BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 10 Bhatara purwawisesa bagian ketujuh


__ADS_3

Jauh dari wengker, di istana Timur yaitu Istana Pamotan tengah diadakan suatu pesta atas pernikahan antara Naja Pratanu dengan Larasati Wirani, keduanya pembantu dari penguasa wilayah Timur yg mendapatkan kesempatan melangsungkan pernikahan nya di ndalem Istana mengingat Larasati adalah adik dari Wikala dan ipar dari Ratu Pamotan.


Ketika keduanya telah resmi menjadi suami istri oleh Ratu Pamotan diizinkan untuk tidak bertugas di pamotan selama beberapa waktu , kedua nya kemudian berangkat ke Merbabu guna menemui Mpu Barada di Puncak Merbabu yg sudah sangat sepuh itu .


.*********


Sementara itu di Istana Majapahit sendiri ada ketegangan antara Bhatara purwawisesa dengan adiknya sendiri Bhre Kahuripan yg mulai tersulut akibat banyaknya pejabat Majapahit yg berpindah ke Kahuripan setelah tidak di pakai lagi alias di buang oleh Bhatara purwawisesa.


" Kangmas Purwawisesa, tidak bisa semena - mena membuang abdi dari Ramanda Prabhu Rajasawardhana,!" seru Bhre Kahuripan kepada kakaknya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Ahh, Dimas Kahuripan, wajar saja saya mengembalikan mereka ke Kahuripan karena asal mereka kan dari sana,!" jawab Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Memang asal mereka dari Kahuripan tetapi tidak serta merta yg asalnya dari Kahuripan harus kembali ke Kahuripan, apakah tidak bisa mereka di tempat kan di posisi sesuai dengan kemampuan nya, tidak asal mencampakkan nya,!" ungkap Bhre Kahuripan kesal.


" Lho, saya kan mempunyai abdi selama memimpin Wengker , tentu saja saya akan mengajak mereka kemari guna membantu ku, karena mereka telah dapat kupercayai dan dengan bekas abdi dari Ramanda Prabhu, Ya , sebenarnya masa bhaktinya telah berakhir dengan Ramanda Prabhu mangkat, masih lumayan mereka ku kirim ke Kahuripan , kalau mereka semua kubebas tigaskan Bagaimana,?" tanya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada adiknya itu.


" Sebenarnya saya senang kalau Kangmas memecat mereka tanpa harus mengirim ke Kahuripan , lagipula seperti kata mereka kepadaku , bahwa pembantu Kangmas saat ini kebanyakan dari Pandan alas bukannya dari Wengker,!" jelas Bhre Kahuripan..


Sang Prabhu Girishawardhana Bhatara Hyang Purwawisesa nampak terdiam atas ucpan yg di dengar dari adiknya itu, memang benarlah bahwa saat ini para pemimpin yg berada di Majapahit kebanyakan diisi oleh petinggi dari Pandan alas.


Semuanya tidak bisa di pungkiri , setelah beberapa lama menjadi Raja di Majapahit, Bhatara Purwawisesa seperti Bayang-bayang dari Adipati Pandan alas yg merupakan mertuanya itu , banyak kebijkasanaan Sang Prabhu berdasarkan anjuran dari Adipati Pandan alas termasuk para pengisi Keraton.


Dan ini sudah sangat di ketahui oleh adik-adik Sang Prabhu sendiri mengingat banyak nya pemimpin Majapahit yg berkompeten harus keluar dari Istana Majapahit dan mereka mencari tempat ke daha wilayah kadipaten yg dikuasai oleh adik Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa, di antara nya Kadipaten Kahuripan kadipaten Pamotan dan terakhir kadipaten Daha.


Karena hanya ketiga kadipaten itu yg bebas dari kuku-kuku kekuasaan dari Adipati Pandan alas.


Secara umum Adipati Pandan alas memang seorang Adipati namun secara khusus Adipati Pandan alas adalah seorang Maharaja, Sang Prabhu sendiri pun takut kepada nya. Hingga kebijkasanaan nya berdasarkan keinginan dari Adipati Pandan alas.


Jadi sebab itulah maja Bhre Kahuripan secara langsung menegur kakaknya itu.Akan tetapi Bhatara Purwawisesa seperti merasa bersalah atas sikapnya, namun berat untuk menentang mertuanya itu.


" Jadi Kangmas Prabhu, harus memiliki kemampuan sendiri dalam mengelola kerajaan Majapahit ini jangan tergantung kepada orang lain, hingga pembantu Ramanda Prabhu yg tentunya masih sangat besar jasanya tidak harus terbuang percuma akibat kehadiran orang-orang pandan alas itu,!" ucap Bhre Kahuripan.

__ADS_1


" Dimas Kahuripan benar, memang saya kurang cakap dalam memimpin negeri Majapahit ini, itulah sebabnya dulu saya menolak nya, hingga sampai beberapa lama Majapahit tanpa seorang Raja,!" jawab Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa


" Sebenarnyalah kalau memang percaya pada kemampuan kangmas sendiri, pasti semua tidak akan terjadi , disebabkan kangmas terlalu mempercayai Paman Pandan alas yg dulunya pernah menentang ramanda Prabhu itu, Kangmas harus menemui kesulitan ini," jelas Bhre Kahuripan.


" Baiklah dimas nanti permasalahan ini akan saya bicarakan dengan ibunda Suri, apakah ada jalan keluar terbaik untuk mengatasinya," jawab Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


"Jangan terlalu lama kangmas, nanti kangmas benar-benar tidak bisa keluar dari kesulitan ini, " kata Bhre Kahuripan lagi


Kemudian Bhre Kahuripan meninggalkan istana Majapahit dan kembali ke Kahuripan , ia sebenarnyalah sangat kesal atas sikap yg di tunjukkan oleh kakak nya itu, yg kurang berani mengambil sikap terhadap mertuanya itu.


Namun sebelum kembali ke Kahuripan , ia pun menyempatkan singgah ke daha di tempat adiknya itu ia menceritakan keluh kesah nya atas sikap kakaknya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada Bhre Daha.


Oleh Adipati Daha pernyataan kakaknya itu di benarkan, memang benar, Kangmas Prabhu hanya mendengar ucapan dari Paman Pandan alas , sudah selayaknya kita s laku putra Ramanda Prabhu Rajasawardhana menentukan sikap terhadap paman pandan alas yg pernah menentang kekuasaan dari Ramanda Prabhu kala itu, ucap Bhre Daha.


Aku setuju denganmu , Dimas Daha , bahwa sudah selayaknya kita mengadakan pertemuan untuk menentukan sikap atas Paman Pandan alas itu. Jangan semena-mena terhadap orang lain, jawab Bhre Kahuripan.


Sebaiknya Kangmas selepas dari sini singgah dahulu di pamotan, minta pendapat dari dimas Pamotan, tentang keadaan Majapahit saat ini, terutama tentang Paman Pandan alas, kata Bhre Daha lagi.


****""""


Sementara itu Naja Pratanu dan Larasati tengah berkuda menuju Merbabu guna sowan kepada Mpu Barada , di tengah perjalanan mereka bertemu dengan rombongan dari Adipati Wengker yg baru pulang berburu .


Adalah Naja Pratanu yg mengenal dengan Mahisa Dara sebagai putra dari Rakryan Mantri Kuda Langhi yg sempat Mbalela itu, heran akan keberadaannya di dalam rombongan itu.


" Adi Laras, mengapa Mahisa Dara ada di rombongan dari Adipati Wengker itu,?" tanyanya kepada Larasati.


" Entahlah Kang, mungkin ia telah mengabdi dengan Adipati Wengker yg baru itu," jawab Larasati yg tetap menjalankan kudanya.


Setelah melewati kadipaten Wengker mereka terus menuju kaki gunung Lawu dan singgah di rumah Arya bor bor di desa anon, meskipun rumah itu ditempat I oleh adik dari istri arya bor bor, mereka membawakan Beberapa bahan kebutuhan yg di titipkan oleh istri arya bor bor itu . Dengan senang hati adik ipar Arya bor bor itu menerima kiriman kakak nya.


Setelah dari desa anon mereka melanjutkan perjalanan nya ke Merbabu di wilayah kadipaten Pajang.

__ADS_1


Sesampainya di Merbabu , Mpu Barada sangat terkejut atas kehadiran muridnya itu.


" Maafkan saya , eyang guru sudah terlalu lama saya tidak kemari, sowan menemui eyang guru, karena kangmbok ayu tidak dapat kami tinggalakan,!" ucap Larasati kepada Sang guru.


" Memang demikian lah Ngger, kalau kita telah berada di lingkungan istana, sangat sulit untuk dapat bergerak bebas seperti saat kita masih belum masuk lingkup istana, eyang juga dulu pun pernah merasakan nya,!" jelas Mpu Barada.


" Ada satu rahasia yg telah di ceritakan oleh gurumu kakang wekaz, akan silsilah keturunan mu angger Pratanu,!" kata Mpu Barada kepada Naja Pratanu.


" Rahasia tentang kedua orang tuaku eyang, siapa sebenarnya kedua orangtuaku itu ,?" tanya Pratanu kepada Mpu Barada


" Karena eyang sudah sangat tua dan bersyukur kalian masih ingat dengan orang tua ini, maka rahasia yg telah di ceritakan oleh gurumu itu sebaiknya lah sekarang ku ceritakan kepadamu,!" kata Mpu Barada terdiam sejenak. Ia mengumpulkan ingatan yg telah lama itu, kemudian melanjutkan lagi,


" Bahwa sesungguhnya angger Pratanu masih saudara sepupu dengan angger Larasati karena Eyang kalian adalah sama yaitu kakang Narapati,!" jelas Mpu Barada lagi.


" Jadi kami berdua masih saudara sepupu,?" tanya Larasati dan Pratanu bersamaan.


" Benar kalian saudara sepupu, kalau Larasati merupakan anak dari Wirapati dan merupakan anak dari Kangmas Narapati, sedangkan Pratanu adalah anak dari Gajah paniluh yg juga anak dari Kangmas Narapati, sementara ibumu ngger meningggal setelah melahirkan dirimu,!" jelas Mpu Barada.


" Sesungguhnya kakang wekaz amat besar jasanya terhadap mu, mulai menyelamatkan ibumu dari istana pamotan kala itu, sampai membesarkanmu angger Pratanu karena di tinggal mati oleh ibumu itu,!" kata Mpu Barada lagi.


" Jadi Romo dan Paman Wirapati adalah kakak adik dengan berlainan ibu,?" tanya Pratanu kepada Mpu Barada.


" Benar, kalau ibu dari Wirapati adalah saudari Prabhu Wikramawardhana, sedangkan ibu dari romo mu adalah Putri Pamotan, !" jelas Mpu Barada .


" Nah, sesungguhnya rahasia ini telah kuceritakan dan kangmas Wekaz pun berharap kalian dapat menikah seperti yg terjadi saat ini, tentu ia di alam kelanggengan merasa senang dengan kalian berdua yg telah dianggapnya seperti anaknya sendiri,!" Mpu Barada mengakhiri ceritanya.


" Sungguh saya sangat berterimakasih kepada eyang Resi, dan terimakasih juga eyang Barada telah menceritakan kisah orangtua saya,!" ucap Pratanu kepada Mpu Barada.


Naja Pratanu dan Larasati lebih sepekan berada di puncak Merbabu. Karena keinginan nya untuk bertemu dengan Tantri yg sedang di nusakambangan , maka keduanya pun melanjutkan perjalanan nya menuju selatan tepatnya ke Nusakambangan.


------------

__ADS_1


__ADS_2