BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 10 : Bhatara Purwawisesa bagian keenam.


__ADS_3

Sementara itu di kadipaten Wengker tepatnya di hutan perburuan , di sebuah ara-ara yg cukup luas, terlihat lah beberapa buah tenda perkemahan yg di jaga oleh beberapa prajurit.


Di sebuah tenda yg agak besar, duduk dua orang yg sedang berbicara, seorang lelaki dengan berperawakan tegap memakai pakaian yg cukup mentereng, dengan ikat kepala berwarna kuning dengan dihiasi sulaman menggunakan benang emas dan duduk di depannya seorang perempuan yg cantik menggunakan pakaian berwarna merah merah. Yg perempuan kemudian berkata,


" Bagaaiman kakang kalau kita hari ini berlomba, menangkap menjangan, siapa yg lebih dahulu dapat Dan membawa nya kemari dialah pemenangnya." kata si gadis itu.


" Baik, siapa takut , yg lebih dahulu membawa hasil buruannya kemari , itulah pemenangnya,!" jawab yg lelaki sambil menggenggam busurnya dan di punggung nya terlihat anak-anak panah yg cukup banyak.


Keduanya kemudian keluar dari tenda perkemahan itu dengan berpencar yg lelaki mengarah ketimur, dan yg perempuan mengarah ke barat .


Yg perempuan , tiada lain adalah Putri Nawang sekar, anak dari Adipati pandan alas merupakan putri paling bungsu.


Sedangkan yg lelaki adalah kakaknya yaitu dyah Surya Wijaya yg saat ini telah menjadi Adipati Wengker menggantikan kakak iparnya Dyah Samara wijaya yg telah bertahta di Majapahit dengan Gelar Bhatara Purwawisesa.


Keduanya sedang melakukan perburuan di hutan dekat kota Wengker , tempat para bangsawan Wengker biasa melakukan perburuan.


Ketika Matahari mulai naik , terlihat lah oleh Putri Nawang sekar , seekor menjangan yg gemuk sedang minum di sebuah sendang di tepi hutan.


Dengan perlahan namun pasti, sambil mengendap-endap , ia mendekati binatang buruan tersebut, dan ketika jarak hanya beberapa tombak saja , maka ia pun mengarah kan anak panahnya ke binatang yg malang tersebut.


" Syiieeet, creeeepphh,!" anak panahnya melesat dan tepat mengenai binatang malang itu, ternyata Putri Nawang sekar Lihai dalam hal membidik, bidikannya tepat sasaran.


Ketika ia mulai mendekati binatang malang tersebut, tiba-tiba terdengar suara,


" Auuuummm," suara seekor Macan yg rupanya tengah mengincar menjangan tersebut .


Alangkah terkejut nya Putri Nawang sekar, segera ia mengarah kan panahnya ke tubuh Macan loreng tersebut.


" Syiieeet,!" sebuah anak panah melesat meluruk ke arah tubuh sang Raja hutan tersebut. Namun karena Putri Nawang sekar kurang tepat membidiknya karena ketakutan dan juga tergesa-gesa , maka melesat lah sasaran anak panah itu.Membuat Sang Raja hutan itu beringas , dengan cepat ia menerkam Sang Putri kedaton Pandan alas tersebut.


Putri Nawang sekar segera melompat menghindari serangan Macan loreng yg cukup besar itu


Melihat terkamannya luput, Sang Raja hutan itu kembali memutar tubuhnya dan melakukan terkaman kembali, dan kali ini Putri Nawang sekar agak terlambat menghindari walaupun di tangannya telah tergenggam sebuah pedang , tak urung pundaknya terkena cakaran kuku-kuku tajam Sang Raja hutan itu.


Terlihat pundak sebelah kiri Putri Nawang sekar berdarah, dan ketakutan Putri Nawang sekar bertambah , hingga membuat Raja hutan itu kembali beringas , kali si Raja hutan itu melompat dengan cepat mengarah kan cakarnya ke arah leher putri Nawang sekar yg jenjang itu, Namun ketika cakaran itu akan berhasil menggapai leher Putri Nawang sekar , Tiba-tiba sebuah sinar menghantam tubuh dari Macan loreng tersebut.


" Auuuummm,!" terdengar lengkingan terkahir dari sang Raja hutan kemudian jatuh tersungkur tidak bergerak lagi. Macan loreng yg cukup besar itu mati di dekat kaki putri Nawang sekar , Sang putri yg kerekutan setengah mati, luput dari maut segera melompat menjauh dari tubuh Sang Raja hutan itu


Ketika ia melihat dari sebelah kanan nya, tampaklah sesosok tubuh melayang mendekati tubuh Sang Raja hutan yg telah mati , ia kemudian bertanya kepada Putri Nawang sekar yg nampak masih ketakutan.


" Tuan putri tidak apa-apa, ?" tanyanya kepada Putri Nawang sekar .


Sang Putri tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya, Namun ketika pundak dari putri Nawang sekar terlihat mengeluarkan darah maka Sang penolong yg tiada lain adalah Mahisa Dara segera berkata lagi,

__ADS_1


" Pundak tuan putri berdarah, mari saya obati, " seraya mendekati Putri Nawang sekar yg masih tercekat ketakutan.


Setelah berada dekat dengan Putri Nawang sekar, Mahisa Dara mengeluarkan obat dari balik bajunya , dan kemudian ia berkata lagi,


" Maafkan tuan putri , saya akan mengobati luka tuan putri supaya darah nya mampat," kata Mahisa Dara dan membuka pundak Putri Nawang sekar dengan merobek bajunya yg telah robek akibat cakaran si Raja hutan tadi. Putri Nawang sekar nampak terdiam , ketika Mahisa Dara kemudian membalurkan obatnya dan mengikat dengan kain ikat kepalanya.


Luka di pundak Putri Nawang sekar terlihat tidak mengeluarkan darah lagi, meski masih nyeri jika di gerakkan tangan sebelah kirinya.


" Hehh, siapa sebenarnya tuan ini,?" tanya Putri Nawang sekar setelah terdiam beberapa lama.


" Ehh, perkenalkan namaku, Mahisa Dara, pembantu setia dari Adipati Daha,!" jawab Mahisa Dara.


" Mengapa bisa sampai disini,?" tanya Putri Nawang sekar lagi.


" Saya baru kembali dari kadipaten Pajang atas perintah Kanjeng adipati,!" ucap Mahisa Dara berbohong.


Karena sebenarnya ia telah membuntuti Putri Nawang sekar sejak dari Pandan alas sampai ke Wengker, di tempat kakaknya yg baru di tugaskan untuk menjadi Adipati Wengker.


Mahisa Dara mendapatkan berita dari Patih Kebo Mundira bahwa Putri Nawang sekar akan ke Wengker guna menemui kakaknya , dengan cepat Mahisa Dara pun membuntuti perjalanan Putri Nawang sekar dari belakang yg kemudian mereka berburu di hutan itu pun tidak luput dari pantauan nya.


Kemudian Putri Nawang mengucapkan terimakasih atas pertolongan Mahisa Dara, dan ia pun berjalan ke arah tubuh menjangan yg tadi telah di panahnya itu.


Ketika sang Putri akan mencoba mengangkatnya , berkatalah Mahisa Dara,


Sambil berjalan Putri Nawang sekar berkata,


" Jangan Panggil tuan putri, panggil saja Nawang atau tepatnya Nawang sekar,!" ucapnya kepada Mahisa Dara.


" Baiklah TU,....ehh, putri Nawang, ehh, Nawang sekar," kata Mahisa Dara agak gugup.


Belum berapa lama mereka melangkahkan kakinya, tiba-tiba terlihat beberapa prajurit yg berjalan ke arah mereka , rupanya para prajurit mendengar auman si Raja hutan dari arah kepergian putri Nawang sekar , dengan cepat mereka datang namun rupanya lebih dahulu Mahisa Dara lagi dari mereka.


Dan ketika berpapasan dengan Putri Nawang sekar berkatalah prajurit itu,.


" Apakah tuan putri tidak apa-apa,?" tanyanya kepada Putri Nawang sekar.


" Tidak, tidak apa-apa, ada kakang ini tadi menolong ku,!" jawab putri Nawang sekar kepada prajurit itu.


" Namun kalau kalian ingin melihat macan tadi yg menyerang ku, terus saja dan bawa bangkainya ke kemah,!" perintah putri Nawang sekar kepada para prajurit.


Sedang kan putri Nawang sekar sendiri dan Mahisa Dara terus melanjutkan langkah nya menuju ke perkemahan.


Sesampainya di perkemahan, Sang kakak yaitu Adipati Wengker belum tiba.

__ADS_1


Hingga Putri Nawang sekar dan Mahisa Dara segera berbincang.


" Bagaimana dengan luka putri Nawang sekar apakah masih nyeri,?" tanya Mahisa Dara


" Sudah agak mendingan, tidak terlalu sakit kalau di gerakkan,?" jawab Putri Nawang sekar.


" Baiklah kalau begitu, saya harus kembali, nanti kanjeng adipati terlalu lama menunggu saya, " ucap MAhisa Dara.


" Tunggu lah sebentar, sampai Kangmas Wengker kembali, nanti kuperkenalkan dengannya, siapa tahu nanti kalau mau berburu kembali ia akan mengajak kakang Mahisa serta kangmas Daha, sekaligus," ucap Putri Nawang sekar kepada Mahisa Dara.


" Baiklah kalau begitu, saya akan menunggu Adipati Wengker kembali sambil menemani Putri Nawang disini,'" kata Mahisa Dara.


Nampak putri Nawang sekar tersenyum melihat ke arah MAhisa Dara, sang penolongnya dari terkaman seekor Macan yg lumayan besar itu.


Sang penolong itu nampak membuang muka, memandang kearah lain, tidak berani menatap wajah putri Nawang sekar.


Ketika Matahari telah tergelincir ke arah barat, nampak lah Adipati Wengker yg baru itu dengan seorang prajurit di belakang nya menggendong seekor menjangan yg cukup besar


Setibanya di kemah , Adipati Wengker itu disambut oleh adiknya yg berkata,


" Kakang kalah, aku telah sampai lebih dahulu disini, dengan hasil buruannya pun lebih besar punyaku," kata Putri Nawang sekar kepada kakak nya itu.


" Hehh, kau lebih dahulu daripada aku,?" tanya Adipati Wengker itu kepada adiknya.


" Aku lebih dahulu dari kakang dan berarti aku yg menang , kakang harus menyerahkan si Hitam kepadaku,!" jawab Putri Nawang sekar kepada kakak nya.


" Heh, mana bisa begitu, kita tidak ada memasang taruhan nya tadi, " jelas Adipati Wengker.


" Iya memang kita tidak memasang taruhan nya tadi , tetapi coba kakang lihat ini,!" seru Putri Nawang sekar sambil menunjukkan luka yg ada di pundaknya itu.


" Kau terluka adi sekar,?" tanya Adipati Wengker.


" Ya, untung ada kakang ini, Kalau tidak mungkin aku tinggal nama,," jawab Putri Nawang sekar sambil menunjuk ke arah MAhisa Dara yg sedari tadi diam saja.


" Siapa Namamu, ?" tanya Adipati Wengker kepada Mahisa Dara.


" Saya Mahisa Dara, dan dari Daha, abdi Adipati Daha,!" jawab Mahisa Dara.


" Bagaimana ceritanya, engkau tadi bisa menolong adi sekar,?" tanya Adipati Wengker lagi.


Kemudian Mahisa Dara menceritakan dari awal hingga akhir Bagaimana ia melihat Putri Nawang sekar yg di serang Macan loreng tersebut dan kemudian ia berhasil membunuh si Raja hutan itu.


Adipati Wengker mendengar kan dengan sekasama cerita Dari Mahisa Dara, Dan kemudian ia meminta Mahisa Dara untuk tetap berada disitu sampai mereka kembali dan ia diperintah kan oleh Adipati Wengker untuk menjadi pengawal dari Putri Nawang sekar, mulai saat itu kedekatan Mahisa Dara dan Putri Nawang sekar berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2