BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 13 Cinta lama takkan pudar bagian ketiga.


__ADS_3

" Nama nya juga keponakan satu-satu nya Kang, wajar kalau aku memanjakan nya,!" ucap Larasati tidak mau kalah.


" Ya jangan salah kan Wiradamar kalau jadi bandel, !" jawab Naja Pratanu.


" Tetapi sekarang engkau telah memiliki dua orang keponakan,!" kata Wikala kemudian langsung terdiam mengenang sang istri.


" Jadi Kangmbok Ratu telah melahirkan ,?" tanya Larasati penuh kegembiraan.


" Sudah !" jawab Wikala singkat.


" Perempuan atau laki-laki, ?" tanya Larasati.


" Perempuan,!" kembali jawaban Wikala pendek seakan ada yg mengganjal.


" Kenapa kakang kelihatan tidak senang, Apakah karena anak perempuan,?" tanya Larasati terus terang melihat kakak nya nampak tidak bersemangat.


" Bukan, tetapi,....,!" Wikala tidak menerus kan kata-kata nya.


" Tetapi kenapa Kang,?" tanya Larasati penasaran.


" Tetapi kakang mbokmu telah mangkat sesaat selesai melahirkan,!" ucap Wikala dengan nada penuh kesedihan.


" Duh Hyang widhi wasa, begitu cepat nya kangmbok Ratu meninggalkan kita,!" ujar Larasati dengan penuh haru, ia tidak menyangka kakak ipar nya itu demikian cepat di panggil Hyang widhi wasa, seakan baru saja ia mendapat kan perintah untuk berbulan madu kemana pun ia mau sampai kapan juga tidak di batasi nya, karena selama ini Larasati setia mendampingi nya bahkan pernikahan nya pun di laksanakan di keraton atas gagasan kakak ipar nya itu.


Tidak terasa airmata nya meleleh dari kedua bola mata nya. Sungguh Larasati amat terkejut mendengar berita itu.


Kata-kata Wikala lah yg kemudian membuyar kan kenangan Larasati atas kakak ipar nya itu.


" Oleh sebab itu kalian berdua aku suruh cepat kembali ke Pamotan untuk menemani ibunda Wiradamar serta Romo dan biyung, karena saat ini mereka sedang di pamotan,!" jelas Wikala.


" Baik kakang setelah dari sini kami akan langsung pulang bukan begitu Rass,!" jawab Naja Pratanu.


Larasati hanya mengangguk tidak sanggup berkata lagi, ia akhir nya menyadari mengapa kakak nya itu nampak terpukul dengan kehilangan istri nya yg terlalu cepat.


" Segera lah kalian berdua menemui Nyai Dewi, selaku tamu yg baik ,!" terdengar kata Wikala.


Kemudian kedua nya mendatangi padepokan Nyai Dewi , sedang kan penghuni padepokan itu tengah menyiap kan makanan yg akan di hidang kan kepada seorang tamu agung dari Pamotan yg telah menyelamat kan nyawa penghuni padepokan itu. Walaupun sebelum nya ada kejadian kecil yg agak kurang mengenak kan antara Tantri sebagai salah satu penghuni padepokan itu dengan sang dewa penyelamat Adipati Pamotan .Begitu Larasati dan Pratanu tiba di tempat itu ia langsung oleh Wiradamar sambil berlari,


" Bibiiiiiii, !" ucap bocah kecil itu menghambur kepelukan Larasati.


" Hehh, bocah bandel, kau membuat orang banyak bingung,!" ucap Larasati sambil mencubit pipi nya.


" Bibi pergi kok tidak mengajak aku sih,!" kata Wiradamar setelah di gendong an Larasati .


" Kalau damar ikut bibi, nanti ibunda mu akan sedih sebab telah kau tinggalkan, seperti saat ini ia sering menangis memikirkan mu,!" jelas Larasati.


" Benar kah bi,?" tanya Wiradamar lagi.


" Ya , iyalah kau kan anak satu-satunya, namun sekarang engkau telah punya adik,!" kata Larasati lagi.

__ADS_1


" Hah, aku telah punya adik,?" tanya Wiradamar tak percaya.


" Iya adik mu perempuan, dan cantik lagi,!" jawab Larasati.


" Kalau begitu aku akan pulang dengan Romo setelah berpamitan dengan bibi Tantri,!" ucap bocah kecil itu kemudian minta turun dari gendong an Larasati, ia pun mencari Tantri ke belakang padepokan, Sementara Larasati dan Naja Pratanu naik ke pendopo di sambut oleh Nyai Dewi.


" Apa kabar Nyai, sehat kan,?" tanya Pratanu.


" Demikian lah kira nya, namun kalau tidak karena kedatangan kakak mu itu mungkin kami telah jadi mayat,!" jawab Nyai Dewi putrani dengan wajah cerah.


" Mengapa bisa begitu Nyai,?" tanya Larasati heran.


" Karena rupa nya Iblis penebar maut mendendam kepada kami dan menyatroni sampai kemari, sebenar nya kami mampu mengatasi nya, namun dasar culas mereka menjadi kan keponakan mu sebagai tameng untuk membuat kami menyerah, sehingga kami pun menyerah, dan di saat yg kritis tersebut angger Radeksa datang menyelamatkan kami,!" cerita Nyai Dewi.


" Bagaimana mungkin para begal alas Mentaok itu jauh-jauh datang kemari,?" tanya Pratanu yg tidak habis pikir.


" Entah lah kami pun tidak mengerti, tahu-tahu malam itu mereka telah mengepung padepokan kami,!" jawab Nyai Dewi.


" Nyai bagaimana hubungan Tantri dengan kakang Radeksa,?" tanya Larasati kepengen tahu akhir cerita kedua nya itu setelah sekian lama berpisah.


" Baik, walaupun ada sedikit kesalahpahaman di awal pertemuan,!" jelas Nyai Dewi.


" Kesalah pahaman bagaimana maksud Nyai,?" tanya Larasati lagi.


" Yeah, pertama bertemu kakak mu menuduh Tantri melarikan anak nya, yg membuat Tantri tidak terima dan sangat marah,!" ucap Nyai Dewi.


" Wiradamar keponakan mu itu lah yg menbuat mereka berdua baikan,!" jelas Nyai Dewi.


" Ohh,...!" kata Larasati.


Sementara itu Wiradamar yg mencari Tantri menemui gadis itu di belakang sedang menanak nasi. Wiradamar langsung saja memeluknya dari belakang, " Bi, damar mau pulang dengan romo, karena sekarang damar telah punya adik,!" cerita nya kepada Tantri.


" Bagus lah kalau begitu, nanti jangan bandel lagi, kasihan ibunda mu,!" ucap Tantri menasehati.


" Iya Bi, !" jawab Wiradamar .


Kemudian Wiradamar masuk ke dalam menemui Nyai Dewi yg sedang berbicara dengan Naja Pratanu dan Larasati.


" Eyang, damar mau pulang sama Romo, jadi eyang tidak perlu mengantarkan damar lagi,!" kata nya kepada Nyai Dewi putrani. Disela-sela pembicaraan ketiga orang itu.


" Ya Ngger , jangan nakal lagi, kasihan ibunda mu,!" balas Nyai Dewi.


" Damar kan tidak nakal, tidak pernah nangis,!" jawab bocah itu menggemas kan.


" Heh apa nama nya tidak nakal , pergi tanpa pamit sama orang tua,!" kata Larasati kepada keponakan nya itu.


Wiradamar diam setelah mendengar kàta-kata dari bibi nya itu.


Setelah masakan selesai maka siap di hidang kan, Wikala ,Larasati dan Naja Pratanu segera menyantap nya bersama seluruh isi padepokan Nusakambangan itu.

__ADS_1


Terlihat keakraban di antara mereka terutama antara Larasati dan Tantri yg memang bersahabat sejak kecil.


" Tri, apakah engkau tidak pulang bersama kami " tanya Larasati kepada Tantri.


" Ahh, Aku masih merasa betah tinggal di sini, mungkin lain waktu aku akan kembali,!" jawab Tantri.


" Apakah engkau mengetahui nasib dari kedua orang tua mu, saat kejadian Kelud meletus,?" tanya Larasati tiba-tiba.


" Heh, kau benar Laras, aku belum mengetahui keadaan kedua orang tua ku, apakah mereka selamat dari letusan Kelud itu,!" jawab Tantri yg seakan merasa baru diingat kan oleh teman nya itu.


" Itulah mengapa aku mengajak engkau kembali untuk melihat keadaan desa kita, yg telah luluh lantak di buat letusan gunung kelud itu,! " jelas Larasati.


Sementara itu Wikala setelah selesai makan maka ia beristrahat sebentar, kemudian pamitan kepada seluruh penghuni padepokan nusakambangan itu termasuk Tantri.


" Tantri aku memerlukan bicara empat mata dengan mu ,!" kata Wikala ketika bersalaman dengan Tantri.


Tantri mengangguk , kemudian keduanya keluar menuju ke suatu tempat yg agak jauh , sementara yg lain telah paham maksud dengan Wikala itu.


" Tantri, aku sangat berterimakasih engkau telah memaaf kanku, akan tetapi dan yg mengganjal di hati ku,!" kata Wikala setelah kedua nya berada cukup jauh dari padepokan itu.


" Apa itu Kang ,?" tanya Tantri agak gugup serasa masih ketika kali mereka mengungkap perasaan kala itu di desa thanda.


" Begini, sebenar nya, agak sulit untuk memulai darimana," kata Wikala terlihat kurang mapan untuk mengutara kannya.


Kedua nya nampak kaku, seolah mereka baru pertama kali bertemu.


Akhir nya Wikala berusaha mengutarakan isi hati nya.


" Begini, sesungguh nya perasaan ku masih sama terhadap mu, namun mungkin ini tidak layak untuk kuutarakan tetapi karena dorongan hati , aku memberani kan diri, yg ingin ku tanya kan apakah engkau masih memiliki perasaan yg sama sepetti waktu itu,?" tanya Wikala kepada Tantri.


Tantri ditanya seperti itu terpaksa harus menahan sesak di dada nya. Berulang kali ia menarik nafas dan tatapan nya mengarah ke pantai Nusakambangan yg nampak deburan ombak menghantam nya. Seolah-olah deburan ombak itu mencermin kan gelora di hati nya.


Lama kedua nya saling diam , masing-masing tenggelam dalam kenangan yg telah lama berlalu.


Tantri kemudian berujar," Kalau kakang tanya kan tentang perasaan ku terhadap mu, adalah masih sama dan tidak mungkin untuk Ku pungkiri, karena tidak ada seorang pun yg dapat menggantikan mu di hati ku,!'


" Kalau demikian izinkan lah aku melamarmu, walaupun aku memang tidak seperti yg dulu lagi , karena telah memiliki istri dengan dua orang anak,!" ungkap Wikala dengan suara bergetar.


Mendengar pernyataan dari Wikala itu , Tantri kemudian mengatakan," Saat ini aku tidak bisa menjawab nya, karena banyak yg harus ku pertimbang kan untuk menerimu kembali,!"


" Baiklah , Aku tidak akan memaksa mu, kau mau mendengar ucapan ku pun rasa nya sudah sangat senang sekali, jika nanti punya jawaban sampai kan lah kepada Larasati karena aku dan wiradamar akan segera kembali,!" kata Wikala lanjut.


" Aku pun pasrah atas semua keputusannya mu, menolak ataupun menerima nya," jelas Wikala lagi.


Tantri hanya mengangguk tidak bisa mengucap kan sepatah kata pun.


Kedua nya pun kembali ke padepokan Nyai Dewi, setelah berpamitan dengan seluruh penghuni padepokan itu dan di balasi dengan ucapan terimakasih maka Wikala pun meninggal kan Nusakambangan, di suatu tempat yg sunyi ia segera merapal ajian mega mendung dan Wisnu kencana, kemudian kedua nya melesat meninggal kan pulau Nusakambangan menuju Pamotan.


-----------------..........''''''''''''''..........----------------

__ADS_1


__ADS_2