
" Memang setiap yg kita lakukan pasti ada baik dan buruk nya, ter masuk sebagai seorang prajurit, kalau tidak membunuh ya di bunuh, itu adalah hal yg lumrah dalam suatu peperangan,!" kata Mpu Thanda menasehati Senopati Naja Pratanu sang menantu.
" Akan tetapi seolah ada penyesalan yg timbul setelah nya, Romo,!" jelas Senopati Naja Pratanu.
" Yahh, selaku manusia biasa pun itu adalah hal yg wajar, setiap kali kita melakukan pembunuhan akan timbul penyesalan jika kita memang manusia normal, entah kalau kita sudah tidak normal lagi,!" ujar Mpu Thanda lagi.
Ketika makan malam telah siap di saji kan, maka mereka bertiga dengan biyung pun menyantap sajian itu.
Setelah selesai mereka pun melanjut kan perbincangan ringan tentang keadaan Majapahit sekarang ini.
" Bagaimana menurut Angger Pratanu, apakah Kangmas mu Radeksa yg akan memimpin negeri Majapahit ini?" tanya Mpu Thanda kepada menantu nya itu.
" Nampak nya demikian, Romo, para Adipati yg ikut penyerangan ke kotaraja Majapahit itu sepakat mendaulat Kangmas Radeksa untuk menjadi Raja Majapahit ini termasuk juga Gusti Adipati Daha,!" jawab Senopati Naja Pratanu.
" Kalau demikian keadaan nya, mudah mudahan, anak ku Radeksa arya Wikala mampu dan berlaku bijaksana dalam memimpin negeri Majapahit ini, !" tutur Mpu Thanda.
" Mudah-mudahan, Romo," kata Senopati Naja Pratanu.
" Dan tugas angger Pratanu pun semakin berat dengan duduk nya angger Radeksa jadi Raja Majapahit ini," kata Mpu Thanda.
" Makin berat, Romo,?" tanya Senopati Naja Pratanu.
" Ya, sebagai orang kepercayaan dari Angger Radeksa, angger Pratanu pun merupa kan saudara dekat dari nya, jadi tingkah laku dan sepak terjang angger Pratanu akan di kait kan dengan angger Radeksa sebagai penguasa di Kerajaan Majapahit ini,!" jelas Mpu Thanda.
Naja Pratanu tampak mendengar kan dengan seksama apa yg telah di ucap kan oleh Mpu Thanda, mertua nya itu.
" Mudah-mudahan Romo, Pratanu sanggup melaksana kan perintah dan nasehat Romo itu, sehingga tidak akan membuat malu keluarga,!" ujar Senopati Naja Pratanu.
*********
Sementara di sebuah hutan di daerah Kadipaten Pandan Alas, nampak sebuah rombongan kecil yg tengah ber sembunyi mereka adalah Rombongan keluarga dari Prabhu Suraprabhawa yg melari kan diri itu.
Nampak di sana ada Mahisa Dara dan istri nya. Sementara Pemimpin pengawal nya adalah Tumenggung Wulung ireng orang kepercayaan dari Mahisa Dara.
" Kangmas Dara, diajeng tidak rela atas kematian Ramanda Prabhu, Kangmas harus membalas kannya dengan membunuh Adipati Pamotan itu,!" ucap Putri Nawang Sekar dengan mata yg memerah karena terus menerus menangis.
__ADS_1
Anak siapa lah yg terima dengan kematian orang tua nya dengan di bunuh meski pun orang tua itu sejahat apa pun ia, namun di mata keluarga nya tentu ia orang yg di hormati dan sangat di kasihi.
Untuk mereda kan kemarahan istri nya Itu maka maka Mahisa Dara segera membujuk sang istri dengan berkata,
" Apa pun itu diajeng, kangmas pasti akan membalas kan sakit hati diajeng, karena sakit di hati berarti sakit pula di hati kangmas, percaya lah pada Kangmas mu ini, diajeng,!"
" Benar kan Kangmas akan melaku kannya bukan sekedar hanya untuk menenang kan hati diajeng saja, ber janji lah Kangmas Dara, akan melakukan nya,!" pinta Putri Nawang Sekar itu.
" Benar diajeng, Kangmas ber sumpah akan membalas kan kematian dari Ramanda Prabhu Suraprabhawa itu, !'' kata Mahisa Dara yg langsung men dekap istri nya itu dalam pelukan nya.
Cukup lama mereka ber pelukan sampai tangis Putri Nawang Sekar mereda.
Sedang kan di sudut tempat itu, ter lihat ibunda ratu tengah memeluk lutut nya, sudah banyak lecet pada kaki istri dari Prabhu Suraprabhawa itu.
Karena sebagai istri penguasa Majapahit, ibunda Ratu tidak pernah melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki, kalau tidak mengguna kan tandu pasti ia mengguna kan kereta ketika harus keluar dari istana Majapahit itu.
Namun kali ini ia sudah ber jalan cukup jauh sampai ke wilayah kadipaten Pandan Alas yg hampir tiga hari jika di lakukan dengan ber jalan kaki.
Sehingga kaki Sang Ratu harus ter luka dan lecet -lecet.
" Bagai mana, Gusti Pangeran apakah kita akan ber tahan di sini terus atau pindah ke tempat lain,?" tanya Tumenggung Wulung ireng kepada Mahisa Dara.
" Ku kira sebaik nya esok kita terus menyingkir ke Wengker untuk mengjindari para prajurit sandi Pamotan itu, dan ber hubungan lah dengan prajurit Wengker yg masih setia kepada Kangmas Wengker, agar kita dapat ber sembunyi di tempat itu,!" jelas Mahisa Dara.
" Baik Gusti pangeran, kami akan tetap berjaga di tempat ini sampai esok hari dan selanjut nya, kita akan bergerak setelah esok hari,!" jawarb Tumenggung Wulung ireng.
" Secepat nya kita menjauhi Kotaraja Majapahit ini dan berusaha untuk tetap melakukan perlawanan jika nanti nya kita memiliki pasukan yg kuat, !" kata Mahisa Dara.
" Kangmas , mengapa Kangmas meninggal kan Ramanda Prabhu,?" tanya Putri Nawang Sekar .
" Bukan nya meninggal kan Ramanda Prabhu, tetapi diajeng kan tahu sendiri bahwa, Ramanda Prabhu sendiri lah yg tidak mau untuk di ajak menyingkir dari Kotaraja dengan alasan ia akan mempertahan kan Kotaraja Majapahit dari serbuan dari Pamotan itu, sementara seluruh senopati Majapahit telah gugur seluruh nya kecuali Kangmas,!" jawab Mahisa Dara.
" Akan tetapi Kangmas tidak mau memaksa atau setidak nya menolong Ramanda Prabhu ketika mereka sedang di kepung para prajurit Pamotan itu, dan menyebab kan tewas nya Ramanda Prabhu,!" kata Putri Nawang Sekar sambil menangis
" Mana mungkin Kangmas berani memaksa Ramanda Prabhu, deksura rasa nya, kecuali ibunda Ratu atau diri mu sendiri yg melakukan nya,!" jawab Mahisa Dara atas pertanyaan dari istri nya Itu.
__ADS_1
Menantu dari Prabhu Suraprabhawa itu kemudian melanjut kan kata-kata nya lagi.
" Dan ketika Ramanda Prabhu lagi di serang oleh para prajurit Pamotan mengapa Kangmas tidak mau menolong Ramanda Prabhu, itu sama saja mengantar kan nyawa, jika kita semua tewas siapa lagi yg akan menuntut balas atas kematian Ramanda Prabhu itu dan juga sakit hati kita semua, karena Kangmas Wengker, Kangmas Pandan Alas telah tewas, dan jika kita juga tewas maka dengan leluasa lah anak dusun itu menegak kan keinginan nya tanpa ada yg menghalangi nya,!" jelas Mahisa Dara kepada istri nya itu.
" Akan tetapi sampai kapan kita jadi buronan yg paling di cari di wilayah Majapahit ini, dan kepada siapa kita akan memohon perlindungan dan bantuan,!" kata Putri Nawang Sekar lagi.
" Ah, diajeng , selama nyawa masih di kandung badan, kita masih punya kesempatan , untuk membalas kan dendam dan sakit hati, masalah siapa nanti yg akan mampu menolong kita, itu perkara yg lain, nanti kita pikir kan, diajeng,!" jelas Mahisa Dara.
Sampai menjelang pagi Rombongan itu sangat kesulitan untuk memejamkan mata, mereka srnantiasa berjaga-jaga dari kemungkinan ketahuan dari para prajurit Pamotan.
Dan besok hari nya, setelah matahari mulai merangkak naik, perlahan-lahan rombongan itu ber gerak meninggal kan tempat itu , mereka melalui jalan -jalan yg sangat jarang di lalui orang.
Mereka mendekati kadipaten Wengker, akan tetapi mereka tidak berani masuk ke dalam kota kadipaten, mereka hanya tinggal di hutan dekat kota kadipaten Wengker yaitu hutan per buruan yg biasa dilakukan untuk ber buru oleh Adipati Wengker dan di tempat itu pula lah , Mahisa Dara dan Putri Nawang Sekar memadu kasih.
Sejenak kedua nya ter kenang masa -masa indah itu sampai dengan kedatangan Rara Tantri yg kala itu masih tunangan dari Mahisa Dara.
Lamunan mereka berdua buyar setelah Tumenggung Wulung ireng datang ke tempat itu dan ber kata,
" Gusti Pangeran dan Gusti Putri , masih banyak para Punggawa dari Kadipaten Wengker yg setia kepada Sang Adipati Wengker, dan mereka ber tanya -tanya tentang siapa saja keluarga yg tersisa dari Prabhu Suraprabhawa itu, karena mereka masih menaruh harapan kepada keturunan Prabhu Suraprabhawa untuk menjabat Adipati di Kadipaten Wengker,!'' kata Tumenggung Wulung ireng.
" Dan apa kau jawab kakang Tumenggung, ?" tanya Mahisa Dara.
" Karena hamba belum mengenal sepenuh nya mereka maka hamba jawab tidak tahu, jika hamba jawab bahwa Gusti Pangeran dan Gusti Putri takut nya mereka berada di pihak musuh tentu dengan cepat kita akan ketahuan berada di sini,!' jelas Tumenggung Wulung ireng.
" Bagus Kakang Tumenggung , pasti kan lebih dahulu sebelum ber tindak, mereka berada di pihak kita atau di pihak lawan,!" kata Mahisa Dara.
" Ada berita lain yg kami terima dari para petinggi kadipaten Wengker itu, bahwa Kotaraja Majapahit tengah menyampai kan pesan kepada kadipaten-kadipaten untuk menetap kan pengganti Gusti Prabhu Suraprabhawa, mungkin kurang dari dua purnama lagi maka Majapahit akan memilki Raja yg baru,!" jelas Tumenggung Wulung ireng.
" *******, mereka akan menerima balasan dari pe buatan nya itu, karena telah mengguling kan Raja yg syah sebagai penguasa Majapahit ini,dan itu adalah Ramanda Prabhu ,!'' kata Mahisa Dara.
Tangan nya sampai di kepal kan dan di pukul -pukul ke sebuah batang pohon.
" Dan masih menurut mereka, setelah ada pemimpin yg baru di Kotaraja Majapahit, tentu nya kadipaten Wengker dan Kadipaten Pandan Alas akan mengalami perobahan kepemimpinan karena selain meninggal nya sang Adipati tentu pihak Kotaraja ingin memasang orang -orang di negara bawahan nya terutama Wengker dan Pandan Alas, bisa jadi orang dekat dari Adipati Pamotan itu, dan ini akan membahaya kan kedudukan kita Gusti Pangeran,!" kata Tumenggung Wulung ireng.
Mahisa Dara diam saja mendengar kan penjelasan dari perwira nya itu , ia sedang bepikir bagaimana cara nya untuk tidak terus menerus jadi kejaran para prajurit Pamotan.
__ADS_1
" Akan tetapi kemungkinan itu masih lama, belum tentu juga setelah Raja Majapahit yg baru di angkat itu akan langsung meletak kan orang nya di Kadipaten Wengker dan Pandan Alas itu, waktu kita masih ada untuk menemu kan jalan keluar yg baik dari keadaan seperti saat sekarang ini,!'' jelas Mahisa Dara.