
Setelah tewasnya Ki Jabang wingit, Wikala segera mendatangi pertarungan antara Arya bor bor dengan Rakryan Mantri Kuda Langhi.
Pertarungan itu telah memasuki akhir, karena keduanya telah merambah tingkat tertinggi Puncak ilmunya.
Arya bor bor tengah merapal ajian tapak Liman nya, sedangkan Mantri Kuda Langhi mengeluarkan ajian Tapak Wisanya.
" Heaaahh, " teriak keduanya melontarkan ajian nya masing-masing, maka benturan ilmu tersebut melemparkan kedua duanya, Arya bor bor terlempar sebanyak Lima tombak sedangkan Mantri Kuda Langhi lebih jauh lagi. Ternyata tenaga dalam dari Arya bor bor masih diatas Mantri pembelot itu.
Dengan cepat Arya bor bor bangkit , sementara Mantri Kuda Langhi nampak masih belum bangkit dari tanah.
Adalah Wikala mencegah Arya bor bor untuk mendekati Mantri Kuda Langhi yg nampak pingsan itu.
" Jangan, biar aku saja yg melihatnya,!" ucap Wikala.
Dengan perlahan Wikala mendekati Rakryan Mantri Kuda Langhi yg tergeletak itu, setelah dekat sesuai dengan perhitungan Wikala tiba-tiba meluncurlah tiga buah senjata rahasia berupa pisau-pisau kecil.
" syut, syut ,syuut,!" terdengar bunyi senjata itu meluncur tepat ke tubuh Wikala, namun ketika menyentuhnya tubuh satria dari daha itu seluruh pisau jatuh ke tanah tanpa ada yg mampu menenbus kulitnya.
Dengan bergerak cepat Wikala memberikan tototkan kepada Mantri Kuda Langhi yg mulai akan bangkit itu.
Seketika tubuh itu tetap terdiam.
" Licik,!" gumam Wikala
Ia segera menyuruh Arya bor bor untuk mengangkat tubuh Rakryan Mantri Kuda Langhi itu untuk di bawa ke istana.
Di istana sendiri pertarungan antara Dua Bekel Bhayangkara juga hampir selesai ketika Bekel Lembu Petala mengeluarkan ajian Larantaka miliknya yg di lawan oleh Jaran Abang dengan ajian Jaran Guyang,
Memang dalam segala hal Lembu Petala lebih unggul dari Jaran Abang, benturan itu kedua ilmu itu hanya membuat surut Bekel Lembu Petala tiga langkah, sedangkan Jaran Abang harus meregang nyawa setelah tubuhnya terlempar dan membentur dinding istana.
Sorak sorai terdengar dari pasukan Lembu Petala dan Tumenggung Singha wara,
" Horee, Jaran Abang telah tewas, Jaran Abang tewas,!" teriak para prajurit itu.
Melihat Jaran Abang tewas maka Tumenggung singha wara berteriak,
" Menyerahlah, untuk apa kalian lanjutkan pertempuran ini, Bekel kalian telah tewas,!"
Rupanya teriakan Tumenggung singha wara itu di dengar para Prajurit Bhayangkara yg memihak Rakryan Mantri Kuda Langhi.
Sebahagian besar dari mereka menyerah, sebahagian kecil berusaha untuk melarikan diri, namun berhasil di tangkap.
Ketika pagi menjelang seluruh pertempuran di dua tempat baik di Istana maupun di kepatihan telah selesai dengan di menangkan oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Patih Gajah Nata.
Para prajurit pemberontak itu kemudian di giring ke dalam bilik Tahanan.
__ADS_1
Sedangkan tokoh utamanya yg masih selamat, yaitu Rakryan Mantri Kuda Langhi, di tempatkan di bilik khusus sebelum putusan yg akan di jatuhkan terhadapnya atas pengkhianatan dan pembunuhan yg di lakukan nya terhadap Prabhu Rajasawardhana sang SiNAGARA.
Hari itu istana Majapahit melakukan pembersihan atas sisa pertempuran yg terjadi.
Banyak prajurit yg tewas langsung di kuburkan sementara yg terluka segera di rawat oleh para Tabib istana.
Sejak hari itu resmilah kekuasaan sementara di pegang oleh ibunda Ratu dengan di bantu oleh Ratu Pamotan dan suaminya. Sampai putranya sang Adipati Anom bersedia naik tahta.
********
Sementara di pandan alas , Sang Adipati gusar mendengar bahwa Majapahit di bawah kepemimpinan Ibunda Ratu yg merupakan kakak iparnya sekaligus besannya. Bhre Pandan alas itu segera mengumpulkan para pejabat tinggi kadipaten pandan alas dan segera membuka sidang,
" Para saudara ku sekalian , aku ingin bertanya tentang pendapat kalian atas kepemimpinan Majapahit yg baru ini,!" ujarnya.
Kemudian Patih Kebo Mundira lah yg pertama kali menjawab,
" Memang sudah saatnya Gusti Adipati bertindak untuk merebut kekuasaan di Majapahit ini,!' jelas Patih Kebo Mundira.
" Apakah tidak ada jalan lain, selain jalan kekerasan,?" tanya Adipati Pandan alas .
" Kita seharusnya tidak bisa membiarkan persoalan ini berlarut larut, sebaiknya pandan alas menentukan sikap,!" ucap arya kangga selaku penasehat Adipati.
" Harus kah kita menggempur ibukota Majapahit,?" tanya Adipati Pandan alas lagi.
" Atau kita usulkan kepada Anakmas Wengker untuk mau jadi Raja,!" ungkap Arya kangga.
" Ahh, itu sama saja bukan kita yg berkuasa di istana Majapahit, !" ucap Tumenggung Surattanu.
" Jadi sebaiknya bagaimana,?" tanya Bhre Pandan alas .
" Ampunkan Gusti Adipati, kalau kita akan berperang dengan Majapahit saat ini tentu kita akan kalah, karena Majapahit akan mengeluarkan seluruh prajurit dari kadipaten yg mendukungnya seperti Daha ,Kahuripan, Pamotan, lasem, bahkan mungkin Pajang, jangan kan melawan gabungan seluruh prajurit dari kadipaten itu, melawan pasukan yg di ibukota saja kita belum mampu untuk memenangkan nya, jadi menurutku jalan terbaik adalah menyuruh Bhre Wengker untuk mau jadi Raja dan setelah itu selaku mertuanya, Gusti Adipati bisa mengambil kekuasaan atas Majapahit dengan cara baik- baik,!" ungkap Resi Wantara, seorang resi di kadipaten pandan alas menjabat sebagai Resi dharmadyaksa ring kasaiwan.
Mendengar penjelasan dari pemimpin tertinggi umat Hindu syiwa itu, maka hadirin yg berada di Istana kadipaten pandan alas , terdiam.
Sebahagian besar membenarkan ucapan resi Wantara itu. Demikian pula Bhre Pandan alas. Ia merasa belum sanggup untuk melawan Majapahit secara terbuka, karena kemampuan prajurit pandan alas yg belum setara dengan pasukan Majapahit.
Akhirnya di putuskan oleh Adipati Pandan alas itu untuk menerima usulan Resi Wantara. Segera Bhre Pandan alas mengirimkan utusan ke Wengker guna membawakan surat kepada menantunya itu.
*******
Sementara di Daha, Bhre Daha ,Dyah Rana wijaya sedang murka terhadap penasehat pribadinya yaitu Mahisa Dara,
" Aku tidak menyangka Romo mu sekejam itu terhadap Ramandaku,!" kata nya dengan nada tinggi.
" Ampunkan aku Gusti Adipati, mungkin Kanjeng Romo khilap,!" jawab Mahisa Dara.
__ADS_1
" Apa katamu khilap, terbukti ia telah merencanakan makar dan sebelum telah membunuh Ramanda Prabhu, itu namanya khilap,!" kata Bhre Daha berapi-api.
" Kurang apa Ramanda ku terhadap Romo mu itu, Dara,?" tanya Bhre Daha.
Nampak Mahisa Dara terdiam dengan kepala tertunduk, ia tidak mampu menjawab.
" Atau kau pun telah ikut bersekongkol dengan Romo mu itu , Dara,?" kembali Bhre Daha bertanya.
" Ampun kan aku Gusti Adipati, mana mungkin hamba bersekongkol dengan Romo, sedangkan hamba telah lama ikut dengan Gusti Adipati,!" jelas Mahisa Dara.
" Untuk sementara , kau jangan menunjukkan wajah mu di hadapan ku, atau aku akan menjatuhkan hukuman atas mu,!" tukas Adipati Daha lagi.
" Sendika dalem Gusti adipati hamba mengerti,!" ucap Mahisa Dara seraya beringsut dan pergi dari hadapan Adipati Daha itu.
Di hati Mahisa Dara telah tergores, rasa dendam terhadap Adipati daha dan keluarga nya telah tumbuh dan ia bertekad untuk membalas kan sakit hati nya itu.
Sedangkan di desa thanda, Putri Cemaravati dan Yasuvati telah kedatangan tamu yaitu, Rara Tantri putri dari ki Gede Thandasain.
Di pagi itu Rara Tantri sengaja singgah di rumah Wikala untuk melihat keadaan keluarga itu, karena sejak kembali Nusakambangan belum sekalipun Tantri datang kerumah itu.
" Apa khabarnya angger Tantri, sudah lama kembali tidak mau mampir kemari,!" kata ibunya Wikala.
" Maafkan saya biyung , di rumah banyak kerajaan, eh ini siapa biyung,!" tanya Tantri pada biyung.
" Ohh, ini putri Cemaravati dan putri Yasuvati mereka dari Champa,!" jawab biyung Wikala.
" Kemari dalam rangka apa ,?" tanya Tantri lagi seolah belum tahu siapa mereka sebenarnya.
Adalah Putri Cemaravati yg mengetahui bahwa suaminya dulu mempunyai tambatan hati yg bernama Tantri yg kemudian menjawab,
" Sebenarnya kami kemari mengikuti, suami, dan bukankah saudari ini adalah Tantri yg dulunya adalah kekasih dari Kanda Radeksa,?'' tanyanya pada Tantri.
Nampak ibunya Wikala agak gusar mendengar pertanyaan mantunya itu. Ia takut mengungkit luka lama yg ada di hati Tantri.
Namun Tantri yg di tanya begitu malah nampak tersenyum dan berkata,
" Saya memang Tantri ,dan masalah dengan kakang Radeksa adalah masa lalu," jawab nya kemudian.
" Akan tetapi Kanda Radeksa tidak dapat melupakan masa lalu nya, ia masih sering menceritakan dirimu,!" kata Putri Cemaravati .
" Ahhh, tidak benar, mana mungkin ia masih mengingat diriku, sedangkan sekarang ia telah mempunyai dua istri,!" jawab Tantri lagi.
Kemudian ketiganya terus mengobrol ,sampai akhirnya Tantri meninggalkan tempat itu.
-----------
__ADS_1