BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 12 Mendung di langit Pamotan bagian keempat


__ADS_3

Sebenarnya kemana kah Wiradamar ketika terjadi meletus nya Gunung Kelud.


Anak dari Wikala dan putri Cemaravati saat itu sedang bermain dengan Abimanyu putra dari Lembu petala dan putri Yasuvati.


Ketika abimanyu sedang bersembunyi, Sementara Wiradamar berada di jalan desa thanda.


Dan dari ujung jalan nampak lah dua orang perempuan sedang berjalan ke arah putra dsri Wikala itu.


Sesampai nya di tempat Wiradamar, berkata lah orang itu yg tiada lain adalah Rara Tantri kepada Wiradamar," Anak manis, di mana bibi mu,?" tanya nya .


" Bibi dan paman telah pergi beberapa waktu yg lalu, Bi,!" jawab Wiradamar.


" Benarkah, bibi dan paman mu telah pergi,?" tanya Tantri penasaran.


" Iya bi, sewaktu aku minta ikut mereka melarang ku,!" jawab bocah kecil itu.


" Kemana kah arah pergi nya,?" tanya Tantri lagi .


" Ke arah sana ,!" tunjuk Wiradamar arah menuju perbatasan pandan alas.


" Oh kesana ya, terima kasih anak manis!" ujar Tantri sambil mencubit pipi bocah kecil itu.


" Bukan kah bibi adalah teman dari Bibi Larasati,?" tanya Wiradamar kepada Tantri.


Tantri mengangguk, dan berkata, " Memang nya kenapa ?"


" Apakah bibi akan menemui bibi Laras,?" tanya bocah kecil itu lagi.


" Iya,!" jawab Tantri.


" Kalau bibi mau mencari bibi Laras , Aku boleh ikut,?" tanya Wiradamar lagi.


" Hehh, mana boleh anak kecil keluyuran jauh-jauh nanti ibunda mencarimu,!'' jelas Tantri.


" Biar saja ibunda mencari ku, karena aku sering di marahi nya, tetapi kalau dengan Bibi Larasati tidak , ia amat sayang kepada ku, jadi aku mau sama bibi Laras saja,!" tutur bocah kecil itu.


" Pokoknya tidak boleh, kecuali kamu di perbolehkan ibumu,!" jawab Tantri.


" Ikut ya Bi, aku boleh ikut Ya,!" rengek anak itu.


" Jangan, anak kecil tidak boleh ikut,!" tukas Nyai Dewi sambil melotot kan mata nya.


" Boleh ya, aku janji tidak akan nakal,!" kata Wiradamar lagi.


" Bagaimana guru, apakah kita izinkan ia ikut, nanti setelah bertemu dengan Larasati kita serah kan kepada nya,!" ujar Tantri kepada guru nya.


" Nanti menambah kesulitan kita saja, di pikir keluarga nya ia kita culik,!" jawab Nyai Dewi putrani wijaya.

__ADS_1


Sementara dari pertigaan terdengar beberapa pengawal Tanah perdikan yg memberikan perintah kepada para warga desa thanda untuk segera mengungsi karena Gunung Kelud akan meletus, secepat nya semua menjauhi wilayah gunung tersebut termasuk yg sedang berada di sawah , karena wilayah itu berada tepat di kaki gunung tersebut.


Mendengar berita yg di sampaikan oleh para pengawal maka Tantri dan gurunya segera berlalu dari situ. Dan diikuti oleh Wiradamar.


Setelah berjalan agak jauh baru kedua nya menyadari bahwa anak Wikala itu mengikuti mereka.


" Bagaimana Guru, apakah kita bawa sekalian nanti setelah bertemu dengan bibi nya kita serah kan kepada nya, lagian kita mesti cepat menjauhi gunung kelud,!" ujar Rara Tantri.


" Terserah , tetapi kalau nanti orangtua nya marah , biar angger Tantri saja yg menghadapi nya, aku tidak mau tahu ,!" jawab Nyai Dewi.


" Beres, Guru jangan khawatir, akan ku hadapi baik ibu atau pun Romo yg datang ,!" jawab Tantri.


Jadi lah Wiradamar bersama dengan kedua orang itu berangkat dari desa thanda, guna menghindari dari amukan Sang Kelud.


Sebenarnya tujuan mereka adalah menyusul Larasati dan Pratanu yg tadi di tunjukkan oleh Wiradamar, akan tetapi setelah ada wara-wara tujuan tersebut mereka batal kan.


" Tantri sebaik nya kita mengarah ke nusakambangan untuk menghindari dari letusan Kelud itu,!" jelas Nyai Dewi


Ketiga nya kemudian ke arah gunung Willis, ketika mereka berada di situ lah terjadi letusan Kelud yg sangat dahsyat nya pada saat tengah malam.


Terlihat Langit daha berwarna kemerahan , laksana kembang api berpijaran.


Ketiga nya terus melanjut kan perjalanan nya ke arah barat menuju nusakambangan tempat padepokan Nyai Dewi putrani.


Setelah pagi menjelang mereka berhenti di sebuah dusun hanya untuk mencari makan sekedar mengganjal perut.


" Bi , bagaimana kah nasib eyang dan ibunda ku,?" tanya Wiradamar sedih ketika melihat letusan yg dahsyat dari Kelud tadi malam.


" Darimana bibi tahu bahwa eyang dan bunda ku dalam keadaan baik,?" tanya bocah kecil itu lagi.


" Kan mereka mendengar pemberitahuan dari pengawal tanah perdikan, tentu mereka secepat nya meninggalkan tempat itu guna mencari selamat seperti kita,!" jelas Tantri.


Anak nampak terdiam , ia tidak menyentuh makanan yg ada di hadapan nya, nampak Wiradamar sedih mengenang ga nya apakah selamat atau tidak.


Namun bocah kecil itu tidak merengek untuk kembali sehingga ketiga nya melanjut kan perjalanan nya lagi.


" Apakah bocah itu kita bawa terus ke Nusakambangan, Ngger,?" tanya Nyai Dewi kepada murid nya itu.


Sementara yg di tanya diam saja, seakan tidak mendengar pertanyaan Nyai Dewi seperti ada yg di pikirkan nya.


Ketika Nyai Dewi mencolek tangan nya dan bertanya lagi, " Tidak sebaik nya bocah itu kita kembali kan saja kepada orang tua nya,?" tanya Nyai Dewi kepada Tantri.


" Ehh, apakah orangtua nya masih ada, dan kalau pun masih ada sudah tentu tidak berada di Thanda lagi, mau kemana kita mencari nya Guru,?" ganti Tantri yg bertanya.


" Aku kasihan kepada orangtua nya pasti kebingungan mencari anak nya itu, dan lagi kalau sempat Satria dari daha mengamuk, siapa yg akan menghadapi nya,?' tanya Nyai Dewi putrani dengan nada menakut-nakuti.


" Aku, ....!" jawab Tantri pendek.

__ADS_1


Ketiga nya terus berjalan melewati kadipaten Wengker kemudian melewati Gunung Lawu dan terus ke Barat.


Setelah melewati kota kadipaten Pajang, baru lah Nyai Dewi bertanya lagi ketika mereka sedang berada di sebuah warung,


" Apakah kita akan lewat Alas Mentaok dan terus berjalan di sepanjang pantai, atau kita tetap jalur ini ke arah barat, nanti setelah dari Wirasaba kita ke selatan menuju Nusakambangan,?" tanya Nyai Dewi putrani kepada Tantri, sedang kan seseorang nampak memperhati kan ketiga nya.


" Sebaik nya kita lewat Wirasaba saja guru karena kita bersama Wiradamar, nanti kalau dari Mentaok para perampok itu menghadang kita akan mengalami kesulitan,!" jelas Tantri.


" Baik lah kita terus menuju barat tidak memutar ke selatan nanti dari Wirasaba baru kita langsung menuju Nusakambangan,!" jawab Nyai Dewi putrani.


Orang yg memperhati kan mereka itu dengan cepat keluar Warung tersebut dan bergegas pergi dari tempat itu.


Ia menuju arah selatan ke suatu tempat . Dan di tempat itu adalah tepi hutan alas Mentaok, di hutan banyak orang yg bertampang sangar dan kejam, ya mereka lah komplotan begal alas Mentaok yg berjuluk Si Iblis penebar maut dengan di pimpin oleh tiga orang yg sakti.


Orang yg berada se Warung dengan Tantri dan Nyai Dewi putrani adalah salah satu anggota begal Alas Mentaok itu. Ia segera memberi kan laporan kepada pemimpin nya.


" Mereka bertiga dengan seorang anak kecil, dan tidak akan lewat sini, karena khawatir akan mendapat kan hadangan kita lagi ki Lurah,!" kata orang itu kepada Cagak Warangan salah satu pemimpin begal alas Mentaok itu.


" Ah, sayang sekali mereka tidak lewat sini, kalau tidak aku bisa memuaskan hasrat ku terhadap perempuan itu,!" ujar Ki cagak Warangan sambil memilin kumis nya yg tebal dan besar itu.


" Atau kita kejar saja mereka,!" seru Ki Suda kampil yg penasaran dengan Nyai Dewi putrani dan Tantri.


" Ahh terlalu berbahaya kalau mengejar, lagian pun hasil nya tidak seberapa,!" tukas ki Lawa ireng.


" Dimana tempat kediaman mereka Warit,?" tanya Ki Cagak Warangan kepada anggota nya yg bertemu dengan Tantri dan gurunya di warung tadi.


" Seperti nya mereka berasal dari Nusakambangan karena mereka menyebut-nyebut daerah Wirasaba,!" jawab anggota begal yg bernama Warit itu.


" Buat apa kakang Warangan menanyakan tempat tinggal mereka,?" tanya Suda kampil heran.


" Kita serbu sekalian tempat mereka, kemungkinan mereka kan memiliki harta yg banyak atau setidak nya, para murid nya tentu perempuan, lumayan kan kita bisa dapat tanpa harus membayar,!" ucap Ki Cagak Warangan yg pikiran telah di penuhi oleh berbagai hal yg mesum. Maklum mereka berada di sebuah hutan yg amat terkenal dengan ke angkeran nya dan juga para perampok yg sangat sakti . Jadi jarang sekali orang lewat jalan tersebut kecuali sangat terpaksa sekali.


Dan kalau pun mereka menginginkan seorang perempuan mereka harus keluar sarang nya turun ke desa - desa untuk sekedar melepas kan hajat nya, beruntung mereka kalau mendapatkan gratis kalau tidak mereka harus membayar para wanita bayaran.


Ketika ada perempuan yg hampir mereka takluk kan waktu itu, saat ini perempuan itu lewat kembali namun tidak melalui dari sarang mereka .


Perempuan yg di maksud tiada lain adalah Tantri dan gurunya itu lepas dari genggaman mereka akibat kehadiran dari Naja Pratanu dan Larasati.


Jadi hasrat memburu nya nampak pada diri Cagak Warangan yg merupakan pemimpin dari Kawanan rampok Alas Mentaok itu. Mengingat bahwa kemampuan ilmu kedua perempuan itu di bawah para pemimpin Rampok alas Mentaok.


" Benar juga ucapanmu kakang Warangan, hitung- hitung kita melakukan plesiran ke nusakambangan, kabar nya tempat itu cukup indah, ahh ditambah dengan para Wanita nya yg cantik tentu akan sangat sulit untuk di lupakan,!" ucap ki Suda kampil menyetujui saran ki Cagak Warangan.


Hanya ki Lawa ireng yg kurang setuju dengan cara menyerbu nusakambangan hanya sekedar ingin melepas kan hasrat sesaat.


Ia lebih suka merampok para pejabat istana atau saudagar yg kaya raya daripada mendatangi suatu tempat yg tidak jelas keberadaan nya, tentu juga hasil nya.


Namun karena suara Lawa ireng cuma satu orang saja maka ia kalah, sehingga keputusan yg di ambil adalah mengejar kedua orang Perempuan itu sampai ke tempat tinggal nya di Nusakambangan.

__ADS_1


Setelah di sepakati maka duapuluh orang anggota nya yg di bawa turut serta menyerbu Nusakambangan.


----------------------.................--------------------------


__ADS_2