
Sore itu, Naja Pratanu dengan menunggangi kudanya menuju kediaman ki Gede Thandasain, ia memenuhi keinginan Mpu Thanda yg sebenarnya ingin bertemu dengan ki Gede namun sungkan untuk bertemu dengan Rara Tantri.
Setelah melewati bulakan , ia menjumpai persawahan yg telah menguning padinya, Pratanu pun teringat ketika ia menantang Wikala berperang tanding, walaupun sebenart ia tidak mampu mengalahkan satria dari daha tersebut.
Namun akibat bara dendam di hatinya akhirnya ia pun bertarung dengan Wikala, akibat dari kesalahpahaman.
Lamunannya berakhir setelah kuda tunggangannya masuk ke halaman rumah dari ki Gede Thandasain. Setelah menambatkan kudanya ia pun naik ke pendopo rumah ki Gede, Pratanu kemudian di sambut oleh ki Gede sendiri,
" Ahh, apakhabar ngger, angger kan teman dari angger Radeksa,?" sapa ki Gede.
" Benar ki Gede, saya Pratanu ,teman dari kakang Radeksa,!" ucap Pratanu yg dahulu pernah mampir di rumah ki Gede saat itu masih menjabat demang. Oleh Wikala , Pratanu di ajak berkeliling kademangan thanda sain dan juga singgah ki demang , guna bertemu Tantri.
" Ada Hal apakah, hingga angger mampir kemari,?" tanya ki Gede Thandasain.
" Hanya ingin bertamu dengan ki Gede dan menanyakan kabar berita,!" ujar Pratanu.
Tiba-tiba dalam rumah ada suara seorang perempuan yg bertanya,
" Siapa tamu Romo itu,?" tanya nya dari dalam yg tiada lain adalah Tantri.
" Ini ada angger Pratanu temannya dari angger Larasati,!" jawab ki Gede.
Yang terkejut adalah orang-orang yg ada di dalam rumah tersebut.
Berkata lah seorang perempuan tua yg masih nampak awet muda dan terlihat garis-garis kecantikan di wajahnya,
" Pucuk di cinta ulam pun tiba,Bukankah dia itu adalah murid dari kakang wekaz,!" ucapnya.
" Benar guru, ia adalah kakang Naja Pratanu murid Eyang Resi Begawan mahameru, yg ikut ke Merapi saat itu,!" jawab si murid.
" Darimana kau tahu ia bernama Naja Pratanu, ?" tanya Sang Guru.
" Sewaktu di Merapi kami semua pendamping , akrab satu sama yg lain kecuali dengan murid Kakang Wikala, karena ia sudah tua , sepantaran dengan orang tua kami,!" jawab si murid yg tiada lain adalah Untari.
" Mari kita hampiri dia, !" kata sang guru yg tiada lain adalah Nyai Dewi putrani wijaya si selendang maut.
Ketiganya lalu keluar dari rumah ki Gede Thandasain dan menghampiri Naja Pratanu yg lagi berbincang dengan ki Gede.
Melihat yg keluar adalah si selendang maut dari selatan, maka Naja Pratanu memberikan sungkem nya kepada Nyai Dewi.
" Apa kabar Nyai Dewi ,?" tanya Pratanu.
" Baik , bagaimana dengan mu juga kakang wekaz,?" tanya Nyai Dewi.
" Kalau saya baik, akan tetapi kalau eyang guru telah tiada,!" jawab Pratanu.
__ADS_1
" Heh, bagaimana ceritanya kakang wekaz sudah tiada,?" tanya Nyai Dewi lagi.
" Sewaktu kembali dari semeru beliau telah tewas di bunuh orang,!" kàta Naja Pratanu.
" Siapa yg mampu membunuh kakang wekaz ,?" tanya Nyai Dewi lagi.
" Entahlah, saya sempat menyangka kakang Radeksa sebagai pelakunya, karena pusaka tombak Naga tirta ada ditangan nya, juga karena dia seorang yg linuwih , ilmunya jelas diatas eyang guru, akan tetapi....., !" Naja Pratanu terdiam sesaat.
" Kenapa, bukankah Satria dari daha tidak ada silang sengketa dengan kakang wekaz, malah setahuku, kalian berempat bersama ke Merbabu,?" tanya Nyai Dewi penasaran.
" Nyai Dewi benar, setelah dia menjelaskan darimana dapatnya, pusaka itu baru saya mengerti bukan dia pelakunya,!". jelas Pratanu.
" Jadi siapa pelakunya,?" tanya Nyai Dewi lagi.
" Kalau menurut kakang Radeksa, pelakunya adalah Mpu Thula karena tombak Naga tirta itu di tangannya, ketika terjadi pertarungan dengan kakang Radeksa salah seorang muridnya tewas dan memegangi pusaka itu, sedangkan Mpu di bawa lari oleh murid nya lain dalam keadaan terluka parah, jadi kemungkinan besar mereka jugalah yg membunuh eyang guru,!" jelas Pratanu.
" Ada masalah apa antara ki Jero dan kakang wekaz,?" tanya Nyai Dewi seolah pada dirinya sendiri.
" Kemungkinan Mpu Thula mencari sesuatu yg ada pada eyang guru, terbukti dengan hancur leburnya padepokan kami tanpa menyisakan seorang pun dan boleh jadi Mpu Thula saat itu tidak datang sendiri,!" ucap Pratanu.
" Sebenarnya kami telah beberapa kali ke semeru namun tidak satu orang pun yg kami temui, malah di sini di desa thanda kita bertemu,!" kata Nyai Dewi.
" Memang nya ada keperluan apa dengan eyang guru,?" tanya Pratanu.
Naja Pratanu terdiam, raut wajahnya nampak kesedihan, membayangkan kejadian beberapa waktu yg lalu saat terakhir ia berpisah dengan gurunya itu di kaki semeru. Nyai Dewi merasa bersalah atas pertanyaan itu kemudian berkata,
" Ada yg salah dengan ucapan ku tadi,?" tanya nya.
Pratanu menggeleng dan menjawab,
" Tidak ada yg salah dengan pertanyaan Nyai Dewi, namun sebab Kembang diwala amerta lah saya berpisah dengan guru saat di kaki semeru, seharusnya mungkin saya masih bisa membantunya, saat itu,!" ungkap Pratanu.
" Eyang guru memerlukan kembang itu guna menyembuhkan luka dalamnya, maka saya di perintah kannya untuk mencari kembang tersebut dan beliau sendiri kembali ke padepokan dan,....!" Naja Pratanu tidak melanjutkan perkataan nya.
Keadaan di pendopo itu hening sesaat , karena mereka merasakan kesedihan yg di alami Naja Pratanu. Namun kemudian Pratanu yg berkata lagi,
" Memangnya Nyai Dewi memerlukan kembang itu untuk apa,?" tanya nya pada Nyai Dewi.
" Seperti gurumu, Aku pun memerlukan kembang itu untuk ramuan obat, Angger Pratanu tahu kan tempatnya ,?" balik Nyai Dewi bertanya.
" Tahu, akan tetapi saya saat ini dalam keadaan bertugas, !" ujar Pratanu.
" Heh, angger Pratanu sekarang abdi kerajaan?" tanya Nyai Dewi.
" Demikian lah , tetapi abdi dari kadipaten Pamotan tepatnya, !" jawab Pratanu
__ADS_1
" Kalau begitu lain kali saja kita mencari kembang itu disaat angger Pratanu lagi tidak bertugas,!" kata Nyai Dewi.
" Tidak apa-apa Nyai besok pun bisa kita kesana , karena tugas ku tidak terikat waktu,!" jelas Pratanu.
" Baiklah kalau begitu besok kita kesana,!" kata Nyai Dewi putrani.
Malam telah larut , saking asyiknya mereka mengobrol , akhirnya Pratanu pamit untuk kembali kerumah Mpu Thanda.
Ketika ia melangkahkan kaki menuju kudanya, ia diikuti oleh Tantri yg berkata,
" Sampaikan salam ku pada biyung , Romo dan Larasati, !" ucapnya kepada Pratanu.
" Dengan kakang Radeksa tidak,?" tanya Pratanu.
" Ahh, Kakang Radeksa kan tidak berada disini,!" kata Tantri lagi.
" Darimana kamu tahu kakang Radeksa tidak berada disini,?'' tanya Pratanu.
" Hanya perasaan saja,!" ucap Tantri asal saja.
" Hebat, hebat, ini namanya sehati dan sejiwa,!" kata Pratanu.
Tantri yg tidak mengerti seraya berkata,
" Maksud kakang apa,?"
" Maksud ku , Tantri bisa merasakan bahwa kakang Radeksa tidak berada disini itu adalah benar, setelah beberapa pekan ia menikah, ia di tugas kan Gusti Prabhu sabagai utusan Majapahit ke Tiongkok dan belum kembali sampai hari ini,!" jelas Pratanu
" Kakang Radeksa ke Tiongkok,?" tanya Tantri seolah tidak percaya.
" Benar, sudah hampir dua tahun ia belum kembali,!" jawab Pratanu.
" Baiklah , salamku juga buat dia jika nanti kembali,!" kata Tantri kemudian dan menyilahkan Pratanu untuk kembali.
Keesokan harinya, Nyai Dewi dan Untari mendatangi kediaman Mpu Thanda dimana Pratanu bermalam.
Setelah bertemu dengan Mpu Thanda , Nyai Dewi kemudian berkata,
" Kami memerlukan angger Pratanu sebentar anakmas Wirapati," kata Nyai Dewi kepada Mpu Thanda.
" Ohh, silahkan , silahkan, Nyai" kata Mpu Thanda yg kemudian memanggil Pratanu untuk keluar menemui Nyai dewi dan muridnya.
Setelah berpamitan dengan Mpu Thanda dan istrinya maka mereka bertiga berjalan ke Timur menuju semeru, sedangkan Tantri tidak ikut mengingat ia masih ingin melepas kerinduannya kepada kedua orangtua nya.
__ADS_1