BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 8 : MangkatNYA sang Prabhu bagian pertama.


__ADS_3

Di lain tempat dan di lain waktu, tepatnya di daerah Anjuk Ladang dekat dengan Kadipaten pandan alas, pasukan segelar sepapan di bawah Senopati Agung , Patih Gajah Nata sedang istrahat, setelah melakukan perjalanan selama dua hari dari ibukota Majapahit.


" Sebaiknya kita mengirimkan teliksandi guna melihat keadaan pandan alas," kata Tumenggung singha wara kepada Patih Gajah Nata.


" Baiklah , kirimkan teliksandi guna mengetahui keadaan disana ,!" perintah Sang Patih pada Tumenggung Rabanar.


" Siap , paman Patih ,!" jawab tumenggung Rabanar segera mengirimkan dua orang prajurit Sandi untuk masuk mendekati ibukota Pandan alas.


Sementara di pandan alas sendiri, Gusti adipati telah menyiapkan pasukan nya menanti pasukan Majapahit di desa Kame di luar kota kadipaten dan sebagai Senopati nya adalah Patih Kebo Mundira di dampingi adiknya Senopati Kebo Ndaru, Tumenggung Jayasena dan Wirasena, dua Tumenggung yg bersaudara kandung.


Dalam pembicaraan itu Adipati Pandan alas meminta pasukan Pandan alas memukul mundur pasukan Majapahit.


" Baiklah kakang Patih Mundira, buat mata kangmas Prabhu bahwa Pandan alas ini bukan hanya sebuah Kadipaten yg kecil dan takut terhadap keraton," perintah Kanjeng adipati pandan alas.


" Sendika dalem Gusti adipati , kami dan seluruh prajurit pandan alas akan berusaha semampu kami, untuk mengusir Pasukan Majapahit itu,!" jawab Patih Kebo Mundira.


" Kiranya gelar apa yg akan dipakai ,?" tanya Adipati Pandan alas.


" Mungkin kami akan memakai gelar sapit urang, dan bisa jadi jurang grawah,!" jawab Senopati Kebo Ndaru.


" Bagus, mereka tidak akan menyangka kekuatan pandan alas lebih besar dari kekuatan Majapahit,!" ungkap Adipati Pandan alas.


Sementara dua orang prajurit Sandi yg di kirim oleh Tumenggung Rabanar telah sampai ke kota kadipaten pandan alas dan mereka tidak melihat ada kegiatan yg luar biasa dari kota tersebut akan tetapi begitu bergerak agak keluar dari batas kota tepatnya di desa Kame, banyak prajurit yg berkeliaran di desa tersebut.


Kedua prajurit yg menyamar sebagai penjual dawet keliling itu berpapasan dengan para prajurit dan jualan dawet dari kedua prajurit Majapahit itu di boring habis oleh prajurit pandan alas.


Di sela-sela mereka melayani pembelinya itu bertanyalah ia kepada para Prajurit pandan.


" Wah, kok ramai sekali para Prajurit ,?" tanyanya.


" Iya ki, pandan alas tengah bersiap menghadapi Majapahit!" ucap Prajurit itu


" Apa mau perang?" tanya penjual dawet itu.


" Iya, Sang Prabhu terlalu memaksakan diri terhadap adik kandungnya sendiri, sehingga Gusti adipati melawan,!" jawab prajurit.


" Tetapi pasukan Majapahit malah tidak kelihatan,!" kata si penjual dawet.


" Mereka telah berada di Anjuk Ladang ,!" jawab prajurit pandan alas.


" Yo, mesti Majapahit menang , pasukan nya kan banyak,!" selidik penjual dawet.


" Wah ki, potong leherku kalau Majapahit bisa menang melawan kami , karena pasukan Pandan alas dua kali lebih banyak dari Majapahit,!" jelas prajurit itu.


Setelah memberikan pesanan para Prajurit pandan alas maka si penjual dawet segera berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


Ketika berada di tempat sunyi keduanya pun segera meninggalkan pikulan dagangan nya dan berganti pakaian sebagai prajurit Majapahit secepatnya mereka berlalu dari situ dan kembali ke perkemahan prajurit Majapahit.


Sesampainya disana mereka melaporkan semua telah didengar nya dari prajurit pandan alas.


Nampak Tumenggung Rabanar mengerutkan alisnya mendengar penuturan teliksandi tersebut.


Malam nya, diadakan pertemuan oleh pemimpin teras Majapahit.


" Bagaimana menurut prajurit Sandi yg telah di kirim,?" tanya Patih Gajah Nata kepada Tumenggung Rabanar.


" Menurut mereka paman Patih, kekuatan pandan alas dua kali lebih besar dari kita,!" jawab Tumenggung Rabanar.


" Hah, sebanyak itu pasukan mereka?" tanya Tumenggung Singha wara seakan tidak percaya.


" Demikian lah yg di dengar prajurit sandi kita,!" jelas Tumenggung Rabanar.


" Apa yg harus kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut,?" tanya Tumenggung Wirana.


" Sebaiknya kita Jangan memakai Gelar Garuda nglayang,'' kata demung Ananta boga.


" Ah, ki Demung, kalau masalah gelar gampang diatur, akan tetapi masalah kurangnya prajurit, ini soal yg besar,!' kata Tumenggung Rabanar.


" Ya, tetapi akibat kita memakai gelar yg salah membuat kita cepat di babat habis oleh mereka ," jelas Ananta boga.


" Sebaiknya kita mengandalkan pasukan pemanah di garis depan dengan di lindungi pasukan tameng, membuat sentuhan pertama untuk mengurangi jumlah mereka," jelas Patih Gajah Nata.


" Apa itu bukan tindakan sia-sia, ?" tanya demung Ananta boga.


" Mengapa sia-si, kita harus berusaha, sebelum terlambat,!" kata Tumenggung singha wara lagi.


" Yah, semua mesti kita usahakan untuk memenangkan peperangan ini.!" kata Patih Gajah Nata.


Sementara utusan Rakryan Mantri yaitu Lurah waringka telah bertemu dengan Rumangsa dan Bawon serta anggota nya di alas Turanggana dan menyampaikan pesan Rakryan Mantri kepada mereka.


" Demikian lah ki, ki Rumangsa di minta datang menghadap Rakryan Mantri dan anggota secepatnya,!" jelas lurah waringka.


" Tugas apa yg mesti kami kerjakan,?" tanya Rumangsa.


" Wah, kalau itu saya tidak tahu, perintah nya memanggil Ki Rumangsa untuk datang,!" kata Lurah waringka.


" Baiklah secepatnya kami datang,!" kata Rumangsa.


" Kalau begitu ,saya pamit ki, karena akan ke alas Roban lagi, !" kata Lurah waringka .


" Silahkan,!" jawab Rumangsa.

__ADS_1


Kuda Lurah waringka segera berlari meninggalkan Turanggana dan menuju alas Roban untuk menemui seorang yg sakti dan bernama Jabang wingit.


Setelah kepergian Lurah waringka maka Rumangsa dan Bawon mengumpulkan anggota untuk menghadap Rakryan Mantri wreda Kuda Langhi.


Di Anjuk Ladang, pasukan Majapahit bergerak kembali mendekati desa Kame, di sekitar daerah wilangan, pasukan itu menyiapkannya sebagai landasan penyerangan ke pandan alas yg landasan berada di desa Kame.


" Sebaiknya esok hari ketika , terang tanah kita menyerang mereka ,!" ucap Patih Gajah Nata.


" Tanpa menunggu prajurit yg di kirim ke keraton guna minta tambahan pasukan?" tanya Tumenggung Singha wara.


" Ah, belum tentu permintaan kita di kabulkan Gusti Prabhu,!" jawab Patih Gajah Nata.


" Jadi Gelar yg di pakai tetap Gelar Garuda nglayang, ?" tanya Tumenggung Rabanar.


" Ya, dan kali ini di induk pasukan tepatnya, di garis terdepan ditempati Patih Gajah Nata dan Tumenggung Reksa sudira sebagai pemimpin pasukan pemanah yg bertugas mengurangi jumlah musuh,!" kata demung Ananta boga.


Patih Gajah Nata melihat kearah demung Ananta boga.


Cukup cerdik, siasat Demung Ananta boga ini pikir nya.


" Kalau nanti terjadi perang Senopati upayakan gelar pasukan di buat lebih kecil ,!" kata Sang Demung.


" Jadi para Senopati kita dapat saling bantu,!" jelasnya lagi.


Maka seluruh prajurit Majapahit telah bersiap berperang melawan pandan alas, meski dalam keterbatasan prajurit.


Sedangkan di desa Kame, para petinggi Pandan alas telah bersiap dengan segala kemungkinan karena musuh telah di depan mata.


Adalah penasehat pandan alas yg bernama Arya Kangga menyarankan , bahwa pasukan terdepan pandan alas ialah para prajurit yg baru di terima sebagai prajurit. Dengan alasan apabila pasukan itu kalah tetapi pasukan Majapahit akan kelelahan barulah pasukan inti pandan alas memukul pasukan yg sudah kelelahan itu.


Kedua alasan nya agar prajurit yg baru diterima itu bertempur dengan sesungguhnya di tambah lagi sebagai penyeleksian siapa yg layak dipertahankan sebagai prajurit sebagai pendadaran langsung , jelasnya.


Namun Patih Kebo Mundira agak kurang senang atas siasat itu. Berkatalah ia,


" Apakah itu artinya kita mengorbankan prajurit baru yg belum mengenali perang yg sesungguhnya, kejam sekali selaku pemimpin nya," ujarnya.


" Bukan begitu, ki Patih tetapi kita mendapatkan dua keuntungan dengan menerjunkan mereka, pertama mereka akan berusaha mempertahankan nyawanya dan yg kedua Majapahit pada benturan itu akan cepat kelelahan, disaat yg sama pasukan utama kita masih bugar, dan lagi jumlah mereka lebih sedikit dari kita,!" jelas arya Kangga.


" Kakang Mundira sebenarnya pemikiran Arya Kangga ini ada benarnya, sekaligus untuk mengetahui siapa yg layak jadi prajurit pandan alas,!" tukas Senopati Kebo Ndaru.


" Akan tetapi , saya kasihan kepada mereka yg baru pertama merasakan kejamnya perang, tiba-tiba mereka sudah menghadapi prajurit sebenarnya, !' jelas Patih Kebo Mundira.


" Tetapi mereka sudah di latih untuk itu, dan pengejawantahannya ada di perang kali ini , seandainya dari mereka cuma tinggal separuh, namun mereka itu benar-benar telah menjadi prajurit sesungguhnya,!" jelas Arya Kangga.


Perdebatan kali ini sangat ramai, namun akhirnya Patih Kebo Mundira mengalah setelah beberapa Tumenggung menyetujui usul dari penasehat kadipaten pandan alas itu.

__ADS_1


Maka yg siap menyambut pasukan Majapahit adalah pasukan yg baru dari pandan alas untuk benturan yang pertama dan tetap memakai Gelar Sapit urang.


__ADS_2