BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 9 : ISTANA tanpa MAHKOTA bagian ketujuh


__ADS_3

Di kadipaten pandan alas sendiri, sejak Mangkatnya Prabhu SiNAGARA , adipati pandan alas terus di desak untuk menggantikan Prabhu SiNAGARA itu.


" Sebenarnya sudah saat nya Gusti Adipati mengambil alih kekuasaan di Majapahit," ucap Arya kangga.


" Benar, saat ini yg memegang tampuk kekuasaan adalah Patih Gajah Nata, dan tidak selayaknya beliau, jadi pemangku kekuasaan sementara,!" jelas Kebo Mundira.


" Apalagi, kita terhitung memenangkan peperanngan yg terjadi di Kame,!" ujar Tumenggung Jayasena.


" Akan tetapi kalau kita mengambil alih kekuasaan pasti , Majapahit akan bereaksi, bisa-bisa kita akan mengalami peperangan lagi,!" kata Adipati pandan alas.


" Jadi maksud Gusti Adipati bagaimana,?" tanya Senopati Kebo Ndaru.


" Sebaiknya anakmas Wengker mau di nobatkan jadi Prabhu, baru setelah itu, kita meminta dari dirinya selaku Sang Prabhu yg syah, jadi kita tidak dianggap sebagai pengkhianat,!" ungkap Adipati pandan alas.


" Tetapi itu akan memakan waktu yg lama," sebut Patih Kebo Mundira.


" Memang akan membutuhkan waktu yg lama, tetapi kemungkinan seluruh kadipaten akan patuh, beda kalau saat ini kita menjadi penguasa Majapahit mungkin seluruh kadipaten akan menyerang kita, coba bayangkan menghadapi kekuatan kota raja kita kesulitan, apalagi seluruh kadipaten bersatu , menyerang kita, sulit rasanya untuk bertahan,!" panjang lebar Gusti Adipati pandan alas menjelaskan.


" Hah, akan membutuhkan waktu yg lama rupanya dendam adi Wirasena harus kubalaskan,!" gumam Tumenggung Jayasena.


*******


Di kotaraja Majapahit , di rumah Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi, tengah berkumpul kembali , para murid dari Mpu Thula yaitu Rumangsa berserta dengan adik seperguruannya yg saat ini menjadi kepercayaan dari Rakryan Mantri untuk menjalankan aksinya menghabisi para petinggi Majapahit yg kali ini yg di sasar adalah Patih Gajah Nata setelah sebelumnya mereka berhasil menghabisi Sang Prabhu.


" Kakang , saat ini , menurut kami untuk menghabisi sang Patih akan sangat sulit, mengingat kotaraja dalam keadaan siaga,!" kata Rumangsa kepada Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Adi Rumangsa tenang saja, hampir seluruh pasukan dari Bhayangkara dan sandiyuda berada di pihak ku, begitu Si Patih ******* itu, mampus , aku akan sepenuhnnya menguasai keraton, dan bila ada pejabat tinggi yg tidak mau patuh ,tugas kalian menghabisinya,!" jelas Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Jadi kakang kuda langhi memang berniat mbalela, dengan tujuan untuk menjadi Raja,?" tanya Rumangsa


" Benar, sudah saatnya Aku memimpin negeri Wilwatikta ini, tidak selayaknya orang-orang tolol, yg menjadi Raja di sini, " ujar Rakryan Mantri Kuda Langhi penuh kebanggaan.


" Apakah tindakan kakang tidak terburu-buru, sebab negeri Majapahit ini bukan sekedar di Kotaraja ini saja?'" tanya Rumangsa.


" Ahh, kau tahu apa tentang kekuasaan adi Rumangsa, yg penting jalankan tugas mu, biar yg lainnya aku memikirkan nya,!" jawab Rakryan Mantri Kuda Langhi .


Rumangsa nampak terdiam, ia merasa bahwa kakak seperguruannya itu akan dimakan oleh keinginan nya yg terlalu tinggi itu.


" Nanti adi Rumangsa bersama ki Jabang wingit, harus mampu membunuh Patih Gajah Nata,!" kata Rakryan Mantri Kuda setelah terdiam beberapa lama.

__ADS_1


" Sebaiknya kali ini kami langsung menghabisinya di dalam kepatihan,!" ungkap Rumangsa.


" Suatu pemikiran yg baik, biar nanti kuperintahkan Jaran abang membantu kalian, dan bersiap untuk merebut istana dengan pengerahan prajurit dari kesatuan sandi yuda yg di pimpin Tumenggung Jalakpati,!" jelas Rakryan Mantri Kuda Langhi.


" Baiklah , kami lebih baik berada di sini, sambil menunggu ki Wingit,!" kata Rumangsa lagi.


Sementara itu iring-iringan dari Pamotan sudah melakukan perjalanan hampir dua hari, karena rombongan saat itu beserta kereta istana maka perjalanan tidak bisa cepat tiba di kota raja Majapahit.


" Kakang Radeksa, apa tidak sebaiknya kakang lebih dahulu ke kotaraja, mengingat istana dalam keadaan genting,!" ucap Larasati kepada Wikala.


" Disana kan ada eyang Patih, Paman Petala , paman singha wara, yg mampu mengatasinya,!" jawab Wikala kepada Larasati.


" Apakah Rakryan Mantri itu akan melakukan pemberontakan, ?" tanya Larasati lagi.


" Sepertinya begitu, mengingat ia memegangi kekuasaan atas beberapa kesatuan penting di dalam keprajuritan,!" jawab Wikala.


Adalah Arya bor bor sejak kepulangan Wikala kelihatan jarang berbicara, akhirnya oleh Wikala ditegur,


" Arya bor bor , ada apa dengan mu, kelihatan sekarang sangat jarang berbicara, ada masalah,?" tanya Wikala.


" Maafkan saya guru, sungguh tiada masalah pada diriku, hanya terus berpikir tentang orang-orang yg haus kekuasaan itu saja , tidak ada yg lain,!" jawab Arya bor bor.


" Wah, aku mesti ikut, !" tukas Larasati.


" Boleh,!" jawab Wikala.


" Kang aku ada satu pertanyaan, ?" kata Larasati kepada Wikala


" Apa itu,?" tanya Wikala


" Katanya kakang telah memiliki istri lagi,?" tanya Larasati .


" Heh darimana kau tahu, ?'' tanya Wikala agak heran karena sepengetahuannya hanya istrinya saja yg baru di beritahu.


" Dari kangmbok ayu, benar Kang,?" tanya nya lagi.


" Benar Laras, saat ini kakak mu itu ada, di Thanda bersama putri Yasuvati menemani romo dan biyung,!" jelas Wikala lagi.


" Kasihan kangmbok ayu, atas kejadian itu , ia nampak agak terpukul, mengingat istri muda kakang telah hamil , sementara ia belum, !" kata Larasati.

__ADS_1


" Sebenarnya aku waktu itu menolak nya Ras, tetapi kata pangeran Jaya simhavarman bahwa telah berjanji siapa yg dapat menolong putrinya itu akan dinikahkan dengannya, begitulah ceritanya adikku,!" ungkap Wikala sambil terus menjalankan kudanya.


Nampak Larasati termangu sesaat dan berkata lagi,


" Tapi Kang, hati perempuan mana yg tidak hancur dengan di duakan orang yg disayanginya, apalagi kangmbok ayu, yg merupakan Ratu di pamotan, !" ujar adiknya itu.


" Kata-kata mu benar adikku, tetapi memang harus lelaki saja yg memahami perasaan wanita, bagaimana coba dengan perasaan ku yg harus berpisah dengan orang yg kukasihi, tiada seorang pun yg mau tahu, tahukah engkau adikku, dari lubuk hati yg paling dalam masih mencintai Rara Tantri sahabat mu itu, !" ujar Wikala sambil terus melajukan kudanya yg diikuti Larasati , arya bor bor dan para Prajurit pengawal sementara di depan mereka kereta yg ditumpangi oleh Ratu Pamotan terus bergerak melaju.


*******"


Di istana Majapahit sendiri, Lurah waringka telah tiba, demikian pula Naja Pratanu yg terus menempelnya, begitu masuk ke keraton , Lurah waringka langsung menghadap kepada Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi.


Sedangkan Naja Pratanu masuk ke istana kepatihan, yg di sambut oleh Patih Gajah Nata dan Lembu Petala sedangkan Tumenggung singha wara berada di bangsal katumenggungan guna mempersiapkan prajurit nya, guna menghadapi situasi yg kemungkinan terjadi.


Adalah Patih Gajah Nata yg terus langsung bertanya,


" Bagaimana sebenarnya duduk permasalahannya, hingga Bekel Pratanu mengirimkan surat yg bunyinya seperti itu,?" tanya Sang Patih.


Kemudian Pratanu menjelaskan pengintaiannya terhadap Lurah prajurit jaga keraton itu, mulai dari gunung kendeng sampai alas Roban, tidak ada yg tertinggal sampai ia harus meminta pertolongan dari kadipaten Matahun, untuk mengirimkan surat ke Majapahit dan Pamotan.


" Demikian lah, Ki Patih ceritanya,!" ujar Pratanu kemudian.


" Sebenarnya persoalan sudah jelas , kita hanya menunggu Gusti ibu suri dan Ratu Pamotan yg memutuskannya,!" jelas Sang Patih.


" Akan tetapi ki Patih, sebaiknya kita harus mempersiapkan diri, mengingat ki Jabang wingit terkenal sakti dan memiliki ilmu hitam,!" jelas Pratanu.


" Tetapi beliau kan belum tiba disini, !" kata Beke Lembu Petala.


" Menurut cerita dari para penduduk di sekitar alas Roban, bahwa Ki Jabang wingit mampu dalam sekejap mata, pindah dari satu tempat ke tempat yg lain meskipun berjarak cukup jauh,!" jelas Pratanu.


" Hehh, sehebat itukah kemampuan ki Jabang wingit itu, atau hanya cerita ngayawara saja,!" ucap Bekel Lembu Petala.


" Entahlah ki Bekel, namun berita itu pun mesti kita antisipasi supaya kita tidak kecolongan dengan kelengahan kita,!" ucap Pratanu lagi.


" Baiklah , Petala panggil Resi dharmadyaksa untuk memagar lingkungan keraton ini dari pengaruh buruk jangan kejadian yg menimpa Gusti Prabhu terulang lagi,!" perintah Sang Patih kepada Bekel Lembu Petala.


Segera sang Bekel menemui Dua orang pemimpin tertinggi keagamaan di Majapahit itu , mereka adalah Resi dharmadyaksa ring kasaiwan dari agama Hindu syiwa dan Dharmadyaksa ring kasogatan dari agama Buddha.


Kedua orang itu atas perintah Patih Gajah Nata diminta untuk membuat semacam pagar Ghaib yg mampu menahan serangan teluh dan tenung seperti kejadian pada saat Gusti Prabhu SiNAGARA yg di tenung kemudian di habisi di gerbang istana.

__ADS_1


------------


__ADS_2