
Setelah pasukan Pamotan kembali ke landasan nya di Kandangan maka diada kan lah pertemuan antar pemimpin pasukan termasuk hadir Tumenggung Singha Wara dari Pakal.
" Besok pasukan kita harus sudah bisa menjebol pintu gerbang Kotaraja itu, !" ucap Wikala sang Adipati Pamotan.
" Tetapi bagaimana cara nya, Gusti Adipati, pasukan kita tetap mereka hujani dengan anak -anak panah, lembing bahkan tombak dari atas benteng,!" seru Senopati Lembu Petala selaku Senopati nya.
" Bor dan adi Pratanu, apakah kalian berdua sanggup untuk menjebol pintu gerbang sebelah Barat itu,?" tanya Wikala Sang Adipati Pamotan kepada kedua orang kepercayaan nya itu.
" Sendika dawuh, kangmas Adipati,!" jawab Naja Pratanu.
" Sendika dawuh, Gusti Guru,!" jawab Arya bor-bor.
" Jadi tugas Paman Petala dan pasukan yg lain untuk menjaga kedua orang itu di saat mereka akan melakukan penjebolan pintu gerbang Kotaraja apabila perlu, balok kayu yg besar pun tetap di siap kan, jika pintu gerbang itu hanya retak atau pun rusak sedikit saja, baru di hentak kan dengan balok kayu itu,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.
" Dan untuk gerbang sebelah selatan itu biar lah akan Ku coba untuk menghancur kan nya, !" kata Sang Adipati Pamotan.
Ia kemudian ter diam, karena di sisi gerbang sebelah timur ia tidak memiliki seorang yg pas untuk di tunjuk melakukan pekerjaan itu.
Ia kemudian bertanya kepada Tumenggung Rapala,
" Apakah Kakang Tumenggung Rapala sanggup untuk menghancur kan pintu gerbang sebelah timur itu,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan.
Tumenggung Rapala diam se saat, dan berkata,
" Sendika dawuh Gusti Adipati, akan coba usaha kan,!" jawab Tumenggung Rapala.
" Ampun Gusti Adipati, apa tidak sebaik nya perang esok hari, Gusti Adipati sendiri lah yg ber tindak sebagai Senopati Agung nya,!" ucap Senopati Lembu Petala.
" Benar dimas Pamotan, sudah selayak nya lah, dimas Pamotan yg ber tindak jadi Senopati Agung nya guna menaik kan semangat para prajurit,!" ter dengar saran dari Adipati Daha sang kakak ipar nya itu.
" Kami berdua setuju jika , anakmas Pamotan yg jadi Senopati Agung nya esok hari,!" ujar Adipati Tumapel dan Kabalan.
" Baik, besok, pasukan Pamotan akan Ku pimpin sendiri, dan perintah yg harus di sepakati sebelum matahari naik ke atas ubun-ubun maka pintu gerbang Kotaraja Majapahit itu harus pecah, sehingga kita tidak akan ter lalu lama berada di luar dan ber perang dengan musuh yg memiliki banyak ke untungan karena mereka bisa ber sembunyi dari serangan pasukan kita, setelah pasukan Pamotan ber hasil masuk , pasukan mem bentuk gelar garuda nglayang dan jika mereka ber tahan di alun alun Kotaraja pasukan Pamotan harus merobah gelar dengan Dirada metha, upaya kan jangan ada korban dari kawula alit yg mungkin akan mereka jadi kan sebagai tameng hidup,!" demikian lah se sorah dari Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Gusti Adipati, apakah jika malam telah tiba kita baru ber hasil masuk ke dalam kotaraja, akan kah kita terus melanjut kan peperangan,?" tanya Tumenggung Rapada.
" Kalau malam telah tiba kita baru bisa ber hasil masuk, kita akan tetap menerus kan peperangan hingga selesai, jadi malam ini siap kan seluruh jiwa dan raga kalian untuk tetap mampu ber tahan hingga perang ber akhir, dan bagi prajurit per bekalan dan cadangan juga harus siap sedia untuk mengganti kan posisi prajurit yg kelelahan atau pun yg sudah ter luka, jangan per bekalan sampai datang ter lambat,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan itu.
Malam begitu cepat ber lalu ketika fajar menyingsing di ufuk Timur ter dengar lah bunyi bende dan genderang perang yg sudah di tabuh para prajurit Pamotan yg menandai perang antara kotaraja Majapahit dengan Pamotan itu akan segera di mulai, kembali Pasukan Pamotan keluar dari landasan nya masing-masing menuju pintu gerbang Kotaraja Majapahit yg berada di tiga jurusan yakni Timur, Barat dan Selatan.
Dan kali ini ber tindak sebagai Senopati Agung nya adalah Sang Adipati Pamotan, Bhre Kertabhumi sendiri.
Nampak gagah di atas punggung kuda nya Sang Adipati Pamotan itu, di dampingi oleh dua orang Adipati yg berusia paruh baya yaitu Adipati Tumapel dan Adipati Kabalan.
Sementara agak ke belakang sedikit ada Tumenggung Rapada sebagai penanggung jawab kebutuhan per bekalan pasukan Pamotan seluruh nya dan kali ini ia sendiri tidak di dampingi saudara kembar nya Tumenggung Rapala yg berada di pintu gerbang sebelah timur bersama dengan Tumenggung singha Wara dan Adipati Kahuripan.
Tetapi kali Tumenggung Rapada di temani oleh dua orang Tumenggung kepercayaan dari Adipati Tumapel yg bernama Tumenggung Wirakerta dan seorang lagi orang kepercayaan dari Adipati Kabalan yaitu Tumenggung Jayasesa.
Ketika matahari beranjak naik sampai lah iring -iringan pasukan Pamotan yg di pimpin langsung oleh Wikala Sang Adipati Pamotan sendiri di depan pintu gerbang bagian selatan dari Kotaraja Majapahit.
Tampak tangan Wikala sang Adipati Pamotan itu di angkat ke atas sebagai isyarat bagi pasukan besar itu untuk berhenti.
" Paman Adipati berdua, jika nanti pintu gerbang itu ber hasil di buka perintah kan kepada seluruh pasukan untuk segera masuk ke dalam, dan upaya kan juga untuk memanjat dinding supaya tidak terlalu sesak di gerbang itu,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan.
" Baik Anakmas Adipati,!" jawab kedua Adipati itu.
__ADS_1
" Lurah Trilaya, Lurah Dipangkara dan Lurah warak Rimbangan persiap kan prajurit kalian, Setelah isyarat di beri kan kalian segera maju mendekati gerbang itu , usaha kan kalian aman kan tempat itu sampai Aku tiba,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.
" Pasukan pemanah maju, pasukan tameng maju, segera beri isyarat kepada gerbang barat dan Timur untuk menyerang,!" perintah dari Sang Adipati Pamotan, Bhre Kertabhumi.
Kembali ter dengar panah sendaren meraung di atas bumi Kotaraja Majapahit itu kali dua sekaligus di lepas kan, yg satu ke sisi timur dan yg satu nya lagi ke sisi barat.
Tanpa di beri perintah lagi, lebih tiga ratus prajurit Balasewu ber lari mendekati pintu gerbang bagian selatan itu.
Seluruh pasukan Balasewu itu segera mendapat kan serang an anak-anak dari atas benteng Kotaraja Majapahit.
Namun karena pasukan Balasewu di kenal memiliki ilmu kebal maka tidak ada satu pun anak panah yg berhasil menembus tubuh mereka.
Begitu pasukan Majapahit telah memberi kan serangan maka pasukan pemanah Pamotan yg tengah ber siap itu pun segera membalas serangan itu.
Serangan anak-anak panah dari pasukan Pamotan lebih banyak sehingga sebentar kemudian serangan dari pasukan Majapahit itu agak mereda.
Melihat serangan dari atas benteng itu agak mereda berkata lah Wikala Sang Adipati Pamotan itu,
" Ber siap lah parman Adipati, aku akan berusaha untuk membuka gerbang itu,!" ucap nya.
" Baik Anakmas,!" jawab Adipati Tumapel dan Kabalan.
" Hiyyyah,!" teriak Wikala sang Adipati Pamotan itu.
Laksana terbang tubuh dari Sang Adipati ber gerak melesat dari atas pungggung kuda nya.
Kemudian Setelah dekat dengan pintu gerbang itu ter dengar kembali teriakan nya,
" Aji Kalamawa,!"
Sebuah cahaya merah yg terang menghantam pintu gerbang selatan itu.
Pintu gerbang yg besar dan kokoh terbuat dari bahan kayu pilihan dan di lapisi oleh besi ter lihat hangus ter bakar , sehingga membuat lubang yg cukup besar.
Ter dengar perintah dari belakang ,
" Majuuuu, seraaaaangg,!" teriak kan yg keluar dari mulut Adipati Tumapel.
Maka ber gerak lah pasukan Pamotan itu menuju pintu gerbang yg telah ter buka itu, bahkan mereka masih membawa kayu balok yg besar untuk mem perlebar pintu gerbang yg telah terbakar itu.
Tak ayal lagi satu demi satu pasukan Pamotan ber hasil masuk dari dari gerbang selatan itu, maka perang di depan pintu gerbang itu pun terjadi.
Pasukan Majapahit yg di pimpin oleh Senopati nya Adipati Pandan Alas segera berusaha menahan laju masuk nya Pasukan Pamotan itu.
Akan tetapi sekali lagi Sang Adipati Pamotan melontar kan pukulan jarak jauh nya dan membuyar kan kerumunan dari pasukan Majapahit yg coba menghadang masuk nya Pasukan Pamotan itu.
Terpaksa lah pasukan Majapahit itu ber gerak mundur secara teratur.
Kemudian pasukan Majapahit membentuk gelar sapit urang untuk menahan laju masuk nya Pasukan dari Pamotan.
Setelah matahari tepat di atas kepala seluruh pasukan Pamotan ber hasil masuk ke dalam Kota Raja Majapahit itu.
Mendengar pasukan Pamotan telah ber hasil masuk dari gerbang sebelah selatan maka gerbang di sebelah barat pun tengah berusaha untuk meruntuh kan pintu gerbang itu.
" Bagaimana Naja Pratanu, kita harus segera berhasil menjebol pintu gerbang itu,!" teriak Arya bor-bor di tengah serangan anak panah dari pasukan Majapahit yg berada di atas benteng Kotaraja itu.
__ADS_1
" Sebaik nya kita satu kan kekuatan kita untuk menjebol pintu gerbang itu,!" ucap Senopati Naja Pratanu.
" Baik , Mari kita lakukan,!" jawab Arya bor-bor.
Kedua nya kemudian memusat kan nalar budi nya untuk mengeluar kan ajian nya masing -masing.
" Aji Naga geni, heyyaahh,!" ter dengar teriakan dari mulut Senopati Naja Pratanu
" Aji Tapak liman, hiyyah,!" suara dari Arya bor bor.
Melunçur lah dua cahaya yg terang dari ke empat telapak tangan yg ter buka itu meng hantam pintu gerbang sebelah barat dari Kotaraja Majapahit itu.
" Dhhuaaarrr,!" bunyi ledakan yg di timbul kan akibat pukulan jarak jauh itu menghantam gerbang Kota Raja Majapahit.
Akan tetapi pintu gerbang itu tidak berhasil di jebol hanya menyebab kan retak saja.
Akhir nya kedua Senopati Pamotan itu melancar kan pukulan jarak jauh nya untuk kedua kali nya baru lah pintu gerbang berhasil pecah walau hanya menimbul kan celah yg kecil.
Akan tetapi Senopati Lembu.Petala segera memrintah kan prajurit Pamotan untuk meruntuhkan pintu itu.
" Cepat jebol pintu gerbang itu mengguna kan balok kayu,!" ter dengar teriakan dari Senopati Lembu Petala.
Tiga puluh orang prajurit Pamotan segera mengusung sebuah balok kayu yg besar dan menghantam kan ke pintu gerbang sebelah barat Kotaraja Majapahit itu.
Sebentar kemudian pintu gerbang itu runtuh dan kemudian pasukan Pamotan langsung menyerbu masuk.
Dan setiap kali yg tampil di depan adalah pasukan khusus Balasewu, mereka terus memberi kan tekanan kepada musuh dengan lontaran -lontaran senjata rahasia nya untuk menjatuh kan lawan.
Mendengar sudah dua pintu gerbang Kotaraja Majapahit,maka Mahisa Dara dan Patih Lohdaya segera berunding.
" Bagaimana ini anakmas pangeran, mereka telah berhasil masuk ke dalam kotaraja Majapahit ini, apa yg mesti kita lakukan,?" tanya Patih Lohdaya kepada Mahisa Dara.
" Sebaik nya Paman Patih membantu Kangmas Wengker dan Kangmas Pandan Alas, biar pintu gerbang timur ini tugas ku untuk menahan nya, jika mereka ber hasil masuk dari sini maka Pasukan Majapahit akan ter jepit, sehingga cuma bisa ber tahan saja?" jelas Mahisa Dara.
" Baik lah anakmas pangeran , paman akan membantu anakmas Wengker karena pasukan induk Pamotan berada di sana," ujar Patih Lohdaya.
Kemudian Patih sepuh itu pun ber gerak membawa pasukan nya menuju barat Kotaraja Majapahit itu.
Setelah sampai di per tempuran antara kotaraja Majapahit dan Pamotan di sebelah selatan , Patih Lohdaya melihat pasukan Majapahit itu terus ter desak mundur.
Akhir nya Patih Lohdaya dan pasukan menerjun kan diri di peperangan antara empat Adipati yg sebenar nya merupakan induk pasukan dari Pamotan.
Sepak terjang Sang Adipati Pamotan tampak nya tidak dapat ter bendung lagi sudah tiga Punggawa pinunjul Majapahit yg tewas di tangan murid Mpu Barada itu, ter masuk Tumenggung Surengrana yg memimpin sayap kanan pasukan kotaraja Majapahit itu.
Nampak lah pasukan sayap kanan dari Kotaraja Majapahit itu telah robek dan para prajurit nya mulai kocar kacir di serang pasukan Pamotan, yg terus mengawal junjungan nya itu.
Sementara di induk pasukan Majapahit yg berada di gerbang selatan itu terjadi pertarungan yg cukup men debar kan antara Adipati Kabalan dengan Adipati Pandan Alas yg merupa kan Senopati di gerbang selatan itu.
Sedang kan di sayap kiri pasukan Majapahit itu pun nasib nya tidak ter lalu ber beda dengan sayap kanan nya, Adipati Tumapel yg jadi Senopati di sayap kanan dari pasukan Pamotan tampak menggila membabat pasukan Majapahit yg di pimpin oleh Seorang Tumenggung bernama Adikarana.
Karena pasukan Pamotan memang lebih unggul segala-gala nya membuat pasukan Majapahit terus ter desak mundur.
Nasib yg sama pun di alami oleh pasukan Majapahit yg berada di gerbang sebelah barat, Naja Pratanu, Arya bor-bor, Lembu Petala dan Adipati Daha menjadi momok yg menakut kan bagi pasukan Majapahit yg di pimpin oleh Adipati Wengker.
Adipati Wengker, putra dari Prabhu Suraprabhawa harus ber hadapan dengan Senopati Lembu Petala yg sudah kenyang dengan asam garam peperangan dari di wilayah Majapahit sampai keluar negara telah di lakoni oleh Senopati Lembu Petala, bahkan ketika mengikuti perang d Tiongkok ia berhasil memutus sebelah lengan dari Jenderal mongol yg ber nama Jenderal Ganzorig.
__ADS_1
Jadi begitu harus ber hadapan dengan Adipati Wengker yg kesukaan nya cuma ber buru membuat Senopati Lembu Petala nampak garang.
Adipati Wengker Beberapa kali harus menjauh kan diri nya dari serangan - serangan tombak Senopati Lembu Petala yg seperti punya mata mengejar terus kemana musuh lari.