BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 12 Mendung di langit Pamotan bagian ketiga.


__ADS_3

" Oh, iya itu lho, angger Larasati yg bersama dengan keponakan mu itu adalah, teman angger sendiri yaitu anak ki Gede,!" jawab ki Ndenok.


" Hah, Tantri maksud ki Ndenok,?" tanya Larasati seolah tidak percaya.


" Iya, angger Tantri dan teman nya seorang perempuan paruh baya,!" jawab Ki Ndenok lagi.


" Berarti, Tantri dan guru nya, apakah mereka membawa Wiradamar ke nusakambangan,?" gumam Larasati.


" Wah, kalau kemana pergi nya , aki tidak tahu,!" jelas Ki Ndenok .


" Oh ya, terimakasih atas pemberitahuan nya,!' kata Larasati kepada ki Ndenok.


" Sama- sama , Ngger,!" kata ki Ndenok.


" Kakang Pratanu, sebaik nya kita segera menyusul mereka,!" ujar Larasati kepada suaminya itu.


" Menyusul kemana , ke nusakambangan maksud mu,?" tanya Pratanu kepada Larasati.


" Iya, kemana lagi, bukan kah , Nyai Dewi putrani wijaya kan dari sana,!" jawab Larasati .


" Baiklah, atau kita laporkan lebih dahulu kepada kakang Radeksa,?" tanya Naja Pratanu lagi.


" Ahh, kelamaan, sebaik nya kita susul mereka, siapa tahu mereka dapat halangan seperti di alas Mentaok waktu itu, kasihan nanti nasib Wiradamar,!" jelas Larasati.


" Marilah kalau begitu, ucapan mu ada benar nya,!" kata Pratanu yg bangkit dan langsung berjalan menuju kearah Barat.


Langkah Pratanu itu kemudian di ikuti oleh Larasati, kedua nya segera menuju ke nusakambangan .


**********


Di ibukota Majapahit , terlihat Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa tengah berbincang dengan ibunda Ratu Jayeswari.


" Ibunda Ratu, apakah yg Sebaik nya ananda lakukan untuk memperbaiki hubungan antara para Pemimpin Majapahit ini terutama dengan Ramanda Adipati Pandan alas,?' tanya Sang Prabhu kepada ibunda Ratu Jayeswari.


" Kalau menurut ibunda Sebaik nya engkau serahkan saja kepimpinan Majapahit ini kepada mertua mu itu, dan engkau kembali saja ke Wengker,!" jawab Ibunda Ratu atas pertanyaan itu.


" Apakah itu tidak mengkhianati amanat Ramanda Prabhu Rajasawardhana yang mana telah mengangkat ku sebagai pengganti nya, kemudian harus ku serahkan kepada orang lain meski itu adalah adik nya sendiri dari Ramanda Prabhu,!" kata Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Mungkin itu memang mengkhianati dari amanat Ramanda mu sendiri, akan tetapi nanda Prabhu tidak mampu mengatasi adi Pandan alas itu, sehingga saat ini dialah yg berkuasa atas Majapahit ini, !" jelas Ibunda Ratu Jayeswari.


" Dan dengan murka nya Kelud disusul dengan meninggal nya adik-adikmu itu, mungkin suatu pertanda bahwa Nanda Prabhu tidak benar dalam memimpin negeri ini,!" lanjut Ratu Jayeswari lagi.

__ADS_1


" Mungkin ada benar nya ucapan dari Kanjeng ibu itu, aku tidak becus dalam memerintah Majapahit ini, sehingga kemurkaaan Hyang Widhi wasa melalui letusan Kelud dan meninggal nya dimas Kahuripan serta pamotan merupakan isyarat bahwa aku mesti melepaskan Mahkota kerajaan ini,!" ucap Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa lirih.


Lama kedua nya diam, saling merenung dari kejadian yg menimpa negeri Majapahit. Dari Letusan Kelud yg cukup dahsyat dengan menewaskan banyak dari rakyat Majapahit. Sampai yg terakhir dengan mangkat nya Ratu pamotan.


Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa mulai menimbang-nimbang baik dan buruk nya jika melepas kan Tahta Majapahit kepada Paman sekaligus mertua nya itu.


*************


Di pandan alas sendiri, rupanya hubungan antara kedua muda mudi yaitu , putri Nawang sekar dan Mahisa Dara memasuki kearah yg serious.


" Kakang Mahisa, Kanjeng Romo sangat berharap kita segera melangsungkan pernikahan,!" kata Nawang kepada Mahisa Dara.


" Akan tetapi tidak ada yg ku andalkan untuk melamarmu, Adi Nawang,,!" Jawab Mahisa Dara.


" Dirimu mempunyai sesuatu yg dapat kau andalkan untuk melamar diri ku,!". jelas putri Nawang sekar lagi.


" Apa itu,?" tanya Mahisa Dara keheranan karena ada sesuatu yg dapat di andalkan nya untuk melamar Putri Adipati Pandan alas tersebut.


Dengan tersenyum Putri Nawang sekar menjawab pertanyaan Mahisa Dara itu,


" Dengan cinta, kakang dapat andal kan untuk melamar ku, karena kali ini Ramanda tidak terlalu di pusing kan dengan calon mantu nya, kalau tidak sudah lama aku di jodoh kan, dan menikah seperti kangmbok Ratu,!" jawab Putri Nawang sekar.


Memang yg di katakan oleh Nawang sekar itu ada benar nya, jika Ramanda nya tidak membebas kan memilih Jodoh tentu telah lama ia menikah, pikir Mahisa Dara dalam hati nya.


" Maaf kan Aku paman, Putri Nawang sekar tadi menyuruh ku untuk melamar diri nya kepada Gusti Adipati Pandan alas, bagaimana menurut mu Paman,?" ujar Mahisa Dara minta nasehat dari Patih Kebo Mundira.


" Wah itu kan sesuai dengan rencana kita, secepat nya lah engkau melamar nya, karena nanti,... !" kàta kata Patih Kebo Mundira terputus.


" Karena apa paman, jangan membuat kepala ku semakin sumpek,!" kata Mahisa Dara agak jengkel.


" Karena nanti engkau akan semakin sulit jika Gusti Adipati telah di angkat sebagai Raja, usaha mu semakin sulit tentu banyak para pangeran putra dari Adipati yg akan menikahi Putri Nawang sekar,!' ungkap Patih Kebo Mundira.


" Paman benar, namun saat ini, tidak ada yg bisa Ku andalkan untuk melamar nya,!" ujar Mahisa Dara agak lesu.


" Ahh, engkau ternyata melupakan orang tua ini, bukan kah dahulu yg menyuruh mu mendekati Putri Nawang sekar adalah Paman mu ini.jsdi orang tua ini dapat kau andal kan untuk melamar putri Pandan alas itu,!" jawab Patih Kebo Mundira .


" Hehh, ternyata aku memang sangat pelupa, sehingga tidak menyadari bahwa Paman adalah seorang yg sangat dekat dengan Gusti Adipati, tentu kata-kata paman akan di dengar nya,!" kata Mahisa Dara yg dapat jalan keluar dari kesulitan yg di hadapi nya.


" Dara, kau tahu berita terbaru yg sangat menyenang kan ku,?" tanya Patih Kebo Mundira kepada Mahisa Dara.


" Apa itu, paman ,?" Mahisa Dara malah balik bertanya.

__ADS_1


" Pertama adalah hubungan mu dengan putri Nawang sekar nampak nya sesuai dengan yg di rencana kan dan yg kedua yg. tidak kalah membuat ku bahagia adalah Kematian dari Ratu Pamotan istri si Wikala itu,!" ungkap Patih Kebo Mundira sambil tertawa.


" Hah, Ratu Pamotan telah tiada, ?" tanya Mahisa Dara yg dahulu di Keraton Majapahit sempat berusaha mendekati penguasa keraton timur tersebut namun tidak berhasil, jadi ada semacam kehilangan setelah mendengar berita kematian nya itu.


" Benar, ia telah meninggal saat setelah melahirkan , dan Aku sangat senang mendengar nya, mungkin merupakan Tulah terhadap Wikala karena telah membunuh adi Kebo Ndaru di saat istri nya hamil,!" terang Patih Kebo Mundira.


" Bisa jadi paman, karena saat melihat kematian dari Paman Kebo Ndaru adalah sesuatu yg tidak menyenang kan, seperti kita sedang memanggang seekor kambing, sampai keluar aroma nya,!" kata Mahisa Dara seolah memanas-manasi Patih Kebo Mundira atas tewas nya adik seperguruan nya itu.


" Hutang nyawa bayar nyawa, nanti setelah Gusti Adipati menjadi Raja di Majapahit ini, pasti akan ku suruh menggempur kadipaten Pamotan itu, dan kelak tangan ku ini yg akan menghabisi nya,!" terlihat Patih Kebo Mundira mengepal-ngepal kan tangan nya, sampai gigi geraham nya bergemerutuk berbunyi akibat menahan marah dan dendam terhadap Wikala.


" Dan kau Mahisa Dara, cepat lah nikahi Putri Nawang sekar, saat ini lah kesempatan kamukten untuk mu, supaya nasib mu seperti dia jadi seorang yg mukti, padahal datang dari sebuah dusun yg tidak terkenal di wilayah kadipaten Daha, sekarang ini, ia telah menguasai kadipaten Pamotan, dan merupakan calon lawan terberat dari Gusti Adipati jika nanti menjadi Raja Majapahit ini,!" jelas Patih Kebo Mundira.


" Kalau Aku siap sedia untuk menikah dengan Putri Nawang sekar, akan tetapi bagaimana cara melamar nya,?" tanya nya kepada Patih Kebo Mundira.


" Semua nya serah kan kepada paman mu ini, nanti Aku yg akan menghadap Gusti Adipati dan menanyakan perihal Putri Nawang sekar itu,!" ucap dari Kebo Mundira Sang Patih Pandan Alas.


Setelah pembicaraan kedua nya selesai , maka Mahisa Dara meninggalkan tempat itu.


Keesokan hari nya, Patih Kebo Mundira menghadap Adipati Pandan alas untuk menanyakan Putri Nawang sekar.


" Ampun kan hamba , Gusti Adipati, ada yg ingin saya tanya kan kepada gusti Adipati,?" kata Patih Kebo Mundira.


" Perihal Apa itu Kakang Patih,?" tanya Adipati Pandan alas agak heran dengan sikap dari Patih nya itu.


" Maaf kan sebelum nya Gusti Adipati, saya ingin menanyakan perihal Putri Nawang sekar, apakah ia telah memiliki calon sisihan,?" tanya Patih Kebo Mundira kepada Adipati Pandan alas.


" Ahh, kupikir masalah apa, ternyata tentang Putri Nawang sekar anak bontot Ku itu, kalau masalah Nawang sekar sampai saat ini belum ada calon suami nya, dan aku tidak menjodoh kan seperti kakak nya itu, terserah kalau dia cocok dan sesuai dengan bibit, bebet dan bobot nya pasti akan kuterima,!" jelas Adipati Pandan alas itu


" Berhubungan dengan itu lah saya menanyakan nya, karena keponakan hamba berkeinginan melamar Putri Nawang sekar untuk di jadi kan istri,!" ucap Patih Kebo Mundira lagi.


" Siapa keponakan mu itu kakang Patih,?" tanya Adipati Pandan alas dengan wajah serius.


" Nama nya dengan Mahisa Dara, ia merupakan anak dari Mantri Kuda Langhi, yg dahulu membantu Pandan alas saat di serang Majapahit di bawah Senopati nya Patih Gajah Nata,!" jelas Patih Kebo Mundira lagi.


" Tetapi bukan kah kakang Kuda Langhi telah mbalela terhadap Majapahit dan harus di hukum mati , oleh kangmbok Ratu Jayeswari kala itu,!" ungkap Adipati pandan alas agak kurang senang mendengar nama Kuda Langhi.


" Ahh, tetapi itu karena Majapahit dalam keadaan lowong sehingga siapa saja berkesempatan untuk menjadi pengkhianat, di tambah lagi ia memegang jabatan tertinggi selain dari Raja dan Patih,!" jelas Patih Kebo Mundira bersungguh -sungguh.


" Tetapi Kakang Patih , Aku sangat membenci yg nama nya pengkhianat, itu merupakan perbuatan terburuk dalam kehidupan bernegara ini" jawab Adipati Pandan alas.


" Jadi bagaimana dengan lamaran saya tadi Gusti Adipati apakah akan di terima, mengingat ini adalah Mahisa Dara bukan Kuda Langhi,!" ujar Patih Kebo Mundira yg dongkol di hati nya mendengar perkataan dari Adipati Pandan alas itu, padahal ia sendiri pun telah berkhianat hingga akhir nya Prabhu SiNAGARA harus tewas akibat ulah pengkhianatan nya itu.

__ADS_1


" Berilah Aku kesempatan memikirkan nya barang sepekan nanti akan kuberikan jawaban nya,!" Jawab Adipati Pandan alas menutup pembicaraan kedua nya.


--------------------------,,,,,,,,,,,,,,,,,,,-------------------------


__ADS_2