
Setelah dua hari berada di rumah Menteri Tan, Wikala dan Lembu Petala melanjutkan prjalanannya ke ibukota Tiongkok yang berada di kota Beijing diutara dari kota Nanjing.
Beijing di sebut sebagai ibukota utara dan Jiqing/Nanjing disebut ibukota selatan, kedua kota tersebut amat ramai di mana merupakan kota pelabuhan.
Mereka, yaitu Wikala , Lembu Petala, Jenderal Yun Cai, Menteri Lin tung tze dan Wang li menggunakan kuda menuju Beiping., jarak dari Nanjing ke Beiping sekitar dua ribu li.
Setelah melalui perjalanan lebih setengah purnama sekira hampir lebih seribu li, sampailah rombongan itu di kota Jinan yg terletak di lembah sungai Hwangho( sungai kuning).
Kelima orang itu langsung mencari penginapan untuk beristrahat. Malam itu Wikala dan Lembu Petala dan Jenderal Yun Cai , berbincang tentang keadaan istana Tiongkok yg benar-benar terjepit akibat serangan kaisar mongol Essen Khan.
" Taihiap( Pendekar besar) Wikala dan Lembu Petala, saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya gege ( abang) Yu Qian kesulitan untuk menahan serangan dari tentara mongol ini,!" ucap Jendral Yun Cai.
" Letak masalah nya dimana Jenderal Yun?" tanya Wikala.
" Selain pasukan mongol sangat besar dan keberhasilan mereka menangkap Kaisar Zhengtong, juga gege Yu, menghadapi masalah dalam negeri yaitu, banyak nya pejabat istana yg tidak senang akan pengangkatan pangeran Zhu qi Yu sebagai Kaisar!" jelas Jenderal Yun.
Ketika Wikala akan bertanya lagi, tiba-tiba,
" Shhhss, jleebs," sebuah pisau menancap di tiang penginapan dekat tempat duduk mereka.
Dengan cepat Jenderal Yun Cai mengambil dan membuka sebuah surat yg ada di pisau tersebut.
Jenderal Yun membacanya,
" Jika anda Taihiap dari Majapahit memang seorang ksatria, saya tunggu di tepi sungai Hwangho sebelah Barat, tertanda Ketua pengemis jubah merah dari Selatan !" kata Jenderal Yun membaca
" Hehh, ada masalah apa dengan pengemis jubah merah,?" tanya Jenderal Yun Cai kepada Wikala.
" Tidak ada, mungkin mereka menginginkan kampil yg di berikan Menteri Tan , " jawab Wikala pelan.
" Yang saya tahu bahwa ketua pengemis jubah merah di selatan ini adalah putra dari Taihiap Kim lan pei yg tewas di Majapahit,!" ucap Jenderal Yun Cai lagi.
" Hehh, dia putra Pendekar si Ruyung sakti, ?" tanya Wikala.
" Benar, saudara mengenalnya,?" tanya Jenderal Yun Cai balik.
" Ya, sewaktu berada di Puncak Merapi , Pendekar Kim salah satu yg tewas di perang tanding itu,!" jawab Wikala.
" Atau putranya ini ingin menuntut balas,?" tanya Lembu Petala
" Bisa jadi, " ujar Wikala.
" Baiklah Jenderal Yun, tolong antarkan kami ketempat itu,!" pinta Wikala kepada Jenderal Yun.
__ADS_1
" Mari, saya tunjukkan jalannya,!" ucap Jenderal Yun sambil berdiri dan meninggalkan penginapan itu.
Ketiganya berjalan menyusuri sungai kearah Barat. Sedangkan Menteri Lin tung tze dan pembantu Wang li sudah tertidur sedari tadi.
Sesampainya ketempat yg di maksud, keadaan sunyi dan gelap gulita, tetapi menurut Panggraita , berpuluh pasang mata sedang memperhatikan mereka.
Terdengar lah kemudian suara dari seseorang,
" Memang ucapan orang-orang itu benar, ternyata Taihiap dari Majapahit adalah seorang ksatria, namun sayang ia tidak berani datang sendiri, " ucap orang tersebut.
" Heh, siapakah kiranya saudara sudilah untuk menampakkan diri, " jawab Wikala.
Segera saja melesat sebuah bayangan di gelap malam menuju ke tempat Wikala berdiri.
" Ternyata Taihiap seorang yg sangat muda usianya , " ujar orang itu yg tiada lain adalah Kim Man chu putra dari Pendekar Kim lan pei.
" Saya sungguh tiada menyangka dapat bertemu Taihiap berdua, yg telah menggegerkan dunia persilatan negeri kami ini,!" katanya lagi.
" Ahh, Pendekar terlalu memuji, !" ucap Wikala .
" Perkenalkan, saya adalah Kim Man chu ketua pengemis jubah merah putra dari Kim lan pei si ruyung sakti," berkata Ketua pengemis jubah merah itu.
" Dan Saya adalah Radeksa Wikala seorang utusan Majapahit ke negeri Tiongkok ini,!" balas Wikala.
" Taihiap tidak perlu memperkenalkan, karena memang sudah terkenal di negeri kami ini, akan tetapi sebagai seorang ketua pengemis jubah merah yg saudara Taihiap pecundangi di Kota Jiqing , sudilah kiranya Taihiap mengajari saya dalam hal kungfu beberapa jurus saja ,!" ucap Kim Man chu menjura hormat.
" Baiklah kalau Taihiap tidak berkenan, biarlah saya yg akan memberikan pelajaran kepada saudara, terima serangan,!" teriak Kim man chu langsung menyerang.
Jenderal Yun Cai dan Bekel Lembu Petala segera menyingkir.
Pendekar Kim Man chu langsung memberikan tendangan disusul tusukan tongkat nya ke arah pinggul dan leher Wikala.
Sang utusan Majapahit ini, dengan cepat menghindari serangan itu , namun belum sempat posisinya mapan Wikala kembali mendapatkan pukulan dari tongkat panjang Pendekar Kim , merasa ingin menjajal tenaga dalam lawan nya , kali Wikala tidak menghindar tetapi langsung memapasi tongkat itu dengan tangan kirinya.
" Traaaakk," bunyi tongkat itu ketika bertemu tangan Satria handal dari Majapahit ini,
Yg terkejut adalah Pendekar Kim segera ia meloncat mundur melihat tongkat andalannya telah patah jadi dua.
Sambil membuang sisa tongkatnya ia berkata,
" Si Taihiap memang benar - benar hebat, namun saya belum kalah, terima ini jurus rase terbang , !" ucap Pendekar Kim.
" Hehh, jurus yg di pakai Pendekar Kim lan pei, namun yg ini belum masak,!" kata Wikala dalam hati.
__ADS_1
Wikala dengan menggunakan peringan tubuh , memberikan balasan pukulan kepada Pendekar Kim yg telah menggunakan ilmu dari orangtua nya.
Pertarungan adu ilmu kadigjayan yg menggunakan tangan kosong pun terjadi beberapa kali mereka tersurut mundur kebelakang.
Wikala hanya melayani Pendekar Kim ,tidak benar- benar ingin melukainya mengingat ilmu Pendekar Kim masih mentah.
Namun karena Wikala tidak mau meremehkan lawannya, ia tetap saja melayani pendekar Kim man chu , sampai suatu saat Ketua pengemis jubah merah itu kelelahan sendiri.
" Taihiap Wikala memang sangat lihai ilmu kungfunya , saya mengaku kalah, " ucap Pendekar Kim terduduk keletihan,
Malam pun berganti pagi, setelah tempat pertarungan itu terang nampak lah puluhan pengemis jubah merah telah mengepung tempat itu.
Karena tidak ada perintah dari Ketua nya untuk menyerang, mereka hanya berdiam diri saja.
Wikala kemudian berkata,
" Saya harap tidak ada masalah lagi antara saya dan Ketua pengemis jubah merah, !" ujarnya kepada Pendekar Kim sang Ketua pengemis itu.
" Yah, saya mohon maaf atas segala tindakan anggota saya, dan saya pribadi yg tidak mampu melihat tinggi nya gunung,?" kata Pendekar Kim lanjut.
" Jangan kan saya, Mahaguru Biksu Majin tidak mampu melawan si Taihiap hingga membuat ia mengasingkan diri, !" kata Pendekar Kim.
" Hehh Biksu Majin telah mengundurkan diri dari dunia persilatan,?" tanya Wikala.
" Benar saudara Wikala, Mahaguru Biksu Majin telah meninggalkan dunia Persilatan, sejak sekembalinya dari Majapahit, !" jelas Jenderal Yun Cai .
" Dari mana, Jenderal Yun Cai tahu bahwa Biksu Majin telah mengundurkan diri,?" tanya Wikala lagi.
" Ketika gege Yu Qian mengumpulkan jago- jago persilatan untuk menghadang gempuran pasukan mongol , Guru istana Biksu Luanjin telah di serahi tugas untuk melakukan itu mengatakan suhengnya tidak dapat ikut karena ingin menyendiri,!" jelas Jenderal Yun Cai.
" Dimanakah kiranya Biksu Majin berada?" tanya Wikala.
" Ahh, entahlah ada yg menyebutkan di gunung jiuhua( sembilan gunung agung) dan ada yg menyebutkan di tiga gunung dewa di daofeng,!" jelas Jenderal Yun Cai lagi.
" Marilah kita kembali ke penginapan,!" kata Jenderal Yun .
" Saya pribadi mohon maaf atas kesalahfahaman ini Pendekar Kim, selamat tinggal,!" ucap Wikala kepada Pendekar Kim yg telah mampu berdiri.
" Saya demikian pula, jika kelakuan anggota kelompok pengemis jubah merah telah tidak menyenangkan hati Taihiap berdua,!" jawab Pendekar Kim.
" Sama-sama,!" ucap Wikala seraya meninggalkan tempat itu dan kembali ke penginapan.
Di penginapan sendiri Menteri Lin tung tze dan Wang li telah bersiap kembali untuk melanjutkan prjalanannya.
__ADS_1
Ketika melihat Jenderal Yun Cai , Wikala dan Lembu Petala , hatinya merasa senang, karena dipikir Menteri Lin tung tze ,ia telah ditinggalkan oleh mereka.
Kembali kelimanya melanjutkan prjalanannya ke Beijing.