saudagar Tan.


Ternyata saudagar Tan adalah salah seorang menteri yg menjabat di istana itu.


Didepan sebuah rumah yg mewah lagi besar , di kelilingi tembok yg tinggi dan banyak prajurit yg berjaga, kembali prajurit itu minta izin untuk masuk.


" Ada perlu apa, ?" tanyanya pada prajurit yg bersama Wikala dan Lembu Petala.


" Kami ingin bertemu menteri Tan ,!" ucapnya.


" Kalian siapa dan untuk apa bertemu tuan Tan,?" tanya prajurit jaga itu.


" Ini ada temannya dari jauh ingin bertemu menteri Tan,!" jawab prajurit yg bersama Wikala.


" Tidak bisa Menteri Tan , sedang tidak berada di rumah,!" jawab prajurit jaga.


" Tadi di depan gerbang prajurit jaga mengatakan beliau berada di rumah,!" jelas prajurit itu.


Karena suara prajurit yg bersama Wikala agak meninggi, terdengarlah suara dari dalam rumah besar itu seseorang berkata,


" Haiya, prajurit ada apa,?" tanya orang itu dari dalam.


" Ini tuan ada yg hendak bertemu dengan anda, tetapi mereka orang asing ,!" jawab prajurit itu.


" Hehh, orang asing siapa namanya,?" tanya nya dari dalam.


" Siapa nama kalian, ?" tanya prajurit jaga kepada Wikala dan Lembu petala.


" Saya Wikala dan ini paman Lembu Petala,!" kata Wikala.


Setelah mendengar ucapan Wikala berkatalah prajurit itu,

__ADS_1


" Yang seorang bernama Wikala dan seorang lagi Lembu Petala, !" teriak prajurit jaga itu.


Mendengar nama kedua orang itu, langsung saja keluarlah sosok tubuh Tambun dari dalam rumah dengan tergesa-gesa.


" Haiya mohon maaf kepada Taihiap berdua, nimen hao ma, haiya, apakhabar, !" ujar Saudagar Tan sambil memeluk Wikala dan Lembu Petala.


" Mari, mari, mari silahkan masuk, !" ucapnya menyilahkan keduanya untuk masuk kedalam.


Di dalam rumah yg besar itu rupanya Saudagar Tan kedatangan tamu tiga orang dari istana utara atau Beijing, mereka pembesar ibukota kerajaan Tiongkok.


" Haiya, kenalkan ini adalah menteri Lin tung tze , ini jenderal Yun Cai adik jenderal Yu Qian dan ini Wang li.!" jelas Saudagar Tan.


" Hehh, saudara Tan siapa mereka berdua,?" tanya jenderal Yun Cai kepada saudagar Tan.


" Haiya, Xiong de( saudara) Yun, mereka adalah utusan Majapahit yg akan menghadap kepada Kaisar,!" jelas Saudagar Tan.


" Kamu kan tahu, bahwa kaisar saat ini sedang di tahan oleh orang mongol,!" seru jenderal Yun Cai lagi.


" Ya , owe tahu bahwa kaisar Zhengtong ditahan oleh kaisar essen Khan dari mongol, memangnya kenapa?" tanya saudagar Tan.


" Kaisar berarti tidak ada dan tidak bisa menerima tamu,!" jawab jenderal Yun.


" Haiya, yg kudengar bahwa jenderal Yu Qian meminta pangeran Zhu qi Yu menjadi kaisar,!" jelas Saudagar Tan.


" Memang pangeran Zhu qi Yu telah di nobatkan sebagai Kaisar menggantikan kaisar Zhengtong, akan tetapi yg mengirimkan utusan ke Majapahit adalah kaisar Zhengtong,!" kata Jenderal Yun Cai.


" Haiya, tidak masalah, mau kaisar Zhengtong ataupun Jiangtai sama saja , mereka berdua ingin menghadap kaisar Tiongkok sebagai utusan Majapahit,!" jelas Saudagar Tan.


" Benar saudara Tan, mereka berdua adalah utusan Majapahit


yg ingin menghadap kaisar Tiongkok, tetapi saat ini keadaan istana sedang genting, pasukan mongol sudah tiba di kota Datong kota perbatasan di sebelah utara, dari Beijing, !" jelas Menteri Lin tung tze.


" Jadi apa masalahnya dengan perseteruan antara Tiongkok dan mongol?" tanya Saudagar Tan.


" Keadaan di istana sedang gawat, bagaimana mungkin prajurit mampu menjaga keselamatan mereka, sedang kan mereka harus bertempur melawan musuh,!" kata Wang li pembantu dari Jenderal Yun Cai.


" Ahh, saudara Wang terlalu mereka berdua, keduanya tidak perlu penjagaan prajurit, yg penting bagi mereka dapat menghadap kaisar Tiongkok,!" ujar Saudagar Tan.


" Heh, sebagai Youke (tamu) kita harus menjaga keselamatan nya selama berada di negeri kita,!" jelas Jenderal Yun Cai.


" Begini, Jenderal Yun, mereka berdua adalah Taihiap yg amat lihai Kung Fu nya, bahkan bila mereka sudi bisa diminta pertolongan nya guna menghadapi pasukan mongol, " kata saudagar Tan lagi.


" Hehh, benarkah saudara Tan ,?" tanya menteri Lin tung tze.


Kemudian saudagar Tan menceritakan saat-saat kebersamaan nya dengan Wikala dan Lembu diwaktu berlayar.


Ketiga pembesar istana Tiongkok itu mendengar kan seksama dan kemudian bertanya kepada Wikala dan Lembu Petala.


" Saudara berdua , kami selaku pemimpin istana utara mengucapkan Selamat datang di tiongkok ini,!" ucap Menteri Lin tung tze mewakili ketiganya sambil menjura hormat, mereka merasa jeri juga setelah mendengar cerita dari Saudagar Tan.


" Sama-sama, kami juga sangat senang sekali di terima dengan baik di negeri tuan ini,!" ucap Lembu Petala sambil menjura hormat.


" Oleh karena saudara berdua akan menghadap kaisar, biarlah nanti bersama kami , sekira dua hari lagi,!" ucap Jenderal Yun Cai.


" Terima kasih , telah sudi menerima dan mengantarkan kami,!" jawab Wikala.


Selama dua hari Wikala dan Lembu Petala di jamu oleh saudagar Tan yg ternyata seorang menteri keuangan istana selatan yaitu di Jiqing.( Nanjing).

__ADS_1


Dua hari itu di pergunakan oleh Wikala dan Lembu Petala melihat-lihat kota Jiqing yg berada di aliran sungai yangtze, yg Hulu sungai nya berada di daerah mongol tepatnya di Dangqu pegunungan Tanggula ,Qinghai.


Sungai yangtze yg terbentang memanjang itu, membuat daerah-daerah yg dilaluinya menjadi subur, hingga membuat wilayah itu lumbung padi untuk negeri Tiongkok termasuk kota Jiqing.


__ADS_2