BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 Saat KELUD pun murka bagian kedua.


__ADS_3

" Di, sebenarnya guru kita, sikap nya cukup aneh," kata Sasra Bahu kepada Wiera Tantra.


" Aneh Bagaimana maksud kakang,?" tanya Wiera Tantra.


" Ya aneh, sebenarnya kan, dua petinggi di Pandan alas adalah kakak seperguruan dari guru kita, yaitu Patih Kebo Mundira dan Kebo Ndaru, tetapi kita malah di suruh ke pamotan untuk mengabdi, kenapa tidak ke Pandan alas,?" kata Sasra Bahu lagi.


" Benar juga Kang, mengapa tidak ke Pandan alas kita di suruh untuk menjadi prajurit, malah sebaiknya kita di suruh ke pamotan, memang aneh,?" jawab Wiera Tantra.


" Tetapi setelah kejadian tadi , aku baru paham bahwa tujuan guru sangat baik, terbukti bahwa pemimpin Pandan alas hanya mementingkan diri sendiri bukan kepentingan para kawula nya, hingga kesenjangan sangat-sangat terlihat,!" jelas Sasra Bahu.


" Rakyatnya kelaparan, sedang kan pejabat nya kekenyangan bahkan yg paling miris di sebelah desa yg kelaparan ada sebuah Lumbung besar penuh dengan isi nya tanpa mau membagi nya, sungguh sifat yg adigang, adigung dan adiguna," ungkap Wiera Tantra.


" Benar,. mungkin itulah sebabnya guru menyuruh kita ke pamotan bukan ke Pandan alas, karena beliau mengerti dan paham akan sifat-sifat pemimpin nya termasuk kedua kakak seperguruannya itu,!" tutur Sasra Bahu lagi.


" Boleh Jadi, supaya kita tidak ikut ke dalam menyengsarakan rakyat Majapahit,!" jawab Wiera Tantra.


Keduanya terus berjalan dan setelah tiba di pertigaan mereka berbelok ke arah kiri menuju ke kadipaten Tumapel.


Sasra Bahu dan Wiera Tantra bermaksud agar cepat sampai ke pamotan tanpa harus menyinggahi kota Daha.


Sedangkan di pamotan sendiri , tengah di sibukkan dengan kedatangan para peserta pendadaran yg ingin di terima sbagai prajurit. Adalah Lembu Petala sebagai pemimpin dari penerimaan prajurit itu , segera menempatkan mereka di barak-,barak yg telah di sedia kan.


Lembu Petala di bantu dengan Rangga Rawelu dan Arya bor bor. Setelah seharian penuh ia berada di barak-barak calon prajurit itu malam nya mereka bertiga menghadap kepada Wikala yg sekarang memimpin Pamotan seorang diri kare Ratu Pamotan tengah hamil besar.


" Maafkan Gusti Adipati, ternyata calon pendadaran masih banyak yg belum hadir sampai saat ini,!" ucap Lembu Petala.


" Masih banyak kah, mereka yg belum hadir itu,?" tanya Radeksa Wikala.


" Mungkin mencapai dua ratus orang, dan apakah kita bisa untuk terus melakukan pendadaran tanpa menunggu mereka yg belum datang ,!" kata Lembu Petala.


" Paman , sebaiknya kita tunggu barang sepekan karena pun kita tidak di buru waktu, meski ketegangan antara Kotaraja dengan Pandan alas semakin meningkat,!" kata Wikala lagi.


" Gusti guru Adipati, izinkan lah murid untuk kembali ke daha walau sebentar, karena sambil menunggu para calon prajurit itu datang , saya bisa menggunakan waktu sepekan itu untuk menemui keluarga di Thanda,!" kata Arya bor bor kepada Wikala.


" Bor, jangan sekarang, nanti saja ketika nanti Ratu akan melahirkan, engkau akan ke Thanda sekaligus membawa Romo dan biyung kemari," kata Wikala.


" Baiklah Gusti guru adipati,!" jawab Arya bor-bor.


" Sebaiknya nanti keluarga mu turut pindah kemari,!" kata Wikala lagi.


" Jadi Gusti adipati, setelah para calon prajurit terkumpul tugas kami selanjutnya apa?" tanya Rangga Rawelu.


" Tugas kalian yg dari bidang keprajuritan memberikan bimbingan tentang hal keprajuritan, bagaimana memaksi gelar perang dan bagaimana dalam menempatkan posisi pokoknya semua hal keprajuritan kalian ajarkan, sedangkan untukmu Bor engkau harus mampu mendidik mereka bagaimana caranya bertempur sendirian tanpa bantuan teman, !" jelas Wikala.

__ADS_1


" Satu hal lagi didik mereka dalam kemampuan mempergunakan semua senjata, hingga sebatang ranting pun bisa di gunakan untuk melumpuhkan musuh,!" jelas Wikala.


" Sayang adi Pratanu tidak berada di sini ,ia sangat kuharapkan untuk menjadikan mereka prajurit teliksandi yg tangguh, namun tidak mengapa nanti pun setelah berjalan pendadaran itu, masih bisa di ajarkan bagaimana menjadi prajurit teliksandi yg handal," kata Wikala.


" Maaf Gusti adipati, berbicara tentang prajurit sandi, kemarin ada laporan dari prajurit sandi kita bahwa Pandan alas meningkatkan kewaspadaan nya dengan menambhkan pasukan di perbatasan kadipaten Daha dan di perbatasan antara kotaraja dengan Kahuripan,!" jelas Lembu Petala kepada Wikala.


" Heh, apakah perang akan segera pecah ,?" tanya Wikala lagi.


" Dari laporan yg kami terima, bahwa ada dua orang pemuda yg telah menguras lumbung perbekalan mereka dengan melumpuhkan para prajurit nya,!" jawab Lembu Petala lagi.


" Hebat, hebat, kalau bisa seperti mereka itulah yg jadi prajurit Balasewu, hingga Pamotan ini tidak akan gentar menghadapi siapa pun, baik Pandan alas maupun Kotaraja jika telah di kuasai oleh Adipati Pandan alas itu,!" kata Wikala sambil bertepuk tangan.


" Dan nampaknya pihak mereka telah beberapa kali mengirimkan prajurit Sandi nya kemari, sejak wara-wara penerimaan prajurit itu di sebarkan,!" kata Rangga Rawelu.


" Satu hal lagi Gusti Adipati, bahwa Kahuripan bersiap akan berperang dengan Pandan alas jika Adipati Pandan alas tetap memaksakan keinginan nya untuk menjadi raja,!" kata Lembu Petala lagi.


" Darimana Paman mendengar kabar itu,?" tanya Wikala kepada Lembu Petala.


" Berita itu di sampaikan langsung oleh Tumenggung Wirana kepadaku ketika kami datang ke Kahuripan waktu itu, dan mereka meminta kita untuk membantu mereka bersama pasukan dari Daha,!" jelas Lembu Petala lagi.


" Nanti kalau Kangmas Kahuripan yg meminta langsung bantuan pasukan maka Pamotan akan memberikan nya ,!" jawab Wikala.


" Yg utama bagi kita adalah membangun pasukan yg kuat, guna menghadapi segala kemungkinan yg ada dengan pecahnya perang,!" terang Wikala lagi


" Cari tahu juga siapa orangnya yg mampu mencuri lumbung padi Pandan alas itu, !" perintah Wikala menutup pembicaraan malam itu.


Semuanya kembali ke rumahnya masing-masing di wayah sepi uwong. Ternyata cukup lama pembicaraan itu berlangsung.


Sepeninggal Lembu Petala dan Rangga Rawelu tinggal lah sendiri Arya bor bor.


" Bor bukan maksud ku untuk melarang mu ke Thanda , tetapi aku menginginkan engkau tetap mendampingiku sampai Adi Pratanu dan Larasati kembali, " jelas Wikala.


" Sendika guru, namun saat ini ada perasaan yg kurang enak tentang keadaan anak dan istri hamba, guru,!" kata Arya bor bor lagi.


" Akupun sama bor, saat ini merindukan Arya wiradamar, sedang apa ia sekarang, dan sudah sebesar apa ,?" tanya Wikala seolah pada dirinya sendiri.


Nampak pemimpin Pamotan itu termenung mengingat anak dan istrinya yg berada di Thanda, ia sebenarnya ingin membawa mereka ke pamotan, namun Wikala masih menjaga perasaan dari Ratu Pamotan, jika ia harus memboyong puteri Champa ke pamotan.


***"""******


Sementara di desa thanda sendiri , keadaan tampak ramai karena di rumah Mpu Thanda telah kehadiran dari Pratanu Larasati dan Nyai Dewi putrani serta Rara Tantri yg malam itu datang ke rumah Mpu Thanda itu.


" Wah, anak bibi sekarang sudah besar, hayo siapa namanya,?" tanya Larasati kepada putra Wikala itu.

__ADS_1


" Nama saya bi, adalah damar, !" jawab bocah kecil yg berwajah tampan itu.


Dengan cepat dan perasaan gemas, Larasati segera menggendong Arya wiradamar, dan bocah itu pun ke senangan , sambil tertawa-tawa .


" Apa khabarnya angger Pratanu,?" tanya Mpu Thanda.


" Baik Romo,!" jawab Pratanu .


" Nanti kalau kalian kembali katakan pada Kangmas mu, bahwa putranya disini perlu perhatian dari nya,!" kata Mpu Thanda.


" Baik, pesan Romo akan kami sampaikan,!" jawab Naja Pratanu.


" Ku lihat angger Tantri dan gurunya ikut kemari apakah ingin mengundang kalian untuk datang di acara pernikahan nya,?" tanya Mpu Thanda kepada menantunya itu.


" Bukan Romo, sebenarnya panjang ceritanya , tadi kami sebelum sampai kemari, telah bertemu dengan calon suami nya, di Wengker, dan ia tengah bersama wanita lain, jadi Tantri langsung memutuskan pertunangannya, jadi kemungkinan pernikahan nya akan batal,!" jelas Naja Pratanu.


" Batal bagaimana maksudmu Ngger,?" tanya Mpu Thanda yg tidak mempercayai ucapan dari menantu nya itu.


" Ya batal alias gagal menikah,!" jawab Naja Pratanu agak sulit menjelaskan nya.


" Kok bisa , kasihan nya nasib mu, Ngger,!" kata Mpu Thanda sambil menatap Rara Tantri yg sedang bermain main dengan arya Wiradamar.


" Karena tunangan nya itu pun, Romo, tidak mengakui Tantri sebagai tunangan nya, hingga membuat Tantri marah besar, dan langsung memutuskan pertunangannya,!'" kata Naja Pratanu lagi.


Mpu Thanda menarik nafas dalam-dalam, ia teringat beberapa waktu silam saat Anaknya itu, disuruh melamar Tantri , namun tidak mau padahal ia menyukai gadis itu, sekarang perempuan itu pun kembali gagal untuk membina rumah tangga nya, amat miris nasib putri ki Gede Thandasain itu , berkata dalam hati dari Mpu Thanda.


Keesokan paginya, lima orang perempuan itu ke sawah melihat padi yg mulai menguning, di antara mereka adalah Larasati, Tantri , Putri Cemaravati, putri Yasuvati dan Nyai Dewi putrani.


Ketika matahari tengah menggatalkan kulit, tiba-tiba ada pengawal tanah perdikan yg mendatangi mereka dan berkata kepada Tantri bahwa di rumahnya ada tamu yg ingin bertemu dengan nya.


Oleh Tantri di tanya kan siapa tamu itu sesungguh nya, di jawab pengawal tanah perdikan dengan tidak mengetahui nya.


" Baiklah aku segera kesana, kau kembali lah lebih dulu,!" kata Tantri kepada pengawal tanah perdikan itu.


Pengawal itupun segera kembali, sedangkan Tantri masih berada di sawah sambil ber tanya kepada gurunya,


" Menurut guru, siapa kah tamu itu,?" tanyanya kepada Nyai Dewi putrani.


" Entahlah ngger, aku tidak dapat mengira ngiranya,!" jawab Nyai Dewi putrani wijaya


--------------------..


"

__ADS_1


__ADS_2