
Mengapa tidak anakmas habisi saja, Rompak itu tanya Lembu petala.
Ahh, tidak semestinya kejahatan dibalas kejahatan, lagian kuteringat akan seseorang yg menjadi muridku dahulu nya begal di Kali Mayit, namun sekarang ia telah sadar dan menjadi orang yg setia kepadaku jawab Wikala.
Paman mesti belajar banyak dari anakmas, kalau paman itu tadi sudah paman habisi semua ujar Lembu petala yg memang seorang prajurit Bhayangkara.
Kita kan ditugaskan sebagai utusan bukan dalam rangka menumpas perompak kata Wikala dengan gaya bercanda.
Ya, akan tetapi seperti kata syair, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui , sembari jadi utusan juga sebagai prajurit yg menumpas perompak di lautan ujar Lembu petala membalas guyonan Wikala.
Paman, hebat betul tenaga dalam nya , sekali dayung bisa sampai tiga pulau terlewati jawab Wikala sambil tersenyum.
Lembu petala pun tersenyum, sementara kapal telah melaju, melanjutkan prjalanannya ke pelabuhan Kelapa ( Jakarta, sekarang).
Sesampainya di pelabuhan Kelapa, kapal bersandar hampir sepekan guna memperbaiki beberapa bagian yg rusak akibat di serang bajak laut.
Disana Wikala dan Lembu petala di jamu para saudagar tiongkok dengan pelbagai hidangan yg mewah lagi nikmat.
" Haiya, lu berdua memang ini macamlah" kata saudagar Tan bun heong sambil mengacungkan jari jempolnya.
Wikala dan Lembu petala nampak tersenyum dengan pujiaan saudagar Tan itu.
" Lu , berdua tahu, sebenarnya owe tidak masalah dengan rompak itu mau ambil owe punya harta, akan tetapi putri owe yg cuma satu-satunya ada di dalam kapal" terang saudagar Tan.
" Hahh" teriak Wikala dan Lembu petala ber samaan.
" Ya , putri owe kepengen ikut melihat pulau jawa, " ujar saudagar Tan.
" Tetapi kami tidak melihat ada penumpang perempuan di kapal,?" tanya Lembu petala.
" Ada , tetapi owe sembunyikan di bawah , karena kapal ini milik owe, maka owe buat bilik khusus buat putri owe," jelas saudagar Tan.
" Ehh, lu berdua mau kemana,?" tanya saudagar Tan.
Nampak Wikala dan Lembu petala berpandangan, kemudian menjawab,
" Ke Beipiing ( Beijing/sekarang)
" Haiya, masih jauh lah" kata saudagar Tan.
"Mungkin dua purnama lagi baru sampai kalau melalui laut, kalau lewat darat setelah sampai di Champa, mungkin tiga purnama" jelas saudagar Tan.
" Wah, masih lama kita di lautan anakmas," ujar Lembu petala kepada Wikala.
" Bagaimana kalau sampai di Champa kita lewat darat," kata Wikala.
" Pemikiran yg bagus" tukas Sang Bekel Bhayangkara itu.
" Dari sini ke Champa berapa lama ,?" tanya Wikala pada saudagar Tan.
" Mungkin sepuluh hari ,tergantung cuaca , kalau tidak ada Badai, dan angin lumayan kencang mungkin tidak sampai," jawab saudagar Tan lagi.
Setelah kapal selesai di perbaiki maka berangkatlah rombongan saudagar Tan kembali.
Kali ini mereka menuju pelabuhan Tumasik di semenanjung Malaya, sekitar dua hari mereka sampailah rombongan itu, dan di sana mereka cuma berhenti satu hari.
Selanjutnya kapal berlayar ke utara daerah lautan tiongkok, pada suatu malam yg gelap gulita Kapal itu serang Badai yg dahsyat. Hingga membuat panik penumpangnya.
" Bagaimana Nakhoda haruskah kita melanjutkan atau membuang sauh,?" tanya saudagar Tan .
__ADS_1
" Berbahaya tuan kalau kita buang sauh bisa-bisa kapal kita terbalik,!" jawab sang Nakhoda di tengah derasnya guyuran hujan dan deburan ombak.
" Haaiya, kapal kita bergerak kemana ini?" tanya saudagar Tan lagi.
" Mengarah ke Tanjung Pura, tuan" jawab sang Nakhoda.
" Bahaya , banyak rompak lah,!" teriak saudagar Tan
" Kapal tidak bisa di kendalikan , akibat layarnya tidak terkembang kena air hujan," jelas Sang Nakhoda lagi.
" Haaiya , bagaimana ini , he lu ong bepikirlah menyelamatkan kapal ini, !" teriak saudagar Tan kepada temannya yg kurus.
" Haaiya owe tidak tahu lah, kan Nakhoda bisa mengatasinya, " ujar sikurus.
Di tengah hantaman Badai dan gelombang itu, seluruh awak kapal kebingungan dari tenggelam nya kapal , maka berkatalah Wikala pada Bekel Bhayangkara Lembu petala.
" Bagaimana paman kalau kapal ini tenggelam, paman tahu kearah mana kita menuju,?" tanya Wikala.
Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya. Disaat dinding kapal mulai bederak-derak dan salah satu tiang layar tumbang.
Maka Wikala meminta Lembu petala untuk mengembangkan kembali layar kapal itu.
" Bagaimana maksudmu anakmas,?" tanya Lembu petala.
" Paman dengan menggunakan tenaga dalam, bentangkan kembali layar yg tidak mengembang itu,!" jelas Wikala.
" Jika paman sudah siap beri isyarat," teriak Wikala.
" Dan untuk saudagar Tan tolong perintah kan Nakhoda membetulkan arah kapal dengan tepat," seru Wikala kepada saudagar Tan.
Tampak saudagar Tan mendatangi Nakhoda yg sudah tidak mampu mengendalikan kapalnya terseret arus gelombang, itu pun faham atas perintah Sang saudagar.
Kemudian Wikala pun berteriak,
" Ajian Nantha angin, Whuuut , wuuussshhh, " terdengar suara dari kedua telapak tangan Wikala yg terbuka itu, maka deru angin kencang menerpa layar besar itu, sontak saja kapal yg hampir tenggelam itu bergerak dengan cepat nya meninggalkan wilayah Badai tersebut .
Saat matahari pagi menyinari , maka Wikala pun menghentikan pengerahan ajian Nantha angin dan ia pun terduduk lemas.
Demikian pula Lembu petala , ia pun langsung telentang diatas geladak kapal.
" Lu , lu ,lu semua cepat bantu mereka," ujar saudagar Tan memanggil para anak buah kapal.
Dengan sigap para, anak buah kapal menolong Wikala dan Lembu petala dengan membawa mereka keruang bawah, mengganti pakaian mereka dengan pakaian kering asal tiongkok yg terbuat dari sutera halus, tampaklah dua Satria handal asal Majapahit itu layaknya Pendekar asal tiongkok.
Saudagar Tan menemui mereka ,
" Haaaiiya, terimakasih banyak pada lu berdua, kamsia, kamsia," ucap nya seolah saudagar Tan kehabisan kata-kata untuk di ucapkan.
" Lu berdua pada tahu tidak,?" tanya pada Wikala dan Lembu petala
Keduanya sama- sama menggeleng, karena memang tidak tahu apa yg ditanyakan oleh saudagar itu.
" Berkat lu berdua, paling-paling nanti malam kita sudah sampai di Champa," katanya sangat senang sekali.
" Cepat sekali,....!" teriak Wikala dan Lembu petala berbarengan.
Mereka keheranan karena rasanya baru dua hari mereka meninggalkan pelabuhan Tumasik, sementara jarak tempuh dari Tumasik ke champ hampir sepekan.
" Memang, memang. cepat , karena lu berdua, baru kali ini owe naik kapal dengan kecepatan seperti tadi," ujarnya sambil tersenyum senang melihat kedua orang itu yg mulai pulih kekuatannya setelah makan pagi bersama saudagar Tan.
__ADS_1
Saudagar Tan semakin hormat kepada kedua orang Majapahit itu.
" Sebaiknya lu berdua tetap naik kapal owe sampai Beipiing nanti owe antarkan sampai tempat," bujuk saudagar Tan kepada Wikala dan Lembu petala agar tetap lewat laut menuju beiping.
Karena ia mendengar kedua orang itu , akan lewat darat setelah sampai di Champa.
" Kami rasa sudah terlalu lama kami di lautan, kami juga rindu daratan, biarlah nanti sesampainya di champa , kami lewat darat guna ke Beiping," jawab Lembu petala disertai anggukan kepala oleh Wikala.
" Haiya, owe tidak bisa memaksa lu berdua, akan tetapi alangkah senang nya bila bisa bersama sampai Beiping meski tujuan kami kota jiqing ( Nanjing)" sebut saudagar Tan .
" Tapi nanti bila telah sampai di Jiqing lu berdua bisa singgah ke rumah owe, sebut saja nama owe, " kata saudagar Tan lagi.
Kapal berlayar dengan tenang nya, ketika senja menjelang tampak di kejauhan ramai kapal dan perahu yg berlalu lalang.
Saat Dewi malam menyelimuti alam mayapada, sampailah kapal saudagar Tan di kota Champa tepatnya di kerajaan pandarangu, kota paling selatan wilayah campa yg terbagi empat kerajaan kecil.
Kemudian Kapal merapat ke pelabuhan , segera saudagar Tan dan rombongan turun dari kapal guna mencari tempat beristrahat, yaitu penginapan, karena kota ini tempat transit pelayaran maka dengan mudah di jumpai tempat menginap disini.
Saudagar Tan mengajak serta putri nya, yg selama ini di sembunyikan nya di bawah geladak kapal.
Wikala dan Lembu petala diajak bersama oleh saudagar Tan. Maka rombongan besar itu menyewa beberapa bilik kamar untuk mereka.
Karena sudah sangat percaya dan hormatnya saudagar Tan menyewakan bilik Wikala dan Lembu petala di sebelah biliknya dan putrinya.
Setelah santap malam bersama maka mengobrol lah keempat orang itu didepan bilik mereka,
" Haaiya , inilah putri owe yg bernama Tan peng sie ," kata saudagar Tan memperkenalkan putri nya.
" Peng sie , lu mesti berterima kasih kepada mereka berdua, dua kali saudara Wikala dan petala ini menyelamatkan kita," ucapnya pada putri Tan peng sie.
" Xe , xe , kamsia terima kasih pada paman berdua , " kata Tan peng sie sambil menjura kan tangan nya.
" Haiya, seorang boleh lu sebut paman , seorang lagi panggil saja Koko, " ucap Saudagar Tan.
" Tidak usah terlalu di risaukan masalah panggilan , apapun boleh, " kata Wikala memotong kata saudagar Tan , karena merasa ia pun sudah beristri.
" Seperti kata owe kemarin, jalan darat amat jauh , sulit dan banyak bahayanya," kata saudagar Tan.
" Apa bahayanya, " tanya Lembu petala.
" Setiap daerah disini saling curiga mencurigai dan kerajaan annam di utara ingin menjajah daerah Champa bagian selatan ini," ceritanya saudagar Tan.
" Jadi owe sarankan ikut owe saja , lewat laut lebih cepat sampai ," bujuk saudagar Tan.
" Kami rindu hutan gunung dan perbukitan, maklum kami berdua orang gunung," kata Lembu petala menolak ajakan saudagar Tan.
" Namun meski begitu, hati-hatilah di daerah annam sebelah utara dekat ke perbatasan Tiongkok," saran saudagar Tan, yg merasa aman berlayar bersama dengan Wikala dan Lembu petala.
" Ini ada sekedar tanda mata dari owe sebagai ucapan terimakasih, " kata saudagar Tan seraya memberikan sekampil uang emas kepada Wikala.
" Tidak perlu repot saudagar Tan, kami pun memiliki bekal, " kata Wikala menolak pemberian dari saudagar Tan.
" Haiyaa, tidak baik menolak pemberian orang, apalagi ini tulus dari hati yg paling dalam, dan di dalamnya ada lencana apabila terjadi sesuatu di daerah tiongkok lu berdua bisa tunjukkan," jelas saudagar Tan.
" Baiklah saudagar Tan, kami terima ini sebagai tanda persahabatan bukan tanda terimakasih atas pertolongan kami terhadap saudagar Tan, " kata Lembu petala yg menerima sekampil uang emas dan lencana nya. Karena menurut naluri keprajuritannya mengatakan bahwa saudagar Tan ini orang yg berpengaruh di Tiongkok.
Maka malam itu sampai larut mereka bertiga mengobrol karena putri Tan peng sie telah masuk ke dalam dan tidur.
Keesokan nya kapal saudagar Tan berangkat kembali, sedangkan Wikala dan Lembu petala kemudian berjalan kaki melanjutkan prjalanannya ke utara menuju Tiongkok.
__ADS_1