BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 Saat KELUD pun Murka bagian kesembilan


__ADS_3

Istana Majapahit sendiri geger setelah mendengar cerita atas Mangkatnya Adipati Kahuripan, di tangan para prajurit Pandan alas.


Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa murka mendengar nasib tragis yg menimpa adik nya itu, apalagi hal yang sama hampir menimpa adik nya Bhre Daha dan adik ipar nya dari Pamotan.


Segera di kumpulkan nya pembesar Majapahit yg di yakini nya masih setia kepada nya di antara nya ada Patih Lohdaya , Rakryan Mantri Waninghyun, Tumenggung Wanengpati serta Warak sumadilaga.


" Aku ingin dengar pendapat kalian tentang kejadian yg menimpa adik-adik ku sekembalinya dari sini, mereka telah mendapatkan serangan dari para prajurit Ramanda Adipati Pandan alas, sehingga menyebabkan Dimas Kahuripan harus meninggal Dunia dan Dimas Daha dalam keadaan terluka,?" tanya Prabhu Bhatara Purwawisesa


Para petinggi Majapahit itu hening setelah mendengar pertanyaan dari Junjungan nya itu.


Namun Rakryan Mantri Waninghyun memberanikan diri memberi kan saran, " Ampun kan Gusti Prabhu, mungkin sebaik nya Gusti Prabhu lebih tegas lagi dalam memerintah Majapahit ini,!" kata Rakryan Mantri Waninghyun.


" Maksud nya bagaimana paman Mantri?" tanya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Ampun Gusti Prabhu, menurut hamba segala kebijakan harus dari Sang Prabhu, dan bila ada yg menolak Gusti Prabhu harus berani menindak nya meski itu adalah Adipati Pandan alas, mertua dari Gusti Prabhu sendiri,!" jelas Rakryan Mantri Waninghyun dengan pelan.


Nampak airmuka Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa berubah ketika mendengar nama mertuanya itu di sebut. Ia memang merasa Adipati Pandan alas itu seperti duri dalam daging bagi pemerintahan nya, akan tetapi untuk menyingkir kannya rasa nya tidak mungkin.


Kembali Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa di hadap kan kepada pilihan yg sulit seperti buah si malakama, jika di pilih ibu , ayah yg mati, jika memilih ayah , ibu yg mati.


Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa membenarkan ucapan dari Rakryan Mantri Waninghyun, atas kebijkasanaan yg di ambil nya tidak tegas sehingga terus menerus menimbulkan gesekan di antara pemimpin Majapahit.


Terakhir dengan tewas nya Adipati Kahuripan, besok mungkin diri nya sendiri yg jadi sasaran, berkata dalam hati Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa


Adalah Patih Lohdaya yg memberikan saran, " Sebaik nya Gusti Prabhu meminta pendapat ibu suri ,agar keluarga Gusti Prabhu tidak terpecah-pecah dengan tindakan yg di buat oleh anggota nya sendiri,!" ujar Patih Lohdaya.


" Baik Paman Patih, nanti setelah dari sini, aku akan menghadap ibunda Ratu,!" jelas Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.


" Heh, bagaimana menurutmu Warak sumadilaga, tentang kejadian ini,?" tanya Sang Prabhu kepada Warak sumadilaga.


" Ampun kan saya Gusti Prabhu. Kalau menurutku sebaiknya Pandan alas di beri pelajaran jangan semena-*mena dengan lain,!" jelas Warak sumadilaga.


" Ahh, apakah engakau tidak memikirkan dengan perasaan Ratu mu, apabila kita menyerang Ramanda nya di pandan alas,,?" tanya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada Warak sumadilaga.


" Itulah masalah nya Gusti Prabhu, karena Gusti Prabhu menyimpan masalah kalau terus membiarkan Adipati Pandan alas berbuat sesuka hatinya,!" kata Warak sumadilaga lagi.


" Dan bagaimana menurutmu Tumenggung Wanengpati ,?" tanya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada Tumenggung Wanengpati .


" Ampunkan hamba Gusti Prabhu, saya sependapat dengan kakang Wanenghyun dan Warak sumadilaga, semua nya itu tergantung dengan sikap tegas dari Gusti Prabhu Bhatara Purwawisesa sendiri, karena yg menjadi Raja di Majapahit adalah Gusti Prabhu bukan orang lain,!" tutur Tumenggung Wanengpati.


Ruang istana Majapahit itu kembali hening setelah mendengar ucapan dari Tumenggung Wanengpati itu.


" Memang berat tugas seorang Raja, atau singgasana ini kuserah kan kepada Ramanda Pandan alas,?" tanya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa lagi.

__ADS_1


" Memang dari awal dulu Aku sudah tidak berkeinginan untuk menjadi Raja, hanya karena jabatan sebagai seorang Adipati anom sajalah yg membuat ku harus menjadi Raja, dan juga,..... atas saran Ramanda Adipati Pandan,,!' terlihat Prabhu Bhatara, Purwawisesa sesaat terdiam.


Setelah mendengar kan pendapat dari para bawah an yg masih setia itu akhirnya Prabhu Bhatara Purwawisesa membubarkan pertemuan itu dan ia pun menghadap ibunda Ratu Jayeswari yg tengah bersiap ke Kahuripan untuk mengahadiri upacara pemakaman Anak nya Adipati Kahuripan.


" Bunda apakah akan lama di kahuripan ,?" tanya Prabhu Bhatara Purwawisesa kepada ibunda Ratu Jayeswari.


" Mungkin lebih sepekan dan dari sana nanti ibunda akan langsung ke pamotan guna melihat adik mu parangkawuni yg akan melahirkan itu, ananda berhati-hati di Istana ini, ternyata mertua mu sangat-sangat menginginkan Mahkota mu itu,!" jelas Ibunda Ratu Jayeswari kepada Bhatara Purwawisesa.


" Itulah sebab nya datang kemari untuk menanyakan, langkah-langkah apa saja yg harus kuambil untuk mengatasi persoalan dengan Ramanda Adipati Pandan alas ini!" ungkap Bhatara Purwawisesa kepada ibunda Ratu Jayeswari.


" Berpikir dan bertindak lah dengan bijaksana, apabila di perlukan sikap mengalah maka mengalah dengan lah untuk menjaga keutuhan Kerajaan Majapahit ini, yg sebenarnya sudah sangat rapuh dan tinggal menunggu hancur nya,!" jelas Ibunda Ratu Jayeswari kemudian.


" Baiklah nanda Prabhu, setelah kembali dari Pamotan nanti , kita akan membicarakan lagi tentang masalah ini, yg sebenarnya bunda mu ini tidak terima atas polah dimas Pandan alas itu, dengan telah membunuh adik mu , Bhre Kahuripan itu,!" kata ibunda Ratu Jayeswari dan telah siap untuk berangkat ke Kahuripan dengan sebuah kereta kencana Istana di kawal oleh banyak prajurit.


***********


Sedang kan di Pamotan, Wikala terkejut mendengar mangkat nya Bhre Kahuripan, yang terakhir kali nya bertemu di pertigaan menuju Pamotan dan Kahuripan itu.


Wikala rupanya baru tahu bahwa mereka bertiga telah di cegat oleh Prajurit Pandan alas sepulang nya dari Kotaraja Majapahit.


Kebencian Wikala terhadap Adipati Pandan alas yg berani nya main belakang itu memuncak setelah mendengar kematian Bhre Kahuripan itu.


" Sungguh tindakan yg licik, yg hanya di gunakan oleh orang -*orang picik saja,!" kata nya ketika di aula sidang Istana Timur itu.


" Akan tetapi sebaik nya kita memerlukan perhitungan untung rugi jika berhadapan dengan Pandan alas, dan juga apakah kita tidak melangkahi Gusti Prabhu yg berada di Kotaraja Majapahit, karena beliau sendiri tidak mengambil langkah apapun, sedang kan kita merupakan negara bawahan akan melawan pandan alas tanpa persetujuan nya,,!" ujar Patih Sengguruh yg menasehati dari sikap tergesa-gesa dari Adipati nya.


" Benar juga ucapanmu paman Patih, nanti saat menghadiri pemakaman kangmas Kahuripan ini akan ku tanyakan kepada Gusti Prabhu,!" kata Adipati Pamotan itu.


" Dan bagaimana dengan pasukan Balasewu apakah telah selesai dalam hal pendadaran nya, dan sudah bisa di lanjut kan ke pelatihan yg sesungguh nya,?" tanya Adipati Pamotan lagi.


" Kalau tahap pendadaran nya telah selesai dengan jumlah seribu orang yg ke banyakan diisi dari kalangan luar keprajuritan hampir berjumlah tujuh ratus orang dan para prajurit dari dalam kadipaten berjumlah tiga ratus orang, Gusti Adipati ,!" jawab Lembu Petala selaku pemimpin dari pembuatan perekrutan Pasukan khusus Balasewu tersebut.


" Akan tetapi untuk tahap pelatihan sesungguh nya belum, karena mereka masih kami istrahat kan selama beberapa hari, setelah pendadaran yg cukup melelahkan itu,!" jelas Lembu Petala lagi.


" Bagus, apabila pelatihan keprajuritan yg sesungguh nya telah berjalan , Paman Petala segera beritahukan, agar aku nanti bisa memberi masukan kepada mereka ,!" jelas Adipati Pamotan.


" Ampun , Gusti Adipati, kapan kira nya akan berangkat ke Kahuripan,?" tanya Patih Sengguruh.


" Mungkin besok, kalau tidak ada halangan,!" jawab Adipati Pamotan itu.


" Sebaiknya Gusti Adipati membawa banyak prajurit untuk menjaga keselamatan , setelah kejadian-kejadian yg menimpa para Adipati itu, sudah selayaknya kita meningkat kan ke waspadaan kita,!" nasehat Patih Sengguruh kepada Adipati Pamotan itu.


" Baik Paman Patih, aku ke Kahuripan dengan di kawal Lima puluh prajurit terpilih Pamotan,!" jawab Adipati Pamotan lagi.

__ADS_1


" Dan untuk keamanan istana kembali Kuserah kan kepada paman Patih, untuk menjaga ,nya " kata Adipati Pamotan lagi.


Sekaligus menutup pertemuan di aula sidang Istana Timur itu.


Wikala mendatangi istri nya tengah hamil tua dan mendekati hari persalinannya,


" Sayang diajeng kembali tidak bisa ikut ke Kahuripan,!" kata Wikala kepada istrinya itu.


" Tidak mengapa Kangmas, asal nanti setelah bertemu Ibunda Ratu tolong bawa kemari, dan satu hal lagi Kangmas!" ucap Ratu Pamotan yg terhenti ucapan karena ia berusaha turun dari pembaringan nya.


Wikala dengan sigap menolong Ratu Pamotan turun dari pembaringan dan duduk di sebuah kursi di sebelah suami nya itu.


" Dan satu hal lagi Kangmas, Kangmas harus menemukan siapa pembunuh dari Kangmas Adipati Kahuripan itu, karena saat ini yg bisa kupercaya melakukan nya hanya Kangmas seorang,!" jelas Ratu Pamotan.


" Diajeng tidak usah khawatir, tidak di minta pun Kangmas pasti lakukan,!" jawab Adipati Pamotan itu.


" Terimakasih Kangmas , aku percaya kangmas pasti mampu melakukan nya,!" ucap Ratu Pamotan.


" Mudah- mudahan,!" jawab Wikala lagi.


" Jadi kapan Kangmbok akan berangkat,?" tanya Sang Ratu.


" Besok Diajeng,!" jawab Wikala.


" Siapa saja yg jadi pengawal Kangmas,!" tanya Ratu Pamotan lagi.


" Seperti biasa pengawal yg mengawal ku tempo hari di tambah Lima puluh orang prajurit terpilih Pamotan,!" jelas Wikala.


" Aku senang mendengar nya, dengan membawa banyak prajurit setidak nya Paman Surya Wikrama akan berpikir dua kali untuk kembali mencegat Kangmas,!" jelas Ratu Pamotan.


" Memang itulah yg Kuharapkan, karena selain masalah pemakaman Kangmas Kahuripan, nanti akan ada juga penetapan siapa yg berhak menjadi pengganti Kangmas Kahuripan untuk memimpin Kahuripan,!" jelas Wikala.


" Apakah putra Kangmas Kahuripan telah dewasa dan layak memimpin Kahuripan,?" tanya Ratu Pamotan kepada suaminya itu.


" Usia Nanda Mertawijaya memang baru empat belas tahun, namun sudah selayaknya ia diangkat menggantikan Kangmas Kahuripan, daripada nanti jabatan sebagai bhre di kahuripan di ambil oleh orang-orang Pandan alas seperti kejadian di Wengker,!" kata Wikala kepada istrinya itu.


" Benar juga ucapanmu kangmas, kakang harus bersikukuh mempertahankan nanda Mertawijaya untuk menggantikan Ramanda nya itu,!" jawab Ratu Pamotan.


" Ya , dan mudah-mudahan ibunda Ratu mau juga membantu, untuk tetap mempertahankan nanda Mertawijaya sebagai bhre yg baru di Kahuripan,!" jelas Wikala lagi.


" Semoga ibunda Ratu Jayeswari tetap berpikir jernih tidak seperti Kangmas Prabhu Bhatara Purwawisesa, mau saja menuruti perintah dari Paman Surya Wikrama itu,!" ungkap Ratu Pamotan yg nampak menyimpan dendam terhadap paman nya itu.


-----------------------................---------------------------

__ADS_1


__ADS_2