BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 10 Bhatara Purwawisesa bagian ke sebelas


__ADS_3

"Kita simpan terlebih dahulu kuda-kuda kita setelah itu Kemudian mengikuti mereka dengan berjalan kaki, seperti nya tujuan mereka adalah berburu di hutan itu" kata Nyai Dewi putrani


Kemudian Pratanu membawa keempat ekor kuda tersebut, dan mengikat nya di tempat yg tersembunyi, selanjutnya mereka melihat bahwa Mahisa Dara dan putri Nawang sekar yg tengah menambatkan kuda nya di tepi hutan perburuan itu. Keduanya berjalan ke arah Barat.


Dengan cepat keempat orang itu membuntuti jalan Mahisa Dara dan putri Nawang sekar itu, terlihat lah Sang putri telah mengeluarkan busur dan anak panahnya dari endong nya siap untuk berburu.


" Mengapa kakang Mahisa Dara tidak mengeluarkan busur dan anak panah,?" tanya putri Nawang sekar kepada Mahisa Dara.


" Ahh, kalau hanya untuk mendapatkan menjangan , aku lebih baik menggunakan kedua tanganku ini untuk menangkap nya,!" kata Mahisa Dara dengan menunjukkan kedua tangan nya itu.


" Sombongnya,!" cibir putri Nawang sekar dengan memonyongkan bibirnya.


" Bukan nya sombong, sayang kalau hanya untuk mendapatkan seekor menjangan harus melukai tubuh nya,!" jawab Mahisa Dara lagi.


" Baiklah , kita akan bertaruh ,. siapa yg lebih dahulu mendapatkan binatang itu,!" kata putri Nawang sekar.


" Baik siapa takut, apa taruhan nya,?" tanya Mahisa Dara.


" Yang kalah harus menggendong yg menang sampai ke tempat kuda di tambatkan,!' jelas Putri Nawang sekar


" Ahh, kurang seru, " ujar Mahisa Dara.


" Jadi apa taruhan nya,?" tanya Putri Nawang sekar.


" Bagaimana kalau yg menang mencium yg kalah,!" kata Mahisa Dara sambil tersenyum.


" Ooo, kalau itu untung kakang Mahisa Dara dong, kalah menang dapat ciuman, enak syekali,. siapa yg kalah harus memasakkan daging menjangan tersebut di tambah lagi harus jadi pelayan yg menangis selama- sepekan,!" jelas Putri Nawang sekar lanjut.


" Baiklah aku setuju, bakal ada seorang putri Raja yg akan memasak untuk ku," tutur mahisa dara.


Setelah kedua nya sepakat, maka mereka terus berjalan ke arah dalam hutan yg masih jarang pepohonan nya itu.

__ADS_1


Namun pembicaraan itu telah di dengar oleh empat orang yg bersembunyi, tidak jauh dari mereka berada.


Karena Mahisa Dara lagi senang- senang nya dengan Putri Nawang sekar sehingga tidak menyadari kehadiran empat orang di tempat itu.


Sesaat ketika mereka berada di dalam hutan dari balik semak belukar terlihat bergoyang , kedua nya kemudian ber sembunyi ke balik sebatang pohon, dengan cepat Putri Nawang sekar menarik panah nya ,


" Sleeess,. cleep, !" bunyi anak panah nya yg melesat dan menancap tepat.


" Nggiiiiick!" suara binatang yg keluar dari belukar itu, ternyata.seekor babi hutan yg lumayan besar.


" Adi Nawang ternyata cuma seekor babi hutan," seru Mahisa Dara segera mengambil hewan tersebut yg masih berkelojotan.


Sedangkan Pratanu yg mendengar ucapan dari Mahisa yg menyebutkan putri Nawang sekar adalah anak seorang Raja , segera bertanya kepada larasati, " Adi laras ,apa maksud kata-kata Mahisa Dara tadi menyebut putri itu adalah anak seorang Raja,?" tanya nya kepada Larasati.


" Entah lah Kang, tapi menurut ku putri Nawang sekar itu adalah sekar kedaton pandan alas, selain mirip dengan Ratu, aku pernah melihat nya saat bersama sang Ratu,!" jawab Larasati.


" Hehh, putri Adipati Pandan alas?" tanya Pratanu agak terkejut.


" Pantas Mahisa Dara menyebutkan nya putri seorang raja karena kemungkinan perpindahan kekuasaan dari tangan Prabhu GirishawardHana Bhatara Purwawisesa kepada mertua nya itu segera terjadi karena saat ini , secara langsung Bhre Pandan alas menguasai istana Majapahit,!" jelas Pratanu.


Lain hal nya dengan Tantri yg sejak pertama menahan gejolak amarah nya, hanya karena ada Sang Guru saja ia tidak jadi melabrak Mahisa Dara itu,.


Hingga suatu adegan dari kedua orang tersebut yg membuat jantungnya tidak bisa menerima lagi, dimana saat putri Nawang sekar meniti sebuah batang pohon yg tumbang, dan terpleset dengan cepat Mahisa Dara menangkap dan mendekap tubuh Putri Nawang sekar tersebut.


Membuat amarah Tantri tidak ter tahankan lagi, dengan cepat ia melesat tanpa dapat di cegah oleh Nyai Dewi putrani.


" Kakang, aku tidak menyangka, engkau telah mengkhianati diri ku,!" teriaknya ketika telah dekat dengan Mahisa Dara.


Mahisa Dara yg terkejut, tidak menyangka ada orang lain di hutan itu berkata, " Tantriiji,!" seru nya tidak percaya.


" Ya, aku Tantri, dan apa yg telah kau lakukan dengan perempuan ini, benar-benar aku tidak menyangka kakang. bisa setega itu mengkhianati Ku,!" teriak Tantri dengan keras.

__ADS_1


Mahisa Dara diam, sungguh ia tidak menyangka bertemu dengan Tantri di hutan itu, mengingat Wengker dan Daha lumayan jauh, lamunannya buyar ketika putri Nawang sekar bertanya, " Siapa perempuan itu Kang,?" tanyanya kepada Mahisa Dara.


" Ehh, Ahh, anu ,. bukan siapa-siapa, !" ucapnya sambil menduduk kan putri Nawang sekar dan melepaskan dekapannya.


" Sungguh, Engkau Benar-benar, ****** *****, kau katakan aku bukan sesiapa mu, baiklah mulai hari ini kita putus, kau bukan apa-apa ku, dan mulai hari kita adalah musuh,!" kata Tantri yg kalap, hingga selesai ucapannya selendang nya bergerak ke Sebuah batang pohon dan ambruk seketika.


" Mari guru kita tinggal kan tempat, memang tempat ku, cocok nya di Nusakambangan untuk menemanimu, !" kata-kata putus asa terkandung di dalam nya, dua kali Tantri merasakan patah hati,pertama dengan Wikala dan yg kedua dengan Mahisa Dara , orang yg telah melamar nya dan hari pernikahan kurang dari dua purnama, hati perempuan mana yg tidak hancur, dikhianati saat hari pernikahan menjelang.


Namun kali hati Tantri nampak tegar walau terasa sakit, ketika di tanya sang Guru, " Sebaiknya kita kemana ngger, ke Thanda atau Nusakambangan,?"


"Kita tetap ke Thanda, keluarga ku mesti tahu akan Hal ini, jadi sewaktu-waktu ia datang ke rumah, kelurgaku dapat menolak nya,!" jelas Tantri.


"Baiklah kita lanjut ke Thanda,!" ucap Nyai Dewi putrani dan di ikuti oleh Pratanu dan Larasati dari belakang.


Sedangkan putri Nawang sekar yg curiga dan tidak puas atas jawaban Mahisa Dara bertai kembali, " Kang , siapa dia, hingga ia bisa begitu marah, apakah dia itu istri mu ata,.....u kekasih mu?" tanya nya .


Mahisa Dara yg telah berharap dapat sekar kedaton, akhirnya berkata, " Ahh, adi Nawang , ia adalah seorang gadis yg ku tolak cinta nya, sehingga ia amat membenci ku, jika bersama perempuan lain, mungkin syaraf nya mulai terganggu,!" jelas Mahisa Dara dengan berdusta.


Biarlah ku lepas Tantri, tetapi aku mendapatkan sekar kedaton pandan alas, terngiang kàta kata itu di benaknya.


Memang masalah kecantikan , Tantri tidak kalah dengan sekar kedaton , tetapi masalah darah, Tantri bukan berdarah bangsawan seperti putri Nawang sekar dan Putri Parangkawuni.


Atas pertimbangan inilah membuat Mahisa Dara nekat meninggalkan Tantri.


Walaupun sebenarnya , kalau rahasia itu tidak terbongkar, ia akan memanfaatkan kedua dua nya. Ya Tantri , ya Putri Nawang sekar.


*********


Sementara itu perjalanan dua murid dari puncak Telomoyo , Sasra Bahu dan Wiera Tantra tengah berada di alas Bintara dalam rangka menghadiri pendadaran di pamotan.


-------

__ADS_1


__ADS_2