BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 21 Sang BRAWIJAYA bagian pertama.


__ADS_3

" Apa kabar Ngger,?" tanya Mpu thanda setelah anak nya itu naik ke atas pendopo.


" Baik, sangat baik Romo, bagaimana dengan keluarga di sini ,?" balik Wikala ber tanya.


" Baik semua sangat baik, kami malah men cemas kan nasib mu Angger , karena seperti yg kami dengar , Angger tengah mengada kan perang Tanding dengan seorang Bikshu dari Tibet,!" seru Mpu Thanda.


" Benar Romo, kami baru selesai mengada kan perang Tanding dengan Bikshu Ganggadhara di puncak Semeru, baru setelah nya kami datang kemari,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.


" Bagaimana hasil nya perang tanding itu,?" tanya Mpu Thanda lagi.


" Berkat Hyang Widhi wasa, hasil nya tidak menimbul kan korban, Bikshu Ganggadhara menyerah dan kembali ke Tibet,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.


" Syukur lah,!" ucap Mpu Thanda.


" Di saat Pamotan tengah ber siap ber perang dengan Kotaraja Majapahit, malah ter dengar Kakang Radeksa ber perang tanding dengan seorang Bikshu dari Tibet, kami menyangka itu adalah pemikiran dari Mahisa Dara,yg saat ini ber kuasa di Kotaraja Majapahit,!" kata Larasati kepada kakak nya itu


" Tidak , ini memang keinginan dari Bikshu Ganggadhara yg memiliki seorang murid dari Mongol dan tewas di tangan kakang mu ini, jadi selaku seorang Guru, is merasa pantas dan ber kewajiban untuk mem balas kan dendam murid nya itu, sehingga jauh -jauh datang dari Tibet hanya untuk mengada kan perang Tanding,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.


" Dimana Pratanu, Ras,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan lagi kepada adik nya itu.


" Kakang Pratanu dan dua Lurah prajurit Balasewu tengah berada di kandangan, mereka tengah mempersiap kan tempat untuk para prajurit yg akan ber gabung dengan pasukan Pamotan,!" jawab Larasati.


" Kamu kapan melahir kan nya , Ras,?" tanya sang Adipati Pamotan.


" Entah lah, Kang, seperti nya saat pecah perang dengan Kotaraja Majapahit, mungkin ,!" jawab Larasati lagi.


" Memang nya Angger Radeksa, kapan memulai penyerbuan ke kotaraja Majapahit itu,?" tanya Mpu Thanda.


" Nanti pada saat bulan purnama, mungkin kurang dari tiga pekan lagi,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.


" Kalau begitu masih ada waktu untuk menjalani laku beberapa saat sebelum peperangan terjadi,!" seru Mpu Thanda kepada anak nya itu.


" Radeksa telah melakukan nya saat masih di Pamotan, Romo, se waktu akan ber hadapan dengan Bikshu Ganggadhara itu, jadi sekarang kami akan mem persiap kan segala sesuatu nya guna melancar kan serangan ke kotaraja Majapahit itu,!'' jelas Wikala sang Adipati Pamotan.


" Bagus lah kalau begitu, selain berusaha kita mesti juga minta petunjuk dari Hyang Widhi wasa, jadi kita tahu jalan mana yg harus kita tuju, !" nasehat Mpu Thanda kepada anak nya itu.


Setelah malam menjelang, Wikala sang Adipati Pamotan ber sama dengan Senopati Lembu Petala dan Arya bor bor kemudian menuju ke Kandangan , desa yg berada di wilayah kadipaten Daha yg di jadi kan landasan pasukan Pamotan dan tidak ter lalu jauh dari Kotaraja Majapahit juga dari desa Antang yg juga merupakan landasan pasukan Pamotan.


Se sampai nya di Kandangan, ia di sambut oleh Senopati Naja Pratanu sendiri.


" Apa kabar, Kangmas Adipati, " sapa Senopati Naja Pratanu kepada sang Adipati Pamotan itu.


" Baik adi Pratanu, bagaimana keadaan dari pasukan kita, apa kekurangan yg harus segera di penuhi,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan kepada adik ipar nya


" Sampai saat ini, pasukan Pamotan hanya ke kurangan beberapa buah senjata, karena banyak nya para pemuda desa yg ber gabung dari beberapa tempat di wilayah kadipaten Daha ini ter masuk juga tanah Perdikan Thanda,!" jawab Senopati Naja Pratanu.


" Apa kah hal itu telah dapat di atasi,?" tanya Sang Adipati Pamotan kepada Senopati Naja Pratanu.


" Sudah Kangmas Adipati, Adipati Daha bersedia memberi kan tambahan per senjataan yg di buat oleh Mpu istana Daha sendiri.!" jawab Senopati Naja Pratanu.


" Di mana Kangmas Daha, apakah ia belum berada di Kandangan ini,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan.

__ADS_1


" Belum Kangmas, ia ber kata, ketika peperangan kurang dari se pekan baru ia akan kemari,!" jawab Naja Pratanu lagi.


" Bagaimana Paman Petala, di manakah sebaik nya untuk di jadi kan pasukan induk dari Pamotan ini, apakah di Kandangan atau di Antang,!" tanya Wikala sang Adipati Pamotan kepada Senopati Lembu Petala.


" Kalau menurut Paman, sebaik nya di Kandangan ini kita jadi kan sebagai pasukan induk dari Pamotan,selain lebih dekat, di sini kita lebih cepat ber hubungan dengan kota Daha, jika pasukan Pamotan mengalami ke kurangan bisa langsung ke Daha, Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.


" Dan pasukan yg berada di Kahuripan apa tidak ter lalu jauh jika harus ber hubungan kemari,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Ahh, Paman kira sama saja jika di letak kan di Antang, tempat nya pun cukup jauh dari Pakal dimana pasukan Pamotan ber tempat,!" jelas Senopati Lembu Petala.


" Apakah pasukan Pamotan di Pakal telah mengetahui Kapan kita mulai melakukan penyerangan ini,?" tanya Sang Adipati Pamotan.


" Mereka sudah tahu Gusti Adipati, begitu ayam jantan berkokok setelah bulan purnama, maka serentak seluruh prajurit dari Kadipaten Pamotan akan menyerang Kotaraja Majapahit itu, ini telah di sampai kan oleh Tumenggung Rapada sebelum nya,!" jelas Senopati Lembu Petala.


" Sebaik nya esok kita ke Pakal, untuk melihat keadaan di sana,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.


Malam itu Sang Adipati Pamotan ber malam di kandangan di barak pasukan Pamotan berada.Ia memeriksa keadaan dari pasukan Pamotan yg berada di kandangan itu, ia dan adik ipar nya Naja Pratanu tampak kelihatan bahagia.


" Adi Pratanu apakah telah membaca serba sedikit kitab yg telah ku beri kan kepada Rara Tantri itu,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan kepada adik ipar nya itu.


" Sudah Kangmas, bahkan dengan Larasati kami telah mempelajari satu bagian dari ilmu yg ada di kitab itu,!" jelas Naja Pratanu.


" Bagus adi Pratanu, karena ilmu yg ada di dalam kitab itu ter nyata berisi kan ilmu dari Tiongkok dalam tataran ter tinggi,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.


" Maksud Kangmas, bahwa di dalam kitab yg sudah usang itu berisi kan ilmu tingkat tinggi,?" tanya Naja Pratanu heran.


Naja Pratanu mendengar kan penuturan dari kakak ipar nya itu dengan seksama sehingga tidak ada yg ter lewat kan oleh nya.


" Di saat perang nanti pecah memang kita harus memusat kan perhatian kepada lawan terutama para Senopati pinunjul nya, bagaimana pendapat Paman Petala dalam hal ini,?" tanya Sang Adipati Pamotan itu kepada Senopati Lembu Petala.


" Kalau yg perlu di waspadai saat ini adalah Mahisa Dara menantu dari Prabhu Suraprabhawa itu, selain ia telah ber hasil mengalah kan begal alas selentuk yg cukup punya nama di tlatah Majapahit ini, ia pun ter kenal cerdas bahkan cenderung licik, ini lah se sungguh nya yg akan membuat kesulitan bagi pasukan kita, Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.


" Selain itu siapa lagi,?" tanya Wikala Sang Adipati Pamotan itu.


" Ada nama Tumenggung Surengrana yg ber hasil lolos dari perang yg terjadi di Kahuripan, selain masih muda, ia pun memiliki kemampuan dalam ilmu kedigjayaan, sebenar nya masih banyak Punggawa pinunjul dari Majapahit itu, tetapi sebahagian besar telah ber pihak kepada kita, Gusti Adipati,!" kembali Senopati Lembu Petala menerang kan.


" Jadi ,dua orang itu saja yg harus kita waspadai,Paman Petala ,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan.


" Mungkin ada nama ter akhir yg Paman belum ter lalu paham tentang kemampuan nya,!" ucap Senopati Lembu Petala.


" Siapa orang itu , Paman Petala, ?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan..


" Beliau adalah Patih baru Majapahit, yaitu Patih Lohdaya, seorang Patih dari Kadipaten Wengker, di masa Prabhu Bhatara Purawawisesa kemudian menjadi Patih di Majapahit ini,!" jawab Senopati Lembu Petala.


" Benar juga, ucapan mu itu , Paman Petala, kita belum ter lalu mengenal dengan Patih Lohdaya itu, apalagi semasa Kangmas Prabhu Bhatara Purawawisesa, patih Lohdaya cukup banyak pengikut nya, ter bukti meski pun banyak pejabat tinggi yg di buang oleh Prabhu Suraprabhawa tetapi beliau tidak, memang ini pertanyaan besar , Paman,?" kata Wikala sang Adipati Pamotan.


" Itulah Gusti Adipati, Patih Lohdaya itu memang masih perlu di awasi , dan bila perlu prajurit sandi Pamotan harus mengorek keterangan tentang kemampuan beliau, di saat sebahagian besar petinggi Majapahit keluar dari Kotaraja tetapi beliau tidak, mungkin memang beliau perlu kita masuk kan sebagai orang yg perlu di per hitung kan,!" ujar Senopati Lembu Petala.


" Gusti Guru, serah kan urusan patih Lohdaya kepada ku, jika beliau memang harus di per hitung kan,!" kata Arya bor-bor yg sejak dari tadi diam saja.

__ADS_1


" Tetapi Kangmas Adipati, menurut dari para prajurit sandi Pamotan, bahwa pada perang kali ini, yg ber tindak sebagai Senopati Agung nya adalah Patih Lohdaya itu bukan nya Mahisa Dara atau Adipati Wengker yg merupa kan putra dari Prabhu Suraprabhawa itu,!" terang Senopati Naja Pratanu kemudian.


" Memang patut di perhitung kan, tugas mu Bor dan Paman Petala untuk menghadapi Patih Lohdaya itu,!" seru Wikala sang Adipati Pamotan.


" Sendika dalem Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.


Setelah ber malam di Kandangan, selanjut nya ketiga orang pembesar kadipaten Pamotan itu ber gerak ke Pakal di Kahuripan.


Ketiga nya langsung menuju desa Pakal tanpa singgah di kota Kahuripan.


" Apa kabar, anakmas Adipati,?" tanya Tumenggung Singha Wara kepada Wikala sang Adipati Pamotan.


" Baik Paman Tumenggung, bagaimana dengan keadaan di sini , apakah prajurit dari Kerajaan gel gel telah tiba,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Belum anakmas Adipati, tetapi dari kabar yg kami dengar mungkin dalam pekan ini mereka akan sampai di sini,!" kata Tumenggung singha wara.


" Apakah Nanda Kahuripan ada disini, Paman,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Tidak , angger Adipati Kahuripan belum berada di sini, ia masih berada di Kahuripan, tetapi beliau akan segera kemari,!" jawab Tumenggung singha wara.


" Paman Tumenggung, Berapa jumlah kekuatan prajurit di desa Pakal ini,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan.


" Kekuatan prajurit di Pakal ini lebih dari sepuluh ribu prajurit, mungkin jika di tambah dari gel-gel, mencapai dua belas ribu prajurit,!" jawab Tumenggung singha Wara.


" Siapa saja Tumenggung yg Dari Pamotan berada di sini,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan lagi.


" Tumenggung Banyak Carit, Tumenggung Srengganu dan Tumenggung Rapala, di tambah banyak Rangga dari Pamotan yg juga berada di sini, anakmas Adipati,!" jelas Tumenggung Singha Wara.


" Baik, sangat baik, jika dari Kahuripan ini nanti nya mampu membuka gerbang timur Kotaraja Majapahit itu, tentu jalan keluar dari para prajurit Majapahit hanya tinggal ke arah barat saja, kita tinggal ber gerak dari arah gerbang selatan untuk menutup jalan keluar itu,!" ujar Sang Adipati Pamotan.


" Apakah pada perang kali ini anakmas Adipati sendiri sebagai Senopati Agung nya,?" tanya Tumenggung Singha Wara.


" Tidak Paman Tumenggung, biar Paman Petala saja sebagai Senopati Agung nya dan pasukan induk Pamotan berada di kandangan bukan di Antang,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.


" Jadi di mana kah anakmas Adipati berada, di kandangan atau di Antang,?" tanya Tumenggung Singha Wara lagi.


" Kami akan berada di Antang membantu Tumenggung Rapada dan Paman Adipati Kabalan dan Tumapel yg juga berada di sana,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.


" Wah, pasukan di Antang lah yg jadi Induk pasukan Pamotan,!" kata Tumenggung singha Wara.


" Tidak Paman Tumenggung, biar lah yg di kandangan saja yg jadi induk pasukan Pamotan, yg di pimpin Paman Petala, sehinggga mereka akan menyangka bahwa Prajurit dari Pamotan di Antang akan ter lihat lemah dan kemungkinan gerbang selatan akan dapat di kuasai,!" ungkap Wikala sang Adipati Pamotan.


Demikian lah per bincangan di antara para Petinggi Pamotan itu.


Setelah merasa cukup untuk melihat kondisi prajurit Pamotan yg ada di desa Pakal itu, akhir nya Wikala sang Adipati Pamotan itu kembali ke Landasan yg ada di desa Antang.


" Perang kali ini Paman, kita harus mengutama kan kemampuan prajurit sandi Pamotan, karena dengan demikian kita lebih tahu tentang keadaan di dalam benteng Kotaraja Majapahit itu, tugas Paman Petala dan adi Pratanu lah untuk mengedepan kan kemampuan dari prajurit sandi kita,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.


" Sendika dawuh Gusti Adipati, kami, Paman dan angger Pratanu akan menguat kan dan memanfaat kan kemampuan dari prajurit sandi Pamotan, karena peranan prajurit sandi dalam sebuah peperangan sangat -sangat di butuh kan,!" jawab Senopati Lembu Petala.


Hari ber ganti hari tidak terasa saat penyerangan ke kotaraja Majapahit itu telah tiba.

__ADS_1


__ADS_2