
" Segera siap kan seribu prajurit untuk menjaga gerbang timur dan utara, jangan sampai pasukan Gel-gel masuk ke dalam kota Semprangan ini,!" terdengar perintah dari Patih Anak Agung Aji Jimbarang.
" Apakah tidak terlalu sedikit pasukan yg di kirim menjaga gerbang kota itu?" tanya Prabhu Semprangan kepada Patih Aji Jimbarang.
" Kanjeng Prabhu, seribu orang prajurit sudah lebih dari cukup kalau hanya untuk mengusir pasukan gel-gel itu,!" jawab Patih Aji Jimbarang lagi.
" Terserah lah , jangan kasih ampun para pemberontak itu,!" titah Sang Prabhu Semprangan sambil berlalu dari situ.
Setelah kepergian Prabhu Semprangan terdengar perintah dari Patih Aji Jimbarang kepada panglima nya arya Saka.
" Senopati Arya Saka, perintah kan juga lima ratus prajurit pemanah menanti di balik Tembok untuk menyerang dari atas apabila pasukan Gel-gel mencoba mendekati pintu gerbang baik timur maupun utara,!" ucap Patih Aji Jimbarang kepada Panglima Arya Saka salah seorang kepercayaan nya.
" Baik Kanjeng Patih, perintah siap di laksanakan ,!" jawab Senopati Arya Saka segera berlalu dari hadapan Patih Aji Jimbarang.
Malam itu juga terlihat kegiatan yg teramat sibuk dari para prajurit Semprangan yg berada di dalam kota, para prajurit pemanah segera menempati posisi panggungan di sebelah Timur dan utara dari gerbang kota Semprangan itu.
Sedang kan di pihak gel gel, Lembu Petala dengan para pemimpin yg lain nya sedang mengada kan pertemuan.
" Patih Menanga, siap kan prajurit pemanah gel gel, begitu ayam jantan berkokok perintah kan mereka untuk menyerang, !" terdengar suara Lembu Petala memberikan perintah.
" Dan untuk pasukan Balasewu secepat nya kalian merapat ke tembok kota Semprangan , begitu pasukan pemanah selesai melakukan serangan, kalian seluruh nya harus mampu melumpuh kan para prajurit Semprangan yg akan balas menyerang itu,!" kembali perintah dari Lembu Petala kepada para prajurit Balasewu.
" Pusat kan kekuatan di gerbang timur karena kelihatan nya gerbang itu adalah gerbang utama, setelah kalian berhasil melumpuh kan para prajurit yg berada di panggungan itu segera lah buka pintu gerbang, upaya kan ketika terang tanah pasukan kita telah bisa masuk ke dalam kota,!" ungkap Senopati Lembu Petala yg merupakan salah seorang yg melatih pasukan Balasewu tersebut.
Adalah Patih Menanga yg agak ngeri mendengar siasat dari Lembu Petala segera bertanya,
" Apakah tidak membahaya kan para prajurit Balasewu, jika nanti pasukan kita memanah sedang kan mereka berada di bawah tembok, apabila ada panah yg nyasar tentu mereka akan jadi korban teman sendiri, dan lagi mereka harus melumpuh kan para prajurit Semprangan yg dalam posisi menyerang,?" tanya Patih Menanga kepada Lembu Petala.
" Tidak masalah Ki Patih , andai kan ada panah yg nyasar tentu tidak akan melukai pasukan Balasewu , dan para prajurit Semprangan pun tidak akan menyangka ada prajurit di bawah tembok, sehingga pandangan mereka tertuju pada pasukan pemanah kita,!" jelas Senopati Lembu Petala.
Patih Menanga nampak kaget dengan penjelasan itu namun ia tetap mempercayai keputusan yg telah di ambil oleh Lembu Petala itu.
Ketika kesibukan di dalam kota Semprangan terjadi, di luar benteng pun ter lihat lima ratus orang prajurit Balasewu sewu yg mengendap mengarah ke dinding tembok kota Semprangan itu.
Tidak terdengar suara, dan ber jalan sangat cepat laksana siluman, para prajurit itu telah mampu merapat ke dinding tembok kota Semprangan itu.
Dan begitu ter dengar ayam jantan berkokok untuk pertama kali nya di pagi buta itu, terlihat lah anak-anak panah meluncur ke balik tembok itu menyasar para prajurit Semprangan yg masih berbenah sehingga mereka tidak menyangka mendapatkan serangan yg mendadak itu. Banyak prajurit Semprangan yg menjadi korban serangan pertama itu. Tidak berselang lama, serangan anak panah kembali meluncur dari pasukan Gel-gel, serangan itu sampai dilakukan lima kali.
__ADS_1
Setelah merasa tidak ada serangan lagi, para prajurit Semprangan gantian membalas serangan anak panah dari atas panggungan tembok kota Semprangan itu.
Namun alangkah terkejut nya para prajurit itu, entah dari mana datang nya tiba-tiba mereka di serang dari arah bawah tembok, sebahagian bahkan telah berada di atas maka dengan mudah nya para prajurit Balasewu menghabisi prajurit pemanah Semprangan yg baru akan memulai serangan balasan itu.
Hampir seluruh prajurit yg menjaga benteng kota itu tewas di bantai para prajurit Balasewu, meskipun mereka kemudian mendapat kan serangan dari arah bawah tembok bagian dalam , namun itu tidak menyurut kan tekad mereka untuk turun dan berusaha membuka pintu gerbang tersebut.
Yg membuat para prajurit Semprangan heran tidak satu pun anak panah mereka yg dapat menembus tubuh prajurit Balasewu itu. Sehingga jumlah mereka yg telah tinggal sedikit itu pun ter paksa mundur meninggal kan gerbang yg seharusnya mereka jaga.
Tidak sampai terang tanah prajurit Balasewu sudah dapat membuka kedua pintu gerbang itu, baik timur maupun utara.
Begitu terang tanah menyerbu lah pasukan Gel-gel ke dalam kota Semprangan. Nampak tidak ada perlawanan di daerah pintu gerbang tersebut, sehingga pasukan itu terus merangsek masuk ke dalam kota, ternyata seribu prajurit Semprangan yg di perintah kan oleh Patih Aji Jimbarang telah tewas semua nya, ini membuat geger istana Semprangan.
" Hehh, bagaimana bisa terjadi pasukan Gel-gel begitu mudah nya memasuki kota Semprangan ini,?" tanya Prabhu Semprangan yg kelihatan nya sangat gusar sekali.
" Tenang Kanjeng Prabhu, begitu mereka sampai di alun-alun kota, mereka akan kita habisi semua nya,!" jawab Patih Aji Jimbarang dengan sombong nya, sementara keadaan pasukan nya sudah mulai goncang sesaat kedua pasukan itu telah ber hadapan di alun-alun kota Semprangan.
" Patih Jimbarang , jangan cuma sesumbar cepat kau habisi mereka , Aku tidak ingin mereka menginjak kan kaki mereka di Istana ku ini,!" ujar Prabhu Semprangan dengan amarah yg meluap luap karena melihat kenyataan bahwa pasukan Gel-gel begitu cepat nya mampu menerobos masuk ke dalam kota Semprangan.
Nampak Patih Aji Jimbarang terdiam mendengar bentakan dari Junjungan nya itu, ia segera keluar dan menuju alun-alun kota.
Dan ujung tombak dari serangan pasukan Gel-gel adalah pasukan Balasewu, sehingga bagai kan malaikat pencabut nyawa lima ratus prajurit Balasewu langsung membantai para prajurit Semprangan yg masih kalut akibat begitu mudah nya pertahanan tembok kota jatuh ke tangan musuh.
Adalah Senopati Arya Saka yg berusaha memberi kan semangat kepada para prajurit nya untuk mampu bertahan dari gempuran pasukan Gel-gel tersebut.
" Jangan takut jumlah kita lebih banyak dari mereka, jangan takut kita berada di rumah sendiri , kita harus mempertahan kan wilayah kita jangan sampai jatuh ke tangan musuh!" terdengar suara Senopati Arya Saka memberi kan semangat.
Namun karena tandang para prajurit Balasewu yg amat ganas, layak nya seekor binatang buas yg telah lama di kerangkeng begitu lepas sangat sulit untuk di kendali kan. Para Prajurit Semprangan amat ngeri jika berhadapan dengan prajurit Balasewu itu, telah banyak korban dari prajurit khusus Pamotan itu, sehingga tidak terasa jumlah pasukan Semprangan telah berimbang dengan pasukan Gel-gel.
Dan ketika matahari merangkak naik keatas kepala, kondisi Pasukan Semprangan hampir pecah , kedua sayap pasukan Gel-gel hampir mampu membuat satu lingakaran penuh yg artinya pasukan Semprangan tidak bisa lari lagi kecuali mereka melakukan puputan, di saat yg genting bagi pasukan Semprangan itu , hadir lah Patih Aji Jimbarang yg sangat di agung kan para prajurit Semprangan.
Secara perlahan sisi kejiwaan pasukan Semprangan naik berkat kehadiran dari Patih Aji Jimbarang tersebut.
" Jangan takut, aku berada di sini bersama kalian, jangan kan prajurit gel-gel, pasukan Majapahit pun akan kita tumpas,!" terdengar se sorah dari Aji Jimbarang tersebut yg di sambut pekikan dari para prajurit Semprangan.
" Hidup Patih Jimbarang, hidup Patih Jimbarang,!" suara prajurit Semprangan memekakkan telinga.
Melihat hal itu, ber katalah Lembu Petala kepada Patih Menanga,
__ADS_1
" Demikian ber pengaruh nya Patih Aji Jimbarang itu sehingga pasukan nya mampu menahan pasukan kita yg hampir merobek pertahanan mereka,?" tanya nya kepada Patih Menanga.
" Karena Aji Jimbarang itu pula lah kesombongan dari Prabhu Semprangan, mereka menganggap nya tidak ada yg mampu mengalah kan nya, karena memiliki kesaktian yang sangat tinggi,!" jelas Patih Menanga.
" Demikian sakti nya kah, Aji Jimbarang itu ,?" tanya Lembu Petala lagi.
" Yeah menurut berita ia memiliki ajian sejenis pancasona yg tidak dapat di tembusi oleh berbagai macam senjata, andai pun tubuh nya terbelah dua mampu bersatu kembali,!" jelas Patih Menanga lagi.
Memang di lihat sendiri oleh Lembu Petala bahwa Aji Jimbarang itu sesuka hatinya membantai para prajurit gel-gel tanpa dapat di hadang, banyak prajurit gel-gel jadi korban akibat senjata yg cukup besar itu.
" Dan satu hal lagi , ia di kabarkan memiliki Aji Bhuto Cakil, !" kata Patih Menanga lagi.
" Hehh, ajian jenis apa itu Ki Patih?" tanya Lembu Petala heran.
" Mampu membuat tubuh nya sebesar raksasa dan dari mata nya terpancar cahaya merah yg mampu membakar apapun!" jawab Patih Menanga lagi.
" Baik lah Ki Patih kita tidak bisa membiar kannya membabati pasukan kita layak nya lompong,!" kata Lembu Petala segera mendekati Patih Aji Jimbarang yg telah banyak menewas kan prajurit gel-gel.
Semula keadaan pasukan Gel-gel hampir mampu mengatasi per lawanan pasukan Semprangan begitu hadir nya Patih Aji Jimbarang keadaan berbalik , pasukan Gel-gel ter desak, walaupun demikian di kedua sayap yg di pimpin oleh Tumenggung Srengganu di kiri dan Arya bor bor di kanan masih mampu menekan pasukan lawan.
Yg agak ke teteran adalah di induk pasukan yg di pimpin oleh Lembu Petala dan Patih Menanga.
Akhir nya Senopati Lembu Petala kan posisi sebagai lawan dari Patih Aji Jimbarang yg terkenal sakti itu.
" Hehh, siapa kau yg telah bosan hidup ,!" ucap Patih Aji Jimbarang ketika melihat ada orang yg berani menghadang nya.
" Aku Lembu Petala,!" jawab Lembu Petala.
" Ku lihat engka bukan orang Bali, apakah kau utusan Majapahit?" tanya Patih Aji Jimbarang lagi.
" Ya ,aku utusan Majapahit yg akan menangkap mu karena telah membuat kesusahan di Bali ini,!" jawab Lembu Petala.
" Suruh sekalian Prabhu Bhatara Purwawisesa datang kemari biar kuhabisi dengan Gada ku ini,!" kata Patih Aji Jimbarang dengan sesumbar nya.
" Aku pun cukup untuk sekedar mematah kan batang leher mu,!" jawab Lembu Petala yg segera menyerang Patih Aji Jimbarang.
*********((((((()))))))))************
__ADS_1