BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 5: Jodoh KeRATON bagian keenam


__ADS_3

Dengan cepat Wikala melesat mengejar Rumangsa yg telah melarikan Mpu Thula.


Namun karena Wikala tadi sempat tertahan oleh Barong bagong, maka ia pun kehilangan jejak.


Sementara itu Rumangsa yg ketakutan atas keselamatan gurunya , berlari seperti kesetanan, terus dan terus berlari, seharian penuh ia berlari, sampai dirasanya aman tidak di kejar oleh Wikala. Ia pun menurunkan tubuh gurunya di sebuah sendang di pinggir hutan, ia memeriksa tubuh Mpu Thula.


Nadinya masih berdenyut meskipun lemah nyaris terhenti.


Dengan cepat Rumangsa mengambil air, di bersihkannya wajah Mpu Thula dan setetes demi setetes ,air itu diminumkannya.Sesaaat kemudian sambil duduk bersila Rumangsa menyalurkan Hawa murni ke tubuh gurunya. Perlahan namun pasti tubuh Mpu Thula mulai bernafas.Rumangsa terlihat senang, berkatalah ia


" Guru, guru, bangun guru, !" ucapnya pelan sambil menggoyangkan tubuh Sang guru.


Namun tubuh Mpu Thula tetap diam walaupun nafasnya berjalan meski tidak teratur.


Wikala yg kehilangan jejak Rumangsa akhirnya kembali ke Thanda, sesampainya di sana di perintah kannya pengawal kademangan untuk menguburkan mayat Barong bagong.


Sementara ia masuk ke dalam biliknya meletakkan tombak Naga tirta milik Sang Resi mahameru.


Waktu berlalu demikian cepatnya, tak terasa sudah satu purnama , ketika rombongan Arya bor bor dan kelurganya beserta Larasati tiba.


" Maafkan murid guru, yg tidak mampu menemukan Tantri,!" ucap arya bor bor pertama kali bertemu dengan Wikala.


" Tidak mengapa bor, namun adakah jejak yg bisa kita telusuri, !" jawab Wikala.


" Mungkin ada, guru, sesaat setelah dari sini aku menyambangi kawanan rampok di gunung klotok pimpinan, ki kentus, namun kulihat disana, tempatnya telah hancur dan ia pun telah tewas,!" jelas arya bor bor sambil menarik nafas.


" Tetapi salah seorang anak buahnya memang menyebutkan bahwa mereka membawa seorang gadis,...,!" nampak arya bor bor terdiam,


" Hahhh, siapa gadis nya, yg mereka bawa itu,?" tanya Wikala penuh harapan.


" Gadis itu sesuai dengan guru sebutkan ciri-cirinya, dan mereka menyebutkan mengambilnya dari sini,!" terang Arya bor bor lagi .


" Terus bor, bagaimana keadaan nya,?" tanya Wikala. khawatir.


" Menurut mereka ada dua orang perempuan sakti yg menolong nya, setelah membunuh ki kentus dan beberapa orang anak buahnya,!" tutur Arya bor bor.


" Jadi menurut mu, siapa orangnya yg telah menolong Tantri itu, Bor ?" tanya Wikala.


" Entahlah guru, ada kemungkinan Nyai Dewi putrani dari nusakambangan,!" jawab arya bor bor.


" Alasannya apa bor, engkau dapat menyimpulkan bahwa eyang dewi yg telah menolong Tantri,?" tanya Wikala lagi.


" Alasannya, bahwa yg membunuh ki kentus itu , Pendekar menggunakan senjata selendang,!" ucap arya bor bor.


" Baiklah, nanti setelah urusanku selesai, kita sambangi eyang Dewi,!" ucap Wikala, seraya menyuruh arya bor bor beristrahat.


Sedangkan Larasati , setelah melepaskan rindunya kepada biyungnya, ia pun mendatangi kakaknya, yg sedang sibuk memberikan petunjuk kepada para pengawal kademangan.

__ADS_1


" Kakang, sungguh teganya menyakiti hati Tantri, aku tidak meyangka kakang bisa sekejam itu,!" ucap Larasati dengan nada kecewa.


" Maafkan kakang mu Ras, sungguh tiada niatan untuk menyakiti Tantri , mungkin hyang widhi wasa menentukan lain,!" ucap Wikala pelan.


" Apakah kakang tidak bisa menolaknya,?" tanya Larasati geram.


" Jangan kan kakang, Romo sendiri pun tidak sanggup, apalagi kakangmu ini!" jawab Wikala.


" Kakang harus dapat menemukan Tantri, dan membawa kembali pulang, kasihan ki demang,!" ujar Larasati lirih.


" Setelah semuanya selesai , kakang berjanji akan membawa kembali pulang Tantri,!" ucap Wikala mantap.


******


Pada saat itu , di lain tempat tepatnya di Puncak semeru, Naja pratanu sedang di pusara Resi Begawan mahameru, setelah menyelesaikan ilmu ajian Naga geni yg di dapatnya di pertapaan Resi mahameru.


" Guru, siapa pun yg telah membunuh guru pasti akan murid cari, hutang nyawa bayar nyawa,!" berkata Naja pratanu.


Selesai mendatangi pusara Resi Begawan mahameru maka Pratanu bergerak turun dari semeru, ia bertekad untuk mencari pembunuh gurunya itu.


Apakah aku ke Pamotan dulu untuk memberitahukan kepada kakang Rapala dan Rapada atas kematian guru, pikir Naja pratanu dalam hati nya.


Ataukah aku ke Thanda guna menemui kakang Radeksa dan minta petunjuk, kira-kira siapakah yg telah membunuh guru.


Setelah menimbang- nimbang akhirnya Naja pratanu memutuskan ke desa thanda guna menemui Wikala.


Dua hari perjalanan, sampailah Pratanu di desa thanda, ia terheran-heran atas kesibukan para warga desa yg sangat meningkat seperti hendak mengadakan hajatan besar.


" Hehh, kakang Pratanu, apa Khabar,!" teriak Larasati dari belakang.


" Ehh, Laras,! " jawab Pratanu terkejut.


" Kakang darimana saja, kudengar kakang Radeksa mencari kakang ke Semeru namun ,tidak bertemu,?" tanya Larasati.


" Gak,pergi kemana , tetap di semeru, oh ya , kakang Radeksa mencariku,?" ganti Pratanu bertanya.


Kepala Larasati mengangguk, kemudian ia mengajak Pratanu menemui Wikala.


" Kang, ada kakang Pratanu , ini,!" teriak Larasati di depan pintu bilik Wikala.


" Ehh, iya tunggu sebentar, " ucap Wikala sambil membukakan pintu.


"Apa Khabar kakang, !" ucap Pratanu setelah Wikala keluar.


" Baik, dan kau sendiri bagaimana, sewaktu aku datang ke Semeru engkau tidak ada," ucap Wikala.


Sesaat Pratanu terdiam karena dilihatnya di sudut bilik Wikala tersampir sebuah tombak, ya tombak mendiang gurunya, Resi Begawan mahameru, tombak Naga tirta.

__ADS_1


" Ditanya kok malah bengong,!" celetuk Larasati.


" Ada kok, Aku ada di semeru tidak kemana-mana,!" kata Pratanu tergagap.


" Oh ya kang, aku memerlukan bicara empat mata , dengan kakang," ujar nya kemudian kepada Wikala.


" Baiklah, di mana tempatnya,?" tanya Wikala.


" Terserah, kakang, " jawab Pratanu


" Jadi ada rahasia yg tidak boleh aku tahu,!" ucap Larasati segera berlalu dari situ.


" Bagaimana Kang, kalau kita ke ujung desa thanda," kata Pratanu.


" Baiklah, " kata Wikala.


Kedua nya kemudian berjalan ke ujung desa thanda mereka melewati persawahan dan tiba di tepi hutan.


Berkatalah Pratanu,


" Aku tidak menyangka kakang sekejam itu terhadap eyang guru ," ujarnya dengan nada meninggi.


" Apa maksud mu, Pratanu,?" tanya Wikala.


" Apa salah eyang guru terhadap kakang, atau kakang ingin menjadi jago nomor satu di bawah kolong langit ini,!" teriak Pratanu yg emosi mulai meluap.


" Pratanu ,setan apa yg telah merasukimu, bicara yg jelas jangan ngawur,!" ucap Wikala yg mulai panas, karena ia tidak tahu duduk permasalahannya.


" Kakang kan, yg telah membunuh eyang guru, hutang nyawa bayar nyawa, " seru Pratanu langsung mengeluarkan pedang Naga geni.


" Tunggu dulu, apakah maksudmu , aku yg telah membunuh eyang Resi," tanya Wikala.


" Ahh, tak perlu banyak bacot, terima serangan,!" kata Pratanu langsung membacokkan pedangnya.


Wikala menghindari serangan itu dengan menarik kakinya ke belakang.


Merasa serangannya luput , Pratanu kembali melakukan tendangan di sertai dengan tusukan yg cepat. Di serang dengan beruntun Wikala berulangkali harus menghindari, ia merasa tiada artinya meladeni Pratanu, ketika Wikala ingin meninggalkan tempat itu, ia di kejutkan oleh serangan Pratanu yg sangat dahsyatnya, hampir mengenai dirinya, ya Pratanu mengeluarkan ajian Naga geni yg baru di pelajarinya di lereng semeru. Gila, pikir Wikala , cahaya merah yg menahannya itu menyasar sebuah batu besar dan langsung hancur berkeping-keping.


"Apakah kau sudah gila, Pratanu engkau memang ingin membunuh ku, " ucap Wikala seraya bersiap dan menghadap kearah Pratanu.


Kedua anak muda itu saling berhadapan dengan mempersiapkan ajian masing-masing.Wikala segera menyiapkan ajian kalamawanya, karena melihat ilmu Pratanu sangat tinggi. Sedangkan Pratanu menyadari yg di lawannya kali ini adalah Satria dari Daha, maka iapun mengeluarkan ajian, Naga geni dengan pedang yg teracung.


Disaat- saat ketegangan di antara keduanya benar-benar pada puncaknya.Berkatalah Wikala," Apa sebabnya engkau menuduhku membunuh eyang Resi,". Nampak Pratanu terdiam sejenak kemudian berkata," Kulihat tombak Naga tirta tersampir di bilik mu, bukankah itu bukti bahwa engkau lah yg telah membunuh eyang guru, oleh sebab itu maka engkau pun harus mati," tangan Pratanu yg menggenggam Pedang Naga geni sudah terangkat keatas.


" Tunggu dulu, kalau masalah tombak Naga tirta mengapa bisa berada di tanganku, aku bisa jelaskan," ujar Wikala


" Aku tidak butuh penjelasanmu,!" kata Pratanu langsung memberikan serangan , segera ajian Naga geni menderu menerjang Wikala, namun Wikala yg sedari tadi telah siap segera mengadunya dengan ajian kalamawa, sesaat kemudian kedua ilmu itu beradu,

__ADS_1


" Dhuuummb, Dhuaaar," bunyi ledakan yg di hasilkan kedua ajian itu.Disertai pijaran api dan asap.


Wikala terdorong surut lima langkah kebelakang, sedangkan Pratanu jatuh terhempas, dan tergeletak , ia pun pingsan.Melihat hal itu segera Wikala mendekatinya dan memeriksa tubuh Pratanu, setelah memberikan totokan, maka membawa tubuh Pratanu di kembali ke rumah nya.


__ADS_2