BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 8 : MangkatNYA sang Prabhu bagian keempat


__ADS_3

Di perkemahan pasukan Majapahit sendiri telah mendapatkan berita bahwa pasukan Bhayangkara siap membantu menumpas pemberontakan pandan.


Akan tetapi sebagian besar pemimpin pasukan Majapahit terlihat sedih sebab mereka mengkhawatirkan keselamatan Sang Prabhu, yg tanpa pengawalan.


" Bagaimana ini paman Patih, apakah kita tetap menggempur pandan alas atau kita tarik pasukan mundur,!" ujar Tumenggung singha wara yg kelihatan gusar


" Mana mungkin kita mundur, sementara perintah sudah jelas kita ditugaskan memaksa Adipati Pandan alas untuk menghadap, bila perlu di bawa hidup atau mati,!" jelas Patih Gajah Nata.


" Akan tetapi keselamatan Gusti Prabhu di atas segalanya,!" ungkap Tumenggung singha wara.


" Memang keselamatan Gusti Prabhu diatas segalanya, namun titahnya pun harus dilaksanakan atau kita mau di cap seperti adipati pandan alas yaitu, pemberontak,!" terang Patih Gajah Nata.


Semua terdiam, kemudian keheningan itu di pecahkan oleh suara demung Ananta boga,


" Memang kita tidak ingin di cap sebagai pemberontak, jadi sebaiknya besok kita kerahkan seluruh kekuatan untuk mengalahkan pasukan pandan alas, dan kemudian menangkap adipati nya,!" jelas Demung Ananta boga.


" Tetapi tidak semudah itu kita dapat mengalahkan pandan alas terbukti sudah dua hari ini kita belum mampu menguasai mereka, dan jika mereka menurunkan seluruh pasukan nya termasuk pasukan cadangan nya, kesulitan kita akan bertambah, mungkin kita yg akan di gilas oleh mereka, !" kata Tumenggung singha wara.


" Memang jalan satu-satunya kita harus menyelesaikan perang ini, sebelum pasukan Bhayangkara sampai kemari,!" ucap Patih Gajah Nata.


Seluruh yg mendengarkan perintah Sang Patih, merasa suatu yg mustahil untuk memenangkan pertempuran dengan cepat.


Hingga pesan dari Patih Gajah Nata itu semacam bumerang bagi pasukan Majapahit , yg sebenarnya saat ini lagi semangat untuk menghancurkan pandan alas, akan tetapi untuk memenangkan peperangan dengan cepat rasa mustahil bahkan sekalipun di tambah pasukan Bhayangkara , pikir prajurit sebagian besar prajurit Majapahit.


 


Seekor kuda yg di pacu sangat cepat terus bergerak kearah istana Majapahit, ya si pemacu kuda itu adalah Lurah waringka, yg kembali dari alas Roban.


Ketika Kuda itu mendekati gerbang istana , lajunya kemudian berkurang dan sesampainya di dalam lingkup istana kuda itu menuju ke kediaman rakryan Mantri Kuda Langhi.


Begitu masuk kedalam rumah , alangkah terkejutnya Lurah waringka karena di dalam rumah tersebut Mantri Kuda Langhi sedang berbicara dengan seseorang yg tiada lain Ki Jabang wingit.


" Heh, bagaimana bisa Ki Jabang wingit lebih dulu tiba dari pada aku, !'' ucap Lurah waringka tidak percaya, sambil mengusap usap matanya.


" Ya bisa ki lurah , ki lurah kan tadi mampir, jadi aku lebih dahulu tiba ," kata ki Jabang wingit.


" Benar Rakryan Mantri, aku tidak pernah mampir bahkan terus memacu kudaku, hanya berhenti apabila hari telah malam sambil memberi makan kudaku namun setelah itu aku pun melanjutkan perjalanan lagi,!" jelas Lurah waringka.


" Jangan terlalu di ambil hati ki lurah yg penting ki lurah telah menjalankan tugas dengan baik, dan silahkan beristrahat, nanti bila ada tugas lagi , keadaan ki lurah sudah bugar,!" kata Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Baiklah Rakryan Mantri saya pamit, kembali ke bangsal, !" kata Lurah waringka segera keluar dari rumah Rakryan Mantri Kuda Langhi


Rakryan Mantri Kuda Langhi terus berbincang dengan ki Jabang wingit.


" Besok malam , ki Jabang wingit harus mampu menyelesaikan tugas yg kuberikan, !" ucap Rakryan Mantri Kuda Langhi


" Apakah syarat-syaratnya telah ada ,?" tanya ki Jabang wingit .


" Beres semua nya telah kusiapkan, ki Jabang wingit tinggal terima beres,!" jawab Kuda Langhi.


" Besok malam Rakryan Mantri akan mendapatkan kabar yg baik dari saya," kata ki Jabang wingit.

__ADS_1


" Tetapi ki Wingit , sebaiknya melakukan pekerjaan di luar istana di sebelah Timur telah kusiapkan sebuah gubuk untuk mu, " jelas Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Baiklah, tugasku kan hanya mengeluarkannya saja , ?" tanya ki Jabang wingit.


" Iya , tugas ki Wingit hanya mengupayakan nya keluar dari gerbang istana, selanjutnya ,ada orang-orang ku yg akan menantinya,!" terang Rakryan Mantri Kuda Langhi.


Kedua orang itu terus mematangkan rencana, ya, sebuah rencana yg amat keji lagi licik.


 


Di desa Kame pada hari ketiga peperangan antara Pasukan Majapahit dan pandan alas pun terjadi dan kali ini ,


Pandan alas turun dengan kekuatan penuh, hingga jumlah pasukan lebih banyak dari Majapahit.


Dan di pihak Majapahit sendiri sisi kejiwaan pasukan itu turun dratis akibat harus menang dengan cepat.


Seperti yg dikhawatirkan para Senopati nya akhirnya pasukan itu terdesak hebat.


Di sayap kanan yg kali ini di tempati kembali oleh Tumenggung singha wara harus berhadapan dengan Senopati Kebo Ndaru dengan membawahi pasukan yg banyak, dan perang Senopati pun terjadi.


Berkali-kali Tumenggung singha wara harus beradu ilmu dengan senopati pandan alas itu. Ketika suatu saat serangan Kebo Ndaru yg berisi ajian Waringin sungsang menerpa tumenggung singha wara yg membuatnya harus terlontar beberapa tombak kebelakang , membuat Rangga Waluya yg harus berhadapan dengan senopati pandan alas itu, tetapi hanya sebentar saja ia nampak terdesak, terpaksalah ki Rangga Waluya memanggil beberapa prajurit untuk membantu nya.


Memang pandan alas kali tampil lebih percaya diri dengan jumlah mereka yg banyak , dan mental pasukan Majapahit yg jatuh.


Demikian pula, di sayap kiri Majapahit , dua Tumenggung dari pandan alas menggila, Jayasena dan Wirasena seperti momok yg menakutkan bagi prajurit Majapahit.


Sehingga Senopati Majapahit di sayap kiri ini yaitu Tumenggung Rabanar dengan Rangga Rawelu bekerja keras untuk mempertahankan keutuhan gelar perang mereka.


Tumenggung Rabanar berusaha menahan sepak terjang Tumenggung Jayasena, sedangkan Rangga Rawelu mampu menahan Tumenggung Wirasena.


Di induk pasukan agak lebih mendingan mengingat pasukan Majapahit lebih banyak di tempat kan disini, upaya dari Tumenggung Reksa sudira, Tumenggung Wirana dan Garangan wesi mampu menahan tekanan yg di berikan dari pasukan pandan alas itu.


Ketika sore menjelang terdengar sorak sorai dari pandan alas yg mengatakan bahwa,


" Tumenggung Rabanar tewas, Tumenggung Rabanar tewas,!" demikian lah suara dari pasukan pandan alas menyebutkan Tumenggung Rabanar telah tewas.


Namun belum reda sorak sorai dari pandan alas , kini terdengar suara dari pasukan Majapahit yg mengatakan,


" Tumenggung Wirasena tewas, Wirasena tewas, !" gemuruh suara pasukan Majapahit , membalas suara dari prajurit pandan alas.


Dan saat malam tiba maka kembalilah kedua pasukan itu ke landasan masing-masing.


Di pihak Majapahit menderita kerugian dan kekalahan , seorang Tumenggung nya yaitu Tumenggung Rabanar tewas, sedangkan Tumenggung singha wara dalam keadaan sekarat dan Rangga Rawelu walaupun mampu menewaskan


tumenggung Wirasena tetapi ia menderita luka dalam yg cukup berat.


Malam itu banyak prajurit Majapahit yg di kuburkan akibat tewas dalam peperangan.


Para pemimpin yg masih sehat dan mampu untuk mengikuti pertemuan hanya beberapa orang saja, diantara nya ,Patih Gajah Nata, Tumenggung Wirana, Tumenggung Reksa sudira dan Demung Ananta boga.


Mereka sepakat untuk tidak melakukan perang esok hari, guna menunggu pasukan Bhayangkara tiba.

__ADS_1


----------


Di malam yg telah ditentukan oleh Rakryan Mantri Kuda Langhi , terlihat lah sebelas orang mengendap di depan gerbang istana Majapahit .


" Bagaimana kakang Rumangsa , haruskah prajurit jaga itu kita habisi,!" ucap Bawon kepada Rumangsa.


" Mungkin sebaiknya demikian,!" jawab Rumangsa.


Kemudian orang- orang itu, mendekati prajurit jaga, dan tidak berapa lama,


" Jleebb, jleebb ," bunyi dua buah pisau telah menancap di kedua leher prajurit jaga tersebut dan hilanglah nyawa kedua prajurit itu. Mayat keduanya kemudian di buang ke semak belukar.


Adalah di sebuah gubuk di sebelah timur dari istana, nampaklah seorang tua dengan dihadapan nya terdapat dupa, sedang sibuk membaca mantera , ya ,ia adalah ki Jabang wingit yg sedang melakukan tenung terhadap Prabhu Rajasawardhana. Angin membawa asap dupa masuk kedalam istana.


Di dalam istana sendiri tepatnya di dalam bilik Sang Prabhu , tiba- tiba tercium bau aneh yg membuat Sang Prabhu terjaga dan merasakan tubuhnya seperti terbakar, berkatalah Sang Prabhu kepada permaisuri nya,


" Diajeng , aku mau keluar sebentar, rasanya di dalam bilik ini terlalu panas,!" kata Sang Prabhu lantas melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban sang permaisuri . Ketika terlihat sang permaisuri Prabhu SiNAGARA telah membuka pintu biliknya dan berjalan keluar, bertanya lah permaisuri,


" Kangmas mau kemana malam-malam begini?" tanyanya pada sang Prabhu yg terus berjalan.


Sang Prabhu tidak menjawab dan terus melangkahkan kakinya.


" Aneh ,...!" pikir permaisuri yg kemudian tertidur kembali.


Sedangkan sang Prabhu terus berjalan dan menuju ke gerbang istana, seperti ada yg menggerkkannya, tanpa ia mampu melawannya.


Dan tiba di depan gerbang istana di bawah penerangn beberapa obor , sang Prabhu melihat kearah prajurit jaga, tetapi tidak ada satu orang pun yg di temuinya. Tiba-tiba meluncurlah sebuah senjata kearah nya,


" Swiiiing !" bunyi desingan nya melewati wajah Sang Prabhu yg dengan gerak reflek menghindari nya.


" Heh , siapa di situ," bentak Sang Prabhu.


Namun tidak ada jawaban.


Tiba- tiba sepuluh orang telah mengepung Sang Prabhu SiNAGARA dan kemudian menyerang nya.


Sang Prabhu SiNAGARA walaupun masih di bawah Kendali tenung ki Jabang wingit masih mampu melayani para pengeroyoknya. Akan tetapi begitu sang pemimpin pengeroyok itu datang membantu yg tiada lain adalah ki Rumangsa maka terdesak lah sang Prabhu , disaat ia menghindari serangan pedang dari kirinya, maka serangan dari depan nya tidak mampu di hindarinya,


" Heaaah, blessekkh," suara ki Rumangsa dengan mmenghujamkan tombaknya tepat di jantung Sang Prabhu SiNAGARA .


Raja Majapahit itu nampak terhuyung-huyung dan kemudian jatuh terjerambab.


Tewaslah Sang Prabhu SiNAGARA, di depan gerbang istana.


Prajurit peronda yg mendengar suara ribut - ribut I di depan pintu gerbang segera datang ke tempat itu, sementara Rumangsa , Bawon dan teman-temanya telah lari tempat itu.


Alangkah kagetnya para prajurit ronda itu setelah melihat Sang Prabhu terkapar bermandikan darah , kentongan titir pun di bunyikan , yg kemudian membangukan seluruh istana Majapahit karena pertanda kentongan itu adalah dalam keadaan gawat.


" Ada apa, ada apa ,ada apa, " teriak orang-orang yg berdatangan ketempat itu.


" Gusti Prabhu mangkat, gusti Prabhu mangkat,!" jawab prajurit ronda.

__ADS_1


Gegerlah seluruh istana Majapahit pada malam itu, atas MangkatNYA sang Prabhu.


------------


__ADS_2