
Setelah kekuasaan kerajaan Majapahit berada di tangan Prabhu Girishawardhana Sang hyang Bhatara Purwawisesa, maka ia mulai melakukan perubahan wajah kerajaan Majapahit, banyak pejabat tinggi di masa Prabhu Rajasawardhana yg di gantinya termasuk Bekel Bhayangkara Lembu Petala dan demung ananta boga, hanya ibunda ratu jayeswari yg di pertahankan dan Tumenggung singha wara, yg merupakan paman nya sendiri.
Dan kebanyakan para petinggi Majapahit itu berpindah ke pamotan dan Kahuripan, sebagai tujuan pengabdiannya.
Sementara Kadipaten Wengker pun di serahkan kepada adik iparnya putra dari Adipati Pandan alas, yaitu Dyah Surya Wijaya.
Secara langsung kekuatan pandan alas bertambah dengan Wengker di kuasai oleh Pandan alas.
Pandan alas secara langsung tidak langsung mengontrol kepemimpinan dari Bhatara Purwawisesa selaku Raja Majapahit.
Diantara yg mereka yg terbuang dari keraton Majapahit menjadi sakit hati, dan mulai memberikan semacam ancaman buat kedudukan Bhatara Purwawisesa dan Bhre Pandan alas.
Sementara itu di Pandan alas sendiri, setelah kembali dari keraton Majapahit, di istana kepatihan dari keraton Pandan alas kedatangan seorang tamu dari Daha yaitu Mahisa dara anak Dari Rakryan Mantri Kuda langhi yg mbalela itu.
" Paman Patih Kebo Mundira, ada gerangan apakah memanggil saya,?" tanya Mahisa Dara kepada Patih Kebo Mundira.
" Begini angger Dara, selaku pamanmu , meski dari saudara seperguruan antara Mpu Thula dan Mpu Tela mahalaya, adalah sebaiknya aku memberi saran kepadamu,?" jelas Patih Kebo Mundira.
" Apa yg hendak paman katakan,?" tanya Mahisa Dara lagi.
" Begini ngger, kamu kan sampai saat ini belum mempunyai seorang sisihan, yaitu seorang istri adalah baiknya selaku pengganti orang tuamu, aku menyarankan agar engkau secepatnya memiliknya,!" ungkap Patih Kebo Mundira .
" Ahh, paman , saya pikir ada sesuatu yg penting ternyata masalah seorang perempuan,!" jawab Mahisa dara seenaknya saja.
" Begini ngger, ada calon yg pas buatmu jika engkau mau,!" jelas Patih Kebo Mundira kemudian.
Mahisa dara diam saja ia nampaknya kurang tertarik dengan arah pembicaraan dari Patih Kebo Mundira, tetapi ketika Sang Patih melanjutkan lagi, " Adalah Putri sekar kedaton dari Pandan alas terasa cocok buatmu,!" ujar Sang Patih lagi.
" Hehh, siapa paman , Putri kedaton pandan alas yg mana paman,?" tanya nya kepada Patih Kebo Mundira.
" Putri Nawang sekar, adalah Putri dari Adipati Pandan alas yg paling bungsu belum mempunyai seorang engkau bisa mencoba mendekati nya,!" jelas Patih Kebo Mundira lagi.
" Tentu akan sangat sulit paman untuk mendapatkannya mengingat saya hanya anak seorang Mantri, berkhianat pula,!" kata Mahisa Dara kepada Patih Kebo Mundira.
" Akan tetapi engkau kan memiliki aji ngerogoh sukma, yg kau dapat dari ki Jabang wingit itu bisa kau pergunakan untuk meluluhkan hati sekar kedaton pandan alas,!" jelas Patih Kebo Mundira.
__ADS_1
" Hehh darimana paman tahu bahwa saya memiliki ajian itu,?" tanya Mahisa Dara penuh selidik.
" Mana mungkin kakang Rakryan Mantri berteman dengan ki Jabang wingit tanpa mengambil keuntungan dari nya termasuk ajian itu,!" kata Patih Kebo Mundira lagi.
" Paman Patih memang pintar menilai Romo, beliau memang menyuruh ku berguru kepada Ki Jabang wingit itu, akan tetapi belum tuntas Dan keburu beliau telah tewas bersama tewasnya Romo di keraton Majapahit waktu itu,!" ungkap Mahisa Dara.
" Walaupun belum tuntas , engkau kan telah bisa menggunakannya terbukti Adipati Daha bisa tunduk kepada mu, yg seharusnya menghukummu itu,!" jelas Patih Kebo Mundira lagi.
" Ahh, saya tidak bisa menang debat dengan paman Patih, seri pun susah di dapat, paman Patih tahu semua yg kukerjakan,!" ucap Mahisa Dara lagi.
" Dan saat ini engkau kudengar mendekati seorang gadis kembang desa, yg menurut ku tidak pantas untuk dirimu, oleh sebab itu engkau kupanggil kemari untuk menaklukan hati sekar kedaton pandan alas," ungkap Patih Kebo Mundira kepada Mahisa Dara.
Seorang Mahisa Dara merasa Patih Kebo Mundira banyak tahu tentang dirinya itu merasa bahwa ia masih di perhatikan oleh Sang Patih Kebo Mundira.
" Sebenarnya Aku menyuruh mu mendapatkan putri Nawang sekar agar martabat dirimu naik, dari seorang pesakitan dan di cap sebagai anak seorang pengkhianat menjadi seorang yg memiliki kamukten dan mempunyai sisihan seorang anak Raja, seperti anakmuda dari Daha itu,!" kembali Patih Kebo Mundira berusaha agar Mahisa Dara mampu keluar dari keterpurukannya
" Bukankah yg Raja adalah Bhatara Purwawisesa, bukan Adipati Pandan alas, mengapa paman menyebutnya sebagai putri Raja tidak adik iparnya Raja,?" bertanya keheranan Mahisa Dara kepada Patih Kebo Mundira.
" Kenapa aku menyebut Putri Nawang sekar adalah Putri seorang Raja, karena nanti nya Gusti Adipati pandan alas akan meminta tahta Majapahit itu kepada Bhatara Purwawisesa selaku menantunya, jadi engkau lebih menggantungkan asa mu pada putri Nawang sekar agar mukti bukan kepada seorang Gadis padesan, yg hanya bergelut di lumpur dan dapur,!" panjang lebar Patih Kebo Mundira menjelaskan nya.
Mahisa Dara terdiam ia teringat kepada seorang Gadis padesan yg mulai ia sukai itu, namun karena semangatnya telah di bakar oleh Patih Kebo Mundira untuk mendapatkan kamukten dengan menikahi sekar kedaton pandan alas maka ia pun bersemangat itu, karena tujuan utamanya adalah membalas kan sakit hati nya atas kematian Romo nya dan penghinaan atas dirinya itu.
Hingga suatu hari di saat-saat Ratu Pamotan dan suaminya tengah di taman istana Timur itu tiba-tiba datanglah seorang utusan dari desa thanda, yg menyataksn bahwa putri Cemaravati telah melahirkan seorang putra, maka Wikala pun minta izin kepada Ratu Pamotan itu untuk melihat keadaan istri dan anaknya di desa thanda.
Oleh Ratu Pamotan diizinkan ia pulang ke rumahnya di desa thanda guna melihat keadaan anak yg baru di lahirkan itu.
Dengan ditemani oleh Lembu Petala dan dan Arya bor bor yg telah lama tidak mengunjungi keluarga nya yg membantu keluarga Wikala di desa thanda, maka berangkatlah ketiga orang tersebut ke desa thanda.
Hampir empat hari mereka melakukan perjalanan, hingga akhirnya sampai di desa thanda tanpa gangguan , disana Wikala disambut dengan sukacita oleh istrinya dan kedua orangtua nya.
" Selamat ngger, sekarang engkau telah menjadi seorang ayah dan kami telah menjadi eyang," ucap Mpu Thanda.
" Akan kau beri nama apa kepada nya Ngger, ?" tanya biyung nya
" Ia , Aku beri nama arya Wiradamar,!" ucap Wikala
__ADS_1
" Nama yg bagus Kanda ,!" ucap Putri Cemaravati kepada suaminya itu.
" Semoga kelak setelah dewasa, ia bisa menjadi kebanggaan kedua orang tuanya,!" kata Wikala lagi.
" Mudah mudahan,!" jawab kedua orang tua Wikala itu.
Walaupun Wikala tidak akan lama di desa thanda, namun kali ini ia dan Lembu Petala akan mengunjungi ki Gede di rumah nya.
Siang itu keduanya berkuda menuju Rumah Ki Gede Thandasain, niat Wikala ingin meminta maaf kepada Rara Tantri dan keluarga Ki Gede semuanya.
Setelah sampai di rumah Ki Gede Thandasain, ia disambut oleh Ki Gede beserta istrinya.
" Apakhabar Angger Radeksa,?" sapa Ki Gede.
" Baik ki," jawab Wikala .
" Kudengar angger Radeksa telah mempunyai momongan,?" tanya ki Gede lagi .
" Benar ki, karena itulah kami kemari , untuk melihat puteraku, dan sebentar lagi kemungkinan putra paman Petala ini pun segera lahir,!" jelas Wikala.
" Selain itu aku kemari ingin meminta maaf yg sebesar-besarnya atas kesalahan ku selama ini terhadap keluarga Ki Gede,!" ungkap Wikala.
" Kesalahan yg mana Ngger,?" tanya Ki Gede seolah tidak pernah menerima perlakuan yg tidak baik dari Wikala.
" Masalahku dulu dengan Tantri ki Gede, sampai saat ini , aku masih merasa bersalah kepada nya, apakah ia ada di rumah,?" tanya Wikala kepada Ki Gede Thandasain.
" Ahh masalah itu rupanya, kami sekeluarga telah melupakan nya, juga Nak Tantri malah sekarang ia telah bertunangan dengan pemuda dari kota Daha, sedangkan saat ini Tantri tidak berada di rumah ia ketempat gurunya di nusakambangan untuk mohon restu , jika ia nanti akan menikah, dan juga berharap Nyai Dewi putrani dapat mendampinginya saat pernikahan nanti,!" jelas Ki Gede Thandasain.
" Ohh, begitu ki, baiklah sampai kan salamku pada Tantri dan juga permohonan maafku kepada nya,!" ucap Wikala .
" Baiklah Ngger nanti kami sampaikan kepadanya, dan juga salam kami kepada kangmas Wirapati yg telah menjadi seorang eyang, semoga keluarga angger dalam lindungan Hyang widhi wasa,!" ucap ki Gede lagi.
" Kami mohon pamit ki, karena kami harus kembali ke pamotan Segera ,!" ujar Wikala.
" Silahkan ngger,!" jawab Ki Gede seraya mengantar kan kedua orang itu keluar rumahnya sampai ke halaman.
__ADS_1
Wikala dan Lembu Petala kemudian pulang kerumah nya, Setelah berada di Thanda selama sepekan ia dan Arya bor bor kembali pulang ke Majapahit Pamotan sedangkan Lembu Petala masih menunggui istrinya yg akan melahirkan itu.
--------------