
Sedang kan Arya bor-bor dengan golok nya yg besar itu, terus menghajar pasukan Majapahit, sudah banyak korban yg jatuh dari golok Hantu Kali Mayit itu. Sehingga para prajurit Majapahit harus ber pasangan untuk menghadapi nya. Akan tetapi prajurit Balasewu tidak tinggal diam melihat Senopati nya yg di keroyok itu mereka lantas membantu Arya bor-bor.
Di lain sisi, Adipati Wengker sudah sangat ter desak, tubuh nya telah ber lumuran darah.
Melihat nasib dari adik sepupu nya yg sudah sangat- sangat lelah, hati Adipati Daha ter sentuh, ia kemudian ber teriak,
" Menyerah lah adi Surya, kakang akan minta pengampunan atas mu kepada Dimas Pamotan,!"
" Puihhh, Kangmas pikir aku sudah ber tekuk lutut di bawah kaki anak kabur kanginan itu, cukup Kangmas Daha saja yg mau di bodohi nya,!" balas Adipati Wengker.
" Ter serah lah, adi Surya, Kangmas telah memperingat kan mu untuk menyerah,!" jawab Adipati Daha.
Sementara Senopati Lembu Petala terus melibat Adipati Wengker itu yg sudah sangat kepayahan.
" Menyerah lah anakmas Wengker, jadi persulit diri mu,!' teriak Senopati Lembu Petala.
" Sudah kukatakan , Aku tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan jika paman Petala mampu membunuh ku, lakukan lah,!" ucap Adipati Wengker dengan tangan nya yg gemetaran saat mengangkat pedang nya.
" Baik lah anakmas Wengker, jangan salah kan aku, karena anakmas telah Ku peringat kan,!" ucap Senopati Lembu petala.
Sang Senopati Pamotan itu kemudian ber gerak sambil memutar tombak nya, tombak yg pernah di pergunakan oleh Sang Adipati Pamotan saat ber perang tanding di Puncak Semeru.
Kembali per tarungan yg tidak seimbang itu pun terjadi, Adipati Wengker hanya bisa bergerak mundur ke belakang dan hanya mampu menangkis serangan dari senopati Lembu Petala.
Sementara di gerbang sebelah Timur terjadi ke kacauan, beberapa perwira Majapahit membelot dari pasukan Majapahit yg di pimpin oleh Mahisa Dara itu,
Diantara nya ada Tumenggung Gangsar dan Tumenggung Reksadana serta beberapa petinggi Majapahit yg lain nya.
Pasukan itu kemudian mem buka kan gerbang Timur Kotaraja Majapahit itu, sehingga sore menjelang malam pasukan Pamotan yg di pimpin oleh Tumenggung singha Wara dan Adipati Kahuripan dengan leluasa masuk ke dalam kotaraja Majapahit.
Mendengar banyak perwira Majapahit yg membelot Mahisa Dara berang,
" Apaaa!!!???, Tumenggung Gangsar dan Tumenggung Reksadana membelot ke pamotan,!" teriak menantu dari Prabhu Suraprabhawa itu.
" Benar Gusti Pangeran, bahkan mereka telah membuka gerbang bagian timur ini,!" jelas salah seorang prajurit Majapahit kepercayaan dari Mahisa Dara.
" Cepat habisi pasukan yg mem belot itu dan segera tutup kembali pintu gerbang Kotaraja itu,!" teriak Mahisa Dara.
" Akan tetapi,....!" prajurit itu tidak melanjut kan kata-kata nya.
Karena dari arah depan pintu gerbang itu telah ter dengar teriakan,
" Mundur, mundur, mundur,!"
Rupa nya pasukan Majapahit yg di bawah ke pemimpin dari Mahisa Dara itu telah ke walahan mengahadpi pasukan Pamotan yg telah bergabung dengan pasukan Majapahit yg membelot.
Sehingga jumlah pasukan dari menantu Prabhu Suraprabhawa itu tinggal sedikit dan ter paksa harus mundur.
Mahisa Dara ter pana melihat per kembangan yg begitu cepat terjadi ia segera memutar otak nya untuk menyelamat kan diri.
" Prajurit, bawa seluruh penghuni Istana ter masuk istri ku ke gerbang sebelah utara jangan sampai ada yg ter sisa, jika Ramanda Prabhu tidak mau paksa saja,!" ter dengar perintah dari Mahisa Dara kepada prajurit kepercayaan nya itu.
" Sendika dalem Gusti Pangeran, titah siap di laksanakan,!" jawab Prajurit itu yg segera pergi meninggal kan tempat.
Mahisa dara yg di dampingi seorang Tumenggung muda bernama wulung ireng segera ber gerak membawa pasukan nya .
" Ayo, semua kita ber gabung dengan pasukan Paman Patih Lohdaya di alun-alun kota,!" perintah Mahisa Dara.
Pasukan Majapahit yg tinggal sedikit itu bergerak menuju pasukan induk yg di pimpin oleh Patih Lohdaya.
Kembali Mahisa Dara harus ter kejut mendengar teriakan dari pasukan Pamotan,
" Adipati Wengker tewas, Adipati Wengker tewas, Adipati Wengker telah tewas,!" demikian lah teriakan para Prajurit Pamotan yg gegap gempita meneriak kan tewas nya Adipati Wengker di tangan Senopati Lembu Petala.
__ADS_1
Sementara itu di induk pasukan Majapahit pun telah terjadi per tarungan yg tidak seimbang antara Wikala sang Adipati Pamotan ber hadapan dengan Patih Lohdaya, Patih sepuh yg baru diangkat sebagai Mahapatih Majapahit itu harus mengakui kehebatan dari Satria dari daha tersebut.
" Memang cerita orang -orang tentang Gusti Adipati Pamotan itu bukan ngayawara, memang Gusti Adipati Pamotan sangat tangguh dan sulit untuk di kalah kan,!" ucap Patih Lohdaya sambil tetap menggenggam erat pedang nya.
" Sudah lah Paman Patih, sebaik nya menyerah lah agar tidak banyak korban yg jatuh , karena Majapahit ini memang sudah dalam keadaan sulit, jadi Paman tidak usah menambah kesulitan itu,!" ucap Wikala Sang Adipati Pamotan.
" Gusti Adipati, sabagai seorang Prajurit Aku harus patuh dan taat kepada junjungan ku yaitu Gusti Prabhu Suraprabhawa, Paman tidak ingin di cap sebagai pengkhianat,!" kata Patih Lohdaya.
" Akan terapi junjungan paman itu ke blinger, bukan saja untuk mendapat kan kedudukan nya tetapi rakyat kecil pun di korban kannya hanya untuk ambisi nya semata, agar ia di akui sebagai Maharaja di pulau jawa ini, bukan nya mengayomi malah menyengsara kan, junjungan seperti itu yg paman bela,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan.
" Baik atau pun buruk seorang pemimpin harus tetap di junjung karena kita terikat sumpah setia Prajurit,!" jelas Patih Lohdaya lagi.
" Baik lah kalau Paman Patih tetap kukuh pa pendirian paman itu, jangan salah kan aku kalau Paman Patih harus tewas di tangan ku,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan.
" Ter serah Gusti Adipati, kalau memang Aku di tskdir kan tewas di tangan mu Aku akan terima dengan senang hati,!" jawab Patih Lohdaya.
" Baik ber siap lah Paman Patih,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan itu.
Murid Mpu Barada itu nampak membuka tangan kiri nya, kemudian ia ber teriak,
" Aji Kalamawa, heyyaahh,!"
Di malam yg kelam di dalam Kotaraja Majapahit itu nampak lah sinar ber warna merah terang meluncur ke arah tubuh Patih Lohdaya.
Patih Lohdaya nampak melompat menghindari serangan itu.
Namun setelah kaki nya men jejak kan tanah serangan dari Sang Adipati Pamotan kembali men dera.
Tubuh tua dari Patih Lohdaya itu harus terus ber lompatan menghindari nya serangan itu.
Akan tetapi karena serangan terus menerus membuat sang Patih harus menerima resiko nya yg terus ber tahan
Tubuh nya jatuh ter sungkur ketika sebuah pukulan jarak jauh yg berisi ajian Kalamawa itu menerpa tubuh nya, Patih Lohdaya tewas dalam keadaan tubuh yg meng hitam seperti hangus terbakar.
Kembali teriakan ter dengar dari pasukan Pamotan,
Teriakan -teriakan itu menaik kan semangat dari Pasukan Pamotan dan sebalik nya meruntuh kan pasukan Majapahit.
Ketika menjelang pagi pasukan Majapahit sudah di ambang ke kalahan, ketika tiga Senopati nya telah tewas, maka tinggal Mahisa Dara sajalah yg masih ter sisa.
Diam -diam menantu Prabhu Suraprabhawa itu menarik pasukan nya yg tinggal sedikit itu mengarah ke gerbang utara kota raja Majapahit, ia meninggal kan pasukan Majapahit yg sudah tidak mempunyai pemimpin lagi, sehingga dengan mudah Pasukan Pamotan mencerai berai kan pasukan yg ter sisa itu.
Ter dengar suara lantang dari mulut Adipati Daha,
" Menyerah lah kalian wahai prajurit Majapahit, seluruh Senopati mu telah tewas,!"
Para prajurit Majapahit yg tersisa yg di pimpin oleh beberapa Tumenggung dan Rangga itu ter diam.
Memang mereka tidak melihat Mahisa Dara yg menurut mereka masih hidup namun tidak tampil sebagai Senopati.
Akhir nya setelah di sepakati maka para prajurit Majapahit itu menyerah kepada pasukan Pamotan.
Di pagi hari itu tidak ada lagi peperangan di alun-alun kota raja Majapahit. Seluruh prajurit Majapahit telah menyerah dan sebahagian lagi telah tewas.
" Paman Petala bawa prajurit mu tangkap Prabhu Suraprabhawa hidup atau mati,!" perintah Wikala sang Adipati Pamotan kepada Senopati Lembu Petala.
" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.
Dengan di iringi tiga ratus orang prajurit Balasewu maka Senopati Lembu Petala memasuki keraton Majapahit itu.
Memang masih ada beberapa prajurit Majapahit yg mengawal keraton itu.
Akan tetapi mereka tidak melakukan per lawanan lagi karena seluruh prajurit Majapahit telah menyerah.
__ADS_1
Sehingga dengan mudah Pasukan Pamotan yg di pimpin Senopati Lembu Petala itu masuk ke dalam Keraton.
Se sampai nya di depan pintu keraton, Senopati Lembu Petala bertanya kepada prajurit jaga itu,
" Apakah Gusti Prabhu masih di dalam,?"
" Masih Gusti Senopati,!" jawab prajurit itu.
Kemudian Senopati Lembu Petala bersama tiga ratus prajurit Balasewu menggeledah ruang dalam istana.
Namun mereka tidak menemukan Prabhu Suraprabhawa itu.
Kemudian Senopati Lembu Petala dan tiga ratus prajurit Balasewu itu segera ber gerak ke tempat jalan rahasia yg di khusus kan bagi Raja Majapahit yg apa bila dalam keadaan ter desak harus keluar melalui jalan itu.
Jalan ter sebut hanya di ketahui oleh Bekel Bhayangkara saja sebagai pemangku jabatan keselamatan Raja.
Sehingga tidak sembarn orang tahu tempat itu.
Karena Senopati Lembu Petala adalah bekas Bekel Bhayangkara di masa pemerintahan Prabhu Rajasawardhana maka ia mengetahui letak tmpat itu.
" Lurah Ranawa katakan kepada Senopati Naja Pratanu untuk membawa pasukan ke gerbang utara, jelas kan Prabhu Suraprabhawa ber hasil melolos kan diri, cegat mereka di pintu keluar dari gerbang utara agak ke barat,!" perintah Senopati Lembu Petala.
Maka dengan cepat Lurah Ranawa ber gerak kembali ke alun -alun Kotaraja Majapahit itu guna memenuhi permintaan pasukan tambahan untuk mengejar Rombongan prabhu Suraprabhawa yg melari kan diri itu.
Sesampai nya di alun -alun, Setelah menjelas kan duduk perkara nya, akhir nya Senopati Naja Pratanu dan hampir seribu Prajurit Pamotan ber gerak ke gerbang sebelah utara dengan cepat mereka keluar dan mengarah ke barat seperti pesan yg di terima dari Senopati Lembu Petala.
Sementara itu pasukan Mahisa Dara yg mendengar ada suara pasukan yg mengejar nya dengan cepat melari kan diri, Setelah ia berhasil keluar dari gerbang sebelah utara itu.
Sementara Senopati Lembu Petala yg terus membuntuti pelarian dari Prabhu Suraprabhawa menemu kan jejak-jejak dari jalan terowongan bawah tanah ter sebut.
Bahkan ia masih sempat men dengar beberapa orang yg di ber bicara yg berada di depan nya.
" Cepat kita harus berhasil menangkap Prabhu Suraprabhawa itu hidup atau mati ," teriak Senopati Lembu Petala kepada pasukan nya.
Maka dengan cepat pasukan Balasewu yg mengiringi Senopati Lembu Petala itu ber gerak mengejar rombongan dari Raja Majapahit itu.
Setelah tiba di depan pintu rahasia , rombongan Prabhu Suraprabhawa ber henti, dan Bekel Bhayangkara yg mengawal dari Prabhu Suraprabhawa itu berkata,
" Bagaimana Gusti Prabhu, apakah kita akan terus keluar, karena seperti nya pintu keluar itu telah di jaga oleh pasukan musuh,!" ucap Bekel Tunggul Anubawa, Bekel Bhayangkara Majapahit itu.
" Sebaik nya demikian , Tunggul Anubawa, karena di belakang kita pun ada para prajurit yg mengejar dan mudah mudahan yg di luar itu adalah pasukan anakmas Mahisa Dara,!" ucap Prabhu Suraprabhawa itu.
" Baik lah Gusti Prabhu kita tetap keluar meski apa pun yg terjadi , prajurit buka pintu rahasia itu,!" seru Bekel Tunggul Anubawa Bekel Bhayangkara Majapahit.
Maka prajurit Bhayangkara Majapahit yg di perintah oleh Senopati nya itu pun segera membuka pintu rahasia yg berada di luar benteng Kotaraja Majapahit bagian utara agak ke sisi sebelah barat.
Maka setelah di buka tampak lah para prajurit Pamotan tengah berada di tempat itu, namun sebenar nya pasukan Pamotan itu belum menyadari akan ke beradaan dari Prabhu Suraprabhawa yg akan keluar dari pintu rahasia yg banyak di tumbuhi semak belukar itu.
Tidak jauh dari tempat itu Senopati Naja Pratanu tengah ber siaga menjaga tempat itu.
Senopati Naja Pratanu baru tahu setelah ada teriakan dari dalam terowongan itu,
" Kakang Prabhu tidak bisa melari kan diri , tempat ini telah ter kepung,!" teriak Senopati Lembu Petala dari dalam terowongan itu, setelah melihat rombongan Prabhu Suraprabhawa telah satu persatu keluar dari jalan rahasia tersebut.
Mendengar ada teriakan dari arah belakang nya maka Senopati membalik kan badan nya dan ter lihat lah rombongan Prabhu Suraprabhawa itu telah keluar dari pintu rahasia tersebut.
" Gusti Prabhu tidak bisa melari kan diri, tempat ini telah ter kepung sebaik nya menyerah lah Gusti Prabhu,!" teriak Naja Pratanu.
" Hehh, menyerah, tidak ada kata menyerah dalam diri Suraprabhawa, tangkap lah jika memang mampu, Bekel Tunggul Anubawa habisi mereka semua,!" teriak Prabhu Suraprabhawa dengan berang nya.
Para prajurit Bhayangkara Majapahit segera mengitari Prabhu Suraprabhawa itu, memang jumlah mereka tidak terlalu banyak mungkin hanya sekira dua ratus orang saja, namun kemampuan rata -rata prajurit Bhayangkara adalah sangat mumpuni, jadi meskipun mereka telah di kepung oleh seribu prajurit pasukan Pamotan nampak mereka tidak gentar.
" Segera tangkap Prabhu Suraprabhawa itu,!" ter dengar perintah dari Senopati Naja Pratanu.
__ADS_1
Segera saja pasukan Pamotan yg di pimpin oleh Senopati Naja Pratanu itu menyerang pasukan Bhayangkara Majapahit yg mengawal Prabhu Suraprabhawa.
Perang pun terjadi di dekat pintu gerbang sebelah utara itu , walaupun para prajurit Bhayangkara memiliki kemampuan di atas rata -rata prajurit biasa namun ketika harus ber hadapan dengan pasukan yg Lima kali lipat banyak nya , dengan cepat mereka ter desak.