BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 14 Bali pulau yang indah bagian ke empat.


__ADS_3

" Aaarrrrgghhh," teriak Raksasa Bhuto Cakil itu sambil memukul mukul dada nya dengan tangan nya yg besar.


Sesaat mata nya memandang ke arah Lembu petala kemudian ia berjalan dan mengangkat kaki kanan nya hendak menginjak Senopati Pamotan itu, ketika telapak kaki yg sangat-sangat besar itu telah tiba di terdengar lah suara,


" Dhuuumbb," tanah di tempat itu sampai bergoyang seperti terkena gempa.


Lembu Petala yg telah menghindar sebelum telapak kaki raksasa itu jatuh di tanah.


Melihat hal itu, Arya bor bor segera berusaha memotong kaki yg besar itu. Walaupun golok nya yg besar namun ketika menebas kaki Raksasa Bhuto Cakil tidak nampak besar nya.


" Craaassshh" sabetan golok Arya bor bor hanya membuat luka kecil di kaki Raksasa itu.


Melihat ada musuh lain yg telah mengganggu nya, Raksasa Bhuto Cakil mengarah kan pandangan nya kepada Arya bor bor, sesaat kemudian,


" Dhhuaaarrr,!" bunyi suara dari pancaran mata nya yg berwarna merah seperti api yg menyala menerjang Arya bor bor, akan tetapi Arya bor bor berhasil menghindari nya sehingga api itu menghantam tanah yg menyebab kan ledakan di tanah sehingga menimbul kan Liang yg besar.


" Gilaaaa,!" desis Arya bor bor melihat kenyataan itu.


Kemudian Arya bor bor menggenjot tubuh nya dengan mengguna kan ilmu peringan tubuh nya melayang menuju ke arah leher Raksasa Bhuto Cakil yg cukup tinggi itu , kembali ia menyabet kan golok nya, namun kembali hasil nya hanya membuat luka kecil di leher Raksasa itu.


Sebentar kemudian telah menutup lagi.Melihat dua kali upaya dari Arya bor bor tidak menghasil kan apa-,apa, Lembu Petala segera merapal ajian Larantaka miliknya. Lembu Petala mengarah kan ke punggung dari Raksasa itu yg sedari tadi membelakangi nya.


" Dhuaarr,!" ter dengar ledakan di punggung dari Raksasa Bhuto Cakil itu. Nampak Sang Raksasa agak kesakitan setelah menerima serangan dari Lembu Petala.


Ia bergerak ke arah Lembu Petala dengan menghantam kan Gada nya yg besar itu,


" Wueeeeeeesssszz,!" suara angin yg menderu mengikuti dari pukulan Gada itu, Senopati Pamotan itu memang berhasil menghindari hantaman Gada itu namun angin pukulan dari Gada itu melempar kan nya sejauh sepuluh tombak.


" Gila, benar-benar gila,!" ucap Lembu Petala setelah bangkit.


Arya bor bor gantian menyerang dari belakang dengan di landasi ajian Tapak liman nya, ia menusuk kan golok nya ke punggung dari Raksasa Bhuto Cakil itu.


" Heeeeaaah , jlebbb,!" terdengar teriakan dari Arya bor bor yg berhasil menikam punggung dari Raksasa Bhuto Cakil itu.


" Aaarrrrggghhhh,!" suara Raksasa Bhuto Cakil menahan kesakitan dari tusukan itu .


Dengan cepat Raksasa itu berbalik dan menangkap tubuh dari Arya bor bor yg baru mendarat di tanah. Kemudian tangan Raksasa itu menggenjet Arya bor bor dengan kuat, Arya bor bor dalam keadaan yg sulit , Sementara tangan nya tidak bisa di gerak kan


" Aaàaaakkhhhh,!" ter dengar teriakan dari dari Arya bor bor.


Lembu Petala yg melihat hal itu segera melesat dengan tombak di tangan nya , " Heeaaahh,!" ia pun menusuk kan tombak yg telah di alasi aji Larantaka itu ke tangan Raksasa Bhuto Cakil yg menggenggam tubuh dari Arya bor bor.


" Aaarrrrgghhh,!" suara Raksasa Bhuto Cakil yg kesakitan dan kemudian melepas kan tubuh dari Arya bor bor sehingga tubuh itu jatuh ber debum di atas tanah. Arya bor bor segera melompat menjauh dari Raksasa Bhuto Cakil itu.


Sedang kan Raksasa Bhuto Cakil menyerang Lembu Petala dengan sorot mata nya yg berwarna merah itu.


" Dhuaarr,!" serangan api dari pancaran mata Raksasa itu kembali menerjang, Lembu Petala agak terlambat karena ia baru saja memperbaiki posisi nya setelah tadi menolong Arya bor bor.


" Aaakkhh,!" terdengar suara dari Lembu Petala yg pundak kiri nya ter serempet pancaran mata Raksasa Bhuto Cakil itu.


Nampak nya kedua Punggawa Kadipaten Pamotan itu telah ter luka meski masih mampu bangkit dan memberi kan perlawanan kepada Raksasa Bhuto Cakil yg merupa kan penjelmaan dari Patih Aji Jimbarang itu.

__ADS_1


Lembu Petala berusaha menjauh dari Raksasa itu. Nampak Senopati Pamotan itu mengerah kan tenaga dalam nya ke pundak nya akibat sakit yg di timbul kan dari luka bakar itu.


Sedang kan Arya bor bor yg telah mampu berdiri, ia pun menyerang Raksasa Bhuto Cakil dengan ajian tapak Liman nya.


" Hiyaaaat, aji Tapak liman,!" ucap Arya bor bor menghantam kan pukulan jarak jauhnya itu ke dada dari Raksasa Bhuto Cakil itu, kalau yg terhantam ajian itu manusia biasa pada umum nya tentu telah hangus terbakar tetapi bagi Raksasa Bhuto Cakil itu hanya mengguncang kan tubuh nya meski ia nampak kesakitan.


Raksasa Bhuto Cakil membalas serangan dari Arya bor bor dengan pancaran mata nya ,


" Dhhuaaarrr,!" kembali ter dengar ledakan dari serangan tersebut beruntung Arya bor bor cepat menghindari nya sehingga luput dari maut.


Rupanya kedua Senopati Pamotan itu sangat ke sulitan menghadapi Raksasa Bhuto Cakil tersebut.


Lembu Petala yg telah mampu mengatasi rasa sakit di pundak nya segera melancar kan pukulan jarak jauhnya yg mengandung Ajian Larantaka.


Terlihat Raksasa Bhuto Cakil itu kesakitan setelah beberapa kali menerima serangan dari kedua orang itu, karena baik Arya bor bor maupun Lembu Petala telah mengeluar kan ilmu andalan nya masing-masing, meski Sang Raksasa memiliki banyak ilmu namun di hantam terus menerus dengan dua ajian sakti ternyata ber pengaruh besar dengan daya tahan tubuh nya.


Menyadari hal itu Sang Raksasa Bhuto Cakil melakukan serangan dengan pancaran mata nya untuk mengimbangi serangan dari kedua orang Punggawa Kadipaten Pamotan itu.


Sehingga alun-alun kota Semprangan itu jadi seperti telah di hantam gempa bumi , porak poranda , tanah-tanah telah berlubang besar akibat serangan dari Raksasa itu.


Namun baik Arya bor bor dan Lembu Petala belum bisa untuk mengatasi Sang Raksasa Bhuto Cakil itu. Mereka belum menemui cara untuk mengalah kan Sang Raksasa tersebut.


Bahkan para prajurit dari gel gel terpaksa menjauh dari lokasi pertarungan tersebut, mereka berusaha menjaga jarak agar tidak terkena oleh serangan dari Sang Raksasa Bhuto Cakil penjelmaan dari Patih Aji Jimbarang itu.


Jual beli serangan jarak jauh terjadi dalam pertarungan itu.


Pada suatu saat ketika Arya bor bor telah bingung meng hadapi Raksasa Bhuto Cakil, ter dengar lah di telinga nya,


" Baik Guru, !" jawab Arya bor bor segera melompat mendekati Lembu Petala yg nampak mulai kehabisan tenaga.


" Petala, menurut Guru kita harus memadu kan kedua ajian kita untuk menghajar tubuh Raksasa Bhuto Cakil itu, nanti setelah ku serang dengan cincin Kalademit,!" ucap Arya bor bor setelah berada di samping dari Lembu Petala.


" Baik lah kalau begitu,!" ucap Lembu Petala yg segera melompat menghindari serangan pancaran mata Raksasa Bhuto Cakil yg membakar apa pun yg di temui nya.


Setelah berhasil menghindari serangan dari Raksasa itu maka Arya bor bor pun memusat kan nalar budi nya ia pun mulai menyalur kan tenaga dalam nya ke cincin Kalademit milik Wikala yg berada di tangan kiri nya itu.


Sontak saja cincin mengeluar kan asap putih kelabu dan makin besar dan banyak, kemudian dengan an yg panjang ,


" Kalademit,....,!" kata Arya bor bor mengarah kan cincin Kalademit itu pada Raksasa Bhuto Cakil, asap putih kelabu itu menghantam kedua mata dari Raksasa Bhuto Cakil itu, dan menghambat serangan nya, kemudian terdengar suara,


" Aaarrrrggggkhhhh,!" suara Raksasa itu kesakitan setelah ia menerima serangan dari cincin Kalademit itu, tubuh besar nya sampai membungkuk menahan rasa sakit.


Kesempatan itu tidak di sia siakan oleh kedua Punggawa Kadipaten Pamotan itu,


Ketika kedua tangan mereka bersatu terdengar lah teriakan,


" Aji Tapak liman,!" kata Arya bor bor


" Aji Larantaka,!" kata Lembu Petala.


Meluncur lah cahaya terang dari kedua telapak tangan yg bersatu itu menghantam tubuh dari Raksasa Bhuto Cakil yg merupa kan penjelmaan dari Patih Aji Jimbarang itu.

__ADS_1


" Dhhuaaarrr,!" ter dengar ledakan dari hantaman kedua ajian yg bersatu itu.


" Aaaaaaakkkkkhhhh,!" suara Raksasa Bhuto Cakil itu ter dengar menyayat hati.


Tubuh Raksasa Bhuto Cakil itu jatuh berdebum di atas tanah dengan dalam keadaan hangus terbakar.


Jatuh nya Raksasa itu sampai mengguncang kan alun alun kota Semprangan.


Tiba-tiba di tempat itu kehadiran satu kabut tebal yg lama kelamaan memudar dan menipis dan memuncul kan sosok yg tiada lain tiada bukan adalah Adipati Pamotan yg ber gelar Bhre Kertabhumi.


" Kanjeng Guru,!" ucap Arya bor bor.


" Gusti Adipati,!" kata Lembu Petala


Kedua orang itu merangkap kan tangan nya di dada ,hormat kepada Junjungan nya itu.


" Bagaimana apakah Paman Prabhu Dalem semprangan telah ter tangkap,?" tanya Wikala kepada kedua nya.


" Hah," seolah tersadar dari lamunan nya Lembu Petala pun berkata


" Kami belum mengetahui nya , Gusti adipati,!" jawab nya.


Perlahan mentari pagi menyinari bumi Semprangan terlihatlah dengan jelas bahwa tubuh Raksasa dari Patih Aji Jimbarang itu kembali ke ujud semula.


Melihat hal itu Arya bor bor dan Lembu Petala pun kaget.


" Perintah kan Paman Patih Menanga untuk menangkap Paman Prabhu Dalem semprangan,!" titah Sang Adipati.


" Baik Gusti Adipati,!" jawab Lembu Petala yg segera mendatangi Patih Menanga yg terlihat ber suka cita atas kematian dari Patih Aji Jimbarang itu.


" Patih Menanga segeralah ke dalam istana Semprangan, tangkap Prabhu Semprangan hidup atau mati,!" kata Lembu Petala kepada Patih Menanga.


Patih Menanga Kemudian membawa para Prajurit nya ke dalam Istana Semprangan untuk menangkap Prabhu Semprangan itu.


Sementara Wikala , Lembu Petala dan Arya bor bor Kemudian berbincang sejenak di alun alun kota Semprangan itu.


Sebentar kemudian seorang prajurit mendatangi ketiga orang itu dan berkata,


" Ampun Gusti Adipati, Prabhu Semprangan telah tewas bunuh diri,!" seru prajurit yg merupakan prajurit Balasewu tersebut.


" Hehh, bagaimana bisa,?" tanya Wikala heran.


" Begitulah keadaan nya Gusti adipati, ketika kami masuk kami melihat Prabhu Semprangan telah tewas bersama dengan permaisuri nya,!' jawab Prajurit Balasewu.


" Kalau begitu , paman Petala segera hubungi gel gel untuk mengabar kan kejadian ini,!" ucap Adipati Pamotan lagi.


" Sendika Gusti Adipati ,!" jawab Lembu Petala.


Kemudian di utus lah Seorang prajurit untuk memberi khabar tentang kekalahan dari Semprangan itu.


************((((())))))***************

__ADS_1


__ADS_2