
Ke sebelas murid Mpu Thula itu bergerak kebelakang istana kepatihan , dengan mudah mereka melompati pagar tembok belakang kepatihan tersebut.
Sesampainya di halaman belakang, terlihat beberapa prajurit yg sedang melakukan Ronda, dengan cepat mereka menyergap mereka, akan tetapi, tiba-tiba mereka telah terkepung. Rupanya Patih Gajah Nata dengan saja membuat perangkap.
" Hehh, kalian semua, menyerahlah,!" ucap Tumenggung Wirana.
" Bagaimana kakang, kita telah terkepung, haruskah kita bertarung,?" tanya Bawon kepada kakak seperguruannya itu.
" Telah terlanjur, lebih baik mati daripada harus lari, !" ucap Rumangsa.
Kembali Tumenggung Wirana memerintah kan mereka untuk menyerah, akan tetapi mereka tetap diam, Tumenggung Wirana yg jengkel segera memerintahkan prajuritnya untuk menangkap .
" Seraaaang, tangkap mereka hidup atau,!" demikian lah perintah Tumenggung Wirana.
Segera saja para prajurit yg mengepung itu menyerang dengan menggunakan senjata tombak dan Pedang.
Tak ayal di halaman belakang kepatihan terjadi pertempuran, antara Kelompok Rumangsa yg berjumlah sebelas orang melawan prajurit Majapahit yg berjumlah ratusan.
Rumangsa mengamuk, dengan senjata tombak ditangan nya dengan senjata itu pula,ia menewaskan Prabhu Rajasawardhana sang SiNAGARA . Dengan cepat banyak prajurit Majapahit yg gugur, melihat tandang Rumangsa yg nggegrisi, Tumenggung Wirana akan turun ke gelanggang pertarungan, namun di cegah oleh Naja Pratanu yg berkata,
" Sebaiknya Tumenggung mengawasi Gerbang depan, siapa tahu mereka akan menyerbu, biarlah orang itu aku yg akan coba menahannnya !" katanya pada Tumenggung Wirana.
" Baiklah Bekel, " ucap Tumenggung Wirana.
Naja Pratanu segera melesat menuju kearah Rumangsa yg bertarung laksana kesurupan menusukkan tombaknya.
Begitu di depan telah ada seorang anak muda yg di kenal nya dengan cepat ia menyerang sambil berkata,
" Kita selesai kan urusan kita yg tertunda dulu,!" kata Rumangsa seraya mematukkan tombak nya kearah dada Pratanu.
Pratanu yg merasa geram melihat sepak terjang murid Mpu Thula itu pun menghindar dan berteriak,
" Hutang nyawa bayar nyawa, heeaaahh, !" kata Pratanu yg berhasil menghindari serangan Rumangsa langsung menyerang balik dengan pedang Naga geni yg di bacokkan kearah belakang leher Rumangsa., Dengan cepat Rumangsa menundukkan kepala nya guna menghindari serangan itu dan balas memberikan tendangan dengan kaki kirinya ke arah lambung Pratanu. Kali ini Pratanu yg harus menggeser posisi tubuhnya untukenghindari serangan itu.
Pertarungan antara keduanya semakin seru mengingat mereka dalam posisi seimbang, tetapi Rumangsa bertanya dalam hatinya apa maksud kata-kata Hutang nyawa bayar nyawa, setelah ia dapat lolos dari serangan Pratanu ia pun berkata,
" Hehh, apa maksud mu, hutang nyawa bayar nyawa," ucap nya.
" Kau Jangan mengelak , kalian bertigakan yg telah membunuh eyang guru resi Mahameru,!" jawab Pratanu.
" Kau apanya si wekaz itu, ?" tanya Rumangsa lagi.
" Aku muridnya, dan kau harus mati di tanganku, " kata Pratanu yg langsung menyerang kembali.
Sementara itu Rumangsa sambil menghindari serangan Pratanu masih sempat mengatakan,
" Bagus, ku kirim sekalian kau menyusul gurumu, " ucapnya sambil memberikan serangan balasan.
Beberapa kali pijaran kembang API akibat benturan dari kedua senjata itu yg mengandung tenaga dalam yg tinggi.
Rumangsa ketika melihat adik seperguruannya , gugur satu persatu mulai keteteran menghadapi Pratanu karena perhatiannya terpecah melihat Bawon bersama beberapa adik seperguruannya yg terdesak hebat.
Kesempatan ini tidak di sia siakan oleh Pratanu dengan di lambari ajian Naga geni , ia kembali menyerang Rumangsa, oleh Rumangsa serangan ini mampu ditahan dengan ajian tapak wisa nya.
Ketika jeritan Bawon yg menyayat hati terdengar oleh Rumangsa, maka ia pun hilang perhatian dengan cepat Rumangsa menuju ke tempat Bawon yg telah gugur itu, sementara Pratanu tetap mengarah kan ajian pamungkasnya ke arah Rumangsa, maka tak ayal lagi , ajian Naga geni tak terbendung lagi menghajar tubuh Rumangsa yg melesat mendekati adiknya itu, sontak saja tubuh Rumangsa terpanggang ajian Naga geni milik Pratanu. Namun memang murid mpu itu sangat tangguh, meskipun telak mendapatkan serangan Ajian Naga geni tetapi ia masih mampu bangkit dan memuntahkan darah segar,
" Hooeeekhh,''
Kemudian Rumangsa duduk dan bersedekap memusatkan nalar budinya kemudian keluar dari bibirnya,
" Ajian tandana rawikara, !' meluncur lah sebuah sinar ke arah Pratanu yg segera mengadunya dengan Ajian Naga geni miliknya,
Benturan kedua Ajian itu membuat kedua nya surut kebelakang, dan yg terparah adalah Rumangsa yg telah terluka dalam, dengan merayap ia berusaha bangkit, sementara Pratanu yg melihat lawannya itu masih bisa duduk, segera melesat memberikan serangan terakhir nya,
" Ajian Naga geni,!" teriaknya sambil membacokkan pedang Naga geni nya hingga memenggal kepala Rumangsa berpisah dari tubuhnya.
Seluruh murid Mpu Thula yg menyusup dari belakang kepatihan itu tewas semuanya.
__ADS_1
Sementara di depan gerbang kepatihan pasukan yg di pimpin oleh Tumenggung Jalakpati dan Jaladara segera mendobrak gerbang yg di jaga oleh pasukan yg di pimpin oleh Tumenggung Reksa sudira dan Tumenggung Wirana,
Prajurit dari kesatuan Tumenggung Reksa sudira adalah pasukan pemanah, dari atas tembok mereka memberikan serangan anak-anak panah kepada pasukan Tumenggung Jalakpati dan Jaladara, akan tetapi pasukan itu telah mengantisipasi dengan pasukan tameng hingga korban di pihak Tumenggung Jalakpati dan Jaladara tidak terlalu banyak.
Ketika gerbang kepatihan akan berhasil di dobrak oleh pasukan itu, maka secara tiba- tiba hadir pasukan yg di pimpin oleh Rangga Rawelu dan Mapanji Garangan wesi dari belakang pasukan Tumenggung Jalakpati dan Jaladara, hingga perhatian dari pasukan itu terpecah, karena harus menghadapi serangan dari belakang nya.
Sementara pasukan yg di dalam secara perlahan keluar untuk menyerah dengan di pimpin oleh Tumenggung Wirana dan Tumenggung Reksa sudira,.
Walhasil pasukan yg membela Rakryan Mantri Kuda langhi terjepit dan terkepung,
di saat seperti itu berkatalah Patih Gajah Nata,
" Menyerah lah kalian, tiada guna kalian melanjutkan pertempuran ini, aku akan memintakan pengampunan kepada Gusti Ratu,!" ucapnya.
" Tidak ada kata menyerah, !" kata Tumenggung Jalakpati berapi-api.
" Sekali lagi kuperingatkan menyerah lah, sebelum kalian di libas habis,!" ucap Patih Gajah Nata lagi.
Akan tetapi Tumenggung Jaladara malah berkata,
" Mukti atau mati, Maju,....!" teriaknya pada pasukannya
Maka pasukan itu pun kembali beradu, dan kali ini, tiada ampun lagi, walaupun pasukan pembela Rakryan Mantri itu terdiri dari pasukan sandiyuda yg biasa bertempur sendiri- sendiri namun kali ini yg di hadapi adalah pasukan yg sangat besar, maka secara pasti pasukan itu terdesak dan puncaknya, ketika terdengar teriakan dari pasukan Patih Gajah Nata,
" Tumenggung Jalakpati tewas, Jalakpati tewas,!"
Teriakan itu menurunkan semangat pasukan Rakryan Mantri itu.
Kemudian di susul teriakan ,
" Tumenggung Jaladara tewas, Tumenggung Jaladara tewas,"
Dan diikuti oleh teriakan Patih Gajah Nata,
" Menyerah lah tidak ada gunanya kalian membela Si Kuda Langhi yg gila kamukten itu,!" jelas Sang Patih.
Para prajurit yg tersisa dari pembela Rakryan Mantri Kuda Langhi itu nampak terdiam dan berhenti bertarung, pikir mereka buat apa melanjutkan peperangan sementara kedua pemimpin nya telah tewas.
Para prajurit dari Tumenggung Wirana segera mengumpulkan senjata tersebut dan yg sebagian lagi segera mengikat dan mengumpulkan prajurit yg menyerah tersebut.
Di waktu yg bersamaan Pasukan Bhayangkara yg di pimpin Jaran Abang terlibat pertempuran dengan pasukan Bhayangkara yg lain yg dipimpin oleh Bekel Lembu Petala dan di bantu oleh Tumenggung singha wara beserta pasukan nya.
Di sela-sela berkecamuknya peperangan itu ketika kedua Senopati nya saling berhadapan berkatalah Bekel Lembu Petala,
" Dalam sejarah Majapahit baru kali ini pasukan pengawal Raja yg akan membunuh Raja yg di kawalnya itu,!"
" Raja kami sekarang adalah Kuda Langhi bukan yg di dalam itu,!" teriak Jaran Abang.
" Kau sudah gila Jaran Abang, kau memihak kepada yg salah, hingga langkahmu pun salah,!" ujar Bekel Lembu Petala kepada bekas bawahan nya itu.
" Tutup mulutmu Petala, atau aku yg harus menutup nya,!" jawab Jaran Abang kalap.
" Silahkan kalau kau mampu, !" ucap Bekel Lembu Petala.
" Jangan salahkan aku jika mulutmu harus kusumpal dengan pedangku ini,!" teriak Jaran Abang seraya membabat kan pedangnya.
Pertarungan pun terjadi antara Keduanya, dengan tatag Bekel Lembu Petala melayani permainan dari Jaran Abang itu.
Semua itu di lihat oleh Wikala dan Arya bor bor, Wikala kemudian berkata ,
" Bor jangan lupa tugasmu, menangkap hidup atau mati si Kuda Langhi itu,!" perintah nya pada Sang murid.
" Siap guru, murid segera melaksanakan nya, !" ucap Arya bor bor yg segera melesat meninggalkan halaman istana menuju rumah Rakryan Mantri Kuda Langhi.
Ditengah tengah pertempuran itu , tiba-tiba di kaget kan oleh suara yg menggema,
" Hahaha,hah, Sudah lama aku ingin menjajal kemampuan Satria dari daha, yg konon katanya ilmunya setinggi langit,!"
__ADS_1
Sesaat suara yg mengandung tenaga dalam tingkat tinggi itu menghilang, secara tiba-tiba mucullah sosok seorang tua yg berpakaian serba hitam menggunakan tongkat di tangannya.
" Heh, Satria dari daha siapkah , engkau menerima tantangan ku,!" katanya pada Wikala yg masih berdiri itu.
" Siapa kah gerangan ki sanak ini, Dan perlu apa dengan ku,!" ucap Wikala.
" Aku ki Jabang wingit, dari alas Roban pembantu setia Mantri Kuda Langhi, dan tujuan ku kemari adalah menginginkan kepalamu untuk ku pancangkan di Alas Roban,!" tukas ki Jabang wingit sesumbar.
" Silahkan ki Wingit jika mampu, !" kata Wikala.
" Baiklah , berhati- hatilah engkau anakmuda,!" ucap Ki Jabang wingit.
Selesai ucapannya, tiba-tiba tongkat kayu yg di tangannya itu telah meluruk lurus ke ulu hati Wikala.
" Heh, gila kecepatan sepeti hantu, saja,!" gumam Wikala menghindari serangan itu.
Lepas dari serangan itu Wikala langsung memberikan tendangan balasan ke arah perut ki Jabang wingit, dan kali Wikala terperangah di buat oleh lelaki tua itu, tanpa terlihat ia mampu menghindari serangan itu dan memindahkan tubuhnya ketempat lain demikian cepatnya, seolah-olaj sepeti bayangan.
Pertarungan keduanya pun berlangsung seru, beberapa kali serangan Wikala menyasar tempat kosong.
Wikala sangat heran akan kemampuan ki Jabang wingit itu. Ketika sebuah pukulan mendarat telak di tubuhnya seolah tidak di rasa kan, seperti menerpa ruang kosong.
" Hayo, keluarkan seluruh kemampuan mu cah bagus,!" kata ki Wingit.
" Biar kau tahu berhadapan dengan siapa, aku penguasa alas Roban, !" ucapnya mengejek lawannya.
Wikala benar-benar kebingungan mengahadapi ki Wingit itu.
Pertarungan kedua nya pun terjadi wuwungan atap -atap istana. Kelebatan kelebatan keduanya semakin menjauh dari tempat semula.
Ketika Wikala mengeluarkan ajian Kalamawa, seberkas cahaya merah membara menghajar tubuh tua Ki Jabang wingit itu akan tetapi , hasilnya, ki Jabang wingit malah tertawa,
" Keluar kan kemampuan mu, hingga ***** darah pun kau tidak bisa mengalahkanku,!" ki Jabang wingit menertawakan.
Wikala berpikir keras untuk mengalahkan lawannya itu, ketika Ki Jabang mengeluarkan ajian nya yg lain dapat membuat dirinya jadi sepuluh, Wikala nampak terdesak di buat oleh sepuluh orang kembaran ki Jabang wingit itu , beberapa kali pukulan nya mendarat telak di tubuh Wikala, namun disinilah kesalahan ki Jabang wingit, ketika ia mengeluarkan ajian nya itu , Wikala segera mengetrapkan sapta panggraitanya dan ia pun terkejut,
" Sungguh tolol aku ini, dia berhasil mempermainkanku,!" katanya dalam hati,.
" Heh, dia menggunakan ajiian Ngerogoh sukma, aku harus menemukan di mana tubuhnya berada, kemungkinan,....!" wikala tidak meneruskan melainkan langsung melesat ke rumah Rakryan Mantri wreda kuda Langhi.
Dan di depan rumah itu ia melihat Arya bor bor telah bertarung dengan Mantri mbalela itu.
Ketika melihat gurunya datang Arya bor bor pun bertanya,
" Mengapa guru tidak mempercayaiku,? tanyanya pada wikala.
" Tidak aku ada keperluan lain , kau lanjutkan lah,!" jelas Wikala.
Rakryan Mantri wreda kuda langhi yg berkata,
" Kalian berdua majulah bersama, hadapi aku calon Maha raja Majapahit, !" katanya menyombongkan diri.
" Ahh, biarlah muridku saja yg menghadapi mu, Raja kepagian, !" ucap Wikala dan terus masuk ke dalam rumah .
Ia terus menuju ke halaman belakang dan di lihatnya lah bahwa ki Jabang wingit masih dalam keadaan duduk bersila.
Wikala langsung menyapanya,
" Heh, ki Wingit permainanmu telah berakhir, cepat lah engkau selesai kan semedimu, atau engkau selamanya akan begitu sampai mati,!"
Tubuh Ki Jabang wingit tetap duduk bersila, ia masih mengetrapkan Ajian Ngerogoh sukma nya.
Wikala tidak senang akan hal itu langsung mberikan peringatan dengan melancarkan ajian kalamawa di samping tubuh itu.
Tiba-tiba tubuh itu pun bergerak.
" Bagus, permainanmu telah selesai terimalah ini , ajian Megasiwa,!" teriak Wikala menghantamkan ajiannya kearah tubuh ki Jabang wingit yg telah berdiri itu.
__ADS_1
Tak ayal lagi tubuh tua itu hancur menjadi debu mengakhiri kehidupan nya.
----------