BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 11 : Saat KELUD pun murka. bagian pertama.


__ADS_3

Segera Wiera Tantra keluar dari persembunyiannya dan memberikan serangan, " Heaaahh," teriaknya, sebuah pukulan tangan kiri nya menuju kepala Rangga paniti.


Mendapatkan serangan tiba-tiba, Rangga kepercayaan dari Tumenggung Jayasena itu menghindari nya dengan memiringkan kepala nya, luput lah serangan dari Wiera Tantra itu.


Lumayan juga prajurit ini, kata nya dalam hati. Sedangkan Sasra Bahu segera menuju pintu Lumbung dengan membawa beberapa karung. Dan is berkata, " Adi, cepat kau selesai kan tugas mu,".


" Baik, kakang,!" jawab Wiera Tantra dan kembali menyerang dengan lebih cepat.


" Hehh, ternyata ada dua tikus yg berani masuk ke lumbung kadipaten pandan alas,!" teriak Rangga Paniti.


" Daripada kau, seorang Macan yg memakan harta orang miskin," jawab Wiera Tantra sambil memberikan tendangan.


Kembali tendangan pendekar dari Telomoyo itu luput, karena ki Rangga Paniti melompat menghindari.


Dua kali serangan Wiera Tantra tidak mengenai sasaran yg membuat nya penasaran.


Dengan sebuah serangan tipuan , Wiera Tantra kembali memberikan tendangan namun ketika serangan itu coba di hindari oleh Rangga Paniti, dengan cepat kaki Wiera Tantra ditarik nya kembali dan ia memberikan sodokan dengan siku nya,


" Dieeegghh,!" bunyi siku dari Wiera Tantra yg mengenai lambung kiri Rangga Paniti , tidak sampai di situ, sebuah tendangan memutar menyusul mengenai leher dari Rangga Pandan alas tersebut hingga membuat nya jatuh terjajar.


" Hehh, keparat,!" teriak Rangga Paniti setelah bangkit dari atas tanah.


" Ceoat adi, kau harus membantu ku,!" teriak Sasra Bahu dari dalam Lumbung itu.


" Beres," teriak Wiera Tantra .


Ia melakukan lompatan yg panjang sambil mengarah kan pukulan nya ke arah dada dari Rangga Paniti yg sedang memperbaiki posisinya, dan mendapatkan serangan lagi Sang Rangga tidak dapat menghindari , ia hanya memalangkan kedua tangan nya untuk menahan pukulan itu.


Namun karena posisinya belum mapan, pukulan dari Wiera Tantra itu pun masih mampu masuk hingga membuat tubuh sang Rangga itu harus terdorong surut kebelakang. Dan kali ini Wiera Tantra tidak menyia-nyiakan kesempatan segera serangan susulan pun di lakukan, dengan memberikan tendangan sapuan sambil di ikuti sebuah totokan pada leher Sang Rangga Paniti yg telah terjatuh itu.


Tubuh Rangga Paniti langsung terdiam setelah mendapatkan totokan.


Wiera Tantra kemudian masuk ke dalam Lumbung dan membantu Sasra Bahu memasukkan padi ke dalam karung, setelah karung-karung itu penuh kedua nya langsung pergi dari tempat itu.


Kedua nya menuju desa yg penduduk nya banyak menderita kelaparan.


Sesampainya di desa itu mereka membagi-bagikan bawaan nya kepada para warga , beberapa kali mereka mengambil lagi dari lumbung itu dengan di bantu para warga ketika fajar menjelang Sasra Bahu dan Wiera Tantra meninggalkan desa itu menuju Daha.


" Adi sebaik nya kita lewat daha, setelah itu ke Tumapel,!" jelas Sasra Bahu kepada adik seperguruannya itu.


" Apa tidak sebaik nya lewat kota raja kemudian lewat Paguhan,?" tanya Wiera Tantra kepada kakak nya itu.

__ADS_1


" Bahaya Di, karena kota raja tentu telah banyak prajurit mereka , bisa-bisa kita tidak sampai di pamotan malah mendekam di penjara Majapahit,!" jawab Sasra Bahu dan terus berjalan dengan cepat karena hari semakin terang.


" Benar juga Kang, tentu di kota raja para prajurit akan memeriksa kita, akan sulit untuk lolos, sedang kan lewat dari daha , para prajurit nya tidak ada yg tahu tentang kejadian ini,!" kata Wiera Tantra yg brjalan mengimbangi Sasra Bahu kakak seperguruannya itu.


Sementara di kota pandan alas, Tumenggung Jayasena sedang murka kepada para prajurit nya, dengan keras ia berkata, " Cari mereka , tangkap hidup atau mati, kirimkan utusan ke kotaraja bahwa ada dua orang yg berbahaya yg perlu untuk di tangkap, jelaskan ciri-*cirinya,!" katanya dengan gusar.


" Baik kanjeng Tumenggung ,!" kata Lurah prajurit pandan alas itu.


Kemudian Tumenggung Jayasena mendatangi Rangga Paniti yg masih dalam perawatan di bangsal katumenggungan.


" Heh, Paniti , sebenarnya bagaima kejadian nya hingga engkau bisa kalah dengan mereka, memalukann, " kata Tumenggung Jayasena.


" Maaf kan aku , kanjeng Tumenggung , kejadian begitu cepat, tiba-tiba sepuluh orang prajurit langsung ambruk dan cuma aku seorang yg tinggal sedangkan mereka berdua, langsung mengeroyokku, hingga kejadian nya seperti ini, aku terpaksa harus di rawat,!" jelas Rangga Paniti dengan berbohong kepada Tumenggung Jayasena.


" Kau tahu Paniti, Gusti Patih Kebo Mundira sangat murka mendengar khabar ini, seolah-olah prajurit pandan alas hanya bakul nasi yg tidak berguna, tahu nya cuma makan dan tidur saja,!" terang Tumenggung Jayasena kepada Rangga Paniti.


" Apalagi kini Gusti Adipati tengah bersiap untuk jadi Raja di Majapahit ini, bagaimana malu nya kita selaku para prajurit yg tidak mampu menjaga lumbung padi kita sebagai perbekalan jika nanti nya pecah perang antara Majapahit dengan pandan alas, mau di taruh mana muka kita ini ,Paniti," ungkap Tumenggung Jayasena, merupakan Tumenggung kesayangan Adipati dan Patih pandan alas.


Rangga Paniti terdiam, ia lebih baik demikian daripada harus menjawab nya, karena bisa-bisa satu harian ia habis di omeli oleh atasan nya itu.


Karena Rangga Paniti diam saja, akhirnya Tumenggung Jayasena segera berlalu dari situ, ketika telah berada di luar nampak seorang prajurit mendatangi nya dan berkata bahwa ia di panggil menghadap oleh Patih Kebo Mundira.


Sedangkan di Istana kepatihan pandan alas telah hadir beberapa pejabat tinggi pandan alas, di antara nya Arya kangga penasehat Adipati pandan alas , Senopati Kebo Ndaru, dan ada juga Tumenggung yg hadir di sana .


Setelah Tumenggung Jayasena tiba di Istana kepatihan barulah Patih Kebo Mundira membuka pembicaraan.


" Saudara-saudara ku sekalian, sesungguhnya Gusti Adipati telah membicarakan soal peralihan kekuasaan dari tangan Prabhu GirishawardHana Bhatara Purwawisesa kepada beliau dengan jalan damai dan juga sudah di setujui oleh Gusti Prabhu,!" kata Patih Kebo Mundira diam sesaat kemudian melanjutkan lagi.


" Namun nampak nya , jalan Gusti Adipati menuju singgasana Majapahit ini, masih harus mendapatkan hadangan,!" terang Patih Kebo Mundira lagi.


" Mendapatkan hadangan dari mana kakang Patih,?" tanya senopati kebo ndaru yg tidak sabaran itu.


" Usaha junjungan kita yaitu Gusti Adipati mendapatkan hadangan dari anak Prabhu SiNAGARA, yaitu tiga orang yg memimpin di tiga kadipaten , kadipaten Kahuripan, daha dan Pamotan, yg paling keras menentang nya adalah Adipati Kahuripan,!" jelas Patih Kebo Mundira.


" Bagaimana kakang Patih kalau Kahuripan kita serang saja,!" kata Kebo Ndaru lagi.


" Inilah masalahnya, Gusti Adipati berharap tidak ada singgungan dengan ketiga kadipaten itu sampai beliau duduk di atas singgasana Majapahit,!" kata Patih Kebo menjawab pertanyaan dari adiknya.


" Rasanya mustahil kalau tidak terjadi singgungan dengan ketiga orang itu, mengingat mereka pun berhak atas Tahta Majapahit ini,!" jelas Arya kangga.


" Benar itu Ki Patih rasanya tidak mungkin dengan secara mudah Gusti Adipati untuk bertahta di Majapahit, dan kejadian hari ini pun, mungkin kerja dari teliksandi mereka untuk menghabisi perbekalan kita,!" kata Tumenggung Jayasena.

__ADS_1


" Ada benar nya ucapan mu , Jayasena,!" kata Patih Kebo Mundira.


" Dan mulai hari ini, perketat keamanan terutama daerah perbatasan dengan Daha, dan perbatasan antara kotaraja dengan Kahuripan, kalau dengan Pamotan kirimkan teliksandi guna mengetahui apa saja yg di lakukan Sang Adipati nya,!" perintah Patih Kebo Mundira dengan tegas.


Sementara itu Sasra Bahu dan Wiera Tantra hampir memasuki wilayah kadipaten Daha, namun oleh mereka terlihat lah dari kejauhan nampak debu mengepul pertanda banyak kuda yg tengah di pacu menuju mereka.


" Kang bagaimana ini, jangan-jangan mereka para prajurit Pandan alas,!" kata Wiera Tantra kepada kakak seperguruannya itu.


" Bisa jadi , mari kita bersembunyi,!" ajak Sasra Bahu kepada Wiera Tantra dengan menggunakan peringan tubuh memanjat sebatang pohon besar nan rimbun di tepi jalan menuju Daha itu.


Beberapa saat kemudian nampak lah rombongan prajurit pandan alas yg tengah memburu seseorang, mereka terus memacu kuda-kuda mereka melewat di bawah pohon persembunyian dari Sasra Bahu dan Wiera Tantra.


" Heh, mereka tidak melihat kita,!" kata Wiera Tantra


" Iya mereka memang tidak melihat kita, namun sebentar lagi mereka pasti balik lagi karena di depan adalah perbatasan kadipaten pandan alas dengan Daha,!" kata Sasra Bahu yg kemudian terdengar kembali derap kaki-kaki kuda kembali kearah mereka.


Dan pas tepat di bawah pohon persembunyian kedua orang itu, Lurah prajurit yg memimpin rombongan itu menghentikan kudanya seraya berkata,


" Kalau menurut ku, mereka telah masuk ke kadipaten Daha, kalau menurut kalian,?" tanyanya kepada para prajurit nya.


" Benar ki Lurah, mereka telah masuk ke daha, dan kita tidak mungkin kesana, bisa-bisa kita harus berhadapan dengan prajurit daha,!" jawab salah seorang prajurit itu.


" Namun banyak saksi yg menyembutkan mereka memang ke arah sini larinya, jadi tanggungjawab kita menangkapnya,!" kata Lurah prajurit itu lagi.


" Lha wong , manusia nya tidak ketemu bagaimana mau menangkap nya,?" tanya salah seorang prajurit kepada pimpinannya itu.


" Ucapanmu benar, tetapi Kanjeng Tumenggung mana mau tahu alasan nya, yg penting tangkap hidup atau mati, itulah perintah nya,!" ungkap Lurah prajurit itu.


" Yo benerr, kalau ada orang nya kalau tidak ada opo yo angin yg mau di tangkap, lagian pun pasukan ki Rangga Paniti pun takluk, seharusnya dia yg paling bertanggungjawab atas lolos nya kedua orang itu,!" kata prajurit itu.


" Ucapanmu selalu benar reng, baiklah kita kembali melaporkan hasil pekerjaan ini kepada kanjeng Tumenggung Jayasena,?" kata Lurah prajurit itu serta merta menghela kudanya, seluruh prajurit mengikuti di belakang nya.


Sementara itu di atas pohon Sasra Bahu dan Wiera Tantra diam dan kemudian turun dari pohon itu.


" Sebaiknya kita cepat meninggalkan tempat ini, sebelum mereka kembali,!" kata Sasra Bahu.


" Baiklah Kang , mudah-mudahan setelah masuk ke Daha kita aman,!" ucap Wiera Tantra.


Keduanya melesat menuju kearah perbatasan daha dan pandan alas, setelah memasuki wilayah Daha mereka baru memperlambat jalan nya.


----------

__ADS_1


__ADS_2