
Sepulangnya dari semeru, Wikala nampak sering menyendiri, ia sering menghabiskan waktunya di air terjun tempat terakhir kalinya bersama dengan Tantri.
Sementara itu tiga orang sedang mengintai gerak gerik Wikala, mereka adalah Mpu Thula bersama dengan dua orang murid nya.
" Sebaiknya guru kita habisi dia disaat berada di sana, !" ucap Rumangsa kepada gurunya.
" Iya, di seputaran air terjun itu, tempat yg sunyi, !" kata Barong bagong menimpali.
" Baiklah , kita habisi dia di air terjun itu, nanti mayatnya, kita hanyutkan di Kali,!" ujar Mpu Thula.
" Hehh, bagong, apakah tombak Resi mahameru kau bawa,?" tanya Mpu Thula kepada muridnya.
" Di bawa, guru,!" jawab Barong bagong singkat.
" Bagus, nanti sore menjelang malam kita bunuh Satria Dari DAhA itu, !" ucap Mpu Thula sambil tertawa.
Ketika sang surya telah berpindah kearah barat, nampak tiga orang bergerak dengan ringannya menuju lereng kelud bagian selatan.
Wikala yg mulai pagi berada di air terjun, duduk bersila diatas batu besar ,merasa kurang enak apalagi dilihatnya matahari hampir tenggelam.
Ia kemudian bergerak akan meninggalkan tempat itu, akan tetapi belum sempat ia bergerak, telingnya yg tajam mendengar senjata yg meluncur kearah nya
" siiing, suing siiing,!" bunyi tiga buah pisau menyambarnya . Ketika sudah dekat ketubuhnya Wikala menggerakan tangan nya, dan pisau-pisau itu kembali kearah pemiliknya,
" thakk,thak,thakk,!" ketiga pisau tertancap di batang pohon .
" Hebat, hebat, ternyata gelar Satria Dari DAhA bukan isapan jempol belaka,! " ujar Mpu Thula sambil tertawa mengeluarkan ajian gelap ngampar miliknya.
Namun ajian ini bagi Wikala sudah tidak artinya lagi, dengan tenang ia membentak dengan ajian segara macan miliknya,
" Hehh, keluar lah jangan jadi pengecut hanya bisa membokong dari belakang,!" ucapnya seraya melompat ke darat.
Sekarang ajian segara macan milik Wikala memang sudah sangat hebat apalagi dialasi dengan ajian mega mendung, maka dua murid Mpu Thula yaitu Rumangsa dan barong bagong terkena dampak yg lumayan menyakitkan hingga keduanya terduduk di tanah.
Melihat akan hal itu Mpu Thula memerintahkan menotok syaraf pendengarannya, serta memberi isyarat untuk menyerang.
Mendapatkan isyarat , keduanya segera melesat menerjang Wikala , pertarungan pun terjadi.
Rumangsa dan barong bagong bertarung dengan saling melengkapi, suatu saat Rumangsa memberikan tendangan kearah kepala di susul tusukan tombak dari Barong bagong kearah kaki, Wikala benar-benar di kurung oleh dua orang itu untuk tidak dapat melakukan balasan .
Wikala di paksa bertahan.Namun sampai sejauh itu tidak ada satu serangan yg mampu menembusi pertahanannya.
__ADS_1
Memasuki jurus kelima puluh , Wikala mengenali tata gerak kedua orang itu yg menggunakan ajian tapak wisa.
" Apa hubungan kedua orang ini dengan si tua keparat itu, !" pikir Wikala dalam hati sambil tetap melayani pertarungan tanpa menggunakan senjata.
Memang kedua murid Mpu Thula itu masih jauh di bawah nya, seolah- olah pertarungan latihan antara guru dan murid, beberapa kali Wikala dengan menggunakan ajian peringan tubuhnya , menjejakkan kaki nya di atas kepala kedua orang itu.
Melihat kedua muridnya di lecehkan , maka Mpu Thula pun murka , segera ia ikut mengeroyok Wikala.
" Hiiiyyyyaaatt,,!" teriak Mpu Thula melakukan pukulan tongkatnya kearah kepala.
" Haaiiitt,!" teriak Wikala menghindari serangan itu, kemudian ia sejenak berhenti dan menatap penyerangnya.
" Sudah kuduga ternyata si Mpu cabul yg datang ,!" ujarnya.
" Haahhh, ternyata kau masih hidup, !" teriak Mpu Thula seolah tidak percaya.
" Ya, aku masih hidup , hyang widhi wasa masih sayang padaku,!" ucap Wikala sambil senyum mengejek.
" Bagaimana Mpu kita lanjutkan kembali pertarungan yg dulu sempat tertunda,!" ucap Wikala .
" Sayang sekali kau bocah, mungkin dulu engkau masih bisa selamat namun kali ini riwayat Satria Dari DAhA akan tammat,!" gertak Mpu Thula.
" Dulu saja kau tidak mampu membunuh ku, apalagi sekarang, !" ejek Wikala.
Ketiga orang itu langsung menyerang bersama-sama, hingga Wikala kembali bertahan, dengan sigap Wikala mencabut kerisnya, keris Kalamujeng.
Kalamujeng yg segera mengeluarkan pamornya yg kemerahan. Di serang dari tiga jurusan tidak membuatnya terdesak.
Beberapa kali kerisnya yg tidak terlalu panjang itu memapasi tongkat Mpu Thula dan tombak Barong bagong, yg sebenarnya milik Resi mahameru yg mereka bunuh beberapa waktu lalu.
Wikala mengenali tombak yg di pegang Barong bagong, bahwa tombak itu menjadi senjata andalan Resi mahameru saat perang tanding di Puncak Merapi.
" hehh, ternyata mereka yg telah membunuh Resi mahameru,!" kata Wikala dalam hati.
" Kalian apakan Resi Begawan mahameru,?" tanya Wikala sambil tetap tatag melakukan serangan.
" Telah kami, bunuh,!" jawab Barong bagong lanjut nya, lagi
" Sekarang giliranmu menyusul Resi mahameru itu,!" teriaknya lagi sambil mempercepat serangan nya.
Namun kali Wikala bukan lah yg dulu , seperti yg mereka jumpai di bukit kanca nuwu.
__ADS_1
Dengan mudah nya ia mampu menghindari serangan ketiganya.Lontaran- lontaran ilmu tapak wisa dari kedua orang itu disertai dengan tusukan tombak Naga tirta masih mampu ditahan Wikala dengan ajian Kalacakra nya.
Pertarungan itu memang sungguh luar biasa daerah ditempat itu porak poranda, oleh keempat orang itu,
Satu Malaman pertarungan telah di lalui
ketika pagi datang , Mpu Thula merubah cara bertarung nya , ia tidak lagi menggunakan ajian tapak wisa nya , karena terkesan tidak berarti apa-apa.
" Hiyaaaat,!" ucap Mpu Thula sambil bersalto mundur kebelakang.
Ia kemudian bersedekap memusatkan nalar budinya, kemudian sambil berseru ia melontarkan ajian pamungkasnya,
" Ajian tandana rawikara,!" seru Mpu Thula mengarah kan serangan kepada Wikala yg masih di keroyok oleh Rumangsa dan barong bagong.
Melihat cahaya putih menghantam nya Wikala melentingkan tubuhnya keatas guna menghindari serangan yg nggegrisi Dari Mpu Thula. Setelah luput dari serangan ketiga orang itu , Wikala langsung mengetrapkan ajian mega mendung nya, kabut tipis segera menyelimutinya,
Kedua murid Mpu Thula langsung menyerang dengan ajian tapak wisa ,tiga serangan ajian sekaligus harus di hadapi Wikala, terpaksa ia beberapa kali harus mengadu ilmunya,
Suatu kesempatan, Wikala terjepit oleh serangan dari kiri dan kanannya sementara dari depan Mpu Thula tetap melontarkan ajian pamungkasnya,
Dengan kembali ia harus melentingkan tubuhnya namun kali ini,
" hiaaat, hiaaat, !" suara Wikala saat posisi masih di udara, dua cahaya kemerahan menerjang Mpu Thula, rupanya Wikala sambil melompat membalas serangan kearah Mpu Thula, kontan saja tubuh tua nya kena di dera ilmu Wikala yg tidak mampu ditahannya,
Mpu Thula terlontar kebelakang sejauh lima tombak, belum sempat tubuh itu terhenti, kembali Wikala melontarkan pukulan nya,
" Hiiiyyyyaaatt, wuuussshhh,!"" terdengar kembali ajian kalamawa meluncur deras menghantam tubuh Mpu Thula.,
" aaaaaaakkkkkhhhh,!" lengkingan suara Mpu Thula .
Wikala tidak mau memberi kesempatan pada Mpu Thula yg mempunyai aji pancasona itu dapat bertahan hidup,
Akan tetapi kedua muridnya yaitu Rumangsa dan barong bagong tidak tinggal diam segera mereka menyerang Wikala bersamaan, sambil menyerang berkatalah barong bagong,
" adi Rumangsa cepat lihat keadaan guru, biar kutahan si keparat ini,!" perintah Barong bagong pada Rumangsa.
" Baiklah, kakang,!" ucap Rumangsa dan terus berlari kearah gurunya , setelah didapatinnya Mpu Thula masih bernafas dengan cepat ,ia memanggul tubuh Sang guru , kemudian meninggalkan tempat itu.
Melihat lawan nya lari, segera Wikala melesat mengejarnya akan tetapi Barong bagong memberikan serangan untuk menghalangi nya, dengan geram Wikala melontarkan pukulan nya yg berisi ajian kalamawa kearah Barong bagong ,
" Hiiiyyyyaaatt, wuuussshhh!" kembali ajian kalamawa menyasar lawan tak ayal, tubuh Barong bagong gosong kehitaman seperti terbakar dan jatuh berdebum.
__ADS_1
Barong bagong tewas, dan tombak Naga tirta lepas dari tangan nya. Memang tenaga dalam barong bagong masih jauh di bawah Wikala, sehingga ia harus mati demi membela gurunya, berbeda dengan Mpu Thula yg mempunyai banyak ilmu dan tenaga dalam nya pun hampir sempurna hingga ia masih mampu bertahan hidup walaupun sekarat.
Dengan cepat Wikala meraih tombak Naga tirta dan mengejar Mpu Thula yg di bawa lari oleh muridnya Rumangsa.