BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 12 Mendung di langit Pamotan. bagian pertama.


__ADS_3

" Baiklah dinda, nanti kita bicara kan lagi tentang nasib Wiradamar, sekarang dinda tidur lah lagi,!" ujar Wikala kepada istri nya itu.


" Nanggung Kanda, karena sebentar lagi akan terbit fajar, sebaik nya kanda yg tidur barang sekejap karena satu malam an kanda tidak tidur,!" jawab Putri Cemaravati.


" Ahh dinda, aku sudah terbiasa tidak tidur semalam an,!" tukas Wikala.


" Apakah paman Petala tidak turut serta?" tanya Putri Cemaravati lagi.


" Tidak , dia kusuruh menjaga diajeng Ratu yg akan melahirkan sebentar lagi,!" jawab Wikala.


" Yunda Ratu akan melahirkan,?" kembali Putri Cemaravati bertanya.


" Benar dinda,!" jawab Wikala pendek.


Sementara Sang Surya dengan malu-malu menampakkan di ufuk Timur menerangi alam mayapada.


Bersamaan dengan muncul nya mentari, muncul pula Larasati dan Naja pratanu.


" Ehh, kangmas Radeksa telah tiba di sini lebih dahulu dari kami ?" ucap Larasati keheranan.


" Iya bagaimana bisa, kakang Radeksa dari Pamotan bisa lebih dahulu tiba dari kami yg berada disini sedari semula?" tanya Naja pratanu yg tidak kalah heran nya.


" Aku bahkan telah singgah di Willis menemui Romo dan biyung,!' jawab Wikala lagi.


" Kami pun tadi dari sana ,!" kata Larasati.


" Iya, biyung telah menceritakan kepada ku bahwa kalian berdua mencari istri ku yg tidak bersama mereka,!" kàta Wikala lagi.


" Setelah bertemu biyung dan Romo tanpa ada Kakang mbok ayu, akhir nya kami di perintah kan biyung untuk mencari kemari,!" jelas Larasati.


" Karena semua nya telah bertemu kecuali Wiradamar, maka kali ini kutugaskan kepada kalian berdua untuk mencari keponakan kalian itu, sampai bertemu, karena aku tidak bisa berlama-lama disini , diajeng Ratu akan melahirkan, aku harus berada disana,!" tutur Wikala kepada Larasati dan Pratanu.


" Heh, anak bandel itu tidak berada disini bersama kakang mbokayu,?" tanya Larasati.


" Tidak, menurut abimanyu ada yg membawa dia, jadi tugas kalian untuk menemukan nya,!" perintah Wikala kepada adik nya itu.


" Baik lah, kakang, serah kan tugas itu kepada kami, biar kami saja yg mencari nya kakang silahkan kembali ke Pamotan,!" jawab Pratanu kepada kakak ipar nya itu.


" Secepat nya kalian hubungi aku jika bertemu atau menemukan jejak keberadaan nya,!" kata Wikala kepada kedua adik nya itu.


" Siap kakang ,!" jawab kedua nya.


Ketika matahari telah menggatalkan kulit maka Wikala dan putri Cemaravati serta Putri Yasuvati dengan putra nya abimanyu meninggalkan barak penampungan korban meletus nya gunung kelud yg ada di kaki gunung Klotok tersebut, sementara Naja Pratanu dan Larasati tinggal di sana untuk mencari tahu tentang keberadaan dari Wiradamar putra dari Wikala.


Ketika mencapai tempat yg sunyi kembali Wikala mengtrapkan aji Megamendung nya dan membawa turut serta ketiga orang tersebut dalam gulungan kabutnya itu, sebentar saja mereka telah sampai di kaki gunung Willis dimana, Romo dan bunda nya berada.


Setelah berpamitan dengan orang -orang yg berada di situ Mpu Thanda dan istri kembali mengikuti Wikala menuju ke Pamotan.

__ADS_1


Kali ini mereka berlima di bawa Wikala ke Pamotan dengan cepat menggunakan ajian Megamendung dan Wisnu kancana, tidak sampai satu hari sampai lah mereka di Istana Pamotan.


Terlihat di keraton Timur itu tengah ramai dengan kegiatan yg lain dari pada biasa nya.


Prajurit dan dayang-dayang serta emban sibuk wara-,wiri.


Setelah menempat kan kelima orang tersebut di dua bilik yg telah berdekatan, Wikala kemudian mendatangi bilik nya.


Ketika ia sampai disana di kejutkan dengan banyak nya emban.


Wikala kemudian bertanya kepada prajurit jaga , apakah istri nya telah melahir kan, dijawab prajurit itu belum.


Secepat nya ia masuk ke dalam bilik, dan di lihat nya sang istri dalam kesusahan untuk melahirkan.


Karena kedatangan Sang suami nya maka Ratu Pamotan itu terlihat lebih tenang dan tidak mengeluh lagi, ia pun berkata kepada Wikala,


" Kangmas kapan tiba nya,?" tanyanya pelan.


" Baru diajeng,?" jawab Wikala.


" Apakah keluarga di Daha selamat,?" tanya Sang Ratu lagi.


" Hanya anakku yg belum di ketemukan,?" jawab Wikala sembari memegang kedua telapak tangan istrinya itu.


" Apakah istri mu ikut serta kemari?" tanya Ratu Pamotan.


" Kumohon Kangmas memanggilnya untuk datang kemari ,!" ucap Ratu Pamotan pelan .


" Untuk apa ,?" tanya Wikala heran.


" Ada yg ingin Ku katakan kepada nya,!" jawab Ratu Pamotan itu.


" Baiklah , biar kusuruh prajurit memanggil nya untuk datang kemari,!" kata Wikala dan ia pun keluar dari bilik itu dan memerintah kan seorang prajurit untuk memanggil Putri Cemaravati.


Selang tidak beberapa lama, Sang putri dari Champa itu pun tiba dengan diantar seorang prajurit. Terlihat kecantikan yg luar biasa terpancar dari Putri Champa itu setelah memakai pakaian dan perhiasan Istana. Tubuh nya yg putih bersih memakan pakaian berwarna ungu membuat ia tampak lain dari penampilan sehari hari nya.


Sejenak Putri Cemaravati berhenti di depan pintu bilik , ia agak ragu untuk masuk ke dalam guna bertemu dengan madu nya itu.


Namun setelah prajurit itu melaporkan bahwa Putri Cemaravati telah tiba maka terdengarlah suara seorang perempuan yg berkata,


" Mari, silahkan masuk Nimas Cemaravati,!" kata Ratu Pamotan memanggil.


Dengan ragu-ragu Putri Cemaravati melangkah kaki nya masuk kedalam bilik tersebut, di lihat nya telah banyak emban dan para dayang yg berada di sana.


Ia melangkah kan kaki nya mendekati pembaringan dari Ratu Pamotan itu, agak lama ia berdiri terpaku melihat Sang Ratu yg berjuang hidup dan mati untuk melahirkan anak nya itu.


Ketika lambaian tangan Sang Ratu pertanda sebagai isyarat ia untuk mendekat, akhir nya Putri Cemaravati pun mendekati pembaringan itu dan duduk di bawah nya.

__ADS_1


Oleh Sang Ratu , putri Cemaravati di duduk di tepi pembaringan dan mendekat kan wajah nya,


" Kemari lah, Nimas Cemaravati ada yg akan ku bisik kan kepada mu,!" ucap Ratu Pamotan menarik tangan Putri Cemaravati agar lebih mendekat.


Setelah wajah putri Cemaravati benar-benar hampir bersentuhan dengan wajah Sang Ratu, berkata lah Ratu Pamotan itu,


" Nimas Cemaravati sangat cantik sulit mencari banding nya di Majapahit ini,!" ucap nya.


" Ahh, Kakang mbokayu Ratu bisa aja,!" ujar Putri Cemaravati dengan tersipu malu, ia mengira akan mendapatkan tamparan dari madu nya akibat telah berani mengambil suami nya itu ternyata persangkaan nya meleset jauh.


" Nimas Cemaravati, pantas lah Kangmas Kertabhumi amat mencintai kamu karena kamu benar-benar layak mendapatkan itu,!" ucap Ratu Pamotan lagi.


Kemudian Sang Ratu melanjutkan perkataan nya,


" Jika aku nanti telah tiada, jagalah Kangmas Kertabhumi dengan sebaik baik nya, jangan pernah membantah nya,!" Ratu Pamotan terdiam sesaat dan berkata lagi.


" Dan jika anak ku nanti lahir, rawat lah ia seperti anak mu sendiri, jangan kau bedakan dengan anak mu,!" kata Ratu Pamotan berbisik di telinga dari Putri Cemaravati, Sang Putri dari Champa ini yg tidak tahu ujung pangkal pembicaraan dari Ratu Pamotan segera bertanya,


" Mengapa Kangmbok ayu Ratu berkata demikian, bukankah dirimu dalam keadaan baik ,,?" tanya nya kepada Ratu Pamotan.


" Nimas Cemaravati, sesungguhnya aku sudah cukup lama menunggu kelahiran ini, namun belum pun dapat melahirkan, menurut para tabib istana posisi anak ku sungsang, kaki di bawah dan kepala di atas, jadi kemungkinan terburuk bisa terjadi pada ku, sehingga aku berpesan kepada mu,!" jawab Ratu Pamotan.


Nampak kepala Putri dari Champa itu mengangguk tanda mengerti apa yg tadi telah di ucap kan oleh Sang Ratu.


Ketika malam menjelang , kesakitan yg di alami penguasa Pamotan itu semakin parah, sampai sampai Wikala mengerahkan tenaga dalam nya untuk mengurangi rasa sakit yg di rasa kan oleh istri nya itu.


Melewati tengah malam dengan sisa-sisa tenaga yg di miliki oleh Ratu Pamotan di bantu para emban, dayang dan tabib akhir nya si Jabang bayi yg mungil keluar disertai dengan teriakan Sang Ratu yg kesakitan.


" Aaaaaaakkkkkhhhh ,,!" jeritan itu terdengar kuat sekali disusul jatuh pingsan nya Ratu Pamotan.


Ibunda Ratu Jayeswari yg berada di samping Putri nya itu segera berusaha membangunkan putri kesayangan nya itu namun sia-sia, Sang Ratu tetap diam.


Melihat istri nya tidak bisa sadarkan diri, Wikala segera mengerahkan tenaga dalam nya kembali dan mampu menyadarkan nya sesaat berucap,


" Maafkan Aku Kangmas, aku tidak bisa menemanimu selama nya, meski aku mencintai mu, peluk lah aku untuk terakhir kalinya,!" kata Ratu Pamotan terbata bata dan itu adalah ucapan terakhir kali nya.


Karena kemudian Ratu Pamotan menutup mata untuk selama-lamanya,.


" Diajeeeeeeeng,!" teriakan dari Wikala yg menyayat hati.


Ratu Pamotan mengjembuskan nafas terakhir kalinya di dalam pelukan dari suami yg sangat di cintai dan di sayangi itu, melahirkan seorang bayi perempuan yg mungil dan amat cantik.


Ia di beri nama Dyah Ratu ayu Ratna pembayun oleh Sang Ramanda nya Wikala yg bergelar Bhre Kertabhumi.


Pagi itu terlihat mendung tebal menggantung di langit Pamotan. Sesaat kemudian hujan turun dengan derasnya laksana di curah kan dari langit seakan mengerti dengan perasaan yg tengah di alami oleh penghuni nya.


Kesibukan terjadi setelah mangkat nya Ratu Pamotan, para prajurit di kirim untuk memberikan kabar ke kotaraja Majapahit, ke Kadipaten Daha dan kadipaten- kadipaten lain nya kecuali pandan alas dan Wengker.

__ADS_1


--------------------,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,.,,.-------------------------


__ADS_2