BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 18 Singgasana Yang Suram bagian ke sembilan.


__ADS_3

Di Kota Raja Majapahit saat dilak sanakan nya sidang paseban agung untuk menerima ulu bekti dari wilayah bawahan kadipaten yg berada di tlatah Majapahit ter lihat dua Adipati yg merupakan putra dari Prabhu Suraprabhawa yaitu Adipati Pandan Alas dan Adipati


Nampak balairung istana Majapahit sunyi hanya di hadiri para petinggi Majapahit saja.


Sementara utusan dari berbagai Kadipaten tidak ada yg hadir dalam sidang itu.


Prabhu Suraprabhawa ter lihat muram , wajah nya menunjuk kan rasa ketidak senangan nya, karena pembangkangan dari para Adipati yg berada di bawah kekuasaan nya itu. Ia memandangi seluruh yg hadir dalam sidang itu dan kemudian ia menatap singgasana yg di duduki nya itu, seakan-akan tidak memancar kan lagi sinar, serasa singgasana yg suram tanpa memancar kan kemilau.


Setelah agak lama Prabhu Suraprabhawa kemudian berkata,


" Ku harap kalian semua me mahami keadaan Kotaraja Majapahit saat, selain banyak nya Adipati yg telah mbalela, bahaya kelaparan nampak nya sedang mengancam , mungkin kalau kita tidak dapat mengambil langkah-langkah yg tepat mungkin akan banyak rakyat Majapahit yg akan mati kelaparan,!'' ucap Prabhu Suraprabhawa.


" Ampun kan saya Ramanda Prabhu, ada baik nya sekira nya Kota Raja Majapahit meminta bantuan ke Kadipaten Matahun agar tetap mau memberi kan ulu bekti nya ke kotaraja Majapahit ini,!" kata Adipati Wengker.


" Hehh, Nanda Wengker, semua itu telah di lakukan, akan tetapi apa hasil nya mereka ber sikukuh tetap tidak mau tunduk lagi ke kotaraja Majapahit ini meski pun di bawah ancaman,!'' jawab Prabhu Suraprabhawa.


" Jadi Ramanda ber harap kepada kalian ber dua ter utama kepada mu nanda Wengker untuk segera bangun dari mimpi panjang kalian, karena selaku anak ter tua dan sebagai Adipati Anom , buat lah sesuatu yg dapat mem bangga kan ramanda mu ini, karena tampak nya kekuasaan Ramanda mu tidak akan ber tahan lama, jangan lah kalian melakukan per buatan yg sia-sia, sedang kan dua bahaya besar sedang mengancam di depan mata, sementara kalian ber dua masih dalam keadaan ter tidur!" lanjut Prabhu Suraprabhawa.


Kedua putra dari Prabhu Suraprabhawa itu ter diam , mereka tidak sanggup menatap wajah dari Ramanda nya itu.


" Bahaya pertama yg akan datang adalah serangan dari Pamotan, sedang kan bahaya yg kedua dan saat ini tengah kita rasa kan adalah bencana kelaparan, sedang kan kalian ber dua masih tetap melakukan kesenangan kalian yaitu ber buru, yang satu ber buru hewan di hutan dan yg lain ber buru para gadis di desa-desa, sungguh sangat menyedih kan , sementara nasib kekuasaan dari Ramanda mu sedang berada di ujung tanduk, kalian ber dua masih sempat-sempat nya menggunakan waktu untuk sekedar melepasi kegemaran kalian berdua, saat ini Ramanda sangat ber harap kalian ber dua merubah sifat itu demi keselamatan kita semua,!" jelas Prabhu Suraprabhawa lagi.


" Ampun kan kami Ramanda Prabhu, kami akan berusaha menuruti segala nasehat Ramanda Prabhu,!" jawab Adipati Wengker itu.

__ADS_1


" Jangan cuma berusaha tetapi kalian segera menjadi pribadi yg kuat yg tidak ter gantung kepada Ramanda mu ini, karena saat ini keluarga kangmas Prabhu Rajasawardhana telah siap merongrong kekuasaan Ramanda mu ini, jadi segera lah ber buat lakukan sesuatu untuk kita tetap berada di tampuk kekuasaan atas Kerajaan majapahit ini, kalau sempat mereka mengguling kan ramanda ini, entah bagaimana nasib kalian semua, dan itu ter gantung kepada kalian ber dua,!" ungkap Prabhu Suraprabhawa yg nampak menahan amarah atas sikap kedua putra nya itu.


Kedua nya kembali ter diam men dengar kan sesorah dari Prabhu Suraprabhawa itu. Memang kedua nya ter lihat terlena sejak di angkat nya Adipati Pandan Alas menjadi Raja di Kerajaan Majapahit ini.


Kemudian Prabhu Suraprabhawa ber kàta lagi,


" Karena saat ini jabatan Patih mengalami ke kosongan, maka hari ini untuk mengisi ke kosongan itu ku angkat lah , Kakang Lohdaya untuk mengganti kan kakang Patih Kebo Mundira yg telah tewas itu, beliau akan di dampingi oleh Arya Kangga dalam men jalan kan nya, !" jelas Prabhu Suraprabhawa itu.


Setelah selesai sidang paseban itu , Prabhu Suraprabhawa kembali ke dalam bilik nya.


Di dalam bilik itu, Prabhu Suraprabhawa menerima menantu nya Mahisa Dara yg khusus datang menemui nya itu.


" Ramanda Prabhu, saya mempunyai suatu usul untuk mencoba mengatasi kekurangan bahan pangan di Kotaraja Majapahit ini,,!" kata Mahisa Dara.


" Begini , Ramanda Prabhu, saya kan, telah ber hasil mengalah kan seorang begal di alas selentuk yg cukup sakti, jadi maksud saya, begal alas selentuk itu kita per gunakan sebagai alat untuk merampok hasil panen dari beberapa kadipaten yg masih mempunyai persediaan bahan pangan seperti Daha dan Kahuripan, selain membuat mereka tidak aman, juga menjadi kan Kotaraja mampu ber tahan dari kesulitan yg di timbul kan bencana kekeringan ini,!" jelas Mahisa Dara.


" Ter serah lah anakmas, lakukan lah sesuatu yg dapat menyelamat kan kekuasaan Ramanda mu ini, karena kalau tidak tentu nasib kita berada di Kotaraja ini tidak akan ber tahan lama, Apakah ini adalah karma buat Ku,!" kata Prabhu Suraprabhawa yg seolah-olah merasa kan bahwa sudah ter lalu banyak korban yg di timbul kan dari usaha mencapai tampuk kekuasaan menjadi Raja di Kerajaan Majapahit ini.


Dan Mahisa Dara lah yg berusaha menguat kan semangat dari Prabhu Suraprabhawa itu untuk tetap ber tahan, dan karena Mahisa Dara pula lah Prabhu Suraprabhawa bisa bangkit dari keterpuruk kan akibat dari tewas nya Patih Kebo Mundira, orang kepercayaan nya itu.


*****


Di kadipaten Daha , Adipati Daha tengah menerima kunjungan dari Utusan Pamotan yaitu Naja Pratanu.

__ADS_1


" Ampun kan hamba Gusti Adipati, hamba di utus oleh Kangmas Pamotan untuk menemui Gusti Adipati Daha guna mem bicara kan per masalah an yg tengah di hadapi kerajaan Majapahit saat ini,!" ucap Naja Pratanu.


" Masalah apa kira nya itu, Naja Pratanu,?" tanya Adipati Daha kepada Naja Pratanu.


" Yang pertama adalah masalah mengenai bahaya kelaparan yg di timbul kan dari akibat kekeringan yg melanda, di tambah lagi banyak nya hama menyebab kan hampir semua mengalami paceklik dan ke gagalan panen pada tahun ini,!" jelas Naja Pratanu.


" Jadi maksud dari Dimas Pamotan bagaimana,. apa yg di perlu kan untuk mengatasi nya,?' tanya Adipati Daha


" Maksud kangmas Pamotan sudi lah kiranya Gusti Adipati memberi kan bantuan pangan ke pamotan melalui tanah perdikan Thandasain yg masih cukup banyak hasil panen nya tahun ini, !" kata Naja Pratanu menjelas kan.


" Kalau masalah itu, ter gantung kepada Ki gede Tjandasain, karena kami di Daha ini pun tengah meminta bantuan kesana,!' jawab Adipati Daha.


" Arti nya Gusti Adipati mengizin kan Kangmas Adipati Pamotan meminta bantuan ke tanah perdikan itu,?" tanya Naja Pratanu meyakin kan.


Kepala Adipati Daha mengangguk dan berkata,


" Meskipun tanah perdikan Thandasain berada di wilayah kadipaten Daha ini, namun tanah perdikan itu bebas melakukan pemerintahan nya sendiri asal tidak melampaui paugeran yg berlaku, ter masuk pemberian bantuan kepada siapa saja yg di ingin kannya,!" jelas Adipati Daha.


" Baik lah kalau begitu Gusti Adipati, dan mengenai masalah yg kedua mengenai sikap Gusti Adipati melihat Kotaraja Majapahit saat Apakah mendukung atau menolak Prabhu Suraprabhawa sebagai Raja di Majapahit ini,?" tanya Naja Pratanu.


" Kalau masalah itu bagi Daha sudah jelas menolak Paman Prabhu Suraprabhawa untuk menjadi Raja apalagi dengan melaku kan cara-cara yg tidak sesuai paugeran sehingga ia ber hasil untuk duduk di atas singgasana Majapahit itu, kami di Daha ini sebenar nya cukup ber harap kepada Dimas Pamotan untuk segera mengguling kan kekuasaan Paman Prabhu Suraprabhawa itu, sayang nampak nya keinginan itu akan ter tunda akibat dari bencana kekeringan ini, seolah Hyang Widhi wasa tidak setuju paman Prabhu menjadi Raja di Majapahit ini,,!'' ungkap Adipati Daha.


" Kalau demikian pendapat Gusti Adipati, maka sebaik nya lah Pamotan membangun landasan pasukan nya di wilayah Daha ini karena Kadipaten Daha ber batas langsung dengan Kotaraja, bersama kadipaten Kahuripan di sebelah Timur,!" ujar Naja Pratanu lagi.

__ADS_1


" Kadipaten Daha tentu sangat senang jika Pamotan mau membangun landasan pasukan Pamotan di sini, selain keadaan kadipaten Daha lebih aman juga setidak nya prajurit Daha bisa belajar dari pasukan Pamotan itu,!" jawab Adipati Daha yg ter lihat ber gembira men dengar pernyataan dari adik ipar Adipati Pamotan itu.


__ADS_2