
Keesokan hari nya setelah terang tanah ,keluar lah seekor kuda yg besar dan tunggangi oleh Mahisa Dara , keluar dari gerbang kota Kadipaten Pandan Alas menuju selatan ke arah wengker.
Sebenar nya jarak antara Wengker dan Pandan Alas tidak terlalu jauh sekira setengah hari perjalanan, dan apabila di lakukan dengan menunggangi kuda mungkin ketika matahari menggatal kan kulit telah sampai di Wengker.
Akan tetapi untuk sampai ke sana biasa orang-orang ber jalan memutar menghindari alas selentuk yg tidak ter lalu luas tetapi banyak kabar yg menyebut kan bahwa hutan itu di huni seorang begal sakti yg telah banyak memakan korban.
Mahisa Dara dengan cepat nya melalui jalan mengarah ke hutan selentuk.
Ketika mentari mulai memanas kan persada, di saat mulai menggatal kan kulit sampai lah menantu dari Prabhu Suraprabhawa itu di alas selentuk.
Ketika ia memasuki lebih dalam hutan itu , ia di kejut kan dengan muncul nya seseorang yg mencegat nya.
" Hehh, tinggal kan seluruh harta benda mu, termasuk kuda itu, kalau nyawa mu ingin selamat,!" ucap orang itu tanpa basa basi.
Dari perawakan yg tinggi besar, di wajah nya di hiasi dengan cambang lebat dan panjang juga di bawah hidung nya ada kumis yg melintang dan besar.
Pokok nya bagi siapa saja yg melihat nya akan segera ketakutan, ya ia adalah begal alas selentuk yg ber nama Gagak Mantruk.
Lama Mahisa Dara menatap wajah dari Gagak Mantruk itu, seakan ingin memasti kan siapa orang nya yg ber nama Gagak Mantruk itu.
Setelah itu Mahisa Dara baru ber kata dari atas pungggung kuda nya,
" Aku tidak punya apa-apa, hanya kuda ini saja lah milik ku, dan masih ingin Aku gunakan ke Kota Wengker , Ku harap ki sanak sudi lah memberi kan aku untuk lewat,!" ucap nya.
" Hehhh, Kau tidak usah banyak bicara, Kulihat dari pakaian dan kuda mu itu, engkau pasti lah seorang yg kaya atau malah pembesar kerajaan Majapahit ini, dan aku sudah lama tidak dapat korban sudah beberapa purnama ini, sehingga engkau harus menuruti perintah ku jika ingin selamat, cepat kau serah kan kuda keris dan ikat pinggang mu itu,!" teriak Gagak Mantruk.
" Kalau aku tidak mau , apa yg akan kau lakukan ki sanak,?'' tanya Mahisa Dara.
" Engkau terpaksa harus ku bunuh di tempat ini, maka cepat lah segera kau tinggal kan barang-barang yg telah kusebut tadi,!" perintah Gagak Mantruk dengan keras.
__ADS_1
" Baik lah ki sanak, aku tetap menolak permintaan mu apa pun yg terjadi,!" jawab Mahisa Dara dengan dingin.
" Hehh, bocah tidak tidak tahu di untung, terima ini,!'' kata begal Gagak Mantruk, sehabis ucapan begal alas selentuk itu, melesat lah tiga buah senjata rahasia berupa pisau-pisau kecil mengarah ke dada Mahisa Dara.
" Swiiing, suiiing, seiiiing,!" ter dengar senjata itu meluruk ke arah Mahisa Dara.
Menantu dari Prabhu Suraprabhawa itu kemudian melompat dengan ber salto dua kali untuk menghindarj serangan itu kemudian menjejak kan kaki nya di tanah di hadapan begal Gagak Mantruk itu.
" Hehh, boleh juga , mungkin karena engkau memiliki kepandaian maka nya berani lewat alas selentuk ini,!" ucap Gagak Mantruk dengan senyum mengejek.
" Tidak juga ki sanak , sebenar nya Aku memerlu kan untuk cepat sampai ke Wengker, karena ada urusan Ku disana,!" jawab Mahisa Dara dengan tetap dingin.
" Kau belum tahu Aku bocah, aku adalah Gagak Mantruk penguasa alas selentuk ini, barang siapa melewati tempat ini harus tunduk kepada perintah ku kalau tidak nyawa taruhan nya,!" ucap Gagak Mantruk sambil mengisyarat jari nya yg menggorok leher.
" Ter serah apa kata mu, Aku Mahisa Dara tidak suka di perintah , jangan kan engkau cuma seorang begal, men dengar perintah Prabhu Purwawisesa pun aku enggan menuruti nya,!" jawab Mahisa Dara yg membuat panas telinga dari Begal Gagak Mantruk itu.
Ia kemudian menyerang Mahisa Dara dengan golok nya,
Mahisa Dara hanya menunduk kan kepala nya menghindari serangan itu, golok dari Gagak Mantruk hanya menerpa tempat yg kosong.
Melihat lawan mampu mengindari serangan nya, dengan cepat Gagak Mantruk memberikan tendangan memutar yg mengarah kepala dari Mahisa Dara.
Mahisa Dara segera menepis tendangan itu menggunakan tangan kiri nya terjadi lah benturan kekuatan untuk pertama kali nya.
Terlihat tubuh Mahisa ber geser dari tempat nya semula, sementara Gagak Mantruk langsung memburu dengan berusaha mem bacok kan golok nya ke atas kepala dari lawan nya itu.
" Hiyyah,!" teriak Gagak Mantruk.
Kelebatan golok milik dari begal alas selentuk itu dengan sangat cepat menuju kepala dari Mahisa Dara.
__ADS_1
Tapi ter nyata untuk kedua kali nya begal alas selentuk itu harus kecele, karena tubuh Mahisa Dara telah melenting ke udara dan sudah pun mencabut pedang nya, ketika tubuh dari menantu Prabhu Suraprabhawa itu meluruk turun dengan deras nya dengan pedang ter hunus mengarah ke tubuh Gagak Mantruk, mau tidak mau begal alas selentuk itu ter paksa memapasi serangan itu dengan golok nya karena ia sudah ter lambat untuk menghindar.
" Trankk,!" bunyi kedua senjata itu beradu dan menimbul kan percikan api.
Kembali tubuh Mahisa Dara bersalto tiga kali ke belakang setelah beradu senjata, ia tidak ingin mendapat kan serangan lanjutan, begitu kaki nya men jejak kan tanah segera ia mengemposi tenaga dalam nya untuk menyerang kembali begal alas selentuk, dengan tusukan pedang ke arah dada.
Kali ini tampak begal alas selentuk itu yg kerepotan mengindari serangan yg cepat dari Mahisa Dara itu.
Setelah ber hasil melompat ke samping , kemudian Gagak Mantruk terlihat me malang kan golok nya di depan dada guna menanti serangan lanjutan.
Namun Mahisa Dara tidak menerus kan serangan nya itu. Ia pun nampak ber diri dengan pedang ter hunus.
" Boleh juga ilmumu bocah, mungkin kau merasa cukup bekal untuk ber hadapan dengan ku,!" ujar Gagak Mantruk begal alas selentuk itu.
" Ahh tidak juga ki sanak, hanya aku akan mem pertahan kan apa yg telah jadi milik ku, itu saja,!" jawab Mahisa Dara.
" Akan tetapi engkau jangan senang dulu, kau terima ini, jurus golok seribu ku,!" teriak Gagak Mantruk yg memutar mutar golok nya makin lama makin cepat sehingga terlihat golok itu berubah jadi banyak.
Gagak Mantruk menyerang Mahisa Dara dengan cepat tebasan ke kaki disusul kemudian tebasan mengarah tangan, kemudian tebasan golok itu mengarah leher, Mahisa Dara ter paksa mengerah kan ilmu meringan kan tubuh nya pada tataran ter tinggi untuk menghindari serangan itu.
Tidak mau hanya jadi korban serangan suatu ketika setelah ber hasil menghindari serangan dari Gagak Mantruk itu, ia kemudian ganti menyerang dengan cepat mengguna kan pedang nya melibat begal alas selentuk itu dengan trengginas, ter lihat Gagak Mantruk harus ber tahan dari serangan itu.
Jual beli serangan terjadi di pertarungan kali ini, perlahan namun pasti mereka mulai merambah ilmu ter tinggi masing-masing.
Ketika sebuah pukulan tangan kiri dari Gagak Mantruk men darat telak di pundak Mahisa Dara, dan berhasil men jatuh kan menantu Prabhu Suraprabhawa itu, namun dengan cepat pula ia bangkit sambil menusuk kan pedang nya mengarah perut, serangan itu berhasil di hindari penguasa alas selentuk itu, tetapi tendangan yg di lambari ajian tapak Wisa mendarat di pinggang dari Begal Gagak Mantruk tersebut hingga mendorong nya surut ke samping , ter lihat tubuh dari Begal selentuk goyah meski tidak ter jatuh, kesempatan itu tidak di sia sia kan oleh Mahisa Dara, ia segera membabat kan pedang nya mengarah perut, tetapi Gagak Mantruk pun tidak kalah sigap nya meski dalam kondisi goyah ia berusaha memalang kan golok nya menahan serangan itu.
" Trannnk,," kembali kedua senjata itu beradu.
Dan kedua dua nya melompat mundur ke belakang .
__ADS_1
Tampak nya pertarungan kali ini seimbang meski Mahisa Dara agak kalah dalam hal tenaga dalam ter bukti ia sampai ter jatuh sementara Gagak Mantruk tidak.