
Selepas ayam jantan ber kokok, di iringi semburat merah mentari di pagi hari, dengan di iringi suara bende dan genderang perang yg di tabuh.
Serentak dari ke tiga landasan pasukan Pamotan itu ber gerak menuju Kotaraja Majapahit.
Ter lihat iring -iringan panjang pasukan Pamotan dengan ber bagai macam umbul-umbul dan ter dapat sebuah tunggul di dalam iringan itu, yg ter depan dari pasukan Pamotan itu mengguna kan Kuda baru setelah nya pasukan berjalan kaki.
Pasukan Pamotan yg berada di kandangan yg di pimpin oleh Senopati Lembu Petala dan Adipati Daha dan beberapa Punggawa ter baik Pamotan diantara nya ada Senopati Naja Pratanu dan Arya bor-bor ber gerak menuju ke gerbang barat dari Kotaraja Majapahit itu, sebelumnya pasukan ini berhenti di daerah tempuran tempat landasan armada laut Majapahit yg telah di kosong kan itu, setelah memeriksa keadaan di Tempuran baru kemudian pasukan induk Pamotan itu ber gerak ke gerbang kota sebelah barat.
" Apa tidak sebaik nya Tempuran kita jadi kan landasan , Anakmas Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala kepada Adipati Daha.
" Baik juga pemikiran paman Petala itu, dari pada pasukan kita ter lalu jauh, sementara tempuran telah mereka kosong kan, jadi bisa kita jadi kan tempat landasan kita, jika perang akan ber langsung lama, pasukan kita tidak akan lelah harus bolak -balik ke Kandangan,!" jawab Sang Adipati Daha.
Sementara itu di belakang dua Senopati itu ada dua orang kepercayaan dari sang Adipati Pamotan yaitu Naja Pratanu dan Arya bor-bor, kedua nya menaiki Kuda tunggangan ter baik milik kadipaten Pamotan.
" Pratanu, menurut mu berapa lama pasukan kita mampu menaklukan kotaraja Majapahit ini,?" tanya Arya bor-bor kepada Naja Pratanu.
" Mungkin lebih dari sepekan, baru kita bisa menguasai Kotaraja Majapahit itu, di tambah lagi jika memang sesuai dengan rencana bahwa beberapa Tumenggung yg ada di Kotaraja itu memang ber pihak kepada kita dan mau membuka kan pintu, supaya pasukan kita bisa masuk,!" jelas Senopati yg memimpin pasukan sandi kadipaten Pamotan itu.
" Ahhh, ter lalu lama kalau menurut perhitungan ku mungkin pasukan kita hanya membutuh kan waktu lima hari saja untuk dapat menguasai Kotaraja Majapahit itu,!" kata Arya bor-bor.
" Kita tidak boleh ter lalu percaya diri, sehingga perhitungan kita bisa meleset,!" kata Naja Pratanu lagi.
" Bukan ter lalu percaya diri atau pun jumawa tetapi kenyataan nya memang demikian , selain jumlah pasukan kita lebih banyak, sisi kejiwaan pasukan Majapahit itu sebenar nya sebesar menir, karena para Senopati pinunjul kurang dan cenderung tidak ter lalu ber semangat untuk ber perang, dari sini lah nilai kelebihan kita, pasukan dan para Senopati kita sedang tinggi -tinggi nya semangat nya, apalagi kali ini Gusti Guru turun langsung sebagai Senopati nya, membuat pasukan Pamotan ber tambah kepercayaan diri nya,!" jelas Arya bor-bor.
Asyik nya kedua Senopati itu ber bicara membuat mereka telah mencapai pintu gerbang sebelah Barat itu ketika matahari tepat menggatal kan kulit.
Masih di luar dari jangkauan anak panah, pasukan besar Pamotan itu ber henti. Mereka memandang tembok yg tinggi dari Kotaraja Majapahit itu dan memagari seluruh kota, sementara pintu gerbang tampak ter tutup rapat.
Namun pasukan Pamotan itu tahu bahwa di balik Tembok yg besar dan tinggi itu telah bersiap pasukan Majapahit menyambut kedatangan pasukan Pamotan itu, busur -busur panah telah mengarah ke pasukan Pamotan itu.
" Bagaimana Paman Petala, apakah kita akan maju terus atau menanti isyarat dari gerbang selatan dari pasukan Dimas Kertabhumi,?" tanya Adipati Daha kepada Senopati Lembu Petala.
" Sebenar nya pasukan kita yg merupa kan induk pasukan Pamotan, jadi pasukan ini yg akan memberi isyarat kepada pasukan nya Gusti Adipati Pamotan, namun menurut nya, kita sebaik nya mengirim kan utusan ke dalam kotaraja, supaya pasukan kotaraja Majapahit itu mau menyerah, Gusti Adipati,!" jelas Senopati Lembu Petala.
" Kalau begitu segera kita mengirim kan orang untuk masuk ke dalam Kotaraja Majapahit itu,!" ucap Adipati Daha.
" Baik lah Gusti Adipati, kita akan segera mengirim utusan untuk masuk ke dalam kota raja,!" jawab Senopati Lembu Petala.
Kemudian Senopati Lembu Petala memandang ke belakang, kemudian ia ber seru,
" Lurah Ranawa, segera kemari,!"
" Sendika Dawuh Gusti Senopati,!" jawab Lurah Ranawa.
__ADS_1
Lurah Prajurit Balasewu itu kemudian memaju kan kuda nya mendekati Senopati Lembu.
" Ini surat, Lurah Ranawa sampai kan kepada Senopati yg ber tanggungjawab di gerbang itu, kemudian setelah mendapat kan balasan secepat nya Ki Lurah kembali,!' jelas Senopati Lembu Petala.
" Baik Gusti , Senopati,!" kata Lurah Ranawa.
Lurah Prajurit Balasewu itu segera meng hentak kan tali kekang kuda nya, tunggangan dari Lurah Ranawa itu melesat menuju pintu gerbang Kotaraja Majapahit itu.
Lurah Ranawa mengguna kan bendera kecil ber warna putih tanda ia adalah utusan. Jadi tidak ada serangan dari balik benteng Kotaraja Majapahit itu.
Setiba di depan gerbang Kotaraja itu, kuda Ranawa berhenti.
" Aku Lurah Ranawa adalah utusan dari pasukan Pamotan ingin ber temu dengan Senopati Majapahit,!" seru Lurah Ranawa dari depan pintu gerbang itu.
" Tunggu sebentar, kami akan melapor dulu kepada Senopati Majapahit dahulu,!" jawab seseorang dari dalam.
Tidak terlalu lama, pintu gerbang Kotaraja Majapahit yg berada di sebelah barat itu terbuka, Lurah Ranawa kemudian masuk ke dalam.
Di dalam benteng Kotaraja Majapahit itu Lurah Ranawa di antar menuju Senopati Majapahit yg adalah Adipati Wengker.
" Maaf kan saya Gusti Adipati, saya adalah Lurah Ranawa utusan Senopati Lembu Petala ingin menyampai kan pesan kepada Gusti Adipati,!" kata Lurah Ranawa mengaju kan sepucuk gulungan lontar kepada Adipati Wengker yg merupakan Senopati penjaga gerbang sebelah Barat itu.
" Kata kan kepada Senopati mu, kami tidak akan menyerah apalagi ber tekuk lutut kepada anak kabur kanginan yg menjadi junjungan kalian itu, kami siap ber perang dengan Pamotan,Trah Suraprabhawa akan tetap menjadi pemegang kekuasaan atas Kerajaan Majapahit ini bukan yg lain, katakan itu kepada Senopati mu,!" teriak Adipati Wengker dengan nada marah setelah membaca surat dari Senopati Lembu Petala itu.
" Baik Gusti Adipati, semua pesan Gusti Adipati akan saya sampai kan,!" ucap Lurah Ranawa.
" Bagai mana Ki Lurah, apa yg di katakan oleh Senopati Majapahit yg menjaga Gerbang itu,?" tanya Senopati Lembu Petala.
" Senopati yg menjaga gerbang itu adalah Adipati Wengker, dan ia mengata kan tidak akan menyerah dan siap untuk ber perang,!" jawab Lurah Ranawa.
" Baik lah kalau begitu, segera kirim tanda kepada pasukan yg berada di gerbang selatan itu,!" ucap Senopati Lembu Petala.
Lurah Ranawa kemudian mendekati pasukan Pamotan bagian pemanah, tidak ter lalu lama setelah nya ter dengar lah bunyi panah sendaren yg meraung di atas Kota Raja Majapahit dan itu adalah pertanda bahwa perang segera di mulai.
Sementara itu pasukan Pamotan yg berada di gerbang selatan yg di pimpin langsung oleh Sang Adipati Pamotan di dampingi dua orang Adipati yaitu dari Tumapel dan Kabalan setelah mendengar isyarat dari pasukan yg ada di gerbang barat segera memberi kan balasan isyarat.
" Tampak nya isyarat dari Paman Petala sudah ada, segera kakang Tumenggung Rapada berikan isyarat kepada pasukan Paman Singha Wara yg berada di timur,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan kepada Tumenggung Rapada.
" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" jawab Tumenggung Rapada.
Kembali ter dengar raungan panah sendaren mengarah ke Timur Kota Raja Majapahit itu.
Dan isyarat ini pun segera di tanggapi oleh Pasukan Pamotan di bawah ke pemimpin an dari Senopati Tumenggung Singha Wara dan Adipati Kahuripan.
__ADS_1
Ber gerak lah seluruh prajurit dari Pamotan mendekati benteng Kotaraja Majapahit itu dari tiga sisi.
Di benteng sebelah barat, Senopati Lembu Petala segera mem bentuk pasukan nya.
" Pasukan pemanah maju, " teriak Senopati Lembu Petala.
Maka maju lah hampir seribu prajurit pemanah Pamotan dengan ber jongkok, busur dan anak panah siap di tangan.
" Pasukan tameng maju, !" kembali teriakan yg keluar dari mulut Senopati Lembu Petala.
Serempak pasukan tameng membentuk barisan di depan pasukan pemanah.
" Siap, majuu, serang,!" kembali ter dengar aba-aba keluar dari mulut Senopati Lembu Petala.
Sekira hampir tiga ratus prajurit Balasewu yg tampil lebih dahulu maju ber lari mendekati benteng dari Kotaraja Majapahit itu.
Begitu pasukan siluman dari Kadipaten Pamotan itu menyerbu benteng Kotaraja Majapahit, maka meluncur lah ratusan anak -anak panah menghampiri pasukan yg tengah ber lari ter sebut dari atas benteng Kotaraja Majapahit.
Ter nyata begitu pasukan Pamotan ber gerak pasukan Majapahit langsung mem beri kan jawaban dengan anak -anak panah mereka.
Namun pasukan pemanah Pamotan pun tidak tinggal diam mereka pun langsung membalas serangan itu dengan menghujani anak -anak panah mereka mengarah ke atas benteng.
Sedang kan pasukan tameng yg berada di depan pasukan pemanah per lahan-lahan maju mengekori pasukan Balasewu di belakang.
Perang anak panah pun ter jadi , ketika matahari tepat di atas ubun-ubun maka sebahagian besar pasukan Pamotan ber hasil mendekati pintu gerbang sebelah Barat itu meski ada juga satu dua prajurit Pamotan yg ter kena anak -anak panah prajurit Majapahit yg berada di atas benteng itu.
Namun pasukan Majapahit pun ter kena anak -anak panah dari Pamotan.
Setelah hampir seluruh prajurit dari Pamotan ber hasil mendekati pintu gerbang itu, namun upaya untuk membuka pintu gerbang ter nyata cukup sulit sehingga akhir nya pasukan itu ter tahan di depan nya.
Sesekali masih ada serangan dari atas tembok benteng Kotaraja itu.
Melihat hal itu, Senopati Lembu Petala segera memutar otak nya supaya dapat menjebol pintu gerbang itu.
" Siap kan sebuah balok, runtuh kan gerbang itu,!" teriak Senopati Lembu Petala.
Maka ber puluh prajurit Pamotan mengangkat sebuah balok besar dan mulai mengayun kan nya ke gerbang kota raja itu.
Sudah beberapa kali di ayun kan namun pintu gerbang itu masih kokoh berdiri.
" Siap kan tangga, panjat dinding tembok itu,!" perintah Senopati Lembu Petala lagi.
Dengan cepat para prajurit Pamotan menyiap kan tangga dan mulai memanjat dinding tembok benteng Kotaraja Majapahit itu.
__ADS_1
Akan tetapi tidak se mudah itu prajurit Pamotan dapat menguasai benteng Kotaraja Majapahit itu, serangan dari atas terus mengalir selain anak panah, lembing dan tombak segera melayang meng halang per gerakan itu.
Banyak prajurit Pamotan yg jadi korban, hingga menjelang malam benteng per tahanan Majapahit belum bisa di tembus oleh pasukan Pamotan, dan Akhir nya pasukan itu kembali ke landasan nya di Kandangan dengan membawa beberapa korban yg jatuh pada hari pertama penyerangan itu.