
Di bagian Timur, tepatnya di Puncak Raung, nampaklah Rumangsa sedang menunggui gurunya, Mpu Thula.
Ya, Rumangsa yg berhasil lolos dari kejaran Wikala dapat menyelamatkan gurunya, hingga ke padepokan akan tetapi keadaannya makin memburuk, sudah hampir dua purnama, Mpu Thula belum pun tersadar. Rumangsa yg menunggui sangat cemas melihat keadaannya.
Hingga suatu malam, Mpu Thula mampu membuka matanya dengan perlahan .
Ia memberikan isyarat kepada Rumangsa untuk mendekat.
" Maaang saa,. a ku me yimpan ki tab, aji tan da na raa wikara, di bawah tempat tidur, pelajarilah, ba laskaan dendam gurumu ini ,!"
ucap Mpu terbata- bata, tidak berapa lama kemudian ia pun menutup mata untuk selamanya.
" Guruuu,!" teriak Rumangsa
Setelah kematian Mpu Thula, maka padepokan Raung di pimpin oleh Rumangsa, ia pun
memerintah kan, Bawon adik se
perguruan untuk memberikan khabar ke kota raja Majapahit,
kepada Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi yg merupakan
murid paling tua dari Mpu Thula.
Sesampainya, di kota raja, Bawon pun menceritakan kejadian nya.
" Kakang ,guru telah tewas setelah hampir dua purnama
pingsan," ucap Bawon kepada Mantri Kuda Langhi.
" Hahh, makin berat usaha kita untuk menguasai keraton, setelah kepergian guru, selain memiliki ilmu yg tinggi ia pun. memiliki pemikiran yg cerdas, " kata Kuda Langhi.
" Sekarang padepokan di pimpin kakang Rumangsa, setelah kakang dan kakang Barong bagong tiada, !" jelas Bawon.
" Bagus , mudah mudahan adi Rumangsa dapat menjadi pemimpin seperti guru" ujar rakryan Mantri.
" Baiklah kakang, aku tidak dapat berlama- lama takut ada yg mengenali, selanjutnya jika memerlukan kami, kirim saja utusan," kata Bawon pamit undur diri.
******
Di desa thanda, di rumah Wikala,
Naja pratanu yg telah siuman dan ditunggui oleh Larasati , turun dari pembaringannya dan melangkahkan kaki hendak keluar.
" Kakang, mau kemana, ?" tanya Larasati.
" Mau ke belakang, sebentar,!" ucap Pratanu.
" Sudah mampu brjalan sendiri,?" Larasati bertanya lagi.
" Sudah" jawab Pratanu.
" Nanti kalau membutuhkan sesuatu panggil saja aku," kata Larasati.
Kemudian Pratanu berlalu kebelakang ,ia membersihkan tubuhnya di pakiwan setelah dua hari ia tidak mandi akibat pingsan .
Setelah itu Naja pratanu kembali ke dalam yg kemudian makan bersama dengan keluarga Wikala.
" Ngger Pratanu, bagaimana ceritanya hingga paman wekaz, bisa tewas,?" tanya Mpu Thanda , yg mengetahui duduk permasalahannya dari Wikala.
" Saya tidak tahu paman, ketika saya sampai di padepokan, guru telah tewas dan padepokan telah jadi karang abang,!" tutur Pratanu.
" Selepas dari sini kalian kan masih bersama, di mana berpisahnya,?" tanya Mpu Thanda lagi
__ADS_1
Sementara Wikala , Larasati dan ibundanya diam mendengarkan .
" Ketika kami tiba dikaki semeru, guru memerlukan kembang diwala amerta, untuk obat luka dalam nya, saya di suruh mencari kembang itu, disitu lah terakhir kalinya kami bertemu,!" jelas Pratanu.
Sambil mengangguk angguk Mpu Thanda pun bertanya kepada Wikala kapan, ia kesana
dan apa yg dilihatnya.
" Romo, saat disana yg kulihat , padepokan sudah di tumbuhi rerumputan yg merambat, meski sisa- sisa tulang dan tengkorak masih ada," ucap Wikala.
" Dan tombak Naga tirta dapat darimana, Ngger,?" tanya Mpu Thanda.
" Didapat dari salah seorang murid Mpu Thula yg tewas beberapa hari kemarin,!" jelas Wikala.
Maka setelah mendengar penjelasan Mpu Thanda dan Wikala , akhirnya Naja pratanu faham bahwa yg membunuh Resi mahameru bukanlah Wikala.
Pratanu salah menilai tentang keberadaan tombak Naga tirta milik gurunya. Oleh karena itu ia minta maaf kepada Wikala sekeluarga.
" Angger kami maafkan, dengan syarat, !" ucap Mpu Thanda.
" Apa syaratnya paman,?" tanya Pratanu.
" Angger Pratanu harus tetap disini sampai pernikahan angger Radeksa selesai," jelas Mpu Thanda
" Saya siap menerima syaratnya paman,!" ucap Pratanu.
Yg senang mendengar syarat dan kesediaan Pratanu adalah Larasati. Hatinya berbunga-bunga
bagaikan kembang bermekaran di taman.
******
Di istana kadipaten pandan alas tepatnya di istana kepatihan , nampak Patih Kebo Mundira sedang kedatangan tamu. Ia kedatangan tamu dari kota raja Majapahit, yaitu Mahisa Dara dan seorang punggawa Bhayangkara bernama Jaran abang, yang diutus oleh Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi.
" Apaaa !!!, paman guru telah tiada ,!" teriak Patih Kebo Mundira.
" Demikian lah adanya," jawab Mahisa Dara.
" Siapakah yg telah membunuh nya?' tanya Patih Kebo Mundira lagi.
" Satria Dari Daha , alias Radeksa Wikala , calon mantu Gusti Prabhu," jelas Mahisa Dara
" Keparaaat, hutang nyawa bayar nyawa, belum habis dendam atas kematian guru, sekarang pun paman guru telah tewas, muncul lagi musuh yg harus dibasmi dari tlatah Majapahit ini," berkata Patih Kebo Mundira berapi-api.
" Benar Paman Patih, Romo pun sependapat , bahwa musuh kita makin bertambah, sebaiknya kita mampu menguasai keraton, !" ucap Mahisa Dara lagi.
" Memang Gusti adipati , sangat tidak suka atas keputusan Gusti Prabhu yg mengangkat putra- putrinya jadi adipati,!" terang Patih Kebo Mundira.
" Kalau begitu, sesuai dengan rencana Romo untuk mengadu keraton dan kadipaten pandan alas," jelas Mahisa Dara.
" Dara, apakah punggawa Bhayangkara ini bisa kau percaya,?" tanya Patih Kebo Mundira.
" Oooo, dia ini Jaran abang , orang nomor dua di Bhayangkara, sangat sangat di percaya oleh Romo," jelas Mahisa Dara.
" Kalau memang begitu, aku akan menceritakan sebuah rahasia tentang kanjeng Adipati,!" ucap Patih Kebo Mundira.
Kemudian Patih Kebo Mundira menjelaskan bahwa Adipati pandan alas Dyah Surya wikrama akan mbalelo terhadap Gusti Prabhu Sang SiNAGARA yang merupakan kakak kandungnya,
sekaligus juga besannya.
Mahisa Dara nampak tersenyum atas rencana yg di susun oleh Kadipaten pandan alas untuk menggulingkan tahta Prabhu SiNAGARA.
" Berarti kita harus saling berhubungan terus untuk mematangkan rencana tersebut, " ujar Mahisa Dara.
__ADS_1
" Ya, kuharap kakang Rakryan Mantri dapat terus menekan posisi sang Prabhu, hingga nanti apabila saat nya tiba, pasukan kami dapat dengan mudah menghabisi pasukan Majapahit," tutur Patih Kebo Mundira.
" Jadi Gusti adipati tidak akan hadir pada pernikahan putri Sang Prabhu,?" tanya Mahisa Dara.
" Tidak , dan sebagai gantinya aku sendiri dan beberapa rakryan Mantri yg akan mewakilinya,!" jelas Patih Kebo Mundira.
" Baiklah , kami akan pamit undur diri, karena istana saat ini sedang sibuknya menghadapi hajatan besar Gusti Prabhu, yg tidak berapa lama lagi,!" ucap Mahisa Dara untuk pamit meninggalkan kadipaten pandan alas.
******
Hari berganti hari , tidak terasa hari pernikahan putri parangka
wuni dan Wikala tinggal setengah
purnama lagi.
Maka keluarga Wikala, dan para pengiring , termasuk ki demang berangkat dari desa thanda ke kota raja Majapahit.
Sebenarnya ki demang enggan ikut mengingat sampai saat ini
Tantri, putri nya belum di ketemukan, akan tetapi karena
kademangan thanda sain akan
di jadikan tanah perdikan dan nan
tinya ia yg akan memimpin maka
terpaksalah ki demang dan ikut
rombongan Wikala.
Selama beberapa hari di jalan , rombongan Wikala dan para pengiring selamat sampai di kota raja Majapahit.
Mereka di tempatkan di istana dalam kepatihan sebagai calon
pengantin lelaki. Tepatnya di kediaman Patih Gajah Nata, sembari menanti hari pernikahan
Maka Patih Gajah Nata pun berkeluh kesah tentang keadaan istana kepada Mpu Thula sekeluarga.
" Begitulah anakmas wirapati, saat ini Gusti Prabhu lebih percaya kepada Kuda Langhi selaku , Rakryan Mantri wreda, sedangkan kami yg berasal dari Kahuripan seakan-akan di lupakan , jadi seolah-olah kami ini
tidak dianggap," tutur Patih Gajah Nata yg memang mengenali Mpu Thanda atau Raden wirapati.
" Nanti hanya perasaan paman saja , Gusti Prabhu pilih kasih, namun sebenarnya memberi kesempatan pada Rakryan Mantri yg telah lama mengabdi di istana
Majapahit ini,!" kata Mpu Thanda
" Yah, itulah masalah nya anakmas , kami kan merupakan abdi yg telah lama bersama Gusti Prabhu , sejak di pamotan, di keling , sampai di kahuripan, jadi Gusti Prabhu sudah dapat mempercayai kami , tidak hanya di beri jabatan kosong,!" jelas Patih Gajah Nata yg mulai sepuh.
Kami yg berasal dari Kahuripan , sangat berharap banyak kepada angger Radeksa untuk dapat memberikan masukan kepada Gusti Prabhu agar memberikan tugas dan wewenang menurut posnya masing-masing, ujar Patih Gajah Nata kepada Wikala.
Wikala yg mulai merasakan panasnya lingkup keraton hanya dapat mengangguk. Di hatinya terbersit kata, sungguh sulit hidup di istana meski di lihat dari luar nampak indah dan senang.
Setelah menjalani berbagai macam . Akhirnya sampailah pernikahan antara Putri parangkawuni dan Wikala, setelah sebelumnya putri parangkawuni mengadakan midodareni.
Acara pernikahan di lakukan dalam tatacara Hindu syiwa, yg dipimpin oleh Resi dharmadyaksa ring kasaiwan.
Setelah resmi menikah, maka Gusti Prabhu mengadakan acara resepsi pernikahan selama tujuh hari tujuh malam yg diisi acara pertunjukan wayang di lakukan tanpa henti, dan juga acara tari-tarian.
Pokoknya warga Majapahit selama sepekan itu amat menikmati atas hajatan besar Gusti Prabhu Sang SiNAGARA.
Wikala yang mendapatkan Jodoh KeRATON juga merasakan kegembiraannya, walaupun di lubuk hatinya yg paling dalam masih tersimpan
__ADS_1
nama, Tantri , bagaimana keadaan dan nasibnya.