
Selanjutnya rombongan itu bergerak ke utara menuju Beijing , dan ketika hampir sepuluh hari tibalah mereka di kota Tianjin yg merupakan kota penyangga ibu kota Beijing, banyak pasukan Tiongkok yg berada disitu termasuk armada lautnya.
Disini Wikala bertemu dengan Pendekar Xia si golok emas,
" Haiya, Satria Dari DAhA tiba di negeri kami ini, negeri Tiongkok,!" ucap Pendekar Xia sambil menjura hormat.
" Apa khabar Pendekar Xia, dimana para pendekar yg lainnya?" tanya Wikala pada Pendekar Xia.
" Kalau Biksu Luanjin ada di istana, Pendekar Lin ada disini, dan mahaguru Majin sedang bertapa di tiga gunung dewa,!" ucap Pendekar Xia.
" Benar Biksu Majin telah mengundurkan diri dari dunia persilatan?" tanya Wikala.
" Demikian lah Satria Dari DAhA!" jawab Pendekar Xia.
" Sebenarnya mahaguru Majin sangat di butuhkan disini guna menghadapi , salah seorang Jenderal perang Kaisar Khan yg berhasil membunuh Jenderal Fan zhong dari Tiongkok , Jenderal itu bernama,Ganbataar,!" sebut Pendekar Xia lagi.
" Mari saya ajak bertemu dengan Pendekar Lin, !" kata Pendekar Xia.
Memang benar ucap Rakryan Mantri Kuda Langhi, bahwa utusan itu harus yg di kenal karena kemampuan ilmunya hingga di segani oleh wilayah dimana ia ditempatkan, kata Bekel Lembu petala dalam hati, sambil mengikuti langkah Wikala dari belakang.
Akhirnya mereka bertiga sampai di suatu tempat yg kebanyakan pengisinya adalah perempuan, rupanya tempat itu di khusus kan buat pengungsi dari ibu kota guna menghindari sesuatu yg tidak diinginkan jika kota Beijing jatuh ke tangan musuh.
Kemudian Pendekar Xia memanggil seorang prajurit untuk memberi tahu Pendekar Lin ada seorang teman yg datang menemui nya.
Segera prajurit itu bergegas menemui Pendekar Lin yg merupakan pemimpin di tempat itu.
Sesaat kemudian datanglah Pendekar Lin di iringi seorang muridnya, begitu melihat yg datang adalah Wikala atau lebih dikenal oleh kalangan persilatan tiongkok dengan gelar Satria Dari DAhA segera saja langsung memeluknya, Pendekar Lin merasa Wikala adalah seorang teman bukan seorang musuh seperti di waktu masih di Puncak Merapi, karena keluhuran budi Wikala yg mau menolong Biksu Majin yg sedang sekarat akibat perang tanding saat itu.
Di peluk sedemikian itu membuat Wikala agak rikuh, namun segera menyapa Pendekar Lin,
" Ni Hao ma, ?" tanya Wikala dengan dialek jawa nya, karena sedikit demi sedikit ia telah mampu berbahasa mandarin.
" Xe,xe, baik, saya baik, dan bagaimana dengan Satria Dari DAhA, sehatkan?" tanya Pendekar Lin setelah melepaskan pelukannya.
" Baik, !" jawab Wikala.
" Hah, sepertinya permohonan kami dikabulkan, dengan datang nya, Pendekar Satria Dari DAhA, !" ucap Pendekar Lin kemudian, seraya mengajak duduk Wikala , Lembu Petala dan Pendekar Xia.
" Memangnya apa permohonan Pendekar Lin ,?" tanya Wikala.
" Yah, semenjak Mahaguru Majin mengundurkan diri dari kang ouw( dunia persilatan) , rasanya negeri Tiongkok kekurangan Pendekar yg mumpuni, dan ketika berhadapan dengan pasukan mongol, terbukti negeri kami kalah dan sang kaisar berhasil di tawan,!" jelas Pendekar Lin.
" Kan masih ada Biksu Luanjin, yg juga Guru di istana, ?'' tanya Wikala.
__ADS_1
" Benar Biksu Luanjin adalah laoshe istana tetapi beliau kurang memahami, tentang masalah perang, ia hanya laoshe di bidang ilmu silat dalam istana,?" jelas Pendekar Lin.
" Tetapi kan perang ini bukan perang tanding , tetapi perang yg menyeluruh di semua sisi," jelas Wikala.
" Akan tetapi Taihiap Wikala, semangat orang mongol karena Jenderal mereka hebat dan sakti, mereka menjadi lebih kuat dimana jumlah mereka pun banyak,?" cerita Pendekar Lin.
" Kami kesini bukan untuk berperang tetapi menjadi utusan kerajaan Majapahit di Tiongkok ini," jelas Wikala lagi.
Setelah Wikala dan Lembu petala bertemu beberapa orang yg dikenalnya di Tianjin, kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan nya ke ibukota Tiongkok yaitu Beijing, sekira satu hari perjalanan.
Melalui gerbang Shanhai Guan ( gerbang Timur) Jenderal Yun Cai membawa masuk Wikala dan Lembu Petala ke dalam kota dan menuju istana.
Sesampainya di dalam istana Jenderal Yun Cai melaporkan kehadiran utusan Majapahit kepada saudara nya Jenderal Yu Qian dan keduanya menghadap kaisar di istana.
Jenderal Yun Cai menceritakan kehebatan Wikala sebagai utusan Majapahit itu yg mampu mengalahkan Biksu Majin suhengnya Biksu Luanjin guru istana.
Di dalam istana Wikala disambut langsung oleh Kaisar Zhu Jiangtai selaku pengganti Kaisar Zhu Zhengtong yg berhasil di tawan kaisar Essen Khan dari mongol.
" Maafkan kami Kaisar, saya Radeksa Wikala dan ini Paman Lembu Petala menghaturkan sembah kepada Kaisar , " ucap Wikala.
Kepala kaisar mengangguk dan tangan nya mengangkat tanda menyilahkan Wikala melanjutkan ucapan nya.
" Kami berdua diutus oleh Prabhu Rajasawardhana sang SiNAGARA selaku Raja Majapahit guna membalas kunjungan utusan kaisar dalam rangka membangun kerjasama antara Tiongkok dan Majapahit,!" jelas Wikala
Setelah Kaisar Jingtai diam maka Wikala melanjutkan ucapan nya.
" Maafkan kami Kaisar Jingtai, inilah surat balasan dari Prabhu Rajasawardhana, !" kata Wikala seraya menyerah kan surat balasan Prabhu Rajasawardhana.
Setelah membaca surat balasan dari Prabhu Rajasawardhana , wajah kaisar Jingtai nampak cerah. Kemudian ia berkata,
" Karena telah timbul kata sepakat antara Tiongkok dan Majapahit, maka mulai hari ini kita dapat saling tolong menolong, saling bantu membantu, !" kata Kaisar Jingtai.
" Kita telah sepakat untuk bertukar barang dagangan dan saling membantu di bidang kelautan dalam menjaganya dari para bajak laut, juga tukar menukar warta tentang keamanan antara dua negara yaitu Tiongkok dan Majapahit!" tampak Kaisar Jingtai diam sesaat kemudian melanjutkan lagi,
" Oleh sebab kami sangat berharap banyak kepada utusan Majapahit ini, yaitu saudara Wikala dan Lembu Petala dan membantu kami dalam menahan serangan dari mongol sebagai negara sahabat,!" ucap kaisar lagi
" Bersedia kah saudara berdua membantu kami,?" tanya Sang Kaisar.
Wikala dan Lembu Petala nampak saling pandang, kemudian Wikala bertanya kepada Lembu Petala.
" Bagaimana paman,?" tanyanya kepada Lembu Petala.
" Kita kabulkan saja permintaan Kaisar Jingtai, kita tidak terikat waktu dalam mengemban tugas ini,!" ujar Lembu Petala.
__ADS_1
Kemudian berkatalah Wikala pada sang kaisar.
" Baiklah , kami berdua bersedia membantu Tiongkok dalam mengusir serbuan mongol sebagai tanda persahabatan, !" ucap Wikala.
" Terimakasih banyak kepada saudara berdua atas kesediaannya untuk membantu negeri kami dari serbuan bangsa mongol, !" kata Kaisar Jingtai.
" Jenderal Yu Qian, segera beri mereka apa saja yg diperlukan, dan saya angkat mereka sebagai saudara saya sendiri," berkata kaisar Jingtai .
" Baiklah kaisar Jingtai, segala keperluannya, saya dan didi Yun Cai yg akan mengaturnya!" jelas Jenderal Yu Qian.
" Prajurit , panggil Laoshe Luanjin kemari, ini ada tamu dari jauh ingin bertemu dengan nya,!" perintah Kaisar pada prajurit jaga.
Tidak berapa lama Biksu Luanjin datang dengan tergesa-gesa dan ketika di depan singgasana kaisar Jiangtai terkejut lah melihat orang yg pernah mengalahkan nya di Puncak Merapi dulu.
" Hah, Satria Dari DAhA bisa ada di sini, kapan kiranya saudara berdua tiba di Tiongkok ini,?" tanyanya kepada Wikala.
" Baru saja Laoshe, !" jawab Wikala.
" Gerangan apakah menyebabkan Satria Dari DAhA bisa sampai di sini,?" tanyanya lagi.
" Kami berdua mengemban tugas dari Gusti Prabhu Rajasawardhana untuk menyampaikan pesan kepada sang kaisar,!" jelas Wikala.
" Bagaimana Laoshe, teman lama bukan?" tanya Sang Kaisar kepada Biksu Luanjin.
" Benar xuesheng (murid) kaisar, Satria Dari Daha ini adalah teman lama walau pernah bertarung dengan nya, senang sekali bisa berada disini,!" ucap Biksu Luanjin.
" Bagaimana kalau ia diangkat sebagai panglima perang disini,?" tanya kaisar Jingtai kepada Biksu Luanjin.
" Saya senang sekali jika saudara Wikala jadi salah satu panglima disini, !" ucap Biksu Luanjin menjura hormat pada Kaisar.
Dengan agak berbisik biksu Luanjin berkata kepada Wikala bahwa ia ingin bertemu dengannya.
" Dimanakah beliau sekarang berada , ?" tanya Wikala.
" Suheng berada di tiga gunung dewa," jawab Biksu Luanjin.
" Baiklah, kalau ada kesempatan nanti saya akan kesana, !" ujar Wikala.
Kemudian atas perintah Kaisar Jingtai, Wikala di tempat kan bersama Jenderal Yu Qian.
Adapun kediaman Jenderal Yu , amatlah sederhana berbanding terbalik dengan kehidupan nya sebagai pejabat tinggi kekaisaran Tiongkok.
Bersama Lembu Petala , Wikala menginap di rumah Jenderal Yu.
__ADS_1