
Setelah per sidangan di Istana Timur selesai, secara pribadi Adipati Pamotan sang bhre Kertabhumi mengumpul kan pembantu ter dekat nya,
" Selaku menantu dari Ramanda Prabhu Rajasawardhana, aku ingin bertanya kepada kalian semua, apakah sudah selayak nya, Kita yg akan memimpin penyerangan ke kotaraja Majapahit,?" tanya nya kepada seluruh pembantu ter dekat nya.
Semua orang yg men dengar pertanyaan dari junjungan nya itu ter diam.
Hanya Patih Sengguruh yg berani angkat bicara,
" Apakah maksud Gusti Adipati bahwa Gusti Adipati tidak ber hak atas Tahta Majapahit ini,?" ganti Patih Sengguruh yg ber tanya.
Sambil menarik nafas panjang Adipati Pamotan Sang bhre Kertabhumi itu ber kata,
" Hahhh, demikian lah kira nya Paman Patih, se sungguh nya kalau di urut masalah Trah Majapahit, Aku masih jauh atas Tahta Majapahit ini, masih lebih ber hak Kangmas Daha dan Nanda Kahuripan,!" jelas nya kepada Patih Sengguruh.
" Akan tetapi kalau masalah itu, kita dapat ber kaca dari dua Raja Majapahit ter dahulu yaitu, Sang Prabhu Sangrama wijaya, yg sebenar nya menantu dari Prabhu Kertanegara akan tetapi beliau lah yg menerus kan ke pemimpinan atas Tahta singiosari itu dan menjadi kan nya sebagai Kerajaan Majapahit yg besar, dan yg kedua yg ber hubungan langsung dengan Gusti Adipati sendiri ada lah Sang Prabhu Wikramawardhana yg juga menantu dari Prabhu Hayam Wuruk, juga mampu menjadi kan Majapahit ini kembali dalam satu kesatuan setelah per pecahan seperti saat ini yakni ada nya Istana Timur di Pamotan ini dan Istana Barat di Kotaraja, jadi Gusti Adipati jangan ber kecil hati hanya karena sebagai se orang menantu, hajat hidup kawula Majapahit itu banyak ber gantung dari ke pemimpinan yg benar bukan semata-mata dari Trah, kalau di urut Prabhu Suraprabhawa saat ini adalah Trah langsung dari Sang Prabhu Wikramawardhana akan tetapi buat rakyat Majapahit seakan akan tidak me miliki seorang Raja,, bukan nya mem bantu para rakyat yg kelaparan malah menambah kesusahan dengan mengacau kan per bekalan yg ada, jadi kepentingan rakyat di atas segala, dengan Gusti Adipati bisa menjadi Raja Majapahit ini, saran paman selaku pemangku jabatan Kepatihan agar Gusti Adipati menge depan kan kepentingan rakyat dari pada kepentingan pribadi, kalau di tilik , Gusti Adipati telah mapan dari Lahir dan batin nya, ber beda dengan Prabhu Suraprabhawa, kurang mapan dalam hal batin nya, sifat angkara murka masih menjadi yg ter depan sejak zaman Sang Prabhu Rajasawardhana sampai saat ini, Itu lah penyebab ke munduran Majapahit ini,!" panjang lebar Patih Sengguruh ber cerita untuk memberi semangat junjungan nya itu agar mau di dapuk sebagai Senopati Agung menyerang Kotaraja Majapahit itu.
Sang Bhre Kertabhumi tampak men desah, ia memang mem pertimbang kan apa yg telah di kata kan oleh Patih nya itu, ia bahkan teringat pesan dari Eyang Narapati atau Raden Gajah yg sempat menjadi Adipati di pamotan itu.
Dalam hati kecil dari Adipati Pamotan berkata apakah ini bukan suatu bentuk pemberontak an ter hadap pemegang kekuasaan yg syah, pikir nya.
" Paman Patih apakah ini bukan suatu pemberontak an melawan pemerintahan yg syah,?" tanya kepada Patih Sengguruh.
" Ampun Gusti Adipati, apakah Prabhu Suraprabhawa mendapat kan tahta Majapahit itu melalui jalan yg benar bahkan Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa jadi be banten atas usaha nya mencapai kedudukan ter tinggi itu dalam kerajaan Majapahit ini, apakah itu di benar kan ,!" seru Patih Sengguruh.
" Ampun Gusti Adipati, se sungguh nya benar yg di kata kan oleh Paman Patih itu, dan jika Gusti Adipati sungkan atau ewuh pakewuh ter hadap Adipati Daha, Gusti Adipati bisa menanya kan nya langsung tanpa perantara dan juga melihat posisi Adipati Daha di mana saat ini , apakah senang atas ke pemimpinan dari Prabhu Suraprabhawa atau malah sebalik nya,!" ucap Rakryan Mantri Raka Swidak.
" Ampun Gusti Adipati, kami se pendapat dengan Rakryan Mantri, karena jika Gusti Adipati Daha telah mem beri restu berarti , ke seganan Gusti Adipati ter hadap beliau sudah tidak ber alasan lagi, jangan sampai rakyat Majapahit menderita ter lalu lama,!" kata Senopati Lembu Petala yg merupa kan teman dekat dari Adipati Pamotan sendiri.
" Baik lah karena kalian semua telah men dukungku, untuk itu selaku Adipati Pamotan Aku akan menyambangi Kangmas Daha guna mem pertanya kan masalah ini, dan kali ini aku akan ber kuda untuk melihat wilayah Majapahit ke seluruh an nya dari timur sampai barat, dan yg men dampingi ku hanya Arya bor-bor, dan pemerintahan atas Pamotan ini ku serah kan kepada paman Patih Sengguruh, untuk keamanan nya ku serah kan kepada paman Lembu Petala, selama ke berangkatan ku, " titah dari Adipati Pamotan Sang Bhre Kertabhumi.
" Sendika dalem Gusti Adipati,!" jawab ketiga orang yg di tunjuk itu.
Adalah Arya bor-bor yg senang karena akan ber pergian ber dua saja dengan guru nya itu.
Ia kemudian mengikuti sang Guru sampai ke bilik nya dan ber tanya,
" Berapa lama kita akan pergi , Gusti Guru,?" tanya nya kepada Adipati Pamotan sang bhre Kertabhumi.
" Mungkin lebih satu purnama atau malah tidak sampai, semua ter gantung urusan kita di Daha apakah cepat selesai atau tidak,!" seru Adipati Pamotan lagi.
" Ahh, kalau cuma ingin ber tanya dengan Gusti Adipati Daha, satu hari pun selesai,!" jawab Arya bor-bor.
" Benar ucapan mu itu Bor, akan tetapi saat ini aku ingin ber kuda dan ingin melihat keadaan kawula Majapahit dari dekat, jadi bisa bahan per timbangan untuk melawan Kotaraja Majapahit ini, jadi mungkin di jalan kita akan lama atau sebaliknya,!" jelas Adipati Pamotan sang bhre Kertabhumi.
" Mudah-mudahan lama, jadi hitung-hitung bisa liburan,!" gumam Arya bor-bor.
" Mudah-mudahan tidak,!" balas Adipati Pamotan itu.
" Mengapa tidak Gusti guru,?" tanya Arya bor-bor.
__ADS_1
" Tugas kita masih banyak Bor, dan memerlu kan penanganan yg serius, karena Majapahit saat ini di kuasai oleh Mahisa Dara yg ter kenal licik itu,!" jawab Adipati Pamotan Sang Bhre Kertabhumi.
Arya bor-bor nampak ter senyum meski men dengar pernyataan bahwa mereka tidak akan ber lama-lama dalam per jalanan nanti.
Kemudi ia meninggal kan bilik Adipati Pamotan itu menuju ke kediaman nya.
Ia pun mem persiap kan segala sesuatu nya untuk mengawal Guru nya itu ke Daha menemui Adipati Daha.
Sementara Adipati Pamotan tengah duduk ber santai dengan per maisuri nya di taman istana Timur.
Ia berkata kepada permaisuri nya itu,
" Dinda dwarawati, mungkin esok Kanda akan melawat ke Daha guna bertemu Kangmas Daha dan juga keluarga yg ada di thanda, Kanda harap dinda dan anak-anak kita dalam keadaan aman, meskipun saat ini keadaan tidak menentu,!" ucap Adipati Pamotan Sang Bhre Kertabhumi.
" Berapa lama Kanda akan pergi nya dan dengan siapa,?" tanya permaisuri putri Dwarawati kepada Adipati Pamotan.
" Mungkin kali ini Kanda akan lama, karena selain ke Daha, Kanda juga ber niat melihat keadaan guru di puncak Merbabu, sudah terlalu lama Kanda tidak bertemu dengan nya, entah bagaimana keadaan nya sekarang, memang Kanda murid yg tidak ber guna, !??" seru Adipati Pamotan yg nampak agak geram karena ia telah lama melupa kan guru nya itu, sejak berada di Pamotan mungkin baru sekali ia singgah di Merbabu.
" Hehh, Kanda Adipati masih punya guru,?" tanya permaisuri Dwarawati heran.
Karena tidak sekali pun ia di per kenal kan dengan nya, ia ber pikir Adipati Pamotan sang suami telah tidak memilki orang yg dekat dengan nya kecuali keluarga yg ada di Thanda.
Lama Adipati Pamotan itu ter menung mendengar per tanyaan dari istri nya Itu, memang belum sekalipun ia mengenal kan istri nya Itu kepada sang guru.
" Itu lah dinda, memang Kanda mu ini murid yg tidak ber guna, karena telah melupa kan guru, yg mungkin saat ini telah tiada, karena beliau tinggal sendiri, setelah adi Larasati selesai menimba ilmu di sana,!" jelas Adipati Pamotan lagi.
" Mungkin lain kali Kanda mau mengajak dinda ke Merbabu guna sungkem kepada guru Kanda itu,!" kata permaisuri Dwarawati.
Ada kesedihan di raut Wajah Adipati Pamotan yg biasa nya nampak ber wibawa kali ini seperti ada mendung yg menggayut di wajah nya itu.
Ia seperti mendapat firasat bahwa Mpu Barada sang guru nya itu telah tiada. Dan ia pun merasa ber salah hanya ter ingat kepada guru nya itu jika mengalami kesulitan ter masuk saat ini, di saat ia di desak untuk menjadi Raja dan mengguling kan pemerintahan Prabhu Suraprabhawa, ia baru ter ingat akan Guru nya itu untuk di mintai nasehat nya.
" Sudah lah Kanda, jangan ter lalu di risau kan, mungkin eyang Guru masih dalam keadaan baik-baik saja, !" kata permaisuri Dwarawati menenang kan hati suami nya itu.
" Mudah-mudahan demikian dinda, mudah-mudahan eyang Guru masih dalam lindungan Hyang Widhi wasa,!" kata Adipati Pamotan lagi.
Sampai lama mereka ber dua di taman istana itu, sampai dengan datang nya pangeran Arya wiradamar dan puteri ayu Ratna Pembayun, yg kedua nya telah besar sekarang.
Arya Wiradamar sudah mulai memasuki usia remaja, dan paras serta kelakuan nya mirip dengan Ramanda nya, sedang kan puteri ayu Ratna Pembayun memiliki sifat seperti ibunda nya yaitu keras kepala dan memiliki wajah yg cantik dari selintas ia sangat mirip dengan Ibunda nya Ratu Pamotan, Putri Ratna parangkawuni.
Setelah kedatangan kedua putera-putrei nya itu, akhir nya Adipati Pamotan beranjak dari situ.
Ke esokan hari nya , setelah mentari menggatal kan kulit, Adipati Pamotan yg di sertai oleh Arya bor-bor, ber tolak dari Pamotan menuju Daha, dan kali ini mereka menyusuri jalan dari selatan melalui daerah lamajang tidak seperti biasa nya mereka melalui dari Kahuripan dan menuju Kotaraja baru ke Daha.
Adipati Pamotan menanggal kan segala atribut kebangsawanan nya, ia hanya mengguna kan pakaian biasa selayak nya rakyat biasa. Demikian pula Arya bor-bor.
Mereka menyusuri jalan-jalan desa menuju kota Lamajang, di sepanjang per jalanan Adipati Pamotan melihat betapa sulit nya kehidupan rakyat Majapahit karena di landa kekeringan itu.
Banyak orang yg ter lihat berjalan ter seok-seok menuju ke sawah yg tidak ber air lagi, dengan tubuh kurus ceking mereka berusaha menggarap sawah itu untuk di jadi kan pategalan sekedar menanam singkong atau ubi guna ber tahan hidup.
__ADS_1
Hati Adipati Pamotan terasa teriris setelah melihat langsung keadaan sebahagian besar rakyat Majapahit itu, ia seolah merasakan apa yg di rasakan dari para kawula Majapahit itu.
" Bor di depan padukuhan apa, nampak nya desa itu ramai dan penduduk nya pun ter lihat sejahtera,?" tanya Adipati Pamotan kepada Arya bor-bor.
" Desa sumberwuluh dari kademangan Candipura, Gusti Guru,!" jawab Arya bor-bor.
Karena mereka telah melakukan perjalanan yg sehari semalam tanpa ber istrahat akhir nya Adipati Pamotan ber henti di desa Sumber wuluh itu dan menginap di sana.
Dari sana mereka men dengar keluhan para penduduk nya bahwa daerah mereka sering di satroni oleh para perampok , karena mereka memang memiliki per sediaan pangan yg cukup ber lebih di banding daerah-daerah lain.
Daerah yg letak nya di sebelah tenggara dari semeru itu cukup subur dengan limpahan air dari kali yg mengalir dari gunung semeru itu.
Setelah satu malam mereka berada di desa Sumber wuluh, kedua nya terus melanjut kan perjalanan nya melintasi gunung semeru menuju ke Thanda.
Se sampai nya di desa kelahiran dari Adipati Pamotan itu membuat keter kejutan para penghuni tanah perdikan itu.
Karena tidak biasa nya Adipati Pamotan mengguna kan kuda dan melalui jalan selatan.
" Terima lah sembah sungkem Radeksa kepada Romo dan biyung,!" ucap Adipati Pamotan ketika melihat kedua orang tua nya tengah duduk di pendopo rumah nya itu.
" Hahh, tumben kakang Radeksa datang kemari mengguna kan kuda,?" seru Larasati yg ter lihat tengah hamil tua.
" Nggak hanya ingin melihat tlatah Majapahit dari dekat di mana banyak rakyat yg tengah kelaparan meski ada satu, dua, yg masih makmur karena panen nya masih baik,!" jelas Adipati Pamotan.
" Dalam rangka apa angger datang kemari ,?" tanya Mpu Thanda.
" Ya mbok jangan di desak begitu tuh, anak nya masih kelelahan tho,!" ujar biyung nya kepada suaminya itu.
" Bukan begitu biyung, kan tumben anak kita datang kecuali pasti ada perlu nya, bukan apa-apa, tugas nya di Pamotan kan banyak, tentu ada sesuatu yg penting hingga harus kemari sendiri tanpa mengirim utusan,!" jawab Mpu Thanda lagi.
" Yo ,mungkin ingin melihat putra nya , Joko thole, yg sekarang sudah mulai pintar ber jalan , mungkin,!" seru biyung lagi.
Adipati Pamotan ter senyum melihat per debatan kedua orang tua nya itu, ia memang merasa banyak yg ter lewat kan sejak berada di Istana Pamotan, terutama kebersama an keluarga dan hawa segar dari suasana desa yg tenang meski Thanda pernah di landa murka dari Gunung Kelud itu, namun sekarang telah kembali indah, bahkan lahan pertanian nya pun semakin subur, ketika di daerah lain mengalami kesulitan, daerah Thanda tidak, mungkin itu lah ke kuasaan dari Hyang Widhi wasa, di balik bencana yg di timbul kan pasti ada kebahagiaan di ujungnya.
Setelah ter diam beberapa saat, akhir nya, Adipati Pamotan berkata,
" Sebenar nya kedatangan ku kali ini adalah ingin ber temu dengan Kangmas Adipati Daha, ada sesuatu yg harus di sampai kan,!" jelas Adipati Pamotan.
" Apakah tidak bisa di wakil kan kepada kakang Pratanu, Kang,?" tanya Larasati heran.
" Tidak kali ini kakang mu harus menyampai kan sendiri kepada Kangmas Daha, tidak yg lain,!" jawab. Adipati Pamotan.
" Dan sebelum menghadap kepada Kangmas Daha, kakang akan ke Merbabu ter lebih dahulu,!" kata Adipati Pamotan lagi.
" Hehhh, kakang ingin menghadap eyang guru Barada,?" tanya Larasati kaget.
Karena ia pun seperti telah melupa kan guru nya itu sejak berada di Pamotan.
Mpu Thanda memandangi putra-putri nya ber gantian.
__ADS_1
Seolah-olah mengata kan bahwa mereka ter lalu sibuk urusan masing-masing hingga melupa kan orang yg telah ber jasa kepada mereka.
Lama mereka ter diam ketika Wikala menyebut nama Mpu Barada itu.