
Setelah Ki Suda Kampil mendekati para tawanan mereka terutama Nyai Dewi Putrani wijaya selaku pemimpin padepokan itu maka terdengarlah perintah dari Ki Cagak Warangan,
" Cepat habisi mereka semua,!" teriak pemimpin gerombolan rampok Alas Mentaok itu dengan keras.
Ki Suda Kampil menatap lekat-lekat pada wajah Nyai Dewi yg nampak pasrah atas nasib nya itu karena ia memahami sifat iblis penebar maut itu yg jarang memberi ampun kepada lawan-lawan nya.
" Ayo cepat, selesai kan tugas agar kita dapat meninggalkan pulau ini!' teriak Ki Cagak Warangan lagi.
Setelah mendengar perintah dari Ki Cagak Warangan yg ke dua kali nya maka Ki Suda Kampil segera mengangkat goloknya untuk menebas kepala Nyai Dewi, sesaat golok itu akan di ayun kan menebas leher dari Nyai Dewi tiba-tiba terdenngar suara keras dan bergema yg di alasi aji segara macan membentak,
" Lepas kan putra ku,!" teriak orang itu .
Saking keras nya bentakan itu golok di tangan Ki Suda Kampil sampai terlepas demikian pula Wiradamar yg di dalam gendongan dari Ki Lawa ireng itu jatuh dan segera berlari kearah Tantri yg masih terikat, segera bocah kecil itu melepas ksn ikatan tangan Tantri dan kedua temannya.
Sementara itu pemimpin Rampok alas Mentaok itu terdiam terpaku beberapa saat terkena aji segara macan milik Wikala.
Setelah tersadar mereka melihat sesosok tubuh yg masih berbalut kabut tipis yg berada di sebelah mereka.
Sosok itu tiada lain adalah Radeksa Wikala Sang adipati Pamotan menantu Prabhu Rajasawardhana Sang SiNAGARA.
Dengan ringannya ia melangkah kan kaki mendekati ketiga Rampok asal Alas Mentaok itu.
" Siapa kalian berani nya menyandera seorang bocah kecil, kumis saja yg besar tapi nyali seperti menir, cuma berani sama anak kecil,!" ujar nya menyindir para perampok alas Mentaok itu.
" Hehh, kau siapa yg berani mengganggu urusan kami, sudah bosan hidupkah,?" balik bertanya Ki cagak Warangan.
" Di tanya balas bertanya , Aku Radeksa Wikala bergelar satria dari DAhA,!" ucap Wikala memberi gertakan kepada Ketiga orang yg berada di hadapan nya itu.
" Heh, jangan coba menipu kami, satria dari DAhA adalah adipati Pamotan mana mungkin bisa berada disini, kau hanya membual saja, jangan mimpi di siang hari,!" kata Ki Suda Kampil yg telah bersedia dengan golok di tangan yg sebelum nya terjatuh akibat bentakan dari Wikala.
" Terserah kalian mau percaya atau tidak itu adalah nama ku, dan kalian ini siapa dari tampang nya bukan orang baik--baik,!" tanya Wikala lagi.
" Kami Iblis penebar maut dari Alas Mentaok, kau kurang beruntung anak muda karena umur mu hanya sampai disini sebab telah bertemu dengan kami, tiga Iblis penebar maut,!" jelas Ki Cagak Warangan dengan sombong nya.
" Entah aku atau kalian yg kurang beruntung karena hari ini pun tangan ku telah gatal ingin membunuh orang yg tidak tahu malu menjadi kan seorang anak kecil untuk di kan tameng, dan sayang lagi anak itu adalah anak ku,!" ucap Wikala seraya memutar telapak tangan nya namun belum sempat ia melancar kan serangan, tiba-tiba Wiradamar putra nya berlari ke arah nya.
" Romo, romo, mereka mau membunuh ku,!" ucap anak kecil itu seraya menghambur memeluk ramanda nya itu.
" Yang mana damar,?" tanya Wikala.
__ADS_1
" Yang itu Romo,!" tunjuk Wiradamar ke arah Ki Lawa ireng. Yg di tunjuk pun agak salah tingkah. Karena Ki Lawa ireng itu amat tajam penilaiannya terhadap orang yg berada di hadapan nya itu. Ia meyakini orang ini adalah seorang yg sakti dan tinggi ilmunya, sampai-sampai anak kecil yg berada di gendongan nya itu bisa terjatuh.
" Baik damar, siapa yg lebih dahulu kita hajar,?" tanya Wikala kepada putra nya itu yg kini berada dalam gendongan nya.
" Yang itu Romo,!" ucap Wiradamar menunjuk ke arah Ki Cagak Warangan.
" Mengapa yg itu,?" tanya Wikala.
" Iya Romo, tadi kakek itu menyakiti bibi Tantri,!" jawab Wiradamar polos.
" Heh, tetapi baik lah,!" ucap Wikala seraya melancarkan serangan pertama nya.
" Heeaaahh, !" teriak Wikala serangkum angin pukulan keluar menerjang Ki Cagak Warangan.
Pemimpin Rampok alas Mentaok itu melompat menghindari serangan tersebut dan ia berhasil, akan tetapi ketika kaki nya menjejakkan tanah serangan kedua pun datang ia terlambat angin pukulan dari Ajian Nantha angin menerpa nya membuat Ki Cagak Warangan terpelanting beberapa tombak, namun ia masih mampu bangkit.
Melihat teman nya telah terjatuh maka Ki Suda Kampil dan ki Lawa ireng segera menyerang secara bersamaan, dengan golok dan senjata-senjata rahasia yg beracun menyasar tubuh Wikala.
Namun Wikala tidak menghindari serangan tersebut, aneh nya begitu senjata rahasia itu akan mengenai tubuh satria dari daha itu tiba-tiba senjata itu berbalik menyerang pemilik nya, tak mau ayal kedua dedengkot Alas Mentaok itu berjumpalitan menghindari senjata nya sendiri yg datang lebih cepat dari sewaktu mereka lepas kan tadi.
Akhir nya Ki Cagak Warangan yg telah mampu berdiri itu menyerang Wikala untuk mengurangi tekanan terhadap kedua teman nya itu.
Terjadi lah pertarungan tiga lawan satu, Iblis penebar maut itu brtarung ber pasangan saling mengisi, jika salah seorang menyerang maka yg yg menanti kemudian ganti menyerang saling susul menyusul.
Sementara itu penghuni padeopakan Nusakambangan segera mengelilingi lingakaran pertarungan itu guna menjaga kemungkinan melarikan diri pemimpin rampok Alas Mentaok itu.
Di dalam lingakaran pertarungan itu sendiri sudah semakin jelas bahwa ketiga Iblis penebar maut itu memang bukan lawan yg sepadan bagi Wikala, entah sudah berapa kali pukulan dan tendangan dari Wikala mendarat di tubuh ketiga nya.
" Apakah kalian tidak mau menyerah ,?" tanya Wikala sesaat ia menghenti kan serangan nya.
" Puihh, pantang bagi Iblis penebar maut asal Mentaok untuk menyerah!" ucap Ki Cagak Warangan yg nafas nya seolah ber kejaran dari lobang hidung nya dan dada nya nampak turun naik tidak beraturan, ia terengah-engah.
" Baik lah tawaran ku tidak untuk kedua kali nya,!" ucap Wikala yg kembali menyerang.
Ketika matahari tepat di atas kepala, dengan satu serangan yg cepat sangat sulit untuk di ikuti oleh mata, sebuah tendangan mendarat telak di dada Ki Cagak Warangan, Kepala Rampok asal Mentaok itu langsung terlempar jauh dan kemudian jatuh tertelungkup, dada nya laksana tertimpa batu gunung yg sangat besar, nampak tubuh Ki Cagak Warangan itu mengejang sebentar kemudian diam untuk selama nya.
Melihat teman nya telah ter kapar, Ki Suda Kampil menyerang membabi buta dengan golok nya , ia sudah yakin tidak akan mampu mengalah kan lawan nya itu, jadi semacam upaya bunuh diri, demikian pula dengan Ki Lawa Ireng segera membantu Ki Suda Kampil dengan membabi buta, sehingga tingkah kedua nya terlihat lucu seperti orang yg tidak memiliki ilmu silat saja, membuat Wikala berteriak lagi, ' Menyerah lah tidak ada guna nya kalian melawan,!" terdengar kata-kata Wikala meminta mereka berdua untuk menyerah.
Dasar kepala batu keduanya malah menjawab, " Kau lah sebaik nya yg menyerah biar kami mudah memenggal batang leher mu,!" jawab Ki Suda Kampil.
__ADS_1
" Tidak ada kata menyerah bagi Iblis penebar maut,!" sambung Ki Lawa Ireng menimpali kata-kata Ki Suda Kampil.
" Dasar kepala batu, kalian memang mencari mampus,!" teriak Wikala kemudian memberikan pukulan terhadap kedua nya , hingga akhir nya menjatuh kan kedua nya jauh dari Wikala dan dekat dengan para penghuni padeopakan Nusakambangan itu maka tak ayal lagi kedua di bantai oleh para Cantrik Nusakambangan seperti petani memukul tikus di sawah.
Akhir nya kedua Kepala Rampok asal Mentaok itu tewas di tangan para Cantrik Nusakambangan yg nampak nya sangat mendendam . Wikala tidak bisa berbuat apa-apa hanya menyaksi kan kejadian yg miris itu.
Setelah seluruh kawanan rampok dari alas Mentaok itu tewas termasuk ketiga pemimpin nya, Nyai Dewi putrani memerintah kan murid nya untuk mengubur kan mayat nya.
Wikala sendiri mendatangi Nyai Dewi, Tantri , Untari dan Ragini yg terlihat berdiri berjajar.
Setelah dekat ber katalah ia, " Sungguh aku tidak menyangka akan bertemu dengan Nyai Dewi di sini,!" ucap nya.
" Ahh, dengan ku atau dengan angger Tantri,?" tanya Nyai Dewi putrani setengah meledek Wikala itu.
" Ya dengan Tsntri juga aku tidak menyangka dapat bertemu di sini, apa kabar mu,?" tanya nya kepada Tantri.
" Baik ,!" jawab Tantri pendek.
" Namun satu hal yg tidak ku pahami mengapa sampai hati membawa pergi Wiradamar dari sisi ibunda nya, apakah salah anak ku ini,?" tanya Wikala dengan sorot mata tajam ke arah Tantri.
Tantri yg semula amat senang melihat pujaan hati nya itu, tiba-tiba hati nya ter sengat begitu Wikala menyebut nya membawa pergi Wiradamar alias menculik nya.
Segera Tantri menjawab dengan penuh kemarahan," Aku tidak pernah menculik anak mu , sungguh tanya kan sendiri kepada anak mu itu apa sebab ia pergi ,!" ungkap Tantri dengan ber teriak marah .
Tantri kemudian ber lari masuk kedalam padeopakan meninggalkan mereka. Untari kemudian menyusul teman nya itu, karena ia tahu perasaan Tantri saat ini.
Sedang kan Nyai Dewi putrani yg mengetahui duduk permasalahan nya segera menjawab,
" Marilah Ngger kita duduk dulu di pendopo , nanti Nyai jelas kan permasalahan nya, lagian kasihan Wiradamar yg tertidur itu,!" ucap Nyai Dewi putrani.
Kemudian mereka menuju pendopo padepokan itu dan membaring kan Wiradamar yg tertidur pulas.
" Jadi bagaimana cerita yg sesungguh nya Nyai Dewi,?" tanya Wikala penasaran karena tadi ia telah menuduh Tantri yg membawa lari Wiradamar.
" Sebenar nya saat itu kami ingin bertemu dengan angger Larasati, namun di tengah jalan kami bertemu dengan angger Wiradamar yg mengatakan bahwa Larasati telah pergi ,!" ucap Nyai Dewi putrani yg kemudian mencerita kan keseluruhan kejadian mengapa Wiradamar bisa ada di tangan mereka.
Setelah mendengar penuturan dari Nyai Dewi putrani rasa ber salah timbul di hati Wikala yg telah menuduh Tantri melarikan anak nya itu.
Ia pun bergegas meminta maaf kepada Tantri, akan tetapi Tantri tidak mau keluar dari bilik nya untuk menemui Wikala .
__ADS_1
Hati nya terasa sakit mendapatkan tuduhan yg keji yg di lempar kan dari seseorang yg paling di kasihi nya itu. Karena apa pun itu Tantri masih sangat mencintai Wikala teman sepermainan nya sewaktu kecil, namun tuduhan itu amat sulit di terima nya.
-----------------........''''''''''''-------------------------