BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 6: UTUSAN bagian keempat.


__ADS_3

Di padepokan Ki buyut lengkara kedatangan tamu, tiga orang perempuan cantik, ya di Puncak ceremai kedatangan tamu dari nusakambangan yaitu Nyai Dewi putrani wijaya beserta kedua orang muridnya , Eka ayu untari dan Rara Tantri.


" Begini kakang lingga, sebenarnya selain kami ingin jalan- jalan ,ada juga yg ingin kami tanyakan kepada kakang," kata Nyai Dewi membuka percakapan.


" Hei, apa itu nini Dewi , kupikir karena rindulah Nyai datang ke tempatku, ternyata ada perlu rupanya," jawab Ki buyut lengkara.


" Ahh, kakang masih senang guyon ," tukas Nyai Dewi.


" Guyon itu membuat awet muda, tidak terlalu di bawa pikiran akan kehidupan yg fana ini , nini Dewi," ujar ki buyut lagi.


" Kakang sekarang sudah jadi Resi dharmadyaksa kasaiwan rupanya," balas Nyai Dewi.


" Tidak , kakang mu masih seperti yg dulu, Ohh apa sebenarnya keperluanmu nini Dewi,?" tanya ki buyut.


" Begini , aku kan sedang meramu obat , namun salah satu syaratnya masih kurang , kira-kira kakang tahu tidak keberadaannya?" tanya Nyai Dewi kembali.


" Syaratnya yg kurang,. apa?" tanya ki buyut.


" Kembang diwala amerta,!" jawab Nyai Dewi.


" Hahhh, itukan kembang langka yg berada di seputaran semeru dan bromo,!" jawab Ki buyut lengkara agak terkejut.


" Benar kakang, itu kembang langka tapi masih ada , kan" jelas Nyai Dewi.


" Sudah nini dewi tanyakan pada Resi Begawan mahameru ,?" tanya ki buyut pada Nyai Dewi.


" Kami sudah ke semeru akan tetapi tidak bertemu dengan Resi Begawan yg kami jumpai bekas padepokan nya yg telah jadi abu," jawab Nyai Dewi.


" Apakah Resi Begawan mahameru telah meninggal Dunia,?" tanya ki buyut kepada kepada Nyai Dewi.


" Entahlah kakang, tidak seorang pun disana yg dapat kami temui ," ucap Nyai Dewi.


" Bagaimana kah nasib Resi Begawan mahameru " ujar ki buyut lengkara.


Tampak Nyali Dewi putrani menggeleng tanda tidak mengetahuinya.


Kemudian Ki buyut berkata,


" Kalau nini ingin tahu keberadaan kembang diwala amerta, ada seseorang yg dapat memberitahukan keberadaan nya" jelas Ki buyut.


" Siapa....?" tanya Nyai Dewi putrani.


" Kakang Barada.." ujar Ki buyut lengkara.


" Hehhh," Nyai Dewi tersentak kaget.


" Memangnya kenapa , nini Dewi terkejut,?" tanya Ki buyut lengkara.


Nyai Dewi terdiam, ia teringat masa berpuluh tahun silam , saat-saat mereka masih muda , diantara mereka ada hal yg sulit untuk di lupakan .


Perasaan itu tetap sama, meski usia telah senja, bahwa sebenarnya ki buyut lengkara yg bernama asli Lingga raga menaruh hati pada Nyai Dewi akan tetapi ditolak karena Nyai Dewi menyukai seorang yg lain yaitu Barada. Sayang gayung tidak bersambut Barada menolak


cinta Nyai Dewi dan menikah dengan orang lain sementara Nyai Dewi tidak menikah selamanya.


Jadi ketika ki buyut menyebutkan nama, Barada di pikiran Nyai Dewi bercampur aduk ,antara benci dan cinta , antara suka dan duka.


" Jangan terlalu dirisaukan yg telah lampau, yg lalu biarlah berlalu, tiada guna menyimpan dendam, " ujar ki buyut lengkara sareh.


" Ehhh, bukan begitu... maksud ku...!" ucap Nyai Dewi tergagap.


" Sekarang kita sudah sama-sama tua, alangkah baiknya kita menjalin persahabatan yg telah terputus," tukas Ki buyut lagi.


" Bukan begitu kakang, sebenarnya murid yg bersama kami ,salah satunya adalah nasibnya persis sama dengan ku" ucap Nyai Dewi lirih.


" Yang mana, ?" tanya ki buyut lengkara


" Yang bernama, Rara Tantri, ia ditinggalkan kekasihnya yg menikah dengan orang lain," kata Nyai Dewi.


" Kasihan nya anak itu," kata Ki buyut.


" Yg lebih kasihan lagi adalah bahwa lelaki yg meninggalkannya itu murid kakang Barada," jelas Nyai Dewi.


" Angger Wikala, Satria Dari daha


maksud nini Dewi ?" tanya ki buyut.


Kepala Nyai Dewi mengangguk, mengiyakan.


" Dengan siapa angger Wikala menikah, " tanya ki buyut lagi.


" Dengan sekar kedaton, putri parangkawuni putri Sang Prabhu Rajasawardhana, " jawab Nyai Dewi.


" Oolah, dalah, kok mirip nasib gurunya dengan muridnya," desah ki buyut lengkara.


" Biarlah Nyai , nanti kujodohkan dengan cucuku, Mandaraga, " ucap Ki buyut.


Kemudian Ki buyut memanggil Mandaraga untuk menemani Untari dan Tantri melihat lihat sekitar padepokan ceremai.

__ADS_1


Sementara Nyai Dewi dan Ki buyut asyik mengobrol tentang masa-masa yg dahulu.


Sedangkan Mandaraga seorang pemuda yg berbadan tegap dan tinggi mengajak Tantri dan Untari ke taman padepokan ceremai.


Ya , walaupun padepokan ceremai penghuni nya kebanyakan laki-laki namun oleh ki buyut di suruh membuat sebuah taman , yg berisikan berbagai macam kembang.


" Wah , indah nya tempat ini, Kang," kata Untari pada Mandaraga


" Ya , kami di perintahkan oleh eyang untuk menanami kembang di tempat ini untuk olahraga mata," jelas Mandaraga.


" Nyaman... disini,!" ujar Tantri.


" Apakah di nusakambangan, tidak ada taman ?" tanya Mandaraga pada Tantri.


" Ada akan tetapi tidak seluas disini, lagian guru menanami kembang yg bisa untuk obat," jelas Tantri.


" Kapan-kapan aku akan minta izin eyang untuk menyambangi tempat kalian," ujar Mandaraga


" Bagus itu ...!" ucap Untari bersemangat.


" Datanglah ke tempat kami pasti kakang akan terpukau dengan pemandangan lautnya" kata Untari lagi.


Sementara Tantri banyak berdiam diri, menikmati indah nya pemandangan di ceremai.


********


Saat itu kapal yg di tumpangi oleh Wikala dan Lembu petala sedang berlayar setelah sebelumnya singgah di pelabuhan Asem arang dan sekarang menuju ke pelabuhan Kelapa di ujung barat Pulau jawa.


Kapal yg berisikan para saudagar tiongkok dengan bermacam barang dagangan mulai rempah- rempah sampai perhiasan sedangkan yg mereka bawa dari tiongkok adalah Kain sutera dan pelbagai macam keramik serta tembikar.


Di tengah perjalanan, tiba- tiba dari arah samping tepatnya dari utara muncul kapal yang berbendera tengkorak kepala, ya kapal bajak laut.


" Ada Rompak....," teriak nakhoda kapal


" Haiyaa, gawat mana kita kekurangan pengawal," kata salah seorang saudagar Tiongkok yg berbadan Tambun.


" Bagaimana ini, bisa-bisa kita mati semua," ucap yg berbadan kurus.


" Berapa jumlah pengawal kita?" tanya yg berbadan Tambun yg tampaknya pemimpin dari para saudagar itu.


" Sekitar sepuluh orang," jawab yg kurus.


" Cilakaaa,. mereka mungkin berjumlah tiga atau lima puluh orang," jelas yg berbadan Tambun.


" Kita sendiri, berjumlah delapan orang ,. eh ditambah penumpang dari Majapahit dua orang," ucap si kurus.


" Suruh Nakhoda mempercepat laju kapal nya, supaya kita lekas sampai di pelabuhan Kelapa " kata si Tambun.


Setelah dekat kapal berbendera tengkorak kepala itu, maka berloncatan lah para bajak laut ke kapal dagang Tiongkok.


Melihat hal itu , Wikala dan Lembu petala segera bersiap,


" Paman jumlah mereka sangat banyak mungkin lebih dari Lima puluh orang," kata Wikala kepada Lembu petala.


" Benar anakmas, jangan sampai mereka menebas habis kita" ucap Lembu petala.


Adapun Kepala Rompak itu begitu berhasil menaiki kapal dagang Tiongkok langsung berkata,


" Serahkan uang dan segala macam barang berharga ataauuu,


nyawa kalian melayang," kata kepala bajak laut yg bernama Gongso.


" Heh, bagaimana ini, jumlah mereka limapuluh orang, " bisik si Tambun kepada yg kurus.


" Haiya, owe tidak tahu lah," jawab si kurus.


" Siapa pemimpin kalian, ?" tanya kepala bajak laut.


" Haiyaa, saya " ucap si Tambun.


" Siapa namamu,?" tanya Kepala Rompak itu.


" Haiya, owe, bernama Tan bun heong," kata si Tambun.


" Baiklah sodara ,Tan aku hitung sampai lima berikan keputusan harta ato nyawa, satu ..dua...tiga..eem" belum habis hitungan Kepala Rompak itu maka si Tambun berteriak,


" Seraaaang," ujarnya kepada para pengawal nya, kontan saja sepuluh orang yg jadi pengawal kapal dagang itu menyerang,


" Hiiiyyyyaaatt, ciiaaaat" teriak para pengawal.


Sang kepala bajak laut pun berkata,


" Habisi mereka jangan ada yg tersisa,"


Maka denting senjata telah terdengar, dan kapal pun riuh oleh suara pertempuran, yg sebenarnya tidak seimbang.


Dengan cepat Para perompak berhasil mendesak para pengawal dan saudagar dari tiongkok, Wikala dan Lembu petala yg sedari tadi diam, kemudian terlibat pertempuran.

__ADS_1


Laksana burung layang- layang kedua Satria handal dari Majapahit ini mulai menghabisi kumpulan perompak. Sudah lima orang anggota bajak laut yg terjatuh kelaut oleh keris Kalamujeng Wikala demikian pula Lembu petala, lima orang langsung tercebur kelaut oleh pedang nya.


Melihat di kapal dagang itu ada orang sakti yg mengawalnya, Kepala Rompak itu segera memerintah kan anak buahnya untuk menghentikan serangan.


" Hehh, kalian berdua , apa hubungan kalian dengan para saudagar itu,?" tanya nya sambil membentak.


" Kami adalah penumpang kapal ini,!" jawab Wikala seenaknya saja.


" Kulihat kalian berdua bukan orang Tiongkok jadi untuk apa membantu mereka,!" tanya Kepala Rompak itu lagi.


" Mau orang Tiongkok atau bukan apa urusan mu, lagian tadi kau menyebutkan untuk menghabisi kami semua," jawab Wikala meninggi.


" Hehh, anakmuda, jika engkau memang sanggup mengalahkan ku, maka kubiarkan kapal ini lewat tanpa kurang suatu apa," tantang si Kepala Rompak.


" Baiklah. " ucap Wikala.


" Heeaaahh, aji bajra geni !" teriak Sang Kepala Rompak.


Serangkum angin panas menerjang Wikala , namun sedari tadi Wikala telah menyiapkan ajiannya segera berteriak,


" Ajian nantha angin, "


Serangan Kepala Rompak itu, segera balik oleh ajian Wikala , tubuh kepala bajak laut itu terlontar jatuh ke laut, akan tetapi sekejap kemudian ia telah berhasil naik kembali keatas kapal dengan pakaian basah kuyup.


" Kau memang hebat anakmuda, namun terima ini ajian Kakang pembarep adi wuragil" teriak kepala bajak laut itu.


Seketika tubuh kepala bajak laut itu menjadi sepuluh.


Sangat sulit menentukan mana yg asli.


Ke sepuluh nya segera menyerang Wikala dengan pukulan bajra geni nya. Dikeroyok oleh sepuluh orang berilmu tinggi membuat Wikala terdesak.


Segera Wikala menggunakan ajian mega mendung nya untuk


mengurangi akibat pukulan ditimbulkan lawan.


Meski beberapa kali pukulan bajra geni mengenainya tidak membuat Wikala terluka.


Memang hebat anakmuda ini pikir Sang Kepala bajak laut.


Kemudian Wikala menggunakan ajian sapta panggraitanya untuk menentukan mana yg asli dari tubuh si bajak laut itu.


Sepuluh tubuh bajak laut itu terus menerus menyerang Wikala , hingga pada kesempatan Wikala meloncat keudara maka,


" ajian Kalacakra, heaaah !"


Sinar merah terang menghantam salah satu tubuh si Kepala bajak laut itu.


" Dhuaaar" suara laksana petir menyasar tubuh si bajak laut.


" Aaaaaaakkhhh," teriak si bajak laut dan jatuh kelaut.


Namun sebelum tubuh si bajak laut itu tenggelam, nampak tubuh Wikala menyusul nya dengan cepat, dan kemudian menjambak rambut nya yg hampir tenggelam.


Dengan cepat Wikala kembali melayang naik keatas kapal sambil membawa si bajak laut yg telah pingsan.


Setelah Wikala meletakkan nya diatas geladak kapal, ia memanggil salah seorang pengawal para saudagar untuk meminta air.


Wikala menotok di beberapa bagian tubuh sang bajak laut yg kemudian membuatnya, tersadar sambil memuntahkan air dan darah.


" Hooeeeekhh," teriak Sang bajak laut.


Wikala kemudian meminumkan air ke mulutnya, tak berapa lama nampak tubuh nya mulai normal bernafas.


" Kenapa kau selamatkan aku, anakmuda,?" tanyanya pada Wikala.


" Ahhh, tidak sepantasnya aku membunuh mu," ucap Wikala.


" Aku memang pantas untuk mati," ujarnya lagi.


" Masih ada kesempatan untuk melakukan kebaikan, melihat ilmu mu yg tinggi kau dapat bekerja dengan benar bukan jadi perompak," kata Wikala meyakinkan.


" Haiya , kasih mati saja, nanti kalau sudah sembuh jadi rompak lagi lah," ujar saudagar yg bertubuh Tambun.


" Engkau kuampuni asal tidak melakukan rompak lagi," tukas Wikala tanpa memperdulikan ucapan saudagar tadi.


" Baiklah anakmuda , karena aku sudah kalah maka aku berjanji tidak akan melakukan rompak lagi, oh ya siapa namamu anakmuda,?" tanyanya pada Wikala.


" Namaku Wikala, berasal dari Majapahit, dan kau," ucap Wikala.


" Namaku Gongso" ucap si bajak laut.


" Gongso ,suruh anakbuah mu kembali ke kapal kalian " perintah Wikala.


Dengan isyarat saja seluruh, anggota bajak laut kembali ke kapal nya.


Kemudian Wikala membawa tubuh si bajak laut ke kapal nya.

__ADS_1


Sambil berkata,


"Jika nanti kudengar ada Rompak yg bernama Gongso lagi akan kuhabisi semua, termasuk kapalnya," jelas Wikala.


__ADS_2